Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 91 Bonus


__ADS_3

Teng! Teng! Teng!


"Bangun semuanya, bangun! aku ada pengumuman!" teriaknya sangat keras.


Hingga Lintang dan Pelangi yang masih berkeringat nikmat diatas ranjang terkejut.


"Apa itu, sayang? Ayo kita lihat!" Ajak Pelangi.


"Alah biarin sajalah, lihat masih jam dua tu masak iya kita mau menghentikan ini nanggung tauk. Setelah 7 tahun menduda akhirnya aku bisa melakukan olahraga ini lagi," bisik Dokter Lintang. Hingga membuat Pelangi yang di bawah kungkungan nya tersenyum. Meski perih tidak mengapa, karena di balik itu ada rasa yang tidak bisa diungkapkan.


Dokter Lintang mempercepat genjotan nya sampai akhirnya keduanya melakukan pelepasan.


"Ini enak, Sayang!" Kata Lintang.


"He'em," jawab Pelangi.


Teng! Teng! Teng!


Suara riuh kembali terdengar.


"Dasar adik gak punya akhlak!" gerutu Lintang lagi makin kesal. Ia dan Pelangi tak sempat lagi mencuci diri. Mereka memakai pakaian dan berlari keluar.


"Ada apa sih, Dek? Ini masih malam tauk? Bisakah kau mengatakannya besok?" Teriak Dokter Lintang.


"Iya, Sa. Ada masalah apa?" tanya Pak Dewok dan Bu Arumi yang baru datang.


"Iya ihk, Om Angkasa. Kiara ma Fatan masih ngantuk ni?" ucap Kiara menambahi.


"Kenapa, Nak apa ada yang sakit?" imbuh Bu Widya tak kalah turut bertanya. Sengaja untuk malam itu Ia memutuskan menginap dirumah tersebut.


Angkasa tertawa puas, karena ide gilanya Ia bisa melihat mereka semua teraniaya di malam buta.


"Kalian harus dengar baik-baik ya. Malam ini kita tidak boleh ada yang tidur!" ujarnya kemudian.


"Ha? Emang kenapa?" protes Pelangi.


"Alah, palingan mau ngajak ronda karena gak bisa malam pertama kan? Jadi sengaja ngajak ronda, hayo ngaku? Gak mau ah, aku lagi menikmati malam kami," jengah Dokter Lintang. Ia merangkul Pelangi untuk membawanya masuk kembali.


"Kak, tunggu dulu. Bukannya aku mau merusak keringatmu yang belum kering itu tapi kalian harus membantuku membuat Bakso sebesar kepalaku karena istriku sedang ngidam. Aku mohon, plisss!" pinta Angkasa, sambil memasang wajah melasnya dan mengatupkan tangan di di bawah dagu.


Dokter Lintang dan Pelangi yang mendengar itu membalikan badan.


"Maaf, Kak. Aku kira kalian tidak akan keberatan kan?" imbuh Bulan lagi. Masih dengan nada memohon.


"Oh... Ya ampun. Menantu Ibu ngidam to. Ayo Bu Widya kita buatin Bakso sebesar baskom!" Ajak Bu Arumi bersemangat.


"Baik, Bu."

__ADS_1


Mereka kira ikatan besan mereka telah berakhir saat Sekar meninggal tapi rupanya mereka akan tetap menjadi besan untuk selamanya.


Demi cinta mereka pada Bulan dan Angkasa. Satu keluarga tersebut memutuskan rela menahan kantuk agar dapat mewujudkan ngidamnya Bulan.


...Beberapa Bulan Berlalu...


Hari ini mereka sudah ada dirumah sakit. Sudah waktunya Bulan melahirkan bayi mereka setelah bersabar menantikannya.


"Aduh, Sayang. Ini sakit banget. Aku gak kuat!" Bulan menarik kerah baju Angkasa yang berdiri disamping tempat tidurnya di rumah sakit.


Wajah pemuda itu sudah seperti orang bangun tidur, Ia sangat berantakan bahkan ikut mengigit gigi merasakan bagaimana Bulan akan mengeluarkan nyawa didalam sana.


Dokter Sudah bersiaga untuk membantunya melakukan persalinan.


"Aduh, Dokter tolong!" Bulan merasa ada dorongan kuat yang seakan mau keluar dan itu sangat menyakitkan.


"Tolong jangan bersuara, Bu. Karena tindakan sepertinya bisa merusak pita suara Ibu dan menyebabkan pembuluh darah diotak bisa pecah. Tolong jika mau mengejan gigit saja giginya seperti Pak Angkasa!" saran sang Dokter. Ia rupanya mengamati gerak gerik pemuda itu.


Angkasa garuk-garuk kepala dibuatnya.


"Oke, Bu. Atur dulu nafasnya, sekali saja Ibu melakukan dengan benar, maka dia akan keluar, kepalanya sudah diambang pintu lo, Bu!" tambah Bu Dokter. Ia yakin Bulan bisa tenang lebih dulu.


Setelah mengikuti saran Dokter dan kasih sayang Sang pencipta, cukup sekali teriakan Bulan akhirnya berhasil melahirkan anaknya.


Tangis suara bayi langsung memecah keadaan yang semula tegang dan mengkhawatirkan berubah menjadi kebahagian dan rasa syukur.


"Iya, Mas. Saya juga."


Angkasa sampai meneteskan air matanya, Ia tidak percaya jika Ia telah melihat darah dagingnya sendiri ada didunia. Perasaan itu tidak bisa Ia ungkapkan lewat kata-kata.


"Alhamdulilah, bayinya laki-laki, Pak!" Dokter tersebut memberikan bayi mungil yang sudah dibersihkan masuk dalam gendongan Angkasa untuk di azani.


Allahu Akbar! Allahu Akbar!


Bulan merasa sangat beruntung, melihat Angkasa begitu merdu melakukannya. Padahal seumur hidup bersama, Bulan tidak pernah mendengar suara Angkasa seindah itu.


Laillahaillallah...


Beberapa menit berlalu, Angkasa selesai juga. Ia langsung menoleh kearah Bulan dan mencium keningnya.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia bisa mendapatkan anak setampan ini dari mu."


"Sama-sama, Sayang. Aku juga sangat bahagia, Oya aku baru ingat kata-kata mu waktu itu kalau kita punya anak lelaki kamu yang akan memberinya nama. Sudahkan kamu menyiapkan nama untuk malaikat kecil kita?"


"Iya, aku akan memberinya nama ALAM SEMESTA yang artinya Ia akan dicintai semua alam di dunia ini," jawab Angkasa dengan bangga.


Tercermin wajah bahagia dan penuh syukur didalamnya.

__ADS_1


Sejak saat itu, masa-masa indah mereka lalui bersama. Angkasa semakin perhatian. Ia rela begadang setiap malam meskipun Ia bekerja seharian pada saat siang untuk menggantikan sang istri mengurus bayi mereka. Karena Ia tidak ingin melihat Bulan mengantuk dan kelelahan untuk menyusui Alam. Keadaan itu berlangsung kurang lebih hampir dua bulan.


Seperti malam itu, Bulan menyusui Alam disampingnya sampai ketiduran. Angkasa yang baru masuk dari ruangan depan dan melihatnya begitu kasihan. Di usap-usapnya kepala Bulan dengan penuh Cinta.


"Kamu pasti kelelahan ya, Sayang. Mengurus Alam sepanjang hari?"


Angkasa memindahkan Alam kedalam bok bayi dan setelah kembali pikiran liar nya mulai muncul. Buah kenyal yang masih terbuka itu mengundang syahwat yang sudah lama Ia tahan.


"Apa kah hari ini adalah saatnya aku meminta?" gumam Angkasa seorang diri.


"Sayang...!" Panggilnya lirih sambil menoel-noel wajah Bulan.


Bulan hanya menggeliat.


"Sayang, aku mau sesuatu!" pinta Angkasa lagi. Hingga mata Bulan yang masih berat, terbuka.


"Mau apa?" tanya Bulan kemudian, sambil tersenyum.


"Boleh ya, aku pengen!" ucapnya merayu dan sedikit mengerlingkan mata ke area sensitif Istrinya.


Bulan pun mendudukkan diri dihadapan Angkasa lalu melingkarkan tangannya di pundak sang suami.


"Aku sudah menunggu momen ini, Sayang. Tapi kenapa kamu baru memintanya sekarang," ujar Bulan dan itu membuat Angkasa sangat berbinar.


"Jadi kamu juga menginginkannya?" tanya Angkasa memastikan.


Bulan mengangguk sangat yakin. Tidak menunggu waktu lagi Angkasa yang sudah sangat lama menunggu waktu itu tiba, langsung merebahkan tubuh keduanya diatas ranjang dan menghabiskan waktu bersama semalaman.


...πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯SEKIANπŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯...


HALO READER, AKU KEMBALI DATANG MENYAPAMU. SUNGGUH INI ADALAH ANUGERAH YANG TIDAK TERKIRA KARENA MENDAPAT SUPPORT DAN DUKUNGAN YANG BEGITU BESAR DARI KALIAN.


TAK HENTI-HENTI RASA SYUKUR INI SAYA UCAPKAN KARENA DENGAN BERBESAR HATI TELAH MENGIKHLASKAN DUKUNGAN BERUPA :


LIKE, KOMEN, VOTE, GIFT, RATE BINTANG LIMA, KOIN BAHKAN MATERIAL UNTUK MENDUKUNG SAYA...


Maaf karena sampai saat ini tidak ada apa pun yang bisa saya berikan untuk kalian semuanya sebagai bentuk rasa terima kasih sayaπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί


DAN SAYA SANGAT BERHARAP KALIAN MASIH terus BERSEDIA MENGIKUTI CERITA YANG SAYA BUAT.


BOLEH PROMO KAN?


Yuk ikuti kisah di novel terbaruku yang berjudul πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



Mohon dukung juga disana ya, saya tunggu sapaan nyaπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2