
Tringling... Tringlig....
Suara ponsel Angkasa menggema disaku kemejanya. Angkasa yang tidak ingin mengganggu orang-orang disana segera menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Bay!"
"Bos, saya sudah mendapatkan dekorasi terbaik untuk menghiasi taman," jawab Bayu dari arah berlawanan.
"Oh, oke. Kamu urus saja dulu karena saya sedang ada urusan."
"Oke, Bos."
Setelah sambungan terputus, Angkasa menyimpan ponselnya lagi dan memutuskan menghampiri Bulan yang belum juga berhenti menangis.
"Sudah, Sayang. Jangan menangis terus, berdoa saja agar Fatan segera sadar." Angkasa menuntunnya ke kursi.
"Tapi bagaiman jika nanti dia kenapa-napa?"
"Udah, kamu tenang dong. Semua pasti baik-baik saja."
Dibalik sebuah dinding tak jauh dari keduanya, Pak Dewok rupanya menguping pembicaraan mereka.
"Angkasa sangat tulus pada Bulan, bagaimana jika nanti Angkasa justru kesulitan melepas Bulan," gumam Pak Dewok ragu.
Namun bagaimana pun nanti akhirnya, Pak Dewok tidak akan memisahkan mereka sekarang juga. Justru Ia punya jalan lain agar Bulan semakin terikat dengannya.
"Sayang, aku kebelakang sebentar ya!" Angkasa beranjak dari duduknya menuju toilet, disana lah Pak Dewok berkesempatan menemui Bulan.
"Bulan...!" panggilnya, setelah dirasa aman.
Bulan yang hendak masuk keruangan Fatan langsung menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ayah...!"
Pak Dewok menatap tajam kearah Bulan, Ia tidak akan menyiakan kesempatan itu.
"Bulan, Ayah punya alasan untuk ini." Pak Dewok memulai percakapan.
__ADS_1
Bulan mengernyit. "Maksud, Ayah?" Tentu ada hal penting yang ingin Pak Dewok sampaikan.
"Aku sudah mendengar semuanya, Ayah akan membayar kamu dengan banyak uang," ujar Pak Dewok.
Bulan mencoba mencerna ucapan Pak Dewok. Benar saja, orang tua itu punya tujuan tertentu.
"Aku akan membawa Fatan berobat keluar negeri besok jika kamu bersedia menukarnya dengan memberi keturunan untuk Angkasa."
Bulan tercekap, bibirnya terasa bergetar ucapan Pak Dewok bagai kan gemuruh petir disiang bolong.
"Ta_ tapi kan, Ayah sendiri yang bilang. Tidak akan meminta aku untuk itu?" Bola mata yang tadinya hampir mengering kembali berembun.
"Bulan, uang yang aku berikan sudah hampir 1M, tapi saat ini Angkasa masih berduka ketika kamu melakukan penolakan. Mungkin didepan mu dia sabar, tapi hatinya kecewa, Nak." Pak Dewok terpaksa mengungkit apa yang sudah diberikannya pada gadis itu. "Jika kamu setuju, aku akan mengirim orang, mengaku menjadi keluarga Fatan untuk membawanya. Tapi kamu tenang saja, aku sendirilah yang akan mendampingi Fatan berobat."
"Tapi, Yah_ ." Bulan tak mampu berucap. "Aku bukan istrinya, mana mungkin bisa seperti itu." Air mata itu lagi-lagi jatuh berderai.
Pak Dewok sebenarnya juga tidak ingin tapi Ia sangat mengharapkan Angkasa merasakan bahagia seutuhnya.
"Jika Angkasa mengenalmu sebagai Bulan, Ayah akan menikahkan kalian, Nak. Tapi kau datang sebagai Sekar, yang sudah dinikahinya secara resmi dan dengan pesta yang sangat besar," kata Pak Dewok lagi.
"Ayah, tolong jangan memaksa Bulan untuk itu. Bulan takut, Ayah." Gadis itu berlutut dan memohon.
"Kau tidak tahu seperti apa Angkasa setelah kematian Sekar, Bulan. Ayah tidak ingin Ia semakin hancur jika mengetahui siapa dirimu sebenarnya," tukas Pak Dewok menambahkan.
"Tolong, Yah. Aku akan berusaha membuat Angkasa merelakan kepergian Sekar tapi bukan dengan jalan itu," melas Bulan lagi. Dadanya terasa sesak seolah tertimpa beban yang berat.
"Jalan seperti apa, Nak?" tanya Pak Dewok. "Menyakitinya lagi, lalu dia akan mengakhiri hidupnya, begitu maksudmu?" Pak Dewok menatap tajam seolah sedang memarahinya.
"Ayah...?"
"Pilihan ada ditanganmu, Dan jawabannya ada di malam ULTAH Sekar, atau aku akan menghentikan pengobatan Fatan!" Pak Dewok mengancam lalu meninggalkan Bulan yang benar-benar kalut. Berkali-kali menghapus air matanya tetap saja tidak mengering.
Bulan berusaha mengangkat tubuhnya agar kuat berdiri tapi rasanya begitu lemas.
Bulan yang tadinya mau mengecek kondisi Fatan mengurungkan niatnya. Namun tiba-tiba saja suara Fatan mengagetkan dirinya.
"Kakak, Kak Bulan!" panggilnya samar, tapi jelas Bulan dengar.
__ADS_1
Gadis itu sangat bahagia, Ia yakin Fatan sudah sadar. Ia segera berlari masuk. Benar saja, Fatan membuka matanya. Banyak selang dan alat bantu pernafasan menempel di hidungnya. Nafas bocah itu terdengar berat dan tidak beraturan.
"Fatan, kamu bangun, Sayang. Tolong jangan pergi, Kakak tidak akan sanggup kehilangan kamu, Dek!" Bulan memeluknya erat-erat menunjukkan pada Fatan kalau Ia benar-benar takut kehilangan.
"Aku mendengar semuanya, Kak. Berjanjilah, jangan menjual diri Kakak demi Fatan." Ucapnya, itu menikam aras Bulan yang terdiam melihat wajah mungilnya.
"Fatan, tidak akan pernah memaafkan Kakak jika Sampai itu terjadi," lanjutnya lagi. Tak berapa lama kemudian mata Fatan tertutup lagi.
"Fatan! kenapa matamu terpejam lagi, ayo bangun, Fatan!" teriak Bulan meraung-raung. Angkasa yang mendengarnya terkejut dan bergegas menyusul masuk.
"Ada apa, Sayang?"
"Sweety, tadi aku melihat dia sadar. Tapi kenapa dia memejamkan matanya lagi?" Bulan terduduk lemas lagi di lantai. Pikirannya berbelit-belit bak nenang kusut.
Selama ini Bulan sudah melakukan yang terbaik, demi nafas adiknya itu tapi mendengar pernyataan Fatan barusan Ia merasa gagal menjadi seorang Kakak.
"Hiks... hiks... Fatan."
Seorang Dokternya nampaknya tahu dan memeriksa kondisi Fatan.
"Apa yang terjadi, Mbak?" tanya Dokter itu.
"Tadi dia sadar, Dok. Bahkan berbicara dengan aku." Bulan mempraktekkan posisi sebelumnya.
Dokter masih belum yakin dan memeriksa ulang. "Fatan masih koma, Mbak. Mungkin itu hanya halusinasinya saja," delik Dokter itu.
"Bagaimana mungkin?" Bulan mengelak. "Aku melihat dia membuka matanya." Bulan tetap pada pendiriannya.
Dokter itu menghela nafas kasar, Ia tidak percaya dengan apa yang Bulan jelaskan.
"Mbak, tolong sabar. Beri dia semangat agar cepat melewati masa kritisnya." Seorang Dokter juga tentu menginginkan yang terbaik untuk seorang pasien yang ditanganinya
"Iya, Dok. Maaf sudah merepotkan," potong Angkasa. Ia mencoba memeluk erat tubuh Bulan agar menenangkan diri terlebih dahulu.
"Fatan akan baik-baik saja, Sayang. Bersabarlah...! semua butuh waktu, tidak bisa seperti yang kita mau." Angkasa memberi pengertian.
Bulan mulai hening tapi tak bisa menjauhkan tatapannya dari wajah Fatan. Ia tidak sedang bermimpi, Fatan benar-benar berbicara dengannya. itu bukan halusinasi tapi sangat nyata karena mata kepalanya sendiri yang melihatnya.
__ADS_1
Kesengsaraan harus Bulan terima setiap waktu didalam hidupnya. Bahkan adiknya pun seolah sedang dirampas darinya. Tidak punya tempat mengadu apa lagi berbagi. Siapa Angkasa? dia hanya orang asing yang menganggap nya orang lain. Tak bisa mengurai beban justru malah menambah jalan yang berlubang semakin dalam.
(Aku sudah hancur, semua telah hilang. Tidak ada yang memihak ku untuk bahagia. Semua menekan keadaanku. Ayah, Ibu, dimana kalian? mengapa membiarkan kami seperti ini. Dimana tanggung jawab kalian sebagai orang tua. Kalau aku tahu akan terlahir dari orang tua kejam seperti kalian, aku akan meminta pada Tuhan agar tidak pernah dilahirkan didunia ini)