Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Chapter 2


__ADS_3

Ia ingin meraih tangan orang itu, atau lebih tepat mencoba meraihnya. Agaknya orang itu merasakan keinginannya, maka orang itu pun meletakkan tangannya dengan halus di pundaknya.


Rasa kacaunya mulai berkurang merasakan sentuhan orang tersebut, atau mungkin juga karena obat penenang yang telah disuntikan pada selang infusnya tadi mulai bekerja. Ia membiarkan dirinya terhanyut, dan merasa lebih aman karena ada orang asing yang suaranya berwibawa itu di sisinya, dekat sekali.


"Ia mulai tak sadar. Sebaiknya anda tinggalkan, dan membiarkan nyonya Sinaga beristirahat, Tuan."


"Saya akan tinggal."


Ia memejamkan matanya, dan dengan demikian menghapus gambaran samar tentang orang itu. Obat itu menenangkan. Ia merasa terayun-ayun dalam sebuah perahu kecil, meninabobokannya ke pelabuhan ketidakpedulian.


Ia ingin tahu siapa Syila itu?


Apakah ia harus tahu siapa laki-laki yang menyebutnya Bianca itu?


Mengapa semua orang menyebutnya Nyonya Bianca terus?


Apakah semua orang mengira Ia menikah dengan laki-laki itu?


Mereka tentu salah. Ia tak kenal pada laki-laki itu.


✈️


Laki-laki itu ada di situ waktu ia terbangun lagi. Mungkin beberapa menit atau jam atau beberapa hari telah berlalu, Ia tak tahu. Dalam ruang ICU, waktu tak ada artinya. Karena itu ia makin tak mengerti keadaannya.


Pada saat ia membuka matanya, orang itu mendekatinya dengan berkata, "Hai, kau sudah bangun."

__ADS_1


Rasanya tegang sekali, tak bisa melihatnya dengan jelas. Hanya sebelah matanya yang bisa dibuka. Kini disadarinya bahwa kepalanya terbungkus pembalut dan itulah yang menyebabkan ia tak dapat menggerakkannya. Sebagaimana sudah diperingatkan oleh dokter, Ia tak bisa berbicara.


" Apakah kau bisa mengerti kata-kataku Bianca? Tahukah kau di mana kau berada? Kedipkan matamu bila kau mengerti."


Ia mengedipkan matanya.


Orang itu menggerakkan tangannya. Mungkin menyisir kan tangan itu ke rambutnya sendiri, tetapi ia tak yakin. "Bagus," katanya. "Kata mereka kau tak boleh di risaukan oleh apapun juga. Tapi aku lebih mengenalmu, dan aku tahu bahwa kau pasti ingin tahu semua kenyataannya. Benarkah aku?"


Ja mengerjapkan matanya.


" Ingatkah Kau waktu kau masuk pesawat terbang? itu kemarin dulu. Kau dan syila akan pergi berjalan-jalan untuk beberapa hari. Ingatkah kau pesawat itu jatuh?"


Ia berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan pada orang itu bahwa ia bukan Bianca, dan ia tak tahu siapa Syila. Namun ia mengerjap juga untuk menanggapi pertanyaannya tentang pesawat terbang yang jatuh itu.


" Hanya dua belas orang yang selamat."


" Entah bagaimana, hanya Tuhan yang tahu... kau berhasil keluar dari reruntuhan itu dengan Syila. Ingatkah kau?"


Ia tak mengerjap.


" Yah, biarlah. Bagaimanapun juga kau berhasil, kau telah menyelamatkannya. Syila kacau dan ketakutan, dan aku takut cederanya lebih bersifat kejiwaan daripada jasmani, dan karenanya lebih sulit ditangani. Lengannya yang patah sudah diperbaiki letaknya. Tak ada kerusakan permanen. Ia bahkan tak memerlukan pencangkokan untuk penyembuhan luka bakarnya. Kau..." Laki-laki itu memandanginya lekat lekat. "Kau melindunginya dengan tubuhmu sendiri."


Ia tak mengerti apa artinya tatapan itu, tetapi seolah-olah orang itu meragukan kenyataan itu, karena ia tahu keadaan yang sebenarnya. Laki-laki itu melanjutkan penjelasannya.


" Para petugas sedang mengadakan penyelidikan. Mereka telah menemukan kotak hitamnya. Semuanya tampak normal, salah satu mesinnya tiba-tiba meledak, dan menyulut bahan bakar. Pesawat terbang itu menjadi lautan api. Tapi sebelum badan pesawat habis dalam nyala api, kau berhasil keluar lewat sebuah pintu darurat, ke bagian sayapnya, sambil menggendong Syila."

__ADS_1


" Salah seorang yang selamat berkata bahwa ia melihatmu berusaha membuka sabuk penyelamat Syila. Katanya kalian bertiga mencari jalan ke arah pintu melalui asap. Wajahmu sudah berlumuran darah, katanya. Jadi luka-luka di situ pasti merupakan akibatnya."


Tak ada di antara kenyataan-kenyataan itu yang diingatnya. Ia hanya ingat bahwa ia ketakutan akan mati lemas karena terlalu banyak menghirup asap, itu pun kalau ia tak mati terbakar sebelumnya. Orang itu telah memujinya karena telah bertindak dengan begitu berani dalam bahaya. Padahal, ia hanya bereaksi berdasarkan naluri untuk menyelamatkan diri, hal yang pasti ada pada setiap makhluk.


Mungkin kenangan mengenai tragedi itu akan terbuka sedikit demi sedikit. Mungkin juga tidak akan pernah lagi. Ia tak yakin apakah ia akan ingin mengingatnya. Membayangkan saat-saat yang mengerikan itu, sama halnya dengan merasakan kembali hidup dalam neraka.


Bila hanya dua belas orang yang selamat, berarti berpuluh-puluh lainnya tewas. Ia heran sekali mengapa ia bisa selamat. Hanya takdirlah yang menyebabkannya terpilih untuk hidup, dan ia takkan pernah tahu mengapa.


Pandangannya menjadi suram, dan tanpa disadarinya ia menangis lagi. Tanpa berkata-kata, laki-laki itu menyeka matanya yang tak terbalut itu dengan tisu. "Mereka telah mengetes darahmu untuk melihat banyaknya gas, dan memutuskan untuk memakai mesin pernapasan. Kau mengalami geger otak, tapi tak ada luka kepala yang serius. Tulang betis yang kananmu patah, waktu kau melompat dari sayap pesawat.


" Telapak tanganmu dibalut dan luka berat karena terbakar. Syukurlah semua cederamu hanya luka luar saja, kecuali asap yang terhirup itu."


"Aku tahu kau merisaukan wajahmu," katanya dengan serba salah. "Aku tak ingin membohongimu, Bianca. Aku tahu kau tidak mau aku begitu."


Ia mengerjap. Laki-laki itu diam sebentar, sambil memandanginya dengan kurang yakin. "Wajahmu mengalami cedera berat. Tapi aku sudah mendapatkan ahli bedah plastik yang terbaik di negara ini. Ia sangat ahli membentuk kembali korban-korban kecelakaan dan trauma, seperti kau ini."


Kini ia mengerjapkan matanya kuat-kuat, bukan karena ia mengerti, melainkan karena ia merasa kacau. Sifat kewanitaannya yang mengutamakan kecantikan telah muncul, meskipun ia terbaring tak berdaya di sebuah ruang ICU dan merasa beruntung masih hidup. Ia ingin tahu seberapa rusak wajahnya. Pembedahan pembentukannya kembali terdengar mengerikan sekali.


"Hidungmu patah. Begitu pula tulang pipimu. Tulang pipi yang sebelah hancur. Sebab itu, matamu dibalut."


Ia mengeluarkan suara halus menyatakan ketakutannya yang amat sangat. "Tidak, matamu baik-baik saja. Itu suatu rahmat. Tulang rahang atasmu juga patah. Tapi, ahli bedah bisa memperbaiki semuanya. Rambutmu akan tumbuh kembali. Kau akan mendapatkan gigi palsu yang ditanamkan, yang akan kelihatan sama benar dengan gigi depanmu."


Jadi, ia tak punya gigi dan tak punya rambut.


" Telah kami berikan foto-foto terbaru yang diambil dari semua segi. Ia akan bisa membuat raut wajahmu kembali dengan sempurna. Luka bakar di wajahmu hanya mengenai kulit luar saja, jadi kau tidak memerlukan pencangkokan. Bila kulitnya mengelupas, itu berarti seperti mengurangi sepuluh tahun, kata dokter. Kau harus bersyukur."

__ADS_1


Nada bicaranya yang halus tak tertangkap olehnya, karena ia memusatkan perhatiannya pada kata-kata yang penting. Kesan yang diperolehnya adalah bahwa di bawah pembalut itu, ia kelihatan seperti monster.


__ADS_2