
"Ayah, Ibu gak kuat lihat ini." Bu Arumi tak kuasa menahan air matanya. Ia meninggalkan tempat itu dan masuk kekamar.
Pak Dewok sendiri juga sama, Ia hanya bisa memegangi dadanya supaya kuat menyaksikan adegan yang dilakukan Angkasa demi melihat kebahagiannya.
"Ayah sudah kehilangan Putra Ayah yang lainnya , Nak. Sejak kejadian itu, Ayah sudah berjanji tidak akan kehilangan kamu lagi meski Ayah harus mengorbankan nyawa Ayah sendiri."
Pak Dewok menjauh dan mendudukkan diri di sofa, Ia ikut menangis karena tak bisa melakukan cara lain selain yang terjadi saat ini.
"Ayah, kenapa menangis?" tanya Fatan, bocah kecil itu tidak bisa tidur hingga memutuskan keluar lagi dari kamarnya.
"Sini, Fatan. Ayah mau dipeluk!" Pinta Pak Dewok. Bocah itu menurut dan melakukannya.
"Ayah, jangan banyak pikiran nanti sakit lo." Kepolosan Fatan sangat membantu mengurangi suasana tak enak di hati Pak Dewok.
"Iya, Nak. Kenapa belum tidur. Ini sudah malam kan?"
"Nanti saja, Fatan belum ngantuk," jawab Fatan polos.
Tak berapa lama, Angkasa dan Bulan masuk. Mereka sudah menggigil kedinginan. Fatan yang melihat kedatangan mereka langsung menegurnya layaknya pria dewasa.
"Kak Angkasa, Kak Sekar. Kok hujan-hujanan sih? Kayak anak kecil aja," ucapnya sembari cemberut sambil menyilang kan tangannya ke dada.
"Ssttt... mau tahu aja urusan orang tua," ucap Angkasa sambil meletakan jari telunjuk diatas bibirnya.
"Ayah, hukum saja mereka. Kalau sakit kan ngerepotin Ayah," ujar Fatan lagi. Ia menatap sewot.
Pak Dewok yang tadinya cemberut ikut dalam kelucuan Fatan. "Iya ni, Awas ya Kak Angkasa sama Kak Sekar. Nanti Ayah gak kasih uang jajan lo!" ucap Pak Dewok pura-pura marah.
"Rasain tu. Emang enak!" Fatan menjulurkan lidahnya terus menerus untuk mengejek.
Angkasa dan Bulan jadi malu sendiri dibuatnya. Angkasa yang tidak mau kelamaan disana langsung menggenggam tangan Bulan kekamar.
Malam itu tidak terjadi apa pun, Angkasa sudah mendengkur memeluk tubuhnya. Namun gadis dua puluh satu tahun itu tidak bisa memejamkan matanya sesaat saja. Dia terus memandangi wajah tampan Angkasa sepuasnya, karena besok, lusa atau beberapa hari kedepan Ia takut tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi.
Berdosakah aku, jika ingin terus merasakan ketenangan ini saat menatapnya dan menikmati dekapannya?...
Bulan mulai berpikir egois, Ia sudah terlanjur bahagia walaupun hatinya bersedih atas pengorbanannya.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
__ADS_1
Pagi yang cerah, matahari memancar terang menyalurkan energi kehangatan bagi para mahkluk di muka bumi. Jika hidup di desa, sudah dipastikan burung-burung cantik akan berkicau merdu menyambut indahnya pagi itu.
Disebuah rumah minimalis diujung kota, Pelangi terlihat sibuk memasak sambil mencuci piring. Sialnya, Ia bangun agak telat jadi bingung sendiri.
"Pelangi buruan, aku mau sarapan. Sudah siang ni!" teriak Dokter Lintang, koar-koar dari meja makan.
"Iya, Dok. Sebentar," sahut Pelangi. Suaranya tak kalah melengking. "Dasar Dokter songong, punya gelar besar aja belagu, masih aja gak tahu sopan santun," cibir Pelangi dari dapur.
Usai memasak sayur lodeh dan ikan sambal gurami. Buru-buru Pelangi mengantarnya kemeja. Ia juga menyediakan nasi putih didepan Dokter Lintang.
"Cuma ini?" tanya Dokter Lintang.
"Iya, aku cuma nemu itu di kulkas," jawab Pelangi ketus. Ia ingin ikut duduk makan tapi Dokter Lintang menahannya.
"Eh, mau ngapain?" cegah Dokter Lintang.
Pelangi mendengkus kesal. "Apa lagi sih, Dok? saya juga lapar ni." Terpaksa Ia kembali berdiri dan menunggu perintah selanjutnya.
"Ambilin aku makan, mulai sekarang itu menjadi tugasmu!" ucap Dokter Lintang dingin. Sedingin air salju dipagi hari.
Meski enggan, Pelangi menurut. Ia menyediakan makanan layaknya seorang istri. "Ni, Tuan raja yang terhormat," kesalnya, sembari melirik jengkel.
Dokter Lintang mencicipi ujung nasinya sedikit untuk membuktikan apakah masakan Pelangi layak konsumsi atau tidak.
Perasaan Pelangi jadi cemas, Ia harus bersiap diceramahi Dokter songong itu panjang kali lebar sampai telinganya tuli.
"Hem, lumayan!" puji Dokter Lintang tiba-tiba.
"Apa, Dok? Masakan ku enakkan?"
Pelangi tidak mau menunggu jawaban dari Dokter Lintang, lekas dia duduk lagi dan makan dengan asal karena memang sudah sangat kelaparan. Bahkan satu kakinya naik keatas kursi.
"Astaga, Pelangi!" Dokter Lintang sampai ilfil melihatnya. "Turunkan kakimu!" lanjutnya lagi sembari melotot kearah Pelangi.
"Emang kenapa sih, Dok? makan seperti ini sangat enak."
"Turunin sekarang!" Dokter Lintang sengaja menunjuk muka Pelangi dengan sendok garfu. Tak punya pilihan lain, gadis itu akhirnya mengalah.
"Dasar Dokter galak," cicitnya, pelan. Siapa yang tidak jengkel hidup terpaksa bersama Dokter kejam seperti dia.
__ADS_1
Dokter Lintang mengulum senyum, Ia sangat puas melihat Pelangi terzolimi. Sejak pertama kali bertemu. Entah mengapa Ia sangat ingin melihat Pelangi menderita olehnya.
Cukup lama saling diam, Dokter Lintang kembali bersuara.
"O ya, setelah makan kamu ikut aku!"
Pelangi hanya mendongak memandang Dokter Lintang lalu kembali pokus melahap makanannya. Karena protes pun percuma, Ia pasti tidak akan pernah menang melawan Dokter Lintang.
Beberapa menit berlalu, akhirnya selesai juga. Dokter Lintang harus menunggu sebentar lagi agar Pelangi selesai mencuci bekas sarapan pagi mereka.
Tepat pukul 08.00 WIB, keduanya naik kedalam mobil menuju sebuah Mall.
"Dok, kita mau ngapain kesini?" tanya Pelangi penasaran.
"Mulai hari ini anakku akan tinggal bersamaku," jawab Dokter Lintang apa adanya hingga Pelangi kaget dan mendadak tersedat.
Uhuk... Uhuk...
"Pelangi, kamu kenapa?" Dokter Lintang memukul pelan tengkuknya.
"Gak, gak papa, Dok," jawab Pelangi, nafas nya agak terengah-engah.
Dokter Lintang berdecak dengan perasaan miris.
"Heh, kamu pasti mengira aku masih bujangan ya?"
"I_ iya, Dok," jawab Pelangi gugup.
Tepat di bawah tangga eskalator, Dokter Lintang berbalik hingga menabrak wajah Pelangi yang terus menunduk.
"Aduh, Maaf, Dok. Kalau mau berbalik kasih tahu dong." Hari itu Pelangi benar-benar sial. Ia tidak menyangka, baru beberapa hari bekerja Dokter Lintang sudah membuatnya ingin minggat sejauh-jauhnya.
"Aku mau kamu nanti memberikan pendapat soal baju dan mainan yang akan aku belikan buat putriku. Kamu pasti lebih paham kesukaan perempuan kan?" kata Dokter Lintang.
"La kok saya sih, Dok. Emang Ibunya kemana?" Pelangi menganggap dirinya tidak punya kewajiban untuk itu.
"Bukan urusanmu!" bentak Dokter Lintang geram. Ia sudah melupakan mantan istrinya dan tidak mau lagi mengingat masa lalunya yang kelam.
Pelangi tersentak hingga menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ma_ maaf, Dok. Bukan apa-apa. Saya kan belum pernah punya anak. Mana saya tahu apa yang di sukai anak Dokter atau enggak," jawab Pelangi jujur.