Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 51 Cemburu


__ADS_3

Lama saling tenggelam dalam perasaan masing-masing. Keduanya mengakhirinya dengan segera bersiap menggenakan pakaian mereka.


"Sayang, cepat ganti baju. Aku tidak mau kita kemalaman pulangnya!" titah Angkasa secepatnya.


"Oke, Sayang. Tunggu ya."


Tidak perlu memakan waktu lama, cukup beberapa menit saja mereka telah sampai di rumah sakit. Dokter Lintang sudah menunggu mereka di ruangan pribadinya.


"Sore, Dok!" sapa Angkasa dan Bulan berbarengan


"Sore, kukira tidak jadi datang?" Seharusnya mereka memang datang lebih awal sepuluh menit, namun gara-gara adegan tadi. Mereka terpaksa mengulur waktu.


"Maaf, Dok. Anda pasti tau kan saya sangat sibuk," kekeh Angkasa, melirik sejenak kearah Bulan yang hanya tersenyum dan mengangguk.


Dokter Lintang tertarik menatap Bulan seolah ada magnet yang memikatnya untuk menikmati kecantikan wajah gadis itu hingga membuatnya tidak pernah bosan untuk memandang.


"Oke, biar tidak ke sorean kita mulai saja ya!" Dokter Lintang meminta Bulan duduk diatas brankar. Ia menyiapkan beberapa alat yang diperlukan seperti sebuah gunting. Sejujurnya apa yang dilakukannya adalah untuk menjaga perasaan Angkasa.


Dokter Lintang memotong ujung perbannya sedikit dan mulai memutar kain putih panjang tersebut beberapa ulang.


"Alhamdulilah, lukanya sudah mengering. Mudah-mudahan segera pulih!" Ucap Dokter Lintang lagi, memeriksa bagian yang terluka di tepian kepala Bulan.


Menyentuh nya saja Dokter Lintang merasakan getaran yang tidak biasa. Wangi rambut Bulan begitu menyejukkan Indra penciumannya.


"Dok, saya ingin menanyakan sesuatu?" tanya Angkasa, Ia tidak merasa ada yang aneh akan tatapan Dokter Lintang terhadap istrinya.


"Apa itu?" tanya Dokter Lintang.


"Em... ini, Dok. Sedikit privat," bisik Angkasa.


"Katakan saja, Angkasa. Mungkin aku bisa menjawab," ujar Dokter Lintang sembari membubuhkan sesuatu ke bekas luka di kepala Bulan.


"Em.. itu, Dok. Kenapa saya jadi malu ya," cicit Angkasa bingung dan itu mengundang tawa Dokter Lintang.


"Santai saja, dong. Apa aku akan memenjarakannya hanya karena menanyakan sesuatu." Dokter Lintang merasa konyol akan perilaku Angkasa yang menurutnya terlalu lebay.


"Tapi Dokter jangan meledek ya?"


"Oke, siap. Saya akan menjawab sesuai kemampuannya saya."

__ADS_1


"Kepalanya kan masih sakit," ujar Angkasa mulai menjelaskan.


"Iya, terus?"


"Aman gak kalau kami_ melakukan_ ?" Angkasa ragu untuk melanjutkan. Sesekali menggaruk batang hidungnya dan nyengir.


Dokter Lintang sampai mengernyitkan dahi menunggu sambungannya. Sesaat Dokter Lintang mengangguk dan merasa kelu, Ia baru mengerti akan maksud pertanyaan Angkasa. Tapi kembali lagi pada keprofesionalannya sebagai seorang Dokter yang harus memberitahukan apa yang perlu Ia jelaskan pada pasiennya.


Dokter Lintang menyudahi mengobati Bulan beralih pokus pada Angkasa yang sangat beruntung menemukan Bulan lebih dulu darinya.


"Aku tahu maksud kamu, Angkasa. Kamu bisa kok melakukan itu yang penting adalah jangan sampai kepala Sekar terbentur oleh benda keras. Takutnya luka di kepala Bulan jadi infeksi," papar Dokter Lintang.


Wajah Angkasa langsung berbinar. "Seriusan, Dok? tidak akan berdampak kan?"


"No, yang penting jangan bringas juga lah. Slow aja, sebab kondisi Bulan masih butuh perhatian," imbuh Dokter Lintang lagi menggodanya.


"Dok, ini hasil ronsen nya!" Seorang Suster masuk dan menyerahkan sebuah map.


Dokter Lintang langsung melihat dan meneliti hasil ronsen milik Bulan. Ia tersenyum setelah tahu Bulan tidak mengalami hal yang serius.


"Alhamdulilah, Amnesianya Insya Allah tidak permanen. Jadi sewaktu-waktu Sekar bisa saja ingat dengan sendirinya," jelas Dokter Lintang.


Angkasa diam-diam memperhatikan Dokter Lintang terbersit rasa ragu akan kebenaran Pria itu soal di malah ULTAH Sekar yang mengatakan jika dia adalah pasangan se*k dari istrinya Sekar.


(Kenapa aku jadi takut ya? bagaimana jika semuanya hanya kebohongan Dokter Lintang untuk menutupi aib mereka. Pasti sangat mudah baginya memutar balikkan pakta)


Angkasa gusar, Ia mengusap wajahnya berulang-ulang. Bagaimana mungkin Ia sampai lupa akan kejadian beberapa hari yang lalu sampai pada akhirnya Bulan mengorbankan dirinya hingga mengalami Amnesia.


Drrrrr!


Ponsel Angkasa bergetar. Ia menjauhkan diri dan segera menghubunginya panggilan telpon dari asistennya.


"Ada apa, Bay?" tanya Angkasa, sesekali melirik Bulan yang terlihat asyik mengobrol dengan Dokter Lintang.


"Bos, ada undangan makan malam dari seorang Kolega kita. Pesta itu diadakan di kafe KRP. Pak Baroto sangat berharap Bos dan Bu Sekar bisa hadir."


"Oh, oke. Kenapa dadakan?"


"Maaf, Bos. Sebenarnya undangan nya kemaren tapi Saya lupa, habis kerjaan numpuk," keluh Bayu dari arah berlawanan.

__ADS_1


"O... jadi kamu keberatan?" delik Angkasa, Ia bermaksud memberi ancaman pada anak buahnya yang satu itu.


"Hehehe... enggak, Bos. Jangan lupa datang ya...."


"Iya, baiklah. Akan saya usahakan."


Angkasa mematikan ponselnya dan hendak berbalik kearah Bulan. Disana Ia tercekat mendapati Dokter Lintang sedang memijit telapak tangan Bulan.


"Pijatan seperti ini sangat bermanfaat untuk mengurangi stress, Sekar. Jadi, kalau nanti kamu mengingat sesuatu dan kepalamu sakit pijat di sini ya."


Dokter Lintang menunjukkan bagian tengah pemisah jari Ibu dan jari telunjuknya. Ilmu itu pernah Ia pelajari dari seorang ahli Refleksi yang mengatakan bahwa telapak tangan adalah pusat emosi dan perasaan seseorang yang menyebabkan stress pada orang tersebut.


"Jika dipijat secara teratur, di titik ini. Kamu akan merasa tenang," tambah Dokter Lintang.


"Wah, keren Dok. Ternyata sakit kita saling berhubungan dengan diri kita sendiri ya," puji Bulan, terkagum-kagum.


"Ehemz...!" Angkasa mendekat dan sengaja begitu agar Dokter Lintang tidak terus berlama-lama menyentuh istrinya.


"Oke, Sayang. Sebentar lagi malam, kita ada undangan makan malam jadi kita pulang sekarang ya!" Angkasa membantu Bulan berdiri. "O ya terima kasih ilmunya tadi, saya akan rutin melakukannya pada istri saya," sindir Angkasa lagi.


Dokter Lintang jadi serba salah, Ia hanya mengangguk dalam diam. Sudah dipastikan Angkasa tidak menyukai tindakannya barusan.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


"Sayang, kita akan kepesta siapa? disana banyak makanan gak? aku laper ni, mau makan?" tanya Bulan, mereka jalan beriringan menuju mobil.


"Banyak, nanti aku beliin semu kesukaan kamu," jawab Angkasa tanpa berpikir untuk menoleh sejenak saja.


"Tapi, Sayang. Aku kok merasa kalau kamu sedang marah ya sama aku?" tanya Bulan lagi. Tidak biasanya Angkasa dingin terhadapnya.


"Sayang, kok gak di jawab sih?" desak Bulan kesal. Ia manarik tangannya tidak mau di pegang Angkasa.


pemuda itu terpaksa menghentikan langkah dan memandang Bulan dengan tatapan marah.


"Sayang, aku tidak suka ya melihatmu dipijit sama Dokter itu!" omel Angkasa. Hatinya dongkol dan masih belum terima.


Bukannya minta maaf, Bulan malah mengejeknya. "Hihihi.. cemburu ya, dia kan Dokter. Masak gak boleh pegang sih?"


"Sayang, bisa gak serius?" bentak Angkasa kemudian hingga membuat Bulan langsung menunduk takut.

__ADS_1


__ADS_2