Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 83 Rezeki Tak Kemana


__ADS_3

Bulan usai juga membacakan sebuah kertas yang di tulis Akhsan Ramadhan. Dia adalah anak dari seorang Dosen terkemuka disebuah kampus.


"Oke, terima kasih. Kalau gitu aku pergi dulu!"


"Tunggu, Pak!" Bulan mencegahnya. Pemuda tersebut menghentikan kesibukannya mengemas barang.


"Oh iya lupa, bayaran ya?" Akhsan menyerahkan beberapa lembar uang merah di depan Bulan.


"Bu_ bukan ini yang aku maksud."


Akhsan mengerutkan dahi. "Soal apa ya?"


"Soal, aku mau mengurungkan diri untuk bekerja," jawabnya lirih.


Akhsan tergelak, Ia menggaruk keningnya yang tiba-tiba serasa gatal.


(Kan, aku cuma bohong tadi? Jadi dia percaya?)


"Em... tunggu sebentar!" Akhsan memanggil pemilik rumah makan, Bu Rina terlihat melangkah mendekat.


"Iya, Pak Akhsan apa ada yang bisa kami bantu?"


"Tolong perlakukan dia dengan baik ya, saya tidak mau dia di godain pria hidung belang," ucap Akhsan dengan gampangnya, sambil melirik Bulan yang menundukkan kepalanya.


"Oh, gebetan ya, Pak. Tenang saja, dia aman disini." Bu Rina berbicara sangat manis.


Tak jauh dari sana, Seorang pria paruh baya tengah mengamati Bulan. Sepertinya pria itu mengenal baik gadis tersebut.


Setelah akhsan pergi, hari berlalu begitu cepat. Tepatnya pukul sepuluh malam, tamu tidak ada lagi yang datang. Para pelayan lain juga sudah berpamitan pulang tinggal Bulan seorang.


Bu Rina yang masih tersisa disana, melihat dengan sangat heran.


"Bulan...!"


"Ehk, iya Bu."


"Kenapa belum pulang?"


"Sa_ saya...."


Bu Rina mencoba menerka-nerka. Mungkin dugaan itu benar adanya kalau dia sedang bingung hendak kemana.


"Jika memang kamu gak punya tempat tinggal, kamu boleh kok tidur di gudang rumah Ibu. Tapi kamu tenang saja, tempat itu sangat bersih. Tidak ada rongsokan sama sekali."

__ADS_1


Bulan langsung tersenyum. "Benar kan, Bu. Saya boleh menginap di situ?"


"Tentu."


"Tapi sewanya?"


"Gak papa, saya kasih gratis buat kamu. Tapi ya itu, kalau hujan sedikit bocor. Maklum lah Ibu gak ada waktu buat benerin," ucap Bu Rina tak enak hati.


"Gak papa, Bu. Yang penting saya bisa tidur malam ini."


Bu Rina mengangguk. "Oke, baiklah. Ayo ikut aku. Lain kali kamu bisa pulang sendiri kalau sudah paham jalannya."


"Baik, Bu."


Bulan segera berganti pakaian dan mengikuti Bu Rina. Karna tidak terlalu jauh keduanya memilih berjalan kaki.


"Apa setiap malam Ibu pulang jam segini?" tanya Bulan.


"Tidak, hanya setiap hari senin sampai selasa saja. Itu karena pengunjung sangat ramai di hari jam kerja. Selebihnya saya serahkan sama Pak Jono juru masak saya."


Bu Rina terlihat baik, dan Bulan tidak merasakan hal yang aneh terhadap beliau seperti yang dikatakan Akhsan.


"O ya, pria tadi. Itu_?"


"Baru kenal, Bu," potong Bulan. Dia tidak mau Bu Rina salah paham.


"Ah, Ibu bisa saja. Saya ini sudah punyak pacar, Bu," jawabnya bohong, berguna untuk membentengi diri agar Bu Rina tidak macam-macam seperti kata Akhsan tadi.


"Wah, kalau begitu. Pak Akhsan hanya akan menjadi seorang pengagum dong."


Bulan mengangguk sambil tersenyum sedikit malu padahal Ia sendiri tidak tahu siapa pacar yang dimaksudnya.


Perbicangan keduanya semakin hangat, hingga tak terasa sudah sampai di depan rumah. Bu Rina mengantar Ia masuk kedalam gudang tapi gudang tersebut layak di bilang rumah. Ada satu ruang tamu lengkap dengan kursi kayu dan juga satu ruang tempat tidur. Disana juga sudah ada keperluan memasak.


"Sebenarnya ini tu bukan gudang, Lan. Dulu tempat ini dihuni oleh saya sewaktu masih sengsara, dan alhamdulilah nya berkat rumah makan itu saya bisa membangun yang di samping."


"Ya Allah, Bu. Terima kasih ya, sudah memberikan rumah senyaman ini untuk saya tinggalin."


Bulan menggapai tangan Bu Rina dan menciumnya.


"Tidak perlu sungkan, Ibu juga cuma tinggal berdua kok sama anak perempuan Ibu. Ayahnya sedang bisnis kuliner di China. Hanya pulang setahun sekali."


Bu Rina rupanya juga punya cerita menyedihkan, itu artinya Ia sering menahan rindu pada sang suami.

__ADS_1


"Ibu pasti kangen ya?"


"Tentu saja. Tapi mau gimana lagi. Mau sukseskan harus berkorban. Ya sudahlah, kamu tidur gih dah malem. Ibu tinggal ya?"


"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama."


Setelah ditinggal Bu Rina, Bulan merebahkan tubuhnya di kasur yang sudah usang tersebut. Ia begitu lelah dua malam tidak tidur dan seharian ini bekerja keras.


Bulan tersenyum, mengingat rahim yang kini sudah ada yang menempatinya. Gadis itu mengelus perut datar tersebut dengan lembut dan rasa bahagia.


"Nak, maaf ya. Ibu sudah membuat kamu kelelahan hari ini. Ibu akan berusaha mencukupi nutrisi kamu supaya tumbuh sehat. Nanti jika kamu sudah semakin besar Ibu punya tabungan dan kita bisa pergi dari sini."


Bulan teringat akan Angkasa, meski merasa disakiti akan kemarahan Angkasa tempo hari. Bagaimana pun juga Bulan tidak menyalahkannya. Sebab Angkasa tidak menyadari perbuatannya yang sebenarnya juga salah. Mau menerima tawaran Pak Dewok demi kesehatan Fatan.


Tapi setidaknya Bulan senang, kini Ia dapat melihat Fatan sehat lagi dan lebih penting lagi. Pelangi akan bisa menjaga Fatan seribu lebih baik darinya.


Tak beberapa lama hanyut dalam kenangan, Bulan menitikan air matanya lagi. Ada rasa aneh yang membuat nya merindukan perhatian Angkasa.


"Jangan gila Bulan, dia bukan suamimu. Jadi mana mungkin dia memikirkan keadaanmu disini dalam keadaan apa pun?"


Larut dalam rasa yang tercipta, Bulan sampai tertidur hingga sang fajar menyambut paginya.


Bulan sudah bangun lebih awal, Ia bersiap pergi ke rumah makan pagi-pagi sekali.


"Pagi Bulan!" Bu Rina nongol dari balik pintu membawakannya serantang makanan dan satu ceret air minum.


"Ibu, ini apa?"


"Udah kamu sarapan saja dulu, sangat penting menjaga kondisi agar kuat melayani para pengunjung nanti," tukas Bu Rina tulus.


"Ya Allah, terima kasih, Bu. Aku tidak menyangka Ibu sebaik ini sama aku."


Bulan menerima pemberian Bu Rina dan meletakkannya dimeja.


"Kamu jangan sungkan, Nak. Sebagian rezeki kita adalah milik orang lain dan kau adalah orang yang beruntung mendapatkannya," papar Bu Rina.


"Iya, Bu. Ini sangat luar biasa untuk saya. Terima kasih sekali lagi."


"Baiklah, Ibu pulang dulu ya. Harus nganter Lili sekolah dulu."


Bu Rina melenggang pergi. Bulan yang memang sedang kelaparan langsung menyantap sarapan tersebut.

__ADS_1


Usai sarapan, Ia tiba di rumah makan lebih pagi. Karena rajin, Bulan membersihkan tempat itu lebih dulu. Rasanya Ia harus banyak berterima kasih mendapat kebaikan Bu Rina.


"Wah, Bulan kamu rajin banget!" seru Rani yang baru datang. Sedang yang lain hanya mengamatinya.


__ADS_2