Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 55 Malam Istimewa


__ADS_3

...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...


Angkasa tidak terima akan kelancangan Bulan bergegas mengejarnya untuk membalas dendam. "Awas ya kalau kena!" seloroh Angkasa. Mengikuti Bulan mengitari ranjang serba kuning dikamar nya.


Tidak membuang banyak waktu, Angkasa berhasil menahan lengan Bulan dan menariknya masuk dalam dekapan. Nafas mereka saling memburu dan balas tatap menatap berbarengan dengan bunga-bunga yang mendadak tumbuh di tepian hati keduanya. Suasana yang senyap seolah mendukung menantikan malam ini tiba.


merajut asmara, terkubur dalam lubang cinta yang harus di gali agar bermunculan memenuhi setiap degup jantung yang saling bertautan.


Bola mata keduanya memancarkan binar-binar cahaya. Sepertinya malam yang mereka nantikan telah tiba. Dimana malam itu Angkasa ingin melepas kan kegundahan yang sudah lama Ia tahan.


Pelan dan pasti, wajah itu mendekati bibir merah muda yang tidak pernah melepas senyumnya. Jujur saja, Bulan berdebar-debar menunggu bibir Angkasa segera menjamah miliknya.


Ada sesuatu yang luar biasa menjalari sekitaran tubuh mereka yang tidak bisa di jelaskan lewat perkataan semata dan hanya mereka yang dapat merasakan keindahan itu.


Cup..


Sentuhan lembut nan basah berhasil menyatu dan bergerak merong-rong raga keduanya. Seiring berjalannya waktu ciuman itu semakin panas dan lama hingga suara lengu_an terlepas dari bibir Bulan dan mengejutkannya lagi Gadis itu membalas permainan Angkasa.


"Eum.. !" desisnya, asa.


"Terima kasih, Sayang!" Angkasa menahan tengkuk nya agar lebih mudah merasai rongga-rongga yang ada di dalam mulut istrinya lebih dalam.


Panas kian meremang, menambah dahaga birah_ keduanya. Angkasa belum melepaskan bibir bulan berbarengan dengan tangannya yang mulai mengurai kancing baju kemeja nya sendiri.


Selepas itu, Bulan yang tidak dapat menyembunyikan perasaan hatinya berbalik. Ada rasa ingin melanjutkan tapi ada juga rasa lain yang seolah melarang hal itu terjadi.


Angkasa melihatnya sendiri, Nafas Bulan mulai tak beraturan. Ia menikmati jamahan lembut kedua lengannya yang di lakukan Angkasa.


"Kamu mau kan?" bisiknya lirih, Bulan hanya tersenyum. Dia bingung dengan datangnya dua perasaan yang bertolak belakang untuk menolak Angkasa juga itu tidaklah mungkin.


Bohong jika Ia tidak bahagia. Angkasa mampu membangkitkan gairahnya dalam sekejap.


Bulan bisa merasakan kalau Angkasa telah menghadirkan keadaan semakin mengikis angan. Ia meraih satu buah mirip gantungan dan menurunkan sleting dress nya sampai bawah seiring dengan menciumi lagi punggungnya dengan leluasa melahirkan rasa yang baru lagi dan itu sangat menghauskan.


Bulan menyudahi nya dengan berbalik menatap Angkasa. Mata tak pernah bohong, Bulan dapat merasakan ketulusan di dalam sana yang ada di diri suaminya

__ADS_1


"Sayang, makasih sudah mencintaiku," ujar Bulan penuh haru.


"Sama-sama, istriku. Aku juga senang bisa mendapatkan cintamu." Kedua tangannya membingkai Wajah Bulan, menambah ruang atmosfer tersendiri disana.


Angkasa menunduk berfokus pada dua buah dada yang menggoda nalurinya. Sudah sangat lama Ingin sekali menyentuh, mengusap, memijat atau mere_as masuk dalam genggamannya.


Bulan yang tahu maksud Angkasa mengembang senyum. Ia meraih tangan Angkasa dan menciumnya cukup lama.


"Aku ingin dengan tangan ini, kamu akan menuntunku pada kebahagian sesungguhnya, Sayang," ujar Bulan penuh kesungguhan.


Bulan sudah meneguhkan hati bahwa apa yang dia punya adalah milik suaminya dan dia ingin hanya pria yang memiliki hatinya lah yang akan menjadi pasangan dalam peraduan ikatan suci tersebut.


Angkasa rupanya tidak sabar, Ia menggendong Bulan dan merebahkan tubuhnya perlahan keranjang dan berlanjut merangkak di atasnya.


Agar tidak terhalangi, Angkasa melepaskan dress yang masih menggantung di dada istrinya turun kebawah. Menampakkan pemandangan yang indah dan memikat.


Tangan Angkasa bergetar, Ia masih belum berani untuk menyentuhnya lagi. Tidak seperti biasanya, saat Ia kesulitan merayu Bulan tanpa ada rasa canggung.


Namun malam ini benar-benar berbeda, karena sudah dipastikan Bulan tidak akan menolak lagi.


Angkasa memangut lagi dengan lembut bibirnya beberapa waktu lalu turun ke areal jenjang lehernya dan sekitaran dadanya cukup lama.


Angkasa sengaja memperpanjang waktu tak ingin terburu-buru agar nanti malam itu menjadi malam bersejarah yang akan mereka ingat di masa depan.


Disana juga Angkasa berkesempatan untuk membuktikan sendiri apakah istrinya benar-benar masih perawan atau tidak.


Angkasa menjeda kesibukannya dan menggapai ponsel di atas nakas untuk mencari tahu perbedaan wanita yang masih suci atau tidak di internet.


Bahwa wanita yang masih suci akan terlihat dari sel_put daranya yang masih utuh dan belum rusak. Juga pada dua gunung kembar yang masih kencang dan kenyal.


Angkasa menjadi gusar, Ia takut untuk melihatnya.


(Maafkan aku, Sayang. Aku meragukan dirimu)gumam Angkasa dalam hati.


Bulan mengerutkan dahi, Ia heran melihat Angkasa malah sibuk dengan ponselnya padahal Ia masih ingin berlama-lama di manjakan.

__ADS_1


"Sayang, ada sesuatu yang pentingkah?" Pertanyaan Bulan meluncur juga.


Angkasa menggeleng.


Ia membuang jauh-jauh pikiran buruknya dan melepas pakaiannya dan Bulan yang masih menggantung dipinggang menunjukkan bongkahan imut yang ditumbuhi bulu-bulu lembut disana.


"Sayang, ada apa denganmu?" Bulan melihat gurat wajah keraguan disana yang membuatnya bertanya-tanya.


Jangan-jangan dia membayangkan sesuatu....


Bulan tidak suka dengan tampang Angkasa karena kelihatan sangat tegang seperti ingin menyaksikan sesuatu yang besar.


Glek!


Angkasa menelan salivanya, Ia benar-benar harus bersiap menerima kenyataan jika apa yang diharapkan bisa jadi mengecewakan dirinya nanti.


"Jangan lihat begitu, aku malu," gelak nya, tertawa namun tetap merasa aneh dengan Angkasa. Tentu saja itu karena Ia sedang lupa apa yang pernah terjadi sebelumnya.


Angkasa memaksa kan diri tetap tersenyum dan menyingkirkan tangan Bulan. Detik-detik pembuktian, disana lah Angkasa tahu dan langsung menghela nafas dalam.


Ya Allah, aku telah berburuk sangka. Aku yakin istriku masih suci...


"Sayang, apa yang kau lakukan?" kesal Bulan. Seolah-olah memperhatikan lagi sesuatu disana yang membuatnya tak nyaman.


"Enggak papa, Sayang. Maaf, sudah merusak momen bahagia kita." Angkasa kembali memulai menciptakan adegan panas menyesapi bagian bawah telinga Bulan dengan cara menjil_tinya.


"Boleh aku bertanya?" tanya Bulan. Itu muncul begitu saja dalam benaknya.


"Soal apa?" Angkasa bertanya namun tidak menghentikan aktivitasnya.


"Hihihi... geli, Sayang!" Bulan menggeliat tak mampu merasakan sensasinya.


"Diam lah, aku akan membuatmu merasakan apa itu arti cinta yang sebenarnya!"


Angkasa mengulang merema_s bukit kembar istrinya dengan lembut dan memainkannya ujungnya yang masih sedikit tenggelam.

__ADS_1


"Em, kamu punya mantan pacar gak sih selain aku?" tanya Bulan lagi iseng.


"Kenapa emang, tumben mau tahu?" Angkasa mendongakkan kepala akan pertanyaan Bulan yang satu itu.


__ADS_2