Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 63 Mencari Tahu


__ADS_3

Angkasa yang mendengar ucapan Dinda memelankan kunyahan mulutnya. Begitu pula Bulan ikut-ikutan melihat kearah Dinda.


"Emang suamimu yang mana sih, Din?" kalian menikah di Amerika selama tiga tahun. Terus aku denger kamu cerai sama suami pertamamu lalu pindah ke Singa pura ikut suami baru mu." Angkasa memang belum pernah bertemu dengan suami Dinda baik yang pertama maupun yang kedua.


"Ada lah, yang aku denger sih. Dia ada di Indonesia juga sama Papa dan Mama sekarang. Malah anakku tinggal dirumah Papa," jawab Dinda yakin.


Pak Dewok yang duduk disebelah Dinda menepuk pundaknya. Meski saudara perempuannya membuang Dinda. Pak Dewok tidak akan tega ikut mengucilkannya.


"Kapan-kapan, Om antar kamu kerumah orang tuamu untuk meminta maaf. Tapi berjanjilah jika kamu benar-benar akan berubah." Pak Dewok beeusaha memberikan jalan keluarnya.


"Iya, Om. Dinda janji mau berubah dan bahkan akan menebus kesalahan Dinda." Perempuan dua puluh tujuh tahun itu melanjutkan makanannya.


Pernikahannya terbilang belia, Ia menikah diusia sembilan belas tahun dengan suami pertamanya. Sedangkan waktu itu suaminya yang masih ingusan sedang kuliah di sebuah Fakultas kedokteran dan belum mampu menjamin hidupnya. Ya, karena iming-iming uang dan perhatian dari pria dewasa. Dinda keseret dalam jurang kebodohan.


"Baguslah, lebih baik kau urus anakmu itu. O ya, Pa. Om dan Tante kan sudah dua bulan disini. Bagaimana kalau Angkasa dan Bulan ikut?" saran Angkasa pada Dinda sekaligus bertanya pada Pak Dewok.


"Oke, tapi tunggu waktu yang pas," jawab Pak Dewok. Ia melanjutkan melahap makanannya.


Angkasa menghela nafas panjang. Ia ikut pusing akan masalah sepupunya itu lalu melihat Bulan yang tidak berselera makan. "Sayang, kenapa kamu selalu makan seperti itu sih? Masakan aku gak enak ya?"


Bulan mendongak memandang Angkasa, lalu menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun istriku, biar aku suapi!" Angkasa selalu saja bertindak seperti itu sesukanya meskipun Bulan tidak menginginkannya.


"Ayo buka mulutnya!" Angkasa menjulurkan satu sendok penuh makanan didepan bibir Bulan. Gadis itu menoleh kesekitar, sejujurnya Ia sangatlah tidak nyaman dengan keadaan tersebut.


Perlahan-lahan Bulan membuka mulutnya dan menerima makanan itu dengan tatapan sayu. Tugasnya belum berakhir. Keadaan memaksanya harus bertahan lebih lama lagi.


Usai menyelesaikan makan malam, Bulan dan Dinda membersihkan meja makan sedangkan yang lain santai di ruang keluarga. Angkasa yang masih penasaran, dengan apa yang menyebabkan Bulan bisa ingat lagi memutuskan menelpon Dokter Lintang didalam kamarnya.


Dokter itu ada dirumah mertuanya. Ia masih asyik bermain dengan Kiara. Pak Anggoro dan Sulastri begitu kagum dengan sosok Lintang yang sejak awal sudah di perkirakan akan memiliki kehidupan mapan. Namun sayang, putri mereka tak pernah mendengarkan apa yang mereka katakan.


"Kasihan Lintang dan Kiara, Pa. Sampai kapan Ia menduda begitu?"


"Entahlah, Ma. Bukankah kita tidak menghalangi dia menikah lagi. Toh, anak kita juga yang salah."

__ADS_1


Obrolan pendek berakhir, mereka kembali fokus mengamati keduanya.


"Papa, cuacanya dingin sekali. Ayo kita bobok dulu!" ucap bocah itu. Menidurkan boneka barbie berukuran kecil dan boneka pria sebagai Ayahnya di ranjang.


"Ayok, Sayang. Sepertinya cuaca mau hujan." Dokter Lintang cukup lihai memainkan perannya sebagai Ayah dalam drama mereka.


"Pa, Papa...!" barbie Kiara memegangi lengah Ayahnya.


"Apa, Sayang?" tanya boneka Dokter Lintang.


"Papa, Kiara kangen sama Mama. Kapan sih? Mama pulang nemuin Kiara?" Ucapan itu adalah gambaran dari wajah imut Kiara yang sesungguhnya.


Dokter Lintang membisu, Ia sangat kasihan akan keadaan putri kesayangannya. Bocah sekecil itu harusnya selalu oleh seorang Ibu yang mencintai dan memperhatikannnya. Tapi untuk memberi tahukan kenyataannya pria itu belum mampu.


Tak beberapa lama, suara ponselnya menggema. Ia punya alasan untuk tidak menjawab Kiara.


"Sayang, tunggu bentar ya. Papa ada telpon penting!"


Gadis kecil itu hanya manyun dan mengangguk kecewa.


Mengetahui Angkasa yang menelpon, Dokter Lintang menjauh.


"Dok, ada kabar baik," ujar Angkasa.


"O ya? apa itu?" tanya Dokter Lintang. Sesekali menoleh kearah putri kecilnya.


"Sekar sudah ingat, Dok. Saya sangat senang melihatnya.* Angkasa begitu berbunga-bunga. "Tapi_!"


"Wah, bagus dong. Itu artinya dia sudah ingat kamu sepenuhnya. Tapi kenapa kamu masih terlihat khawatir?" potong Dokter Lintang.


Angkasa menggaruk pelipisnya. Ia bingung mau menanyakan apa yang terbersit di benaknya.


"Ini, Dok. Sebenarnya, masalah dia bisa ingat lagi itu apa ya?" tanya Angkasa akhirnya.


"Oh itu, banyak hal, Angkasa. Bisa jadi kepalanya terbentur lagi atau malah melihat barang lama yang sangat penting dalam hidupnya. Sehingga otaknya langsung merespon dengan cepat," jawab Dokter Lintang seraya menjelaskan.

__ADS_1


"Oh, begitu. Tapi amankan ya? soalnya dia masih terlihat bingung?"


"Tidak papa, itu biasa terjadi. Jangan paksa dia memikirkan hal yang berat." Dokter Lintang mengingatkan.


"Oke, Dok. Terima kasih waktunya."


"Sama-sama."


Angkasa mengakhiri sambungan telponnya dan untuk membuktikan ucapan Dokter Lintang. Ia pun mencoba mencari tahu apa yang aneh dikamar itu.


Angka menyibak selimut yang tadi di lemparkannya, Ia juga mengangkat semua bantal yang ada. Tapi sepertinya tidak menemukan apapun.


Namun rasa penasarannya masih menggunduk, Ia beralih ketempat lainnya. Memeriksa setiap bagian-bagian kamar itu untuk menemukan sesuatu yang janggal.


"Kenapa tidak ada apa pun? Apa mungkin kepala Sekar kebentur lagi tadi?" Angkasa berkaca pinggang menoleh kesana-kesini untuk mendapatkan sebuah jawaban. Pemuda itu tiba-tiba berfokus pada sebuah tas buruk yang sudah berantakan dibawah meja. Se ingatnya tas butut tersebut pernah Ia lihat sebelumnya.


Angkasa melangkah mendekat, Ia meraih tas itu keluar dari kaki meja dan segera membukanya.


Sudah Ia duga didalamnya hanya ada pakaian kumuh yang tidak layak pakai sama sekali.


"Untuk apa Istriku menyimpan barang rongsokan ini? Bukankah aku sudah memintanya membuang pakaian itu tempo hari?"


Angkasa memasukkan lagi baju-baju itu, sambil berpikir keras. Sesaat setelahnya, Ia terpaku pada sleting di bagian depan yang juga sudah terbuka.


Angkasa merogoh bagian itu, Ia mendapati banyak barang-barang kecantikan yang tidak seberapa. Hingga menemukan sebuah foto berukuran kecil.


Angkasa mempertajam tatapannya. Ia bermaksud mengenali foto tersebut.


"Siapa perempuan muda ini? kenapa seperti mirip seseorang ya?"


Angkasa mendadak terkejut, tak kala pintu kamarnya hendak di buka oleh seseorang. Cepat-cepat Ia menyimpan semua barang-barang itu kembali untuk menghindari kecurigaan seseorang.


"Sweety, kamu lagi ngapain disitu?" Bulan datang membawa segelas teh hangat.


"Ini, Sayang. Kamu lihat bolpoin warna hitam gak disini ada motif batik diatasnya?" Angkasa terlihat sibuk membongkar laci.

__ADS_1


"Enggak tu, mungkin terselip. Biar aku cari." Bulan meletakan teh terlebih dahulu diatas meja lalu ikut mendekat dan mencarinya.


Maaf, Sayang. Aku terpaksa bohong. Bolpoin itu sebenarnya tidak lah ada...


__ADS_2