
Hari ini bertepatan dengan hari libur, cuaca juga agak mendung. Dokter Lintang yang bosen dirumah berencana mengajak Pelangi dan anak-anak pergi ke Pasar.
"Pelangi...!" panggilnya dari ruang tamu.
"Iya, Dok."
"Cepat bersiap, kita akan belanja hari ini. Sepertinya persediaan makanan untuk sebulan kedepan sudah hampir menipis.
"Oke, Dok. Saya dan para bocil mandi dulu." Pelangi cengar-cengir dari hadapan Dokter Lintang dan itu membuat Dokter Lintang merasa bahagia. Namun mana mungkin Ia jatuh cinta pada gadis yang masih lajang dan agak jauh selisih usianya.
Cukup tiga puluh menit, akhirnya pekerjaan mereka usai. Keempat orang tersebut begitu riang, bahkan gerimis pun tak menghalangi semangat mereka.
Sesampainya di pasar, Pelangi membeli semua bumbu dapur yang di butuhkan.
"Pelangi, aku dan anak-anak kesana dulu ya. Kamu hati-hati sendirian. Kita bertemu lagi disini satu jam lagi."
"Baik, Dok." Baru mau melangkah Dokter Lintang kembali menahan nya.
"Kenapa, Dok?" Pelangi sedikit heran dibuatnya.
"Sa_ saya rasa kamu tidak usah panggil saya Dokter, cukup panggil Mas aja, bagaimana," ucapnya sedikit kikuk tapi menawarkan diri.
"Ha? Ta_ tapi, Dok?"
"Turuti saja perkataan ku, jangan membantah!" ucapnya kembali dingin.
Dokter Lintang menggandeng Fatan dan Kiara menjauhi Pelangi, seakan tidak terjadi apa pun diantara mereka.
"Dasar Dokter aneh, ada apa dengannya? Ah, bodo' amatlah, mending saya fokus belanja. Cari sayur dulu kali ya."
Pelangi melanjutkan pekerjaannya, tak sengaja Ia melihat Nami Ibu kandungnya sedang membeli makanan jadi sangat banyak.
Pelangi bersembunyi, Ia takut Ibunya memaksa Ia untuk pulang dan dijodohkan.
"Asyik, akhirnya bisa juga besanan ma orang kaya, untung Mas Surya cerdas nemuin Bulan," ucapnya seorang diri.
"Apa?" Pelangi sangat terkejut saat sang Ibu menyebut nama adik tirinya.
"Jadi Bulan ada bersama mereka, dan dialah yang akan menikah dengan anak Pak Galah?"
Bu Nami sudah selesai dan terlihat berpindah tempat, menambah keyakinan Pelangi jika pesta benar-benar akan terjadi.
"Cari apa, Bu?" tanya penjual. Pelangi yang penasaran menguntit di belakang.
"Kebaya terbaru, besok putri saya menikah. Kan malu kalau pakai yang murahan," ujar Bu Nami, sumringah.
Penjual itu menjajakan dua tren baju kebaya terkini.
"Ini model baru, Bu. Kurasa akan sangat cantik di pakai putri Ibu."
"Berapa harganya?"
"Satu juta, Bu."
__ADS_1
"Ha? mahal amat, Bu?"
"Ya, nama saja barang bagus."
"Boleh kurang, gak?"
"Boleh deh, 900 saya beri."
"Masih kemahalan sih, tapi okelah nanti Pak Galah akan menukarnya dengan uang yang banyak."
Bu Nami segera membayarnya dan memutuskan pulang.
"Ibu...!" Pelangi sangat geram melihatnya. Ia tidak tega jika sampai Bulan menjadi korban anak Pak Galah yang katanya adalah pria dengan segudang pacar.
Pelangi segera menyelesaikan belanjaannya, Ia sudah kembali dimana tadi Dokter Lintang memintanya menunggu. Benar saja, Dokter Lintang dan anak-anak muncul dengan banyak mainan ditangan mereka.
"Kak Pelangi, Papa Kiara baik deh, aku dibeliin banyak banget mainan." Fatan menunjukkan beberapa mobil dan robot ditangannya.
"Ya ampun banyak banget, Dok. Eh... maaf, Mas. Saya rasa itu berlebihan." Pelangi jadi tak enak hati dibuatnya.
"Tidak papa, saya tidak merasa dirugikan kok. Toh, kebahagian kalian adalah kebahagiaanku," celoteh Dokter Lintang tanpa sadar.
"Ha? Apa, Dok?" Pelangi yakin dia sedang tidak salah dengar.
"Oh.. iya. Ya sudah, ayo kita pulang." Dokter Lintang tidak mau terlihat salah tingkah di depan gadis itu.
Dalam perjalanan, Pelangi sangat berharap mereka bisa pergi kerumah Angkasa. Tapi untuk menyampaikan maksudnya, Ia merasa sangat takut.
"Pelangi, kamu yakin semua sudah kamu beli?"
"Tapi mengapa kamu agak gelisah?"
"Ah, masak sih, Mas?"
"Iya, aku jadi heran sama kamu. O ya nanti kita mampir dulu kerumah Ayah ya, aku harus cek kondisi Angkasa."
"Beneran, Mas?"
"Kenapa kamu begitu antusias?"
Dokter Lintang menangkap ada hal aneh yang Pelangi sembunyikan darinya tapi gadis itu enggan untuk bercerita.
"Gak ada, Mas. Tapi_ mungkin gak ya kalau Angkasa itu menyukai Bulan adik tiriku."
"Hem?" Dokter Lintang menoleh dengan tatapan aneh.
"Maaf, Mas. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Tapi_ aku kasihan Bulan. Dari kecil dia tidak pernah di perlakukan secara adil oleh orang tua kami."
Pelangi merasa sangat prihatin akan kondisi Bulan. Apa lagi kini gadis itu tengah berbadan dua.
"Aku kurang tahu sih, tapi kamu tahu tidak. Dulu aku malah sempat mengagumi adikmu itu?"
"Oya? Mas pernah suka maksudnya?"
__ADS_1
"Gak sampek segitunya, tapi yang pasti saya kagum akan segala yang ada pada dirinya."
Pelangi manyun, Ia kurang suka kalau Lintang ada rasa dengan wanita lain.
Pelangi, Pelangi. Mana mungkin Dokter mapan kayak dia mau sama kamu yang cuma seorang ART...
"Kok bengong?"
"Gak papa, Mas."
Pelangi membuka bungkus permen pentol dan memberikannya pada anak-anak dibelakang.
"Di makan ya, biar gak kecut," seringai Pelangi sambil tersenyum dan itu mampu mengundang perhatian Dokter Lintang.
"Papa, kita kerumah Kakek Dewok yuk, Kiara kangen!" Ajak Kiara sambil memasukkan permen pentol itu kedalam mulutnya.
"Oke, kita akan kesana, Sayang."
Dokter Lintang mempercepat laju mobilnya sampai di halaman rumah keluarga yang sudah lama dirindukannya setelah sekian lama terpisahkan.
Pelangi langsung turun, tujuan utamanya adalah menemui Angkasa dan mengatakan semuanya. Kedatangan mereka disambut oleh keluarga Pak Dewok.
"Alhamdulilah, kalian datang juga."
"Iya, Pa, Ma. Angkasa mana?"
"Ada di kamar, dari tadi gak keluar-keluar."
Dokter Lintang berpamitan menemui Angkasa, Pemuda itu sedang mengamati Foto Bulan yang ada ditangannya.
Kenapa aku sangat khawatir? Apa dia baik-baik saja?...
"Ehemzz...." Dokter Lintang diam-diam melihat apa yamg sedang Ia pikirkan. "Jadi kamu sebenarnya menyukai dia kan, tapi karena ego mu besar jadinya kamu pura-pura benci sama dia."
"Apaan sih, Kak. Aku menemukannya di kolong meja tadi."
"O ya? kenapa gak kamu buang aja tadi. Kok malah dipandangin?"
Angkasa tidak suka di goda, Ia meninggalkan foto Bulan diranjang dan pergi ke dapur. Melihat Angkasa seorang diri, lekas Pelangi berpamitan kebelakang.
"Angkasa...!" panggilnya. Angkasa yang sedang meneguk air dari kulkas menoleh.
"Kenapa, Kak?"
"Aku_, Aku mau bicara soal Bulan." Pelangi sedikit ragu, takut jika Angkasa tidak perduli.
"Kenapa dengannya?" pertanyaan itu seperti sebuah anugerah bagi Pelangi.
"Angkasa, dia sedang hamil," ujarnya meluncur begitu saja. Angkasa yang masih melanjutkan minum sampai terbatuk-batuk.
"Maaf, Aku mengatakan ini karena dia dalam masalah sekarang," imbuh Pelangi lagi. Ia tidak sabar menunggu Angkasa tenang lebih dulu.
"Kakak tahu dimana, dia sekarang?"
__ADS_1
Pelangi mengangguk.
Rupanya disisi lain, Lintang mendengarkan obrolan mereka.