Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part_ 49 Harapan


__ADS_3

Assalamualaikum, sahabat reader...


Maaf, jika tidak menyapa satu persatu. Terima kasih sudah mau mampir dan mendukung karya saya yang sederhana ini. Saya berharap sahabat reader bisa menetap ya...


Maaf juga jika cerita yang ada didalamnya tidak sesuai ekspektasi kalian. Karena otak saya hanya mampu begini adanya...


Jangan lupa jika sudah mengikuti tinggalkan jejak berharganya...


(Like, komentar, Vote, gift + Bintang Lima)


Sesuatu yang berharga dari seorang penulis amatiran terlahir dari orang yang bersedia sadakoh tap jempolnya😚😚😚😚


Makasih sekali lagi, semoga selalu dilimpahi kesehatan dan kesejahteraan untuk kita semua...πŸ™πŸ™πŸ™


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Hem.. ngantuk banget ya!" Angkasa meletakkan makanan yang dibawanya keatas meja dan menghampiri Bulan yang terbuai dalam lelapnya. Sesaat Pemuda itu tersenyum simpul.


Dulu kau begitu glamour dan tidak lepas dari polesan make_up. Tapi sekarang, aku tidak menduga kau bisa berubah sesederhana ini setelah menikah dan itu sangat man_ nis sekali...


Angkasa seorang pemuda yang tidak sadar dirinya pun telah menutup mata akan kepergian Sekar. Ia membopong tubuh Bulan keranjang.


Na'as memang, kenyataan selalu menyakitkan dan Angkasa juga Bulan belum masuk ketahap dimana mereka akan menangisi kebodohan mereka karena dibutakan oleh Cinta dan pengorbanan.


Pada masa nya nanti siapa yang akan menjamin mereka akan tetap tertawa bahagia seperti saat ini.


Bu Widya hanya memandangi Angkasa yang tengah mengajak Bulan berjemur di taman dari kejauhan. Ia tak dapat membendung air mata yang terus tercurah bagai hujan.


"Angkasa, andai kamu tahu, dia bukan Sekar, Ibu tidak tahu Apa yang terjadi dengan mu, nak!" Berulang kali mengusap air mata kesedihan, tak juga menyurutkan butiran air matanya.


Bu Widya juga sudah mendengar jika Bulan mengalami Amnesia. Besar kemungkinan tidak ada lagi jarak pemisah diantara mereka. Bulan pasti percaya jika dirinya adalah Sekar yang dinikahi resmi oleh Angkasa.


"Bagaimana ini? haruskan aku sebagai Ibu Sekar membiarkan mereka menjalin hubungan terlarang?" Sekuat hati Bu Widya mendongak keatas berharap tidak akan menangis terus menerus.


"Maafkan Ibu, Sekar. Semoga Angkasa segera ingat siapa wanita yang kini bersamanya," gumam Bu Widya seorang diri.


Bu Widya tak sanggup berlama-lama disana memilih meninggalkan tempat itu sejauh mungkin.


Sedang Bulan dan Angkasa justru merajut asmara layaknya pasangan yang baru menikah pada umumnya.


Tak pernah jemu, berkali-kali menikmati suasana yang mendukung hati mereka.


"Sayang, kalau kita punya anak. Aku pengen banget bisa ngajak dia main disini!" Bulan masih saja mengungkit hal itu menambah rasa perih dihati Angkasa.


Pemuda itu berlutut didepannya, menggenggam kedua tangan Bulan dengan tatapan lekat.


"Sayang, apa kau sangat menginginkannya? gini ya, aku bukan mau memupuskan harapanmu tapi_ ." Angkasa ragu-ragu untuk melanjutkannya.


"Tapi apa, Sayang?" Bulan cemas menunggu terusannya.


"Ta_ tapi Ji_ jika?"

__ADS_1


Drrrrr!


Getar ponsel menyadarkan keduanya.


"Siapa, Sayang?" tanya Bulan.


"Ayah...."


"Ya udah, angkat dulu."


Angkasa segera mengangkat telpon Pak Dewok. Memang sudah hampir seminggu mereka tidak lagi memberi kabar.


"Halo, Ayah."


"Halo, Angkasa. Bagaimana kabar kalian? apa semua baik-baik saja?"


"Iya, Ayah. Jangan khawatirkan kami."


Pak Dewok menghela nafas panjang.


"Maaf ya, Nak. Ayah akan lama disini bisa jadi sampai dua bulan kedepan," ujarnya.


"Selama itu?"


"Iya, kamu bersenang-senang saja sama istrimu. Pastikan sekembalinya Ayah, Istrimu sudah berbadan dua."


Angkasa meneguk salivanya, Ia tidak yakin. Bulan bisa hamil setelah dinyatakan Mandul.


"Baiklah, selamat berbahagia."


Pak Dewok memutus sambungan. Ia berharap Bulan akan mengabulkan harapannya sebagai seorang Ayah untuk Angkasa.


Sedang di rumah sakit, Pelangi ingin pulang. Sengaja Dokter Lintang menahannya tetap tinggal disana karena ternyata hasil diagnosa menyatakan jika Ia sedang sakit gejala types.


"Dokter tolong pulangkan saya, Dok. Sampai kapan kau akan menahan ku seperti seorang tawanan," ucapnya meronta-ronta.


"Sabar saja dulu ya, emang selepas keluar dari sini kau punya tempat tinggal," seringai Dokter Lintang.


"Apa maksudmu? rumahku seperti istana, mungkin lebih besar dari rumah mu!' ucapnya membela diri.


"O ya? jika kau punya keluarga. Kenapa sudah hampir seminggu tidak ada yang menjenguknya?"


"Ha?" Pelangi bingung harus jawab apa. Ia memang tidak ada tujuan. Gara-gara gagal lamaran dengan anak orang kaya. Ia pun ikut diusir oleh Ibu kandungnya.


"Kenapa diam?"


"Hiks... hiii...." Pelangi menangis sejadi-jadinya. "Aku harus bagaimana sekarang?"


Dokter Lintang punya ide untuk meminta timbal jasa atas kebaikannya.


"Kau tahu tidak, siapa yang membayar tagihan rumah sakitmu?"

__ADS_1


"Tidak, apa peduliku?"


"Biar ku beritahu, aku yang sudah membayarnya. Jadi,kamu harus bersedia menjadi pembantuku dirumah sampai hutangmu lunas."


"Apa? pembantu? yang bener saja, Dok?" tanyanya, tidak percaya.


Pelangi nampak sangat kesal, bagaimana mungkin Ia melakukan pekerjaan rendah seperti itu.


"Itu pilihanmu, kalau tidak. Kamu akan terus di tahan disini sampai ada yang menebusmu," ancam Dokter Lintang.


Pelangi tidak berkutik. Itu bukan lah masalah baik untuknya.


"Oke, baiklah. Emang hutangku berapa?"


"Sepuluh juta," jawab Dokter Lintang.


"Apa? sebanyak itu?" Pelangi kaget dan makin gelisah. "Tapi_ berapa lama aku akan bekerja di rumahmu?" Sebab Ia paling tidak suka di atur.


"Sebulan, ART dirumahku hanya digaji kisaran 500 ribu karena pekerjaannya sangat ringan. Bangun jam 4 subuh sampai beres kira-kira jam sepuluh setelah itu kau boleh tidur sepuasnya. Itu sesuaikan?"


"Astaga, Dok. Dimana-mana ART itu dibayar 1500 ribu itu paling murah, masak aku cuma dibayar lima ratus sih," gerutu Pelangi tidak suka.


"Hei, itu kebijakan Pelangi. Sudah dipotong Uang makan dan pakaianmu yang akan aku kasih kira-kira dua setel lah," ujar Dokter Lintang membuat Pelangi meradang.


"Itu namanya pemerasan, jadi saya tidak akan mendapatkan apa-apa disana. Bener-bener cuma makan doang?" tanyanya mengulang.


"Iya, itu sih maumu. Kalau gak, diam saja disini sampai sepuh," jawab Dokter Lintang lagi.


Pelangi mencoba berpikir jernih. Ia tidak tahu apa itu akan merugikannya atau tidak. Tapi yang pasti Ia memang tidak punya tujuan untuk bisa berteduh.


"Aku menunggu jawabanmu, kasih tau jika kau berubah pikiran?"


Dokter Lintang hendak pergi tapi Pelangi mencegahnya. "Baiklah, Dok. Tapi saya mau keluar dari neraka ini sekarang juga!" tawar Pelangi.


"Kamu yakin?*


"Iya, saya sangat yakin. Meski pun jadi babu gak enak," desisnya lirih, akan tetapi Dokter Lintang dapat mendengarnya dengan baik.


...❀️❀️❀️❀️❀️❀️...


Hari beranjak siang, sudah saat nya Bulan melepas seluruh perban dikepalanya.


"Sayang, ayo mandi dulu. Aku bantu ya?"


"Ih, Sayang. Gak mau, aku kan sudah bilang. Biar aku sendiri."


"Tapi kan?"


"Udah, diem. Aku bisa sendiri."


Selama Bulan sakit, tak pernah sekali pun Angkasa berkesempatan menemaninya untuk yang satu itu.

__ADS_1


__ADS_2