
...πππππ...
Cinta itu bagai misteri...
Datang dan pergi tanpa dinanti..
Berjalan seperti air...
Membakar seperti api...
Sulit hadir...
Sulit juga pergi...
...πππππ...
Gagap bin gelagapan menerpa wajah kedua pasangan paruh baya itu. Mereka tidak mempersiapkan segala sesuatunya ketika Angkasa tiba-tiba muncul bersamaan dengan sebuah pertanyaan yang membingungkan.
"Hehehe ... udah pulang. Mantu Ibu kenapa?" Bu Arumi pura-pura mengamati tubuh yang ada dalam gendongan putranya. Selain tidak punya jawaban, pertanyaan itu adalah pilihan yang paling tepat.
"Oh.. ini, Sekar ketiduran, Bu. Aku kekamar dulu ya," jawab Angkasa, ia segera melangkah kearah yang dimaksud.
"Ibu lihat kan?" Pak Dewok menyadarkan Bu Arumi.
"Iya, Yah. Ibu tahu, Angkasa sangat mencintainya. Jika tidak, mana mungkin mau menggendongnya begitu. Jangan samakan kayak Ayah, gak ada romantis-romantisnya jadi orang," sungut Bu Arumi, balik menyerang Pak Dewok. Menyambar gelas yang sudah kosong lalu melenggang pergi.
"Dulukan aku juga sering gendong lo, Bu!" teriak Pak Dewok, entah didengar atau tidak oleh Bu Arumi. Perempuan tua itu tidak menimpali.
"Dasar awewek, keriweh-riweh," dumel Pak Dewok, jengkel dan kembali duduk di sofa menikmati berita malam dilayar relevisi.
...π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ...
Angkasa merebahkan Bulan ke ranjang. Karena tak ingin mengganggunya, pria bertubuh tinggi, tampan dan gagah itu melakukannya perlahan-lahan.
"Sayang, tidurlah. Semoga semua akan baik-baik saja." Angkasa membelainya sejenak lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Suara air yang bergemericik dari kamar mandi rupanya membangunkan Bulan yang tersentak dan menoleh kesana-kemari mengenalinya dimana dia berada sekarang.
"Astaga..." Bulan memijat keningnya. Setelah tahu jika dirinya bukan lagi dirumah sakit melainkan ada dirumah.
Tidak menunggu waktu lama. Angkasa sudah muncul dari balik pintu dengan rambut acak-acakan dan hanya di balut lilitan handuk di bawah pusarnya.
Tubuh itu sejenak mempesona pandangan Bulan, walaupun dirinya belum juga berpindah dari ranjang. Namun, posisi kamarnya itu bisa terlihat dari pintu kamar mandi.
Angkasa sendiri tidak tahu, Bulan terus mengikuti pergerakannya memakai pakaian segitiga. Pemuda itu bahkan melepas handuknya dan membiarkan Bulan melihatnya dengan leluasa.
__ADS_1
Bulan yang merasa terzholimi cepat-cepat menutup wajahnya dengan selimut. Tapi menariknya lagi ketika Angkasa mengambil sebuah kaos dan celana pendek lalu memakainya.
Kesederhanaan penampilan Angkasa tetap tidak mengurangi ketampanannya, justru Ia terlihat semakin menggoda.
Sekali-kali Bulan meleguk salivanya, tidak memikirkan tindakannya sudah mulai nakal. Ia sepertinya tengah menikmati ke sempurnaan tubuh Angkasa.
Ya ampun ada apa denganmu, Bulan? mengapa dia terlihat sangat tampan?
Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap tidak akan tertarik sedikit pun.
"Apa yang kau lakukan?" Serta merta degup jantungnya berlarian menggoncang dada. Tidak dia ketahui, rupanya Angkasa sudah ada disamping tempat tidurnya.
Bulan tersipu, sedikit tersenyum manis hingga Angkasa kembali mencium bibirnya. Wajah Bulan berubah merah merona, Ia menyukai perhatian Angkasa yang tidak pernah luntur sekejap pun.
Siapa wanita yang tidak akan terbuai, jika hidupnya ditaburi banyak cinta dari sang suami. Segala sesuatu telah Ia berikan dengan tulus. Sampai-sampai Bulan melupakan statusnya disana.
"Ayo bangun, bersihkan diri terlebih dahulu!" Angkasa mengangkat kepala Bulan ke dadanya yang ikut duduk di belakang Bulan.
"Iya, aku mandi sekarang," jawab Bulan, ingin melepas kan diri tapi Angkasa malah menariknya keatas pangkuan.
"Tunggu dulu!" Angkasa mengelus-elus pipi Bulan. "Jujur aku tidak sabar," ucapnya lirih. Bulan dapat merasakan sesuatu mengganjal menyentuh bo_ongnya.
Bulan lagi-lagi tersenyum, Ia mengabaikan Angkasa dan melarikan diri.
"Sayang...!" Teriak Angkasa.
Bulan memeluk tanganya, tidak mengerti dengan perasaannya sendiri dan itu kali pertamanya Ia merasakan hal yang sangat berbeda sekilas kemudian tersenyum.
(Ada apa denganku? mengapa aku aneh begini sih? ingat Bulan, jangan tergoda. Kamu bukan Sekar. Jika tidak kamu akan tersakiti)
"Apa yang kurasakan, jantungku selalu saja berdebar-debar ketika menatap wajahnya?" Bulan meraba dada yang masih di dera degupan kencang.
"Ini tidak boleh, Bulan. Ini bukan jatuh cinta kan?" Bulan meyakinkan diri. Lalu mendudukkan diri dilantai mencoba berpikir sehat.
Sedangkan Angkasa sendiri, selalu dibikin berbunga-bunga menambah besar rasa cintanya terhadap Sekar. Bulan selalu saja berhasil mencuri perhatiannya.
"Ahk... Angkasa. Mengapa kau seperti orang yang baru jatuh cinta sih?" Angkasa mengacak-acak rambutnya bertambah parah.
"Konyol, aku mencintai istriku sendiri," desisnya heran. Merebahkan tubuh ke kasur membayangkan hari-harinya bersama Bulan yang terasa ingin selalu terjadi setiap jam. "ah... bukan, bukan setiap menit, ah ... itu juga tidak benar, lebih tepatnya setiap detik. Pasti sudah seperti surga," celoteh Angkasa lagi senyum-senyum sendiri.
Dua puluh menit berlalu, Angkasa memilih duduk dan terus menatap pintu. Tidak sabar menunggui Bulan yang akan keluar dari kamar mandi. Ia ingin melihat kecantikan istrinya saat hanya mengenakan sehelai handuk yang terikat diatas dada.
"Dimana dia? kenapa lama sekali?" Angkasa berpindah kekursi. Seolah sedang menunggu kocokan lotre dan harap-harap cemas menunggui namanya yang akan disebut.
Ceklek!
__ADS_1
Suara tarikan kenop pintu terdengar, Angkasa meraih ponsel dan pura-pura memainkannya.
"Sweety!" Bulan hanya mengeluarkan kepalanya.
"Hm?" Angkasa mengangkat kepala. Ayo keluarlah...
"Tolong ambilkan handuk yang lain, ini kekecilan!" menunjukkan barang dimaksud.
Angkasa mengangkat alisnya. "Eh itukan_." Ia baru saja memakainya untuk mengeringkan batang bertopi saat tengah selesai mandi lalu menggantungkannya lagi asal.
"Cepetan aku udah kedinginan!" pekik Bulan kesal. Bibir manyun itu terlihat se*si.
"Tunggu sebentar...!" Angkasa membuka ke lemari dan mengambil yang baru.
"Ini..!" Serahnya, setelah mendekat. bola matanya mencoba menerawang masuk kedalam.
"Apa...?" Bulan yang menyadari Angkasa langsung menutup pintu dengar keras.
"Astaga, Sayang!"
"Pergi sana, emang apaan main diintip segala!" amuk Bulan lagi, menimpali.
Angkasa benar-benar sial, Bulan keluar sambil memasang wajah masam. Jika di amati Angkasa, handuknya terikat sangat kuat.
"Ah... kenapa tidak sesuai bayangku," gumam Angkasa.
Bulan meliriknya sedikit, berusaha menahan tawa melihat ekspresi kesal di wajah pria itu. Ia puas akan wajah lesu Angkasa.
"Keluar dulu!" titahnya lagi.
"Untuk apa?" tanya Angkasa pelan.
"Aku tahu otakmu mesum," ungkap Bulan.
"Emang kenapa? aku hanya ingin mengintip sedikit, emang tidak boleh?"
"Is, mengintip? kau pikir mainan?"
"Bukan, tapi itu milikku. Tapi aku tidak pernah memainkannya."
"Hem? seharusnya kau mengerti."
"Masih takut?" tanya Angkasa.
Bulan terdiam. Lebih dari itu
__ADS_1
"Oke iya, aku akan menunggu dua hari lagi." Angkasa meninggalkan Bulan seorang diri.