Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 21 Cemberut


__ADS_3

"Tunggu dua minggu lagi," jawab Bulan sesukanya. Ia bangkit dan kini sudah pandai menemukan remote dan menekan tombol hijau untuk membuka lemari otomatis di kamar itu terbuka.


Angkasa yang masih duduk berlutut hanya melirik kegiatan Bulan yang masih bingung memilih baju mana yang cocok untuk malam hari.


"Sayang...!" Angkasa yang tidak tahan akhirnya membuntuti istrinya dari belakang.


Bulan tidak memperdulikan Angkasa, saking bingungnya Ia menarik asal satu buah gaun dari gantungan hingga membuat Angkasa tertawa.


"Hahaha... apa kau akan tidur dengan baju itu, Sayang?"


Bulan mengigit bibirnya. "Apanya yang lucu, aku cuma penasaran dengan gaun itu," ucapnya mengelak. Ia jadi malu sendiri karena sudah kepalang basah.


"Kalau malam akan enak pakai yang lembut dan tipis,


sebab akan membuatmu tidur nyenyak." Angkasa sok pintar. Ia menggeser sedikit tubuh Bulan dan berganti mengambilkan sebuah piyama se*si. "Pakai ini saja," katanya, berulah memainkan kedua alisnya.


Bulan membelalakan mata lalu menempelkan wajahnya dekat dengan gaun tersebut. "Yang benar saja, pakaian ini tembus pandang. Kau ingin orang melihat lekuk tubuhku?"


"Hahaha...." Angkasa tergelak lagi. "Ya enggaklah bukankah kita hanya berdua di kamar. Jadi, hanya aku yang melihatnya," desisnya, pas persis ditelinga Bulan.


"Ihk, itu sih mau mu. Carikan yang lain!"


"Jadi kau tidak mau?"


"Tidak!"


"Baiklah, kita cari yang lain."


Angkasa sudah tahu, pakaian yang diberikannya adalah pakaian yang paling sopan. Jadi mana mungkin Ia menyia-nyia kan kesempatan itu.


"Yang ini bagaimana?" Tunjuknya pada sebuah baju tidur yang lebih tipis dari yang pertama bahkan belahannya bisa dipastikan sampai ke bawah dua buah kenyalnya.


"Sweety? kau sudah gila ya!" pekiknya nyaring lalu memukul dan mencubiti dada Angkasa.


"Aw... sakit, Sayang!" Angkasa tidak bisa berkutik sebab Bulan terus meluncurkan aksinya.

__ADS_1


"Dasar, mesum. Otak kotor. Kenapa tidak sekalian saja kau suruh aku telanjang ditengah jalan, biar seluruh dunia tahu kalau aku sangatlah cantik," kecam Bulan terus menerus tanpa menghentikan pukulannya.


"Apa, apa? tunggu dulu!" Angkasa meminta Bulan diam. "Kenapa harus didepan orang? kan aku yang memintanya khusus untukku," imbuhnya kemudian. Berkaca pinggang dan mengamati handuk di dada Bulan mulai melesot turun.


Glek!


Belahan dadanya semakin terlihat, dan itu membuai Angkasa.


Ayo lepas, ayo... aku sudah tidak sabar melihatnya


Angkasa berharap, jika handuk itu terlepas. Ia berencana akan langsung melahap tubuh istrinya itu dengan brutal tanpa celah.


Bulan pun menyadari, dimana mata Angkasa leluasa kearah phayudharanya. "Ahk... !" Bulan memekik, dan langsung menyambar handuk yang sudah hampir jatuh tersebut.


Ihk, sial. Kenapa Sekar mengetahuinya sih. Batin Angkasa, sangat-sangat dongkol.


Bulan jadi merasa malu dan memutar tubuhnya kearah lain untuk membenahi handuk itu agar terselip kencang diatas dadanya.


"Pakai saja ini jangan bantah." Angkasa mendengkus dan menyampaikan piyama itu dipundak Bulan sambil pergi keluar. Wajah kecewa sangat jelas tergambar di sana dan itu menimbulkan perasaan bersalah di hati Bulan.


Pak Dewok memutuskan bertanya, supaya tidak menjadi penasaran. "Kenapa, Nak?"


"Tidak papa, Yah," jawab Angkasa singkat.


"Gak papa kok wajahnya di tekuk begitu," cibir Bu Arumi.


"Biasalah, Bu. Capek, kan sudah lama gak ngantor jadi kerjaan numpuk."


Selesai menjawab, Angkasa membawa satu piring nasi dan satu gelas air minum masuk lagi kekamarnya.


Bu Arumi yang sudah yakin Angkasa menjauh langsung menyenggol lengan Pak Dewok disampingnya. "Ayah yakin soal kantor?"


"Gak tau lah, Bu. Mungkin saja kan? Ayah mau makan saja lapar, gak ada lagi yang mau ditunggu," tukas Pak Dewok yang sudah tidak sabar menyelesaikan cacing yang bergerumun di perutnya.


Bu Arumi masih belum puas. "Yah, Angkasa pasti menginginkan sesuatu dari di Bulan?" tebaknya lagi.

__ADS_1


Pak Dewok mendadak diam, tapi akhirnya pikiran takut itu Ia tepis dari benaknya agar tidak mengepul didalam kepala. "Sudahlah, Bu. Ayo makan, nanti nasinya ikutan ngambek lagi."


Bu Arumi menghela nafas, dalam hati berdoa agar anak lelakinya tidak akan menzinai perempuan yang tiap malam bersamanya didalam sana.


Angkasa terpantik, Ia melihat Bulan sudah memakai piyama pilihan terakhir tadi dan Bulan terlihat sangat cantik dengan piyama tersebut.


Bulan menunduk malu, tidak berani memandang Angkasa. Menutupi dadanya dengan kedua tangan, was-was jika Angkasa tidak bisa mengalihkan penglihatannya.


Padahal, Bulan sendiri belum menyisir rambutnya apa lagi memakai bedak. Begitu saja, Angkasa sudah terpesona. Rambut tergulung keatas menyisakan sedikit rambut-rambut lembut bergelantungan di sisi wajahnya.


"Ke_ kenapa memandangku begitu? memalukan ya?" tanya Bulan.


Tentu saja Angkasa menggeleng, Ia sangat menyukai penampilan gadis dihadapannya. Wangi bunga lili dari pelembut pakaian menambah bangkit batang bertopinya.


"Ayo makan!" mengalihkan penglihatan ke arah dua benda di tangannya.


Pelan-pelan Bulan mendekat dan terus menutupi bagian dadanya yang terbuka. Duduk pun sangat hati-hati sebab piyama itu hanya sejengkal dari selang_kang_nya. Merapatkan kedua kaki jangan sampai terpisah sedikit saja.


Angkasa terus tersenyum, Ia tahu istrinya masih belum siap dan dirinya lah yang harus ektra sabar menunggu saat yang tepat.


Angkasa meraih kedua tangan Bulan, dan gadis itu tak bisa mengelak memperlihatkan garis pemisah bukit kembar miliknya. Sesekali Bulan melirik kebawah karena Angkasa terus melihatnya.


"Sayang, kamu masih takut ya?" tanya Angkasa. "Jika kamu belum siap, aku akan sabar kok. Tidak perlu merasa tertekan. Bukankah memiliki anak setelah menikah adalah harapan setiap pasangan."


Bulan menggangguk membenarkan.


"Nah, momen itu adalah momen langka. Jadi aku akan menunggu sampai kamu benar-benar bersedia menerima dengan ikhlas benih yang nanti akan aku semai dirahim mu," ujarnya mulai bijak.


Bulan hanya diam, dan menatap sungguh-sungguh perkataan Angkasa.


"Dengan kesiapan, kamu tidak akan keberatan saat nanti kamu hamil anak kita. Malam pertama tidak lah sakit, Sayang. Hanya perih seben-tar saja." Angkasa menunjukkan bagian ujung kukunya seraya menekan sedikit kalimat akhirnya. "Karena kita sedang membuka jalan kenangan yang akan di ingat seumur hidup," paparnya lagi lalu menyuapkan satu sendok nasi kedalam mulut Bulan.


Gadis itu mengunyahnya, Ia terharu akan kebesaran hati Angkasa yang mulai mengerti ketakutannya. Meski pun Angkasa bersedia menunggu sampai nanti, Ia tidak yakin akan memberikan itu pada pria didepannya sampai kapan pun juga.


"Makasih," jawab Bulan parau.

__ADS_1


__ADS_2