Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 69 Belum Menerima


__ADS_3

Namun pernyataan Adi pun tak mengubah apa-apa. Hati Angkasa tetap enggan menerima kenyataan jika Sekar sudah tidak ada di dunia.


"Dasar, pembohong! Aku tidak percaya dengan kalian. Bisa-bisanya mengatakan pernyataan menyakitkan itu padaku. Aku yakin yang dirumahku itu, Sekar."


Ketiganya hanya mampu meneguk saliva, rupanya tidak semudah itu menyadarkan Angkasa dari kebodohan. Yang Ia tahu, Sekar masih hidup dan Ia sangat bahagia dengan itu.


Dino yang belum memberikan pendapatnya akhirnya ikut bersuara. Ia menyentuh pundak Angkasa dengan lembut dan berbicara santai. Ia ingin perkataan nya kali ini sampai ke dasar hati sahabatnya itu.


"Angkasa, seandainya kamu membuka sedikit saja hatimu. Mungkin kamu bisa merasakan siapa wanita yang di rumah itu sebenarnya. Sekar begitu mencintaimu, Angkasa. Ia rela melakukan apa pun demi kamu. Lalu, sudahkah wanita yang kau anggap Sekar itu melakukan hal yang sama."


Angkasa langsung menoleh kearah Dino. Hatinya mulai tersenggol pada perkataan Dino barusan.


"Meski serupa, dua orang yang berbeda tidak akan pernah bisa memiliki kepribadian yang sama. Kamu pasti tahu betulkan perangai, Sekar? Dan itu, tidak akan berubah Angkasa. Kalau dia jahat mungkin bisa baik begitu sebaliknya tapi kalau kebiasaan. Kata orang itu bagian dari diri orang tersebut, lalu mana mungkin kebiasaan nya, cara bicaranya dan perlakuan nya berubah apa lagi dalam waktu singkat," ucap Dino lagi menambahkan.


Angkasa tertunduk lesu, lalu kembali mengamati gundukan tanah yang belum lama di taburi bunga oleh seseorang itu dan bahkan terlihat jelas ada ukiran nama istrinya disana.


Dino kembali menepuk pundak Angkasa.


"Relakan istrimu dengan ikhlas, maka kamu akan melihat kebahagiaan yang sesungguhnya. Walaupun Sekar tidak bisa menemani kamu lagi."


Perkataan Dino menembus relung Angkasa, tapi Ia tak bisa menyingkirkan perasaan yang belum sepenuhnya percaya.


"Tidak, Dino. Istriku masih hidup. Setiap hari dia bersama ku. Kenapa bisa begitu?" Angkasa membiarkan tangis lelakinya pecah. Dino yang mengerti langsung memeluknya.


"Aku tahu cinta mu sangat besar pada, Sekar. Tapi kamu juga harus tahu jika Sekar adalah milik Nya, Angkasa."


"Aku tidak sanggup, Din. Aku belum bisa menerima ini."


Angkasa mengurai pelukannya, Ia masih butuh waktu untuk merenung karena belum siap mengakui kenyataan tersebut. Terlalu sakit jika sampai itu benar bahwa Orang yang selama ini bersamanya adalah orang lain.


Angkasa meninggalkan tempat itu, Ia tak ingin larut dalam permainan sahabatnya yang belum tentu benar jika Sekar yang di rumahnya adalah orang yang memanfaatkan kondisinya.


Dengan perasaan kalut Angkasa membawa mobil Putra keluar dari deriya. Pikirannya kacau, tidak tahu mana yang harus Ia percayai sebab Ia belum bisa membuktikan sendiri kenyataan yang sebenarnya.


Angkasa sengaja mengusir kegundahannya dengan menyetel musik dengan sangat keras. Tapi semua lagu yang Ia setel bergenre sedih.


Angkasa yang kesal memencet tombolnya asal-asalan, hingga tidak perduli menghentikan daftar list lagu tersebut di bagian mana. Lagu itu rupanya lagu yang dinyanyikan artis kondang bernama Isyana Sarasvati berjudul Tetap Dalam Jiwa.


*Tak pernah terbayang


Akan jadi seperti ini pada akhirnya


Semua waktu yang pernah kita lewati


Bersama nyata hilang dan sirna


Hitam putih berlalu


Janji kita menunggu


Tapi kita tak mampu


Seribu satu cara kita lewati


Tuk dapatkan semua jawaban ini

__ADS_1


Bila memang harus berpisah


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


Memang tak mudah


Tapi ku tegar menjalani kosongnya hati


Buanglah mimpi kita yang pernah terjadi


Tersimpan tuk jadi histori


Hitam putih berlalu


Janji kita menunggu


Tapi kita tak mampu


Seribu satu cara kita lewati


Tuk dapatkan semua jawaban ini


Bila memang harus berpisah


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda (dunia kita berbeda)


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda (dunia kita berbeda)


Tak bisa tuk teruskan

__ADS_1


Dunia kita berbeda


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang harus berpisah


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa


Tak bisa tuk teruskan


Dunia kita berbeda


Bila memang ini ujungnya


Kau kan tetap ada di dalam jiwa*


Rasa-rasanya lagu tersebut menggambarkan perasaan Angkasa yang begitu mencintai dan merindukan Sekar saat mereka masih berpacaran.


Angkasa yang mulai tenang memelankan laju mobilnya. Ia menapaki jalan sambil membuka jendela membiarkan angin alami menerpa tubuhnya di temani dentingan lagu itu sampai tak terasa Ia menepi lagi dikantornya.


Bayu rupanya sudah beberapa kali menghubungi dia, sebab akan ada rekan bisnisnya yang akan datang.


"Bos, aku menunggu sejak tadi. Tumben Bos datang terlambat, Pak Iswan sudah menunggu!" ujar Bayu setelah Angkasa keluar dari mobil yang Ia bawa.


"Maaf, Bay. Aku tidak bisa menemui dia sekarang. Kau handle saja sendiri!" Angkasa kembali masuk kedalam mobil pribadinya.


"Ta_ tapi, Bos. Beliau_!" Belum juga selesai berbicara, Angkasa malah tancap gas.


"Aduh, Bos kenapa ya? kok kayaknya banyak pikiran sih? terpaksa deh aku harus bekerja keras lagi sendiri," gumam Bayu seorang diri.


Tak sampai setengah jam, Angkasa tiba dirumahnya. Ia yang masih didalam mobil mendapati Bulan dan Fatan sedang bermain bola basket dengan sangat seru. Sesaat senyumnya terbit, ada rasa bahagia bisa melihat gadis itu ceria.


Bagaimana mungkin dia bukan Sekar? sedangkan postur tubuhnya hanya berbeda di pinggulnya saja? sekarang Sekar terlihat sedikit berisi dibanding waktu masih gadis. Putra dan lainnya pasti sengaja hanya ingin menghancurkan keluargaku saja...


"Kak, itu mobil Kak Angkasa ya!" Fatan menunjuk kearah mobil Angkasa.


Bulan mengikuti arah telunjuk Fatan, dan memang benar. Ia melihat pemuda itu baru saja keluar.


"Lo, Sayang. Kok udah pulang?" seloroh Bulan.


"Iya, Sayang. Entahlah, baru beberapa jam saja aku udah kangen lagi sama kamu," jawab Angkasa, bohong. Padahal itu hanya alasannya saja karena Ia mau membuktikan perkataan Putra.


Namun saat melihat Bulan, niat awalnya seolah memudar. Rasanya tidak mungkin gadis seperti Bulan sampai hati membohongi dirinya.


"Fatan, main apa?" Angkasa mengusap-usap pucuk kepalanya.


"Main bola basket, Kak. Tapi gak seru, soalnya Kak Bulan kalah terus. Payah, gak bisa jadi lawan main," ucap bocah itu dengan jujurnya.


"O ya?" Angkasa menoleh kearah Bulan yang tersipu.


"Kalau begitu, kamu mainnya sama Kakak saja." Angkasa menyerobot bola tersebut dan melemparnya ke ring.

__ADS_1


__ADS_2