Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 30 Beradu


__ADS_3

Alhasil, semalam Bulan tidak bisa tidur takut Angkasa melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya.


...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...


Bangun dari tidur, mata Bulan jadi berat, namun Ia harus tetap bangun untuk membantu Bu Arumi beberes rumah. Walau tidak diharuskan, tinggal dirumah mewah dan makan dengan layak sudah sangat membantunya.


"Bulan, mau kerumah sakit lagi?" tanya Pak Dewok, saat Gadis itu sedang mengepel lantai tidak sadar Angkasa berada di tempat itu.


"Rumah sakit? siapa yang sakit?" timbalnya, mengagetkan kedua orang tersebut.


Kebingungan seperti ini akan sering menerpa mereka, ketika Angkasa mulai mengajukan pertanyaan yang menyulitkan mereka mendapatkan jawaban.


"Ada, seorang anak yang dibantu Sekar beberapa hari yang lalu," sahut Bu Arumi menengahi.


Pandangan Angkasa tertuju pada Bulan.


"Kenapa dengan anak itu, Sayang?" tanya Angkasa.


"E_ itu...." Bulan nampak gugup.


"Dia anak yatim piatu, nak. Kemaren Sekar menemukannya sedang kesakitan dipinggir jalan. Na'asnya lagi anak itu menderita kanker," ulas Bu Arumi lagi.


"O ya? penyakit itu tidak asing ditelingaku," gumam Angkasa. "Baiklah aku mau ikut dan melihatnya," katanya melanjutkan.


Ketiganya melongo.


"Kenapa ekspresi kalian begitu?" Angkasa menggaruk pelipisnya.


"Oh... ya bukan apa-apa. Kamu tidak kekantor?" Pak Dewok mengalihkan topik pembicaraan.


"Siangan, Yah. Banyak yang harus aku urus untuk mempersiapkan ULTAH istriku," Jawab Angkasa, sedikit mengerlingkan mata kearah Bulan.


"Ya sudah, temani saja Sekar ke rumah sakit," sela Bu Arumi. Dengan begitu, Bulan tidak perlu lagi diam-diam menemui Fatan.


"Iya, Bu," jawab Bulan Final.


Sekitar pukul 09.00 pagi mobil yang membawa keduanya sudah menepi di lahan parkir. Tidak sengaja Mereka bertemu dengan Awan.


"Bulan!" teriak Awan, Ia belum ridho melepaskan gadis itu dan sejujurnya tidak terlalu menyukai Maya.


"Lo, bukanya kamu yang kemaren, waktu ditaman itu


ya?" Angkasa memasang wajah sinis.

__ADS_1


Awan malah mendorong nya menjauh Bulan dan memancing emosi Angkasa.


"Minggir, aku mau bicara dengan Bulan. Dia harus mendengarkan penjelasan ku!" Awan berusaha meraih tangan Bulan yang lebih dulu menghindarinya.


"Tolong, Bulan. Aku mencintaimu. Sungguh, itu terjadi karena Maya merayuku. Itu hanya sebuah ketidak sengajaan." Awan menerangkan keadaan sebenarnya.


Angkasa yang melihat Bulan ketakutan kalut dan balas mendorong Awan. "Hey, jauhkan tanganmu dari nya dia bukan Bulan!" Angkasa murka.


"Hey, Angkasa. Kamu yakin dia Sekar, coba lihat baik-baik dia itu Bulan kekasihku," jawab Awan kesal.


"Brengsek, mau kurang ajar rupanya." Angkasa memegang kerah Awan dengan kasar. "Coba katakan lagi jika dia adalah Bulan, biar ku rontokkan seluruh gigimu ini!" ancam Angkasa, melotot dan mengeratkan rahangnya.


"Bulan, jujur saja sekarang. Biar Pria depresi ini membuka matanya kalau dia sudah gila!" suruh Awan, Ia


meneriaki Bulan. Tak sampai lima detik bogeman Angkasa menghantam dagunya.


"Brengsek, masih saja nekat rupanya!" Angkasa menghalau Awan yang kepeleset kebelakang oleh ulahnya.


"Ayo katakan lagi, pasti matamu sudah katarak!" pekik Angkasa.


"Dasar pria bodoh, Bulan memanfaatkan mu hanya demi uang. Bukankah si Sekar itu sudah mati," ejek Awan terbersit seringai picik di bibirnya


Angkasa tak dapat menahan diri dan kembali membogem Awan berulang-ulang. Namun Awan tidak tinggal diam dan membalas perlakuan Angkasa hingga saling pukul tak dapat terelakan


Awan terjungkal ketika Angkasa menendang bagian perutnya. tapi tidak urung membangkitkan Awan lagi dan balas menerjang bagian punggung Angkasa yang mengira Awan sudah menyerah.


"Tidak, Angkasa!" Bulan langsung berlari menangkapnya karena tubuh Angkasa terhuyung kedepan. Awan belum puas, ingin kembali menyerang.


"Biar ku habisi dia, agar tidak menjadi pengacau," tukas Awan.


"Tidak, jangan. Pak tolong hentikan dia, Pak!" Bulan menangis melihat kondisi wajah Angkasa sudah babak belur.


Selang beberapa waktu dua orang satpam datang melerai keduanya dan menjauhkan Awan dari Angkasa dan Bulan.


"Apa-apaan ini? tempat ini untuk orang-orang sakit yang mencari ketenangan agar cepat sembuh bukan ring untuk adu jotos!" omel kepala satpam.


"Bawa saja dia, Pak. Suami saya terluka karena dia," tunjuk Bulan pada Awan yang tidak mempercayai tindakan Bulan.


"Kau keterlaluan Bulan, dia hanya suami pura-pura mu. Sedang aku, aku kekasih yang selama ini tulus mencintai kamu." Awan terlihat tidak terima.


"Tolong, Pak. Pria itu terobsesi sama saya," bohong Bulan. Itu semua demi agar Angkasa tidak curiga. Toh, Ia juga sudah menganggap Awan bukan orang penting lagi.


"Kamu benar-benar tega, Bulan." Hati Awan meradang.

__ADS_1


Sejujurnya Bulan lebih marah ketimbang Awan dan ingin sekali memaki pria itu habis-habisan tapi tidak mungkin, Ia melakukannya di depan Angkasa.


Kali ini Bulan membuang egonya dan membawa Angkasa masuk keruangan Fatan.


"Kakak, ada apa dengan Kakak ini?" Fatan melihat wajah Angkasa penuh lebam.


"Dia habis dipukulin orang, Dek," jawab Bulan, Ia membantu Angkasa duduk di kursi.


"Tunggu disini, aku mau cari Dokter dulu!" Bulan hendak pergi tapi Angkasa mencegahnya.


"Tidak usah, nanti juga sembuh kok."


"Tapi, Sweety. Wajahmu terlihat membengkak." Bulan khawatir akan infeksi.


"Udah gak papa, nanti juga sembuh kok. O ya inilah anak yang kamu maksud?" Angkasa membalas tatapan Fatan.


Bulan mengangguk lalu melirik Fatan yang terlihat bingung akan ucapan mereka.


"Fatan, ini Kakak Angkasa. Dia suami Kakak." Bulan terpaksa mengatakan kebohongan demi kebohongan pada siapa pun.


Fatan belum sepenuhnya paham ucapan Bulan.


"Kapan Kakak menikah?" tanya Fatan lagi. Wajah polosnya meragu.


"Sudah lama, Dek," jawab Angkasa. "Bagaimana kondisi mu sekarang apa lebih baik?" Angkasa mendekat dan mengusap-usap kepala Fatan.


"Alhamdulilah baik, Kak. Terimakasih ya Kakak ganteng udah jagain Kakaknya Fatan," kata anak tersebut.


"Iya, sama-sama. Kak Sekar aman sama Kak Angkasa." Angkasa memeluk Bulan didepan Fatan.


"Sekar?" Fatan tidak salah dengar.


Bulan yang takut Fatan keceplosan menyebut namanya langsung meraih bubur di meja.


"Kok belum dimakan? ayo makan dulu, biar kemo nanti Fatan sudah kuat fisiknya!" Bulan menyuapi adik kesayangannya dengan tulus dan itu membuat Angkasa bangga.


Dia memang keibuan, semoga engkau menganugerahi kami keturunan Ya Allah


Tak sadar Angkasa melepas senyum membayangkan sosok malaikat-malaikat kecil yang lucu dan imut akan hadir dan berlarian di setiap ruangan rumahnya.


"Kakak kenapa?" Fatan merasa aneh melihat ekspresi Angkasa.


"Kakak menyukai anak kecil, Fatan mau jadi adik Kak Angkasa?" tanya pria itu tiba-tiba mengagetkan hati Bulan.

__ADS_1


"Kak Angkasa sungguhan? Fatan, akan senang sekali punya Kakak ganteng kayak Kak Angkasa," ujar bocah polos itu lagi, kegirangan.


__ADS_2