
Pemuda itu berulang kali mengerutkan dahi, Ia belum memahami apa yang sebenarnya Bulan katakan. Sebagai seorang manusia yang punya insting. Tentu Ia mulai merasa ada keanehan dalam perilaku istrinya.
Ia sendiri sebenarnya sudah merasakan, perbedaan Sekar yang dulu dan yang sekarang sangatlah jauh berbeda.
"Sayang, kamu sudah ingat semuanya?" Angkasa menanyakan kembali untuk mengetahui semuanya lebih jelas.
Bulan terdiam. Ia sendiri bingung dengan dirinya.
"Sayang, jawab aku. Apa kamu sudah ingat semuanya?"
tanya Angkasa untuk kedua kalinya.
"Memangnya aku kenapa?" Bulan bertanya balik. Seingatnya terakhir kali, Ia ada disebuah hotel sedang melakukan drama kepalsuan bersama Dokter Lintang.
"Kamu pernah mengalami kecelakaan dan sempat Amnesia," jawab Angkasa. Pemuda tersebut mengambilkan air minum diatas meja kamar mereka untuk Bulan dan membantu gadis itu meneguknya.
"Tenanglah, kamu pasti belum sepenuhnya pulih," ujar Angkasa lagi. Pria luar biasa yang sabar dan sangat perhatian. Seharusnya Bulan adalah wanita yang beruntung pernah mengenalnya.
Lama duduk dalam kebingungan. Angkasa menuntun Bulan bangun dari posisinya. Ia akan memberikan kejutan untuk istrinya itu.
"Aku punya kabar gembira, kamu pasti akan sangat senang bertemu dengannya." Pemuda itu mengambil alih sprei ditangan Bulan dan melemparkan asal. "Ayo ikut aku!" Ajaknya. Dengan cepat menarik lengan Bulan keluar.
Baru saja sampai di ambang pintu, Fatan yang sudah merindukan langsung berteriak memanggil namanya. "Kak Bulan!" bocah kecil tersebut berlari dan memeluknya.
"Fatan...." Bulan yang senang tentu langsung berlutut dan merentangkan kedua tangannya.
Bulan sendiri tidak menyadari jika Angkasa dan Yang lainnya langsung terkejut saat mendengar panggilan Fatan pada dirinya.
"Bulan?" ucap Angkasa lagi, memastikan. Nada bertanya nya tidak baik-baik saja.
Bulan membulatkan kedua matanya. Kali ini kesalahannya sangatlah fatal.
"Sekar, apa ini? Jelaskan padaku! Sejak kapan nama Sekar berubah jadi Bulan?" Angkasa menodongnya dengan tatapan lekat.
Fatan segera membungkam mulutnya, Ia lupa jika Pak Dewok sudah berpesan agar memanggil Bulan dengan sebutan Sekar.
"Ups... maaf, Kak Angkasa. Aku menyukai nama itu. Makannya akan menamai Kak Sekar dengan nama itu. Kak Angkasa jangan marah ya. Aku janji gak akan panggil nama itu lagi, suwer." Fatan menunjukkan simbol janjinya melalu jari-jari imut yang Ia punya.
__ADS_1
Angkasa menatap bocah itu dengan seksama, membuat jantung Bulan dan yang lainnya berlarian karena takut Angkasa akan curiga pada Bulan. Tak terkecuali juga Pak Dewok. Dialah biang dari kebohongan itu terjadi.
Perkiraan mereka mengejutkan, Angkasa malah ikut duduk berlutut di samping Bulan dan memeluk Fatan.
"Gak papa kok, sepertinya nama itu emang cocok sama Kak Sekar," kata Angkasa. Ia mencium lembut kedua sisi pipi Fatan.
Bulan dan yang lainnya akhirnya bernafas lega, mereka mengira semua akan segera berakhir hari itu juga.
"Makasih, Kak Angkasa. Tapi Fatan gak mau ah. Takut Kak Angkasa marah," jawab bocah itu sembari tersenyum lucu kearah mereka secara bergantian.
Angkasa meleguk salivanya, Ia melirik Bulan yang terus tersenyum pada Fatan. Ada perasaan berbeda. Kepercayaan Angkasa mulai berkurang. Ia melihat ada banyak hal yang tidak Ia dapati di diri Bulan semasa Ia berpacaran dengan Sekar dulu.
Ada apa denganku? Dia banyak berubah sekarang. Apa benar hanya karena dia takut mengakui kemandulannya? Atau karena ada hal lain yang Ia sembunyikan?
Angkasa tenggelam pada prasangka buruk sampai Ia terbangun ketika tangan kecil Fatan menyentuh pipinya.
"Kak Angkasa, mikirin apa? Kak Angkasa, janji ya. Bakal nyayangin Kak Sekar seperti aku sayang sama dia," ucap bocah itu lagi. Memasang wajah yang memelas.
Angkasa mengangguk.
Pak Dewok dan Bu Arumi terharu melihatnya, mereka berharap kehadiran Bulan dan Fatan akan cepat membawa perubahan positif dalam diri Angkasa.
Keluarga itu berkumpul layaknya keluarga bahagia.
"Sekar, Angkasa ini bucin abis plus manja. Sebaiknya kamu banyak sabar deh ngadepin dia," cicit Dinda lagi.
Bulan hanya menimpalinya dengan tersenyum. Sesekali menoleh kearah Angkasa yang terlihat begitu santainya.
"Tutup mulutmu, Dinda. Itu namanya bukan bucin, tapi karena aku mencintai dia dengan tulus dan bersungguh-sungguh," jawab Angkasa membela diri.
"Idih, sama aja kalik. Liat aja tu, dia hampir gila sebentar saja ditinggal sama kamu," lanjut Dinda, Ia belum selesai menggoda Angkasa.
"Aduh, keponya. Terus suami barumu dimana coba? bolak-balik kawin cerai udah kayak kucing aja, Lo," ledek Angkasa lagi.
Dinda terpancing. "Ngapain juga bawa-bawa masa lalu. Yang penting kan happy. Aku gak suka cowok yang terlalu sibuk gak ada waktu buat bermanja-manja," sambung Dinda lagi.
"Na, itu kebalikannya. Kamu tu pasti pengen kan punya suami bucin kayak aku," gelak Angkasa. Ia sengaja menyuapi Bulan di depan Dinda bermaksud memanas-manasi.
__ADS_1
"Sial, Lo. Kok gue jadi kepanasan ya? AC gak nyala, Tante?" ucapnya mengalihkan perbincangan sambil mengebas-ngebas kerah lehernya dengan tangan. Dinda tidak akan bisa menang berdebat dengan Angkasa.
Yang lain cuma bisa ikut tertawa, menikmati ocehan kedua sepupu itu. Memang sejak kecil Angkasa dan Dinda selalu saling ejek satu sama lain saat mereka dipertemukan.
"Fatan, kamu mau makan apa?" Bulan membuka piring yang menangkup didepan bocah itu.
"Itu, Kak!" tunjuk Fatan pada daging ayam.
Bulan terperangai, setahunya Fatan dilarang makan makanan yang berlemak.
"Fatan, jangan makan itu ya? Sayur aja mau?" Bulan tidak mau kondisi Fatan memburuk lagi.
"Kamu tenang saja, Sekar. Fatan sudah sembuh hampir 99 % jadi sudah aman untuk mengkonsumsi makanan tersebut. Asal...!" Pak Dewok menatap Fatan. "Jangan berlebihan ya," imbuh nya kemudian.
"Iya, Ayah," jawab Fatan, menurut.
"Alhamdulilah...." Bulan dan Angkasa mengucapkan bentuk rasa syukur mereka akan kondisi Fatan.
"Terima kasih, Yah. Akhirnya Fatan bisa sehat lagi kayak dulu." Bulan tidak menyangka jika Pak Dewok telah melakukan sesuatu yang besar padanya untuk Fatan.
Pak Dewok mengangguk.
"Ya, sekarang. Tinggal menjaganya, Sekar. Supaya Fatan sembuh sepenuhnya," ucap Bu Arumi menimpali.
"Iya, Bu. Sekar akan memberikan makanan yang sehat untuk Fatan." Gadis itu mengusap kepala Fatan dengan sayang.
Mereka hanyut dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Hanya ada wajah ceria yang berpijar menghiasi ruangan itu kecuali Dinda. Kesalahan dimasa lalu membuatnya merasakan penyesalan yang besar.
Dinda terenyuh, Ia teringat akan sosok seorang anak yang pernah Ia tinggalkan lima tahun lalu.
Nak, Mama menyesal ninggalin kamu. Sebentar lagi Mama janji kita akan bertemu lagi ...
"Dinda, mikirin apa?" Bu Arumi rupanya menangkap kesedihan disana.
"Om, Tante. Apa Mama dan Papa akan memaafkan Dinda?" tanya perempuan itu. Ia sudah di coret dari daftar keluarganya karena lebih memilih seorang pengacara gadungan yang dikiranya kaya raya.
...๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya๐๐๐