
Sudah cukup lama mengobrak-abrik tempat itu, namun Bulan tak menemukan apa pun. Akan tetapi Ia tidak menyerah, gadis cantik itu terus mencari sampai Angkasa yang melihatnya lelah sendiri dan merasa Bulan sebenarnya bukan mencari apa yang diinginkannya melainkan ada pikiran kalut yang sedang melanda hatinya.
Sejak awal, Angkasa sudah tahu jika Bulan yang dianggap Sekar datang kerumah itu dengan tingkah laku yang jauh berbeda dari sebelumnya dan Ia menutupnya mata karena cinta yang terlalu besar pada almarhumah Istrinya Sekar.
"Dimana, bolpoin nya mengapa tidak ada?" Bulan begitu panik bahkan sampai menangis. Terpampang jelas pakta jika Bulan tidak sedang baik-baik saja. Angkasa tak mengalihkan tatapannya akan kegusaran Bulan. Membiarkan gadis itu menjadikan ruangan kamar mereka seperti gudang.
"Oh... iya pasti di sampah tadi. Biar aku cari...!" Bulan hendak melangkah keluar, sedang air matanya terus meluncur tak terkendali.
"Cukup, Sekar!" Angkasa akhirnya bersuara hingga membuat gerakan Bulan terhenti.
Pemuda itu melangkah mendekati gadis tersebut dan berdiri tepat di depannya. "Aku sudah tahu masalahmu dan apa yang kau sembunyikan dariku."
Bulan mendongakkan kelapanya. Keduanya saling balas menatap seolah semua akan berakhir hari itu. Bulan yakin Angkasa sudah menyadari jika yang ada bersamanya sekarang adalah orang lain.
"Dokter Lintang sudah menceritakan semua. Aku gak marah, Sayang. Tapi kenapa kamu tega membohongi aku, ha? Dengan beralasan kalian berselingkuh dibelakang aku?"
Angkasa berkata dengan sorot mata menusuk bak timah panas. Meremukkan jiwa Bulan yang sebenarnya belum rela melepas mahkotanya untuk pria yang bukan suaminya.
Bulan menggeleng diiringi isakan sendu sampai bibirnya tak mampu berucap.
Angkasa menangkup wajah Bulan, Ia ingin perempuan itu tahu jika cintanya sangat tulus meski Ia tidak akan memberinya keturunan.
"Kamu gak perlu bohong, Sayang. Aku gak papa kalau kamu mandul dan gak bisa ngasih keturunan," ucap Angkasa lagi. Mendengar ucapan itu Bulan semakin menangis.
Hiks.... hiks...
Bukan itu, Angkasa? Siapa yang bilang aku mandul? Kamu harus tahu, kesalahan apa yang sudah kita perbuat. Aku takut...
__ADS_1
"Sayang...!" Angkasa menarik tubuh Bulan merapat denganya. "Tolong jangan menangis lagi, kamu gak perlu terbebani akan hal ini. Berjanjilah, tidak akan pernah menolak aku karena takut kamu gak bisa hamil."
Seandainya Angkasa tahu apa yang Ia takutkan sebenarnya, Bulan tidak yakin pemuda tersebut masih bisa berpikir bijaksana seperti sekarang ini.
Tidak mau berlama-lama ada di dekapan Angkasa yang semakin hari terasa semakin nyaman. Bulan melepaskan pelukannya lalu keluar meninggalkan Angkasa. Ia tidak mau sampai terikat cinta yang kelak akan menghancurkan dirinya sendiri.
"Sayang...!" Teriak Angkasa. Menoleh saja tidak apa lagi berhenti. Bulan memilih menyendiri ditaman untuk menumpahkan semua yang membelenggu hatinya.
Kesuciannya sudah hilang. Tidak ada lagi yang bisa Ia banggakan dalam hidupnya. Semua sudah hancur. Padahal Ia sudah merencanakan sesuatu sedemikian rupa agar Angkasa membencinya dan menikahi perempuan lainya. Sialnya, Ia malah mengalami Amnesia sesaat yang membuatnya menjadi benar-benar bodoh.
"Bagaimana ini? Aku takut jika nanti aku hamil, terus Angkasa membuang ku. Seperti apa hidup yang akan kujalani nanti?"
Bulan mengusap perutnya, sebagai seorang perempuan tentu Ia merasa khawatir. Membayangkannya saja tidak berani, jika anak yang di lahirkan nya nanti akan hidup terlantar tanpa seorang Ayah.
"Kenapa kamu sangat bodoh, Bulan?" Gadis itu terus merutuk dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Oh Tuhan, Kenapa ini terjadi? apa aku akan hamil? Dan_ dan anakku akan lahir menjadi olokan semua orang?" Bulan terus mengandai-ngandai sesuatu yang belum tentu terjadi.
Bulan mendongakkan kepalanya keatas, berharap air matanya berhenti mengalir dan kegundahannya sedikit berkurang.
Hujan yang sempat berhenti kembali turun membasahi sekujur tubuhnya. Bulan tak bergeming, mungkin hujan itu tahu hatinya sedang kacau hingga Ia turun lagi untuk menyejukkan hatinya.
Tak ayal, pemuda yang sebenarnya ingin Ia jauhi malah datang memayungi dirinya dengan sejuta perhatian dan kasih sayang. Jika Angkasa selalu menaburi nya dengan cinta bukan mustahil suatu hari nanti Bulan yang kini merasa nyaman ada didekatnya perlahan-lahan akan berubah menjadi cinta.
"Kenapa hujan-hujanan? Nanti kamu sakit. Apa lagi ini sudah malam," ucap Angkasa lembut.
Bulan mendongakkan wajahnya yang sempat tertunduk, Ia yang melihat itu adalah Angkasa segera mengusap air matanya dan berusaha sebisa mungkin untuk tersenyum.
"Rupanya saat hujan-hujan seperti ini, cukup mujarab untuk mengurangi keresahanku," kata Bulan lirih, Ia menjulurkan tangannya keluar merasai setiap tetesan hujan yang jatuh.
__ADS_1
Angkasa rupanya tertarik. Ia mensejajarkan tangan nya di damping tangan Bulan. Mengumpulkan tetes demi tetes rahmat Tuhan hingga memenuhi cekungan tangan mereka. Angkasa sangat bahagia bisa merasakan kedamaian itu bersama wanita yang dicintainya. Ia melirik Bulan dan menikmati sosok Gadis cantik berparas sendu itu dengan lekat. Bulan memiliki bulu mata lentik panjang di bawah dua bulan sabit indahnya. Hidungnya tidak terlalu mancung namun mempesona, di tambahi bibir ranum tipis nan lembut yang menambah kesempurnaannya.
"Angkasa...!" Belum selesai berucap, Pemuda itu menutup mulutnya dengan jari telunjuk.
"Aku tidak ingin kamu merusak ke indahan malam ini dengan perkataan konyolmu, Sayang. Biarkan kita nikmati ini sampai merasa bosan." Angkasa meraih tubuhnya masuk kedalam pelukan.
Bulan terus memperhatikan wajah Angkasa yang sibuk memainkan air dari atas payung mereka. Ada degupan tak biasa didalam jantungnya. Tak sadar senyumnya kembali terukir. Sungguh, Ia sangat nyaman dengan keadaan itu. Merasa dilindungi dan di cintai dengan sangat tulus dari pria yang bukan siapa-siapanya.
Sejak mengenal nama, Bulan tidak pernah tahu apa itu cinta dan kasih sayang. Setiap hari Ia hanya mendengar kemarahan dan pukulan yang diciptakan Ayah dan Ibu tirinya. Bahkan sedikit pun tak pernah dipeluk atau di cium layaknya seorang anak.
Tuhan, jika aku boleh meminta. Bisakah aku tetap merasakan ini sampai mati?...
Angkasa menoleh kearah Bulan lalu mengusap kepalanya. "Sayang, apa kamu sudah lebih baik?"
Bulan mengangguk, senyumnya belum juga terlepas dari sudut bibirnya. "Terima kasih sudah mencintai aku, tapi_."
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu apa pun alasannya," sahut Angkasa.
"Kamu tidak tahu apa pun, suamiku," desis Bulan lirih.
"Benar, yang aku tahu hanya untuk mencintai mu sekarang, nanti dan Selamanya."
Kali ini, Bulan tersenyum getir. Rasanya itu sangatlah mustahil.
"Buktikan itu," kata Bulan lagi. Ia sengaja membuang payung mereka dan membiarkan hujan yang semakin lebat mengguyur keduanya.
Angkasa tidak perduli, Ia menarik tengkuk Bulan dan menciumi bibirnya dengan lepas.
__ADS_1
Sedang dari balik jendela, Pak Dewok dan Bu Arumi diam-diam menjadi penonton nya. Ada kebahagian disana meski hati mereke telah diselimuti oleh lumuran rasa berdosa didalamnya.