
Bulan baru saja turun dari angkutan dan membayar ongkosnya. Ia yang tidak sabar bertemu Fatan berlari-lari kecil masuk kehalaman rumah sakit hingga tidak sengaja menabrak seorang Ibu-ibu dilahan parkir.
Ibu itu tak lain adalah ibu Widya, dia baru saja mengambil beberapa surat-surat penting terakhir milik Sekar. Itu semua baru dilakukannya sebab Ia tidak sanggup kembali kerumah sakit itu dimana anaknya pergi dengan cepat.
Rumah sakit itu adalah rumah sakit terbesar. Memiliki pasilitas lengkap untuk menangani pasien yang mengindap penyakit bagian dalam.
"Maaf, Bu. Maaf... ." Bulan benar-benar merasa bersalah dan mengatupkan tangannya di depan perempuan yang disibukkan memunguti kertas yang jatuh bertebaran di lantai.
Bulan ikut berjongkok dan segera membantu mengambilkan semua kertas itu sampai tidak ada yang tertinggal.
"Bu, maaf saya tidak sengaja," katanya lagi setelah Bu Widya menata kertas itu kembali kedalam sebuah map.
Bu Widya mengangguk lalu mengangkat kepalanya. Antara percaya dan tidak, Ia melihat wajah sekar di depannya.
"Sekar, anakku!" tanpa menunggu jawaban, Bu Widya segera memeluk Bulan.
"Ibu sangat merindukan kamu, Nak. Mengapa kamu pergi secepat itu?" Bu Widya mengira jika yang dipeluknya hanyalah sebuah ilusi. Sebab Ia terlalu kangen dengan mendiang Sekar.
Bulan tidak ingin ada kesalah pahaman pun memberi tahu. "Ibu, saya bukan Sekar."
"Ha...?" Bu Widya mengurai pelukan lalu memegangi pipi Bulan.
"Ka_ kamu manusia?" tanya Bu Widya, syok.
"Iya, Bu. Saya Bulan," jawab gadis tersebut. "Tunggu dulu jadi Ibu ini adalah orang tua Sekar?" tebak Bulan kemudian.
"Siapa kamu ini? kenapa wajahmu sangat mirip dengan putriku?" tanya Bu Widya, masih dibuat bingung akan sosok Bulan.
"Saya tidak tahu, Bu. Semua orang mengatakan hal yang sama," jawab Bulan.
"Nak, boleh kita bicara. Mungkin dengan melihatmu, rindu Ibu bisa berkurang," melas Bu Widya.
"Baik, Bu."
Keduanya menuju ke sebuah kantin yang terletak tak jauh dari tempat mereka berada. "Ini Foto Sekar. " Bu Widya mengeluarkan sebuah kertas berukuran 10 kali 15 dari dalam paper bag keatas meja.
Bulan mengamati wajah foto itu dengan seksama. Tidak salah lagi, mereka memang berwajah sama. Jika di sandingkan pasti keduanya memang memilik gurat serupa.
__ADS_1
"Bu, karena Ibu orang tua Sekar aku harus memberi tahukan ini pada Ibu." Bulan memutuskan bercerita.
"Soal apa, Nak?"
"Soal Angkasa," jawab Bulan. "Tapi, Bu. Sungguh itu semua kulakukan karena aku terpaksa." Bulan tidak ingin Bu Widya menganggap buruk dirinya.
"Maksudnya?"
"Aku bekerja pada Pak Dewok, berpura-pura menjadi Sekar," jawab Bulan jujur.
Bu Widya tercengang. "Jadi kalian_?"
"Kami bertemu di sebuah kaffe." Bulan menceritakan asal mula pertemuan mereka hingga akhirnya semua itu terjadi begitu saja.
"Jadi sekarang kau tinggal disana?" tanya Bu Widya lagi.
Bulan mengangguk. "Tapi sungguh, Bu. Aku tidak bermaksud menggantikan posisi Sekar. Karena kata Pak Dewok, Angkasa depresi berat, dan menghancurkan semua yang ada. Bahkan akan melukai orang yang mengatakan kalau Sekar sudah meninggal. Aku sudah melihatnya sendiri ketika temannya memberi tahu Angkasa kalau Sekar sudah tidak ada dan yang bersamanya sekarang orang lain."
Tidak sadar, Bulan meneteskan air matanya. "Maaf, Bu. Tolong jangan marah dan memberi tahu Angkasa sekarang, sebab aku butuh uang untuk pengobatan kanker usus besar di perut Fatan adikku," ujar Bulan lagi. Tak sanggup menahan gejolak perih di hatinya.
"Aku tahu, Bu."
"Besar resikonya, menjadi seorang istri pura-pura, Nak. Atau kau sudah sudah menyerahkan hidupmu?" Bu Widya mengungkapkan ketakutannya.
"Tidak, Bu. Untuk sekarang Bulan masih suci," jawab Bulan, disertai senyuman manisnya.
"Syukurlah." Bu Widya mengusap dada. "Ibu yakin, kamu punya alasan untuk itu tapi tetap saja, itu tidak akan lama, Nak?"
"Bulan juga tahu, Bu. Entahlah, Bulan sedang memikirkannya. Bu, apa Bulan boleh tahu sesuatu?"
"Soal apa?"
"Kebiasaan Sekar, saat Angkasa bekerja. Mungkin Ibu mengetahuinya, aku ingin membahagiakan hati Pria itu, Bu," kata Bulan.
"Sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, Nak." Bu Widya pun memberi tahukan apa yang sering dilihatnya ketika Sekar bersiap menemui calon suaminya.
"Hanya itu, Sekar tidak tahu apa itu malu, Nak. Setiap bertemu Angkasa, Ia sangat manja dan egois namun anehnya Angkasa menyukai itu," jelas Bu Widya.
__ADS_1
Bulan sangat terobsesi mengetahui lebih lanjut wujud seorang Sekar.
"Makasih, Bu. Karena tidak keberatan akan hal ini."
"Tidak, Ibu juga kasihan sama Angkasa. Dia berhak sembuh dan berbahagia, Nak. Seharusnya mereka masih merasakan manisnya pernikahan sebagai pengantin baru tapi malah berubah menjadi air mata luka dan kesedihan. Jadi wajar jika kini Angkasa sangat menderita. Bantulah dia, Nak.___ Bantu dia untuk berlapang dada menerima kepergian Sekar."
Kedua perempuan itu kembali berpelukan. Bu Widya sangat beruntung bisa melihat wajah anaknya di dalam diri Bulan.
"Siang nanti Angkasa berencana mengajak aku kerumah Ibu," kata Bulan lagi. "Dia bilang, mau mengundang Ibu kepesta ULTAH Sekar."
"Datanglah, Ibu akan menunggumu sebagai Sekar, Nak," jawab Bu Widya senang.
"Makasih, Bu. Ternyata Ibu Sekar begitu baik, seharusnya Sekar adalah orang yang paling bahagia didunia punya Ibu berhati malaikat dan punya suami berhati emas ditambah Mertua yang luar biasa sayangnya," ungkap Bulan lagi. Mengeluarkan segala yang bersarang di hatinya.
"Kamu benar, Nak. Tapi nyatanya Semua tidak sesuai keinginan. Ia sangat menderita, sejak kecil ditinggal Ayahnya dan saat mulai menginjak dua puluh tahun anak itu sakit keras. Ia bahagia setelah bertemu pemuda baik seperti Angkasa yang menyayanginya tanpa batas."
Keduanya menyembunyikan perasaan masing-masing, tidak ada yang tahu seperti apa dulunya mereka menjalani hidup yang rumit dan penuh tangisan.
"O ya, dimana adikmu di rawat, Ibu ingin bertemu sebentar saja. Soalnya Ibu buru-buru!" pinta Bu Widya.
Keduanya segera kekamar Fatan dan melihat seorang suster menyisir rambutnya.
"Bu Suster, kenapa rambut Fatan berjatuhan?" Wajah anak itu terlihat sedih.
"Gak papa, nak. Ini efek samping kemo Fatan," jawab Suster itu tersenyum.
"Tapi ini kan banyak Bu Suster." Fatan mengumpulkan rambut yang berjatuhan di ranjang kedalam tangannya.
Bulan tak bisa menahan air mata yang memaksa menerobos turun. Ia sakit melihat Fatan seperti itu. Adiknya masih terlalu kecil tapi sudah sangat menderita menahan rasa sakit.
Bu Widya yang melihat Bulan rapuh kembali memeluknya.
"Tenanglah, nak. Doakan adikmu segera sembuh. Aku yakin Fatan lebih kuat dari Sekar," tukas Bu Widya, memberi dorongan semangat.
"Tapi aku tidak tega, Bu. Bagaimana jika Fatan tidak kuat, Bu." Bulan tidak mau berharap banyak.
"Tidak, jangan berpikir begitu. Tuhan itu maha esa. Keajaiban akan diberikan pada siapa pun yang dikehendakinya walau itu tidak mungkin dalam nalar manusia."
__ADS_1