
"Ini apa?" Dokter Lintang memperlihatkan telunjuknya yang kotor. "Meja ini masih berdebu. Kamu bersihin ulang ya?" ucapnya sesuka hati
"Ya ampun, Dok. Tapi aku sudah lelah," protes Pelangi.
"Aku gak mau tahu, cepat selesaikan secepatnya karena kebersihan itu adalah Sebagian Dari Iman. Jangan sampai aku jadi alergi karenanya!" ucap Dokter Lintang tidak perduli. Ia sengaja mengerjai gadis itu lebih dulu.
Pelangi merasa di perbudak, ingin sekali Ia memukul punggung Dokter galak itu diam-diam. Terpaksa Pelangi melakukan pekerjaannya meski Ia sangat dongkol.
"Baru kali ini aku jadi budak Dokter songong, awas saja dia biar aku balas nanti," gumam Pelangi pelan.
...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...
Di sebuah Restoran bintang lima di daerah A yang didesain minimalis namun terkesan mewah, Angkasa dan Bayu baru saja sampai dan memarkirkan mobilnya. Ia datang bertujuan menemui rekan bisnisnya seorang keturunan dari Australia. Rekannya tidak mau bertemu jika bukan disebuah restoran karena menurutnya tempat itu sangat cocok untuk dijadikan tempat membahas masalah pekerjaan dengan relaks.
"Pagi Pak Angkasa!" sapa rekannya bersama salah seorang sekertaris perempuan.
"Pagi juga, Pak. Terima kasih sudah mau menyempatkan diri menemui saya," balas Angkasa. Ia menoleh kearah Bayu dan meminta asistennya menunjukkan beberapa dokumen kerja sama.
Sebelum memaparkan inti pertemuan mereka, Pak Burhan memanggil pelayan menyediakan dua jus buah untuk Angkasa dan Bayu.
Silakan di minum, Pak!" titah Pak Burhan setelah pesanan datang.
"Terima kasih, Pak Burhan." Angkasa dan Bayu menyeruputnya bersamaan.
"Aku tidak sabar menunggu proposal yang anda tawarkan," ujar Pak Burhan memulai perbincangan.
"Oh iya, adalah proposal yang isinya adalah sebuah penawaran kerja sama yang pernah saya beritahukan tempo hari. Saya berharap, kita bisa memperluas lapangan kerja di sektor perikanan."
Angkasa menjelaskan secara rinci apa saja yang bisa menguntungkan mereka. Meski ada dampaknya sedikit itu tidak akan sampai merugikan. Sebab setiap apa yang akan dikerjakan harus berani mengeluarkan modal lebih dulu dan itu pasti.
"Waw, ini penawaran yang sangat menggiurkan. Aku akan mengirim Evelyn menemani mu ke tempat itu besok," ujar Pak Burhan.
Angkasa berbinar. "Jadi maksudnya, Bapak setuju untuk bekerja sama?"
Pak Burhan mengangguk dan menyalami Angkasa.
__ADS_1
"Semoga ini akan menjadi awal yang bagus. O ya Pak Angkasa, Evelyn ini adalah sekertaris andalah saya. Otaknya genius dan juga cerdas. Saya harap kalian bisa saling sharing nanti," tukas Pak Burhan lagi.
Angkasa dan Bayu yang tadinya cuek menoleh kearah Evelyn. Gadis itu memang memiliki tubuh yang sangat ideal layaknya model akan tetapi pakaiannya sangat se*si sekali.
"Semoga bisa menjadi partner yang cocok ya, Pak." Evelyn menundukkan sedikit kepalanya sejenak.
Evelyn juga memasang wajah Ayu dan tersenyum sedikit menggoda Angkasa dan Bayu. Mereka hanya terperangai dan memilih pokus pada Pak Burhan.
"Baiklah karena kita sudah selesai, saya permisi dulu Pak Angkasa!"
"Baik, Pak. Terima kasih atas waktunya."
Keduanya meninggalkan tempat itu.
Bayu yang mengagumi ke bohaian tubuh sekertaris Pak Burhan menikmati liukan bokong montok Evelyn saat berjalan. Bahkan tidak sadar menggelengkan kepalanya penuh takjub.
Angkasa yang melihat signal buruk di otak Bayu langsung membenahinya dengan menepuk pundak Bayu cukup keras.
"Hey, liat apa kamu? mau aku aduin Istrimu, ha?"
"Astaga Bos, saya ngiler liatnya," gusar Bayu. Jadi salah tingkah didepan Angkasa.
"Dasar ngeres!" cibir Angkasa. "Emang kurang apa istrimu?" lanjutkan lagi.
Ia tidak percaya Asistennya yang dulu mengaku hanya mencintai istrinya masih saja tergoda dengan tubuh sek_i wanita lain.
"Beneran, Bos. Kok pinggul sama phayudhara besar banget ya." Bayu masih terbayang-bayang.
Angkasa hanya tertawa, lalu menyeruput sisa jus di gelasnya. Melihat Angkasa setenang itu Bayu jadi merasa sedikit penasaran.
"Emang Bos, gak merasakan sesuatu ya melihat Evelyn tadi?" tanya Bayu, sembari menggerak-gerakkan alisnya.
"Untuk apa? aku sudah memiliki istri yang sempurna dirumah. Setiap malam aku bisa menyentuhnya sesuka hati," jawab Angkasa, bangga.
Bagaimana tidak, semalam Ia akhirnya bisa merasakan manisnya madu pernikahan dengan menjamah tubuh istrinya. Meski tidak se bohai Evelyn, Ia sudah sangat terpuaskan dengan kepemilikan istrinya.
__ADS_1
Bayu menghela nafas, Ia pun memukul keningnya. "Aduh, istriku maafkan aku," ucapnya bersalah.
"Makanya jangan jelalatan," ejek Angkasa. Ia berdiri lebih dulu meninggalkan Bayu yang cepat-cepat menghabiskan minumannya.
Sampai didepan lahan parkir, Mereka tidak sengaja bertemu Putra orang yang selama ini sangat menentang hubungannya dengan Bulan.
"Bahagia ya, sudah berzina," ucap Putra, tujuannya menyindir Angkasa.
Angkasa dan Bayu saling pandang.
"Apa maksudmu bicara begitu?" tanya Angkasa. Ia paling tidak suka ada orang yang meremehkan dirinya dengan tatapan sinis.
"Aku ngomong sama kamu," jawab Putra, Ia bersedekap dengan santainya setelah membuat Angkasa merasa gerah dengan perkataannya.
"Kamu bilang aku berzina, dengan siapa?" Angkasa menabrakkan dadanya ke tubuh Putra. Ia tidak akan membiarkan orang lain mengoloknya tanpa ada bukti.
"His, Angkasa. Aku ini sahabatmu. Itu semua ku lakukan agar kau membuka mata!" tunjuk Putra pada biji matanya yang mengatakan tentang kebenaran.
"Membuka mata soal apa yang kamu maksud? aku merasa tidak pernah berzina," ucap Angkasa sedikit meninggikan nada suaranya. Ia semakin naik pitam akan ucapan Putra yang menurutnya mengada-ngada.
"Ck...!" Putra ingin Angkasa melihat betapa jijik Ia akan sikap Angkasa.
"Sekar itu sudah mati, Angkasa. Tolong jangan gila karena cinta Sebab roh Sekar akan menangisi kebodohannya. Bahkan bisa di pastikan tulang belulangnya telah berubah menjadi debu," ungkap Putra, menekankan setiap bait kalimatnya dengan menunjuk dada Angkasa agar mempercayainya.
Angkasa tidak percaya dan balik menertawakan Putra.
"Dasar Destroyer, kau itu tidak lebih seperti cacing, Putra. Akulah yang pantas jijik melihatmu di kubangan lumpur. Oh iya aku tahu, jangan-jangan kamu punya rasa ya sama istriku, makanya kamu menghalalkan segala cara untuk memisahkan hubungan kami."
Putra mengelak, Ia menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan akal sehat Angkasa yang mungkin saja sudah semakin parah.
"Aku lakukan ini karena aku care, Angkasa. Aku adalah sahabatmu!"
Sejujurnya Putra memang menyukai Sekar secara diam-dia. Tapi Ia menyembunyikan perasaannya dengan sangat rapat. Sebab Ia tidak mau merusak hubungan keduanya. Tapi mengetahui Angkasa berkhianat dengan mengakui wanita lain sebagai Sekar tentu Ia tidak akan pernah rela.
"Bayu, ayo pergi. Aku malas berlama-lama melihat dia!" Angkasa masuk kemobil diikuti asistennya. Ia tidak akan pernah percaya dengan pernyataan siapa pun tentang istrinya. Yang kini ada di benaknya adalah istrinya telah bersamanya dan Ia sangat bahagia untuk itu.
__ADS_1