
Malam itu taman yang biasa hanya dipakai bersantai oleh para penginap di hotel itu kini telah di sulap menjadi sebuah Ponorama yang Sangat indah nan romantis.
Alunan lagu dengan tempo santai namun menyentuh menemani kegiatan mereka. teman-teman Angkasa mulai berdatangan. Tidak ada yang lusuh, mereka tampil dengan balutan busana sesuai tema dan berkelas.
Angkasa tidak sungkan-sungkan menyambut tangan mereka yang terulur mengucapkan selamat kepadanya. Setau mereka, Angkasa memang selalu merayakan ULTAH Sekar setiap tahunnya jadi tidak heran pesta akan dibuat sebegitu luar biasa.
Tak lupa, walau pernah bertengkar Angkasa tetap mengundang ketiga sahabatnya Adi, Putra dan Dino.
"Selamat, Angkasa. Semoga kebagiaan menyertaimu. Meski aku tidak tahu gunanya kau mengadakan pesta ini!" kata Adi, sembari memeluk tubuh Angkasa.
"Ngomong apa kamu," sela Angkasa. "Hari ini sangat berarti untukku," balasnya, seraya tersenyum. Ia tidak tersinggung karena hari ini perasaanya tengah berbunga-bunga.
Ketiganya saling berpandangan, berharap Angkasa akan segera membuka mata dan menerima kenyataan jika Sekar sudah tidak ada.
"Istrimu dimana?" Kali ini pertanyaan datangnya dari Dino.
"Masih didalam."
Angkasa yang melihat tamu-tamu pentingnya baru hadir, segera meninggalkan mereka.
"Halo, Pak Damar. Selamat datang di acara ini!" Sapanya.
"Selamat Ulang tahun ya untuk istrimu, semoga panjang umur dan sehat selalu." Keduanya bersalaman.
"Terima kasih, Pak. Atas doanya, silahkan dinikmati hidangannya disana!" Angkasa menunjuk kearah meja prasmanan.
"Oke, kami kesana dulu."
"Silakan, Pak."
Dalam beberapa waktu saja, kado untuk Bulan sudah menumpuk menyerupai bukit. Jadi bayangkan saja berapa banyak tamu yang diundang oleh Angkasa.
Angkasa melihat jam yang melingkar ditangannya itu tandanya Bulan harus secepatnya keluar untuk menyapa mereka semua.
"Bay, sini kamu!" panggil Angkasa pada Bayu yang berdiri tidak jauh darinya. Bayu pun segera menghampiri.
"Ada apa, Bos?
"Cepat periksa Sekar, apa dia sudah siap. Gak enak sama tamu kalau kelamaan!"
"Oke, Bos. Saya cek dulu." Bayu melangkah masuk kedalam hotel. Disana Ia berjumpa dengan seorang pemuda yang hampir saja menabraknya.
"Wis, hampir kena," celoteh Bayu, untung Ia cepat menghindar.
"Maaf, Mas. Maaf gak sengaja," kata pria tersebut dialah Dokter Lintang yang menepati janjinya pada Bulan.
__ADS_1
"It"s oke." Bayu berlalu pergi.
Hari ini aku akan melakukan sesuatu yang konyol untuk istri orang. Yang benar saja, semoga Sekar tidak akan menyesali pilihanya ini...
Syukurnya Ia yang baru masuk tidak bertemu Angkasa, semua kado diterima oleh dua orang perempuan kepercayaannya.
"Silakan masuk, Pak," ujar salah seorang yang menyambut kado Dokter lintang untuk Bulan.
"Iya sama-sama," jawab Dokter Lintang. Ia sudah diburu rasa takjub melihat dekorasi taman itu.
(Waw, ini pesta Ulang Tahun atau Pernikahan sih? tapi kenapa Sekar ingin sekali melihat suaminya menikah lagi... )
Dokter Lintang mulai bertanya-tanya, Ia tidak yakin jika Sekar melakukannya hanya karena hal yang Ia ceritakan.
"Oke, kita lihat apa yang terjadi." Dokter Lintang ikut berbaur dengan mereka yang tengah menikmati menu makan malam. Kue tart jumbo dengan pernak pernik ukiran menawan memenuhi satu buah meja. Diatasnya terdapat beberapa Lilin dan Angka usia Sekar.
Dokter Lintang mencari keberadaan Angkasa yang jauh didepannya. Pemuda tampan dan sukses juga tidak memiliki kekurangan apapun. Seharusnya wanita yang ada disampingnya adalah orang yang paling beruntung. Tapi mendengar penuturan Bulan kemaren, rasanya Ia jadi kurang setuju.
Tidak ada yang bersedih, hanya ada wajah-wajah bahagia disana. Dimana pesta itu benar-benar dibuat sangat meriah.
Tak berapa lama, mereka kembali terpesona akan kemunculan Bulan dari arah pintu dibalut gaun merah muda yang sangat cocok di tubuhnya.
Kecantikan wajahnya yang sebening kristal memuja mereka, terutama Angkasa Sadewa manusia paling bahagia karena telah berhasil memilikinya begitulah pendapat orang-orang tentang hubungan mereka.
Adi rupanya ada di sampingnya langsung menodong dengan tatapan tidak suka.
"Kau belum punya pacar?" Tanya Adi, seolah mengejek.
"Ha?" Dokter Lintang terkekeh. "Apa hubungannya dengan pujian ku tadi, memang kenyataan kan Angkasa sangat beruntung punya Istri seperti dia," desis Dokter Lintang menambahi.
"Heh, tidak tahu malu. Memuji istri orang," jengah Adi seorang diri tapi Dokter Lintang tetap bisa mendengarnya.
Aku tidak akan membiarkan wanita itu menikmati posisinya.
Batin Adi dalam hati, Ia sangat respek dengan hubungan Angkasa dan Sekar sejak pertama kali Ia kenal mereka dan kedatangan Bulan membuatnya tidak rela jika harus menempati posisi Sekar.
Angkasa bergerak menjemput Bulan lalu melingkarkan kedua tangannya kepingang wanita yang dianggap adalah istri.
"Kau sangat cantik istriku," selorohnya pelan. Bagai hembusan angin malam yang menerpa kulit mereka. Sejuk dan memikat.
"Terima kasih," jawab Bulan senang.
"Wah, gak salah pilih Pak Angkasa. Istrimu is the best. Dia adalah ratunya!" seru teman koleganya.
Angkasa dan Bulan membalas dengan tersenyum, disana juga ada Bu Widya tapi Ia tidak berani mendekat. Karena bagaimana pun juga, Bulan bukanlah Sekar putrinya.
__ADS_1
Semoga kamu bahagia, nak Bulan.
Selang beberapa menit, acara telah dimulai. Pembawa naskah membacakan serangkaian kegiatan mereka malam itu dimulai dengan Kissing sesama pasangan dan itu wajib. Oleh karena itu semua yang diundang diminta membawa pacar ataupun istri mereka masing-masing.
"Oke, karena hari sudah semakin malam mari kita mulai ke acara yang pertama. Kita buat deretan panjang terpisah antara cewek dan cowok, termasuk yang ULTAH juga ya tanpa terkecuali di tempat ini."
Mereka segera melakukan arahan pembawa acara untuk segera melakukanya. Bahkan Angkasa dan Bulan yang saling berpegangan pun berpisah.
"Segera cari pasangan kalian sekarang juga dan cium dia. Tunjukkan bahwa kamu sangat mencintai dia sebagai pilihan hidup kalian."
"Satu lagi untuk yang belum menikah, boleh mengungkap isi hati kalian pada mereka. Contohnya adalah, ajak bertunangan atau pun menikah. Jangan buat anak dulu ya!"
"Haha..."
"Hu..."
Gelak tawa memenuhi taman tersebut. Mereka terlihat malu-malu akan melakukan hal itu. Detak jantung saling berlomba-lomba merasa tegang dan sebagainya.
"Hubungan yang serius adalah bukti kesetiaan kalian terhadap pasangan. Hati-hati saja karena di zaman sekarang ini pelakor dan Pembinor marak dikalangan masyarakat."
"Oke, bersiaplah. Kalian di berikan durasi satu menit untuk melakukannya, jika tidak mau paksa saja, hehehe....! Ucap Pembawa acara melanjutkan.
"Mari kita hitung." Pembaca Acara mengangkat jari jemarinya menambah getar-getar kikut dan canggup semakin menggelora.
"Satu."
"Dua."
"Tiga, ayo berangkat!"
Mereka saling bergerumun tabrak menabrak mencari pasangan yang terpisah. Ada yang cepat bertemu dan ada yang kesulitan.
Berbeda dengan Angkasa, Ia langsung berlari mendapatkan istri tercintanya. Menjamah bibir ranum yang kian hari menjadi obat terbaiknya.
Sedangkan Dokter Lintang dan ketiga sahabat Angkasa hanya bisa meneguk liur melihat adegan panas itu didepan mereka.
"Ah, sial. Kenapa aku pergi sendiri tadi," sesal Putra.
"Bukannya emang jomblo," ejek Dino, tertawa.
Berbagai hal terpaksa harus ditonton, mereka tidak hanya sekedar mencium bahkan saling bertaut lidah satu sama lain.
...ππππ...
Lanjut atau tidak ni, gantungin aja ya...π€£π€£π€£π€£
__ADS_1