Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 61 Ronde Berlanjut


__ADS_3

Tanpa ambil pusing lagi akan ucapannya Putra, keduanya kembali kerumah. Mereka hanya diam dan saling menatap memahami apa yang sebenarnya tidak mereka ketahui dalam hidup yang mereka lalui.


"Sayang, apa kau masih memikirkan perkataan Pria itu tadi?" Bulan menatap sorot mata yang tak biasa di dalam bola mata Angkasa.


Pemuda itu tidak menjawab dan malah meninggalkannya seorang diri. "Ada apa dengannya? Emang pertanyaan ku salah ya?"


Bulan segera bangkit dan mengejar suaminya. Memasuki ruang kamar pribadi mereka yang masih sangat berantakan. Rona gadis itu membulat. Tak kala baru menyadari kesalahannya.


"Astaga, maaf. Aku lupa merapikannya, hehehe...!"


Bulan langsung menarik selimut diatas ranjang berniat melipatnya. Tapi yang ada bukannya selesai Angkasa dengan sengaja mendorong tubuhnya terlentang di kasur.


Bulan agak terkejut, Ia menatap lekat suaminya yang dengan cepat merangkak menindih tubuhnya.


"Ma_ mau apa?" tanyanya sedikit mengernyit.


Angkasa tetap bungkam membiarkan tangannya terpaku dikedua sisi tubuh Bulan.


"Sayang, kenapa? Kok aku merasa kamu aneh sih?" tanya Bulan lagi sedikit takut. Tak biasanya Angkasa bersikap demikian saat bersamanya.


Angkasa mendekatkan mulutnya ketelinga Bulan. Ia rupanya tengah membisikan sesuatu yang membuat Bulan tertawa.


"Apa? lagi? Haruskah sekarang?" Suaranya terdengar lepas.


"Iya, setelah itu. Kepalaku pasti segera sembuh," jawabnya setengah memelas. Pura-pura cuek rupanya ada maunya.


"Em... Tapi_?"


Pernyataan Bulan yang menggantung membuat Angkasa malah semakin tidak sabaran. Ia melepaskan pakaiannya dan langsung menyambar bibir Bulan dengan sangat berna_su.


Bulan tak dapat mengelak, serangan Angkasa meluncur tepat pada mulut yang sewaktu-waktu bisa menjadi tronton bising menyebalkan.


"Stop!" Bulan mendorong wajah Angkasa, sambil mengerucutkan bibirnya yang imut. "Sabar dulu, aku ambil nafas sebentar."


Bulan melakukan penawaran layaknya pembeli pada pedagang. Ia tidak mau rugi jika sampai mati karena bercinta.


Angkasa bukannya meminta maaf, Ia justru kembali melum_at bibir Bulan.


Bulan tak berdaya, Ia hanya mampu menggeliat tak kala ciuman yang tadinya menyesakkan berubah jadi permainan yang menghaus kan hasratnya.

__ADS_1


Angkasa terus memangut nya tanpa jeda sedangkan tanganya menyelusup masuk ke baju Bulan. Memainkan tangannya di dua gundukkan kenyal yang menantang. Bersamaan dengan rakat yang memuncak diiringi terdengarnya suara hujan yang turun gemericik diatas atap.


"Em... Ssss... !" Bulan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh pemuda yang dianggap suaminya itu. Tubuhnya seakan melayang-layang mendambakan sensasi yang lebih dari sekedar belaian.


Meski sebenarnya mereka sendiri terjerat dalam jurang kenistaan. Siapa yang akan mengutuk mereka? dan bagaimana bisa mereka dipersalahkan? Sebab, pada kenyataannya mereka sendiri memang tidak tahu jika mereka sama-sama orang asing yang belum terikat hubungan apapun.


Angkasa dan Bulan hanya meyakini jika mereka sudah menikah dan berhak menikmati indahnya surga dunia layaknya sebagai pasangan suami istri. Apa pun dianggap bebas, karena mereka merasa jika itu sesuatu yang benar adanya.


"Ah, Sayang. Ayo masukkan aku sudah basah!" Bulan memekik dan sedikit mengangkat panggulnya sampai Angkasa menghujamkan keperkasanya masuk kedalam kepemilikannya.


Beberapa tahap mereka lakukan, bahkan suara nafas keduanya saling bersautan. Lelah sudah pasti, tapi mengalahkan kenikmatan yang muncul dalam setiap otot dan saraf di inti mereka.


Lama menghentak-hentakkan ke gagahan nya, akhirnya Angkasa menyemburkan lagi miliknya ke dalam tubuh Bulan beriringan dengan begidik nya seluruh tubuhnya saat cairan itu keluar.


Angkasa yang sudah puas menjatuhkan diri diatas tubuh Bulan sampai miliknya mengendur dan keluar dengan sendirinya.


"Makasih, Sayang. Aku akan selalu ketagihan dengan ini," desis Angkasa lagi. Keduanya melempar senyum sejenak lalu membersihkan diri bersama-sama.


Selepas berganti pakaian, Angkasa yang melihat jam masih sore merasa lapar. Ia yang melihat istrinya tengah sibuk mengganti sprei pun membiarkannya.


Angkasa memeriksa makanan di dapur, semua bahan yang Ia temukan segera dimasak olehnya.


Angkasa menghentikan aktivitas nya dan memutuskan membuka pintu lebih dulu. Ia langsung membelalakan bola matanya saat mengetahui siapa yang telah datang.


"Ayah, Ibu. Bukankah tadi bilangnya pulang besok?"


"Angkasa, bagaimana keadaanmu dirumah?"


Angkasa belum menjawab dan langsung memeluk keduanya dengan sangat senang. Mereka tidak datang sendiri. Ada sepupu perempuannya dan juga Fatan.


"Baik, Yah. Tapi kok Fatan sama kalian?" tanya Angkasa heran. Beralih menatap sepupu perempuannya


"Oh, dia. Kamu tahu Sekar sangat menyayanginya jadi kami memutuskan mengadopsi Fatan menjadi anak lelaki kami," jawab Pak Dewok, bohong.


"Oh gitu. Hey, Dinda. Apa kabar!" Angkasa juga memeluknya.


"Baik, Sa. Gimana keseharian mu? Apa kau bahagia? roman-romannya tampangmu tidak biasa?" Dinda menggoda nya disertai kekehan kecil.


"Kamu bisa saja, habis olah raga tadi," jawabnya senang, bermaksud membalas sindiran Dinda.

__ADS_1


Pak Dewok dan Bu Arumi menoleh, mereka sudah bisa menebak apa yang Angkasa maksudnya. Pasti Ia telah berhasil melakoni hasratnya sebagai lelaki.


"Dasar kau, aku tahu maksudmu? Mana adik Ipar. Dia pasti sangat cantik ya, sampai kamu lupa daratan?"


"Tentu saja, bahkan dengan mudah aku melupakan jika kamu adalah sepupuku."


"Dasar soang, pasti kau terus menyosor diakan?"


"Mau tahu aja, ayo Ayah, Ibu , adik baru ku Fatan kita masuk. Kalian harus mencicipi masakan aku yang super duper lezat. Makanan bintang lima mah lewat!" ucap Angkasa sombong.


"Masak sih? Kok aku gak ditawarin ya? Jangan-jangan bintang lima KW lagi, jadi takut aku kasih nilai O," ledek Dinda lagi usianya dua tahun lebih tua dari Angkasa.


"Yeah, kamu masak saja sendiri," ketus Angkasa. Mereka segera kemeja makan untuk menikmati apakah makanan bintang lima benar-benar telah berpindah dirumah mereka.


"Nak, istrimu mana?" tanya Pak Dewok lagi. Memeriksa disekitaran ruangan yamg terjangkau.


"Oh, iya lupa. Dia masih sibuk berbenah di kamar tadi."


Angkasa pergi untuk mengecek kegiatan Bulan. Pemuda itu sangat terkejut ketika mendapati Bulan menangis dipojokkan.


"Sayang, kamu kenapa?" Angkasa berlari dan memeluk nya.


"Ini apa?" Bulan menunjukkan noda merah di sprei kuning itu.


Angkasa mengerutkan dahi. "Apa pentingnya itu?" tanya Angkasa, kurang mengerti maksud ucapan Bulan.


"Hiks....!" Bulan tak mampu berkata-kata pasti Ia mengalami sesuatu yang sangat fatal.


"Sayang, apa yang terjadi? Kepala mu terbentur lagi ya?" Angkasa meraih kepalanya untuk memeriksa.


"Menjauh, Angkasa!" teriak gadis itu sambil mendorong Angkasa dengan kasar hingga terbelalak.


"A_ apa kita sudah melakukan hubungan diatas ranjang?" tanyanya lagi, dengan raut wajah histeris.


Angkasa mengerutkan dahi. Ia menjadi aneh dengan sikap istrinya yang tiba-tiba menanyakan hal yang sudah mereka lalui bersama baik semalam maupun sore itu.


"Sayang, kamu kenapa? Emang nya ada masalah apa jika kita melakukannya? Terus hubungannya dengan noda darah itu_." Angkasa menjeda kalimatnya.


"Kamu takut dengan darah? Itu keluar semalam saat aku melakukannya untuk yang pertama kali, Sayang. Kenapa baru menanyakannya sekarang?" Angkasa memperjelas kejadian sebelumnya.

__ADS_1


Bulan nampak tercengang. "Semalam? Jadi kita benar-benar melakukannya? Ta_ tapi itu tidak mungkin Angkasa. Kamu bohong kan? Aku masih sucikan?"


__ADS_2