Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 80 Terungkap


__ADS_3

"Saya minta 5000.aja, Bu." Bulan menyerahkan uangnya Penjual tersebut langsung membungkusnya untuk Bulan.


"Bu, boleh minta saru gelas air minum?"


" Iya, Boleh."


Penjual itu berbaik hati memberinya.


Bulan menumpang duduk di tempat itu untuk menghabiskan dua gorengan tersebut dan minum. Beberapa menit saja, Ia sudah selesai dan melanjutkan perjalanannya.


Hari sudah semakin gelap, namun Bulan bingung harus kemana. Kontrakan yang dulu juga jauh dari sana, tentu Ia harus naik angkutan umum agar bisa sampai. Tapi bagaimana bisa, jika uang saja Ia tidak ada.


Bulan melihat sebuah ruko kosong, disana lah Ia menghentikan langkahnya karena sudah sangat kelelahan. Duduk melamun di teras mengedarkan tatapan, tidak ada orang sama sekali yang lalu lalang.


Bulan menangis lagi, Ia tidak percaya jika nasibnya telah berakhir seperti ini. Kemalangan rupanya belum juga menjauhinya. Mungkin takdir sudah menggariskan kehidupan menyedihkan itu untuknya.


"Ya Allah, biarlah aku hidup seperti ini. Tapi jika anakku nanti lahir, izinkan dia hidup layak dan bahagia."


Doa dan harapan Bulan panjatkan, Ia tidak mau kelak anaknya bernasib sama.


Di lain tempat, Angkasa belum juga berhenti meratapi kesedihannya. Ia mematut foto pernikahannya dengan Sekar. Kerinduan yang hampir hilang kini menggumpal lagi.


Angkasa melangkah mendekat dan mengusap wajah Sekar di balik bingkai tersebut.


"Sekar, maafkan aku sudah mengkhianatimu. Aku tahu, kalau aku bukan suami yang baik. Tidak bisa mengenalimu karena Cintaku yang buta."


Air matanya terjatuh, Ia mengedarkan tatapannya ke segala penjuru arah. Mengingat apa saja yang pernah dilakukannya dengan Bulan.


Sesaat Angkasa menggeleng. "Semua itu begitu membahagiakan, tapi mengapa dia bukan kamu Sekar? dia berhasil memperdaya aku karena memiliki wajah seperti mu."


Angkasa mendaratkan bokongnya di tepi ranjang, Ia kembali sesenggukan untuk melepas rasa sakitnya.


Pak Dewok sendiri tiba-tiba pingsan. Ia tidak kuat melihat Angkasa menderita.


"Yah, Ayah, kamu kenapa, Yah?" teriak Bu Arumi histeris.


Dokter Lintang yang masih di sana membantu Bu Arumi memapah Pak Dewok untuk merebahkannya di sofa.


"Ada aromatherapy, Bu?" tanya Dokter Lintang.

__ADS_1


"Kamu ambil saja di kamar, Nak. Itu di sebelah kiri."


"Baik, Bu."


Dokter Lintang bergegas masuk, disana Ia mencari apa yang di perlukan nya. Belum juga ketemu, Dokter Lintang melihat foto serupa seperti miliknya.


"Astaga, apa ini?" Dokter Lintang kaget bukan main. Lama terpaku, Ia melanjutkan mencari tujuan utamanya. Nanti, disaat yang tepat. Dia akan mencari tahu soal Foto tersebut. Kemungkin besar jika Foto itu adalah foto yang Ia cari pemiliknya.


Dokter Lintang kembali dengan tergesa-gesa lalu berusaha membangunkan Pak Dewok dari pingsannya. Dokter Lintang menghirup kan minyak beraroma itu di dekat hidung Pak Dewok. Sesaat pria paruh baya itu kembali bangun.


"Bu, apa Angkasa baik-baik saja? Ayah takut kehilangan dia, Bu. Ayah sudah pernah kehilangan putra kita," ucapnya khawatir.


Deg!


Dokter Lintang terperangah, mungkin kah anak hilang yang Pak Dewok maksud adalah dirinya.


"Om, boleh aku tahu foto yang ada di kamar Om dan Tante. Apakah itu adalah foto saat kalian masih muda?" Rasanya itu adalah kesempatan yang tepat untuk mengetahui semuanya.


Keduanya menatap dalam pada Lintang.


"Dari mana kamu tahu?" tanya keduanya bersamaan. Pelangi dan kedua anak-anak di sana hanya bisa memperhatikan saja.


Keduanya terkejut. Bu Arumi mengambil alih untuk memastikan.


"Ini adalah kalung milik Ragata Lintang putra kami. Apa?" Bu Arumi mendongak menatap Lintang. Mungkin kah ka_ kamu putra kami yang di kira meninggal saat kebakaran itu?"


Dokter Lintang mengangguk. "Aku dan nenek selamat, tapi kami kehilangan Ayah dan Ibu."


Bu Arumi dan Pak Dewok menangis, Bu Arumi menarik Dokter Lintang mendekat dan memeluknya.


"Ternyata, kamu ada disekitar kami, Nak. Tapi kami tidak menyadari itu," ucap Bu Arumi penuh haru.


"Lalu dimana nenekmu?" Pak Dewok penasaran kisah mereka sebelumnya.


"Beliau sudah meninggal, dia meminta aku untuk menemukan kalian. Tak disangka memasuki kamar Ayah dan Ibu membuat aku menemukan kenyataan ini," ujar Dokter Lintang.


"Rupanya ada hikmah di balik setiap masalah," sahut Pelangi dari tempat duduknya. Gadis itu tersenyum bersama dengan kedua anak kecil disampingnya.


Mendengar itu, suasana yang sempat tegang sedikit mencair. Tapi Pak Dewok dan Bu Arumi belum lega jika belum melihat Angkasa bahagia lagi.

__ADS_1


"Soal Angkasa?"


"Karena aku adalah Kakaknya, maka aku akan membantu membuat pikiran Angkasa normal lagi. Tapi Yah, Bu. Hanya kebahagiaan hatinya sendiri yang bisa membuatnya terlepas. Aku hanya akan membantunya dari sisi mental yaitu dengan cara membuatnya lebih rileks."


"Iya, Nak. Aku yakin Angkasa bisa move_on dari Sekar," jawab Bu Arumi.


Pelangi melamun, Ia ingat jelas saat Dokter mengatakan jika Bulan tengah mengandung. Tidak adil rasanya jika Ia membiarkan keluarga itu mengabaikannya, paling tidak bisa membantu nya sedikit soal biaya.


Tapi Pelangi akan menunggu momen yang pas, Ia mau Bulan mendapatkan keadilan untuk itu. Meski saudara tiri, toh Bulan tidak pernah membedakannya, bahkan melakukan hal yang besar untuk Fatan sang adik.


Aku akan membuat semuanya membaik, Bulan.Tapi bersabarlah...


Cuaca dingin menerpa seolah menusuk kedalam pori-pori, terlihat di teras pojokan, Bulan duduk memeluk kakinya. Ia tidak tidur karena tidak ada apa pun untuk menghangatkannya. Selain itu Ia juga takut kalau seandainya ada orang jahat mengganggunya.


Tidak terasa matahari mulai naik. Dua malam sudah, Ia harus menahan kantuk dan rasa lelah. Tidak peduli tubuhnya menggigil karena demam.


Bulan menenteng tas kumuhnya untuk melanjutkan perjalanan. Yang ada dipikirannya adalah mencari penghidupan baru untuk menopang kesenjangan hidupnya.


Karena kesehatan janin yang ada di perut perlu vitamin yang bisa mencukupi.


Cukup jauh berjalan, kira-kira hampir dua kilo. Bulan melihat sebuah rumah makan. Nampaknya rumah makan itu kalang kabut sebab tiga pegawainya tidak bisa datang akibat mengalami kecelakaan saat menunju kesana.


"Aduh, No. Hari ini kan biasanya tamu ramai. Bagaimana kalau kita kelabakan melayani tamu nanti." Bu Rina terlihat gusar.


"La yo, terus pye, Bu. Mereka mengalami luka-luka. Jadi ya, gak iso kerjo," jawab Pak Jono sambil menggaruk tengkuknya. Ia tidak punya solusi untuk itu.


"Hadeh, ada-ada aja ni musibah."


Bulan mendapat angin segar, Ia punya peluang untuk mendaftarkan diri. Apa lagi sedikit banyak Ia punya pengalaman pernah bekerja di kaffe.


"Pagi, Pa, Bu!"


"Pagi, Mbak. Ada apa?" tanya Bu Rina agak judes.


"Maaf saya tidak sengaja mendengar obrolan kalian, bisa gak saya daftar jadi pegawai mungkin bisa membantu?" pertanyaan Bulan disambut senyum oleh Bu Rina.


"Kami punya pengalaman apa?"


"Saya pernah kerja di kaffe, Bu. Tapi berhenti karena ada urusan keluarga," jawab Bulan, berterus terang.

__ADS_1


"Wah, bagus itu. Baiklah, kamu boleh kerja. Tapi_."


__ADS_2