
Bulan menimang ucapan Bu Arumi, kemudian Ia menetapkan hati untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Mungkin Bu Arumi, benar. Dengan memeriksakan keadaanku semua akan segera membaik...
Semoga ini bukan sesuatu yang aku khawatirkan...
Bulan meninggalkan tempat itu dan menemui Dokter. Untungnya tidak ada yang mengantri, Ia datang di waktu yang tepat.
"Pagi, Bu. Ada keluhan apa?" tanya Dokter perempuan, tersenyum manis.
"E... itu, Dok." Bulan agak takut, Ia merasa tangannya berkeringat dingin. Takut jika hasilnya akan membuatnya tidak tenang.
"Bu, sepertinya Ibu sedang cemas ya? ayo kita periksa, bilamana Ibu benar-benar sakit, bisa langsung di tangani!" ujar Dokter Itu lagi.
Bulan memaksakan diri tersenyum. "Ma_ maaf, Dok. Saya gu_ gugup," jawabnya terbata.
"Baiklah, sekarang kasih tahu saja apa yang sedang Ibu keluh kah?"
"Sa_ saya sering merasa mual, Dok." Akhirnya keluar juga ucapan Bulan.
"Oh... Mual ya? sudah menikah?" tanya Dokter itu lagi membuat Bulan malah tersindir. Seolah Dokter sudah mengetahui sesuatu.
"Su_ sudah, Dok," jawabnya bohong.
"Harusnya Ibu datang bersama suami, kalau melihat kegugupan mu, ini pasti karena kalian belum terlalu lama menikah."
Dokter tersebut menuntun Bulan berbaring diatas ranjang. Lalu membubuhkan gel ke bagian perutnya.
"Dokter mau ngapain?" tanya Bulan lagi masih takut. Apa lagi saat Dokter mendekatkan sebuah benda menempel ke perut nya.
Sang Dokter tersenyum. "Ini alat USG, Bu. Anda bisa lihat hasilnya di layar sana!" Sang Dokter menunjukkan apa yang dia maksud. Layar berwarna terang. Bahkan segala isi perutnya dapat terlihat.
"Bagus, lambung dan empedunya normal." Dokter itu menurunkan gerakan benda tersebut kearah pusar Bulan.
"Wah, benar dugaan ku. Berapa lama terakhir haid, Bu?" tanya Bu Dokter lagi hingga membuat bola mata Bulan yang memperhatikan gambar tercengang.
"Te_ telat?"
"Ibu lupa?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu, Dok," jawabnya berterus terang.
"Kalau melihat dari ukuran kantong nya, ini masih sangat dini kira-kira lima belas hari atau mungkin bisa lebih."
"Apa, Dok?" Bulan kembali tersentak. "Maksud Dokter, apanya yang lima belas hari?" Gadis itu butuh kejelasan.
"Insya Allah, alat ini tidak salah. Ibu akan segera mempunyai momongan," tandas sang Dokter. Pernyataan itu seakan mengguncang jiwa Bulan.
Apa? Jadi ini benar?...
Air mata itu luruh, Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya setelah itu.
Sedang di ambang pintu, rupanya Pelangi menguping. Ia masih penasaran akan sosok wanita mengaku Bulan itu, padahal Ia sangat yakin apa yang dikatakannya memanglah benar.
Melihat Bulan hendak keluar, Pelangi langsung kembali ketempat semula. Ia tidak mau Bulan tahu, jika Ia telah berhasil mendengar semuanya.
Sekitar jam 08.00 WIB, semua sudah beres. Mereka membawa jenazah Dinda untuk segera di makamkan. Di sepanjang jalan menuju pulang, Bulan terus menangis. Ia masih belum sepenuhnya percaya jika kini Ia tengah mengandung anak dari Angkasa.
Ya Allah, kenapa aku bisa hamil secepat ini? Apa waktu Amnesia, kami sudah melakukan hubungan itu? Tapi berapa kali ya, sampai aku bisa hamil?...
Bulan tak mampu menahan air mata yang terus berjatuhan hingga mengundang perhatian Bu Arumi yang duduk di depan bersama Pak Dewok. Sedangkan Fatan ada di mobil lain bersama Pelangi.
Bulan menggeleng. Ia belum mau mengakui kehadiran anak nya. Karena Ia belum sanggup jika Pak Dewok mengungkit lagi perkataannya tempo hari untuk memisahkan mereka.
"Gak papa, Bu. Aku cuma kangen sama Ibu aku. Karena sejak kecil kami belum pernah bertemu."
Untungnya jawaban tersebut tidak menimbulkan kecurigaan, Ia akan menyembunyikan itu sampai waktunya tepat.
Tiba di halaman rumah, rupanya tetangga sudah berkerumun menyiapkan segala sesuatunya.
Hanya se jam ada di rumah itu guna di sholat kan, mereka segera memakamkan Dinda di TPU, dimana tempat itu, sama dengan tempat pemakaman Sekar.
Angkasa yang teringat menghentikan langkahnya di gundukan tanah merah yang masih baru tiga bulanan. Ia menoleh beberapa waktu, kemudian berlanjut mengikuti rombongan.
Tidak ada yang tahu, apa yang sedang Angkasa pikirkan tentang hal itu. Tapi yang pasti, Ia mulai membuka mata hatinya untuk meyakinkan diri lebih jauh tentang semua yang terjadi.
Cukup lama menyelesaikan pekerjaan, akhirnya semua usai diakhiri oleh Doa yang di bacakan Kiai dari pondok pesantren Al Furqon di wilayah tersebut.
Semakin lama, suasana semakin sepi. Sebab mereka yang ikut dalam acara mulai satu persatu berpamitan pulang.
__ADS_1
Sedangkan, Kiara. Tak henti-hentiny menangis pilu. Baru sebentar bertemu Mamanya mereka akhirnya di pisahkan lagi dan kali ini untuk selamanya.
"Mama, yang bahagia ya disana. Kiara Doain Mama di sayang sama Allah," ucap bocah kecil itu.
"Aamiin, Allah pasti ngabulin Doa Kiara, Nak!" Dokter Lintang memeluk tubuh kecilnya.
"Kiara sedih, Pa. Harusnya Kiara bermain dulu sama Mama semalam," rengek bocah itu lagi.
Lintang meneguk salivanya, Ia sadar kalau semalam itu Ia memang sangat berlebihan pada Dinda gara-gara rasa kecewa yang belum juga memudar.
"Maafkan aku, Dinda. Seharusnya aku tidak egois memisahkan kamu dengan anak kita. Kalau saja aku mengurangi sedikit saja amarahku, pasti kamu masih bernafas saat ini." Dokter Lintang sangat menyesal, namun semua sudah menjadi bubur. Yang Mati tidak akan bisa hidup lagi dan yang lalu sudah tidak akan pernah bisa diulang lagi.
"Lintang, kami sudah ikhlas dengan kepergian Dinda. Lebih baik kamu fokus saja membesarkan Kiara agar masa depannya cerah. Tidak seperti Ibunya," ujar Ayah Dinda.
"Iya, Pa. Aku akan selalu menjaga Kiara." Keduanya kembali berpelukan.
Bulan menoleh kearah Angkasa yang sejak tadi diam saja. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya.
"Sa_ sayang!" panggilnya ragu-ragu.
Angkasa hanya melirik, tatapan yang terpancar begitu sinis dan mengerikan.
"Ayo kita pulang!" ajaknya. Sebab Bulan merasa sangat lelah. Karena kurang enak badan, apa lagi semalam Ia sama sekali tidak tidur.
"Pulanglah, Nak. Kasihan Sekar, dia pasti sangat lelah." Bu Arumi menimpali.
Angkasa tidak menjawab dan melangkah lebih dulu, Bulan yang tidak tahu harus apa memilih menyusulnya. Sedang yang lain merasa aneh akan tindakan Angkasa pada Bulan. Tidak biasanya Ia terkesan cuek dan masa bodoh.
"Pa, kenapa dengan anak kita?" bisik Bu Arumi pada Pak Dewok.
Pak Dewok juga diam. Ia beranggapan kalau Angkasa hanya sedang berduka akibat kepergian sepupunya Dinda yang sering diajaknya adu mulut.
"Sweety!" teriak Bulan, saat hampir mendekati Mobil.
Angkasa menghentikan langkahnya dan menoleh. Tatapan dingin masih tetap melekat, bisa jadi tidak akan menghilang dari sana.
"Tolong jangan diam saja, aku lelah melihatmu seperti ini?"
Mendengar perkataan Bulan, Angkasa malah menertawainya, menyepelekan lebih tepatnya.
__ADS_1
"Haruskah aku berbicara dengan pembohong?" Ungkapnya tiba-tiba.