Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 58 Bingung


__ADS_3

Hm... hm....


Bulan sibuk menyiram tanaman di sekitaran pekarangan rumah sambil bersenandung ria. Entah kenapa hari itu perasaanya terus berbunga-bunga. Tidak sabar menunggu senja berharap suaminya cepat pulang karena Ia sudah merindukannya lagi.


"Huh, baru jam sepuluh. Kok rasanya lama banget ya."


Gadis itu terus mengintip mengamati pagar besi tempat keluar masuknya penghuni rumah itu. Berharap mobil Angkasa muncul dari balik sana memberi kejutan untuknya.


"Suami ku, Aku sudah kangen sama kamu. Sedang apa ya kalau jam segini?"


Bulan seperti seorang yang sedang kasmaran, Ia terus membayangkan wajah suaminya yang rupawan hingga senyum-senyum sendiri. Bahkan tidak sadar jika Bu Widya sudah berdiri didepannya.


"Nak, mikirin apa?" tanya Bu Widya heran.


"Eh, astaga. Kaget.. siapa ya?" tanya Bulan kemudian karena rasanya Ia tidak kenal.


"Kamu lupa sama Ibu?" tanya Bu Widya heran.


"Maaf, Bu. Saya beneran lupa," jawab nya nyengir.


"Saya Ibunya Sekar," jelas Bu Widya.


"Apa? berarti Ibuku dong!" Bulan langsung memeluk erat tubuh wanita paruh baya tersebut. Tanpa rasa yang kikuk. Tapi Bu Widya yang bingung jadi serba salah.


"Kamu kenapa, Nak? kok sikapnya aneh?"


Bu Widya sebenarnya senang Bulan menganggapnya Ibu tetapi perubahan sikap Bulan membuatnya bertanya-tanya.


"Maaf, Bu. Kemaren aku kecelakaan."


Tentu saja Bu Widya terkejut. "Kecelakaan? kok bisa? terus apanya yang sakit? kamu gak papa kan?"


Gadis itu mengurai pelukan dan menatap lekat wajah Bu Widya.


"Gak papa, Bu. cuma Kata Angkasa, aku lupa ingatan,'" jawab Bulan jujur tanpa ada kepalsuan sedikit pun.


Bu Widya mengusap dadanya yang tiba-tiba tidak enak. Sebab kalau Bulan Amnesia tidak mustahil kalau Angkasa dan Bulan benar--benar yakin jika mereka pasangan menikah. Itu artinya keduanya telah menjalani hubungan layaknya suami istri.


Air mata Bu Widya meleleh, Ia takut gadis di depannya akan mendapatkan masalah besar dikemudian hari. Bagaimana pun juga, Ia dan Angkasa sama-sama menyandang penyakit yang tidak diinginkannya.


Bulan yang melihat Bu Widya menangis menghapus air matanya.


"Kenapa Ibu menangis? aku gak menderita kok disini. Suamiku sangat baik dan selalu memanjakan aku," ujar Bulan jujur. Bu Widya bisa melihatnya meski Bulan tidak memberi tahukan hal itu.

__ADS_1


Ya Allah, kamu tidak tahu apa pun, Nak. Mengapa ini harus terjadi pada mereka Tuhan...


Bu Widya yang tak kuasa menahan gejolak kesakitan di hatinya pergi meninggalkan Bulan tanpa mengatakan apa pun lagi.


Bagi Bu Widya, Bulan sudah seperti putrinya. Kalau pun Ia akan menikah dengan Angkasa. Bu Widya tentu sangat mendukungnya. Tapi nyatanya semua itu jauh dari harapannya.


Ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada mereka jika hubungan mereka adalah dosa yang sangat besar dan tidak boleh terjadi.


Bulan yang bingung mengerutkan dahi dan hanya menatap Bu Widya yang sudah menyetop taksi dan pergi.


"Ada apa dengan dia? apa perempuan itu benar-benar Ibuku? Mengapa sikapnya sangat aneh?"


Wajah Bulan menjadi mendung, Ia pasti telah melakukan kesalahan yang tidak disengaja nya sehingga Bu Widya marah dan pergi.


Selang beberapa waktu, mobil Angkasa memasuki pagar rumah mereka dan itu langsung mengembalikan keceriaan Gadis itu.


"Sayang...!" teriaknya. Ia berlari dan menenggelamkan kepalanya didada Angkasa."Kok pulangnya cepet?" Tanya Bulan lagi.


"Iya, aku gak bisa lama-lama jauh dari kamu. O ya, kamu habis ngapain kok keringetan sih?" Angkasa meraih sapu tangan di dalam jasnya untuk mengusap kening sang istri.


"Aku habis nyiram bunga!" tunjukkan kearah yang dimaksud.


"O ya? manis sekali, tapi kamu jangan kecapekan ya!"


Bulan menceritakan tentang kedatangan Bu Widya yang sempat membuatnya bingung.


"Oh itu, mungkin Ibu Widya kangen sama kamu, Istriku," jelas Angkasa.


"Tapi, Yang. Kan dia ngaku ibu aku. Terus langsung ku peluk. Sekar bingungnya kenapa dia tiba-tiba nangis dan pergi ya?" Bulan kembali bertanya-tanya akan keanehan sikap Bu Widya tadi.


"Udah, gak usah dipikirin. Lihat, aku punya sesuatu untuk kamu." Angkasa mengambil kotak di jok mobilnya.


"Apa ini?" Bulan asing dengan benda tersebut.


"Ini didalamnya ada Handphone, supaya kamu bisa nge save nomer aku di sana."


Sebelum melanjutkan lebih detail, Angkasa merangkul pundak Bulan masuk kedalam rumah. Mereka berdua duduk di sofa.


"Lihat ini, aku masukin nomerku disini ya! namanya Suamiku Yang Tampan." Angkasa menunjukkan kontak nama di Handphone itu hanya khusus miliknya.


"Pede sekali ya!" Bulan yang gemas pun mencubit kecil pinggang Angkasa.


"Aduh, sakit Sayang. Emang kenyataan kan kalau aku tampan sejagat raya."

__ADS_1


"Iya, tapi gak perlu sombong gitu lah," sewot Bulan, kesal.


"Udah, iya baiklah, kita Foto yuk!" Angkasa menarik kepala Bulan ke pundak nya dan melakukan selfi dengan beberapa gaya konyol mereka.


"Nanti kalau kamu kangen, kamu liatin aja foto kita berdua di galeri ini!"


Angkasa tak lelah menjelaskan kegunaan yang ada pada gambar tersebut. Meski Bulan tetap saja tidak paham akan penjelasannya.


"Iya, Pak Guru. Aku mudah melupakan yang lain tapi kenapa wajahmu tidak," ucap Bulan, cengengesan


"Itu artinya aku orang terpenting disini!" Angkasa meletakkan telapak tangannya didada Bulan.


Bulan mengembangkan senyum.


"Aku adalah wanita yang paling beruntung bisa hidup dengan mu." Ungkapan Bulan sampai ke hati Angkasa.


"Aku juga, berjanjilah kita akan terus bersama apa pun masalahnya."


Angkasa menggenggam tangan Bulan dan mengecup nya cukup lama. Keduanya larut dalam perasaan yang tidak bisa di dusta kan.


"udah siang, biar aku siapin makanan dulu!" Bulan beranjak dari duduknya tapi lagi-lagi Angkasa menahan tubuh Bulan hingga duduk diatas pangkuannya.


"Aku sudah lupa rasanya lapar kalau ada di dekatmu."


Angkasa berulah menciumi jenjang leher Bulan dan mengigit nya kecil hingga membekas merah.


"Sayang, sakit!" Bulan memukul pelan dada suaminya.


"Sakit-sakit enakkan, apa mau ke yang lain juga?"


Pemuda itu mengerlingkan matanya yang bercahaya.


"Kamu itu baru pulang kerja, mandi dulu sana!" Kali ini Ia mendapat omelan yang tepat.


Bulan beranjak dari posisinya untuk menyiapkan makan. siang mereka sebab perutnya sudah. keroncongan.


Angkasa kalah telak, Ia memutuskan membersihkan dirinya lebih dulu sebelum akhirnya kembali ke meja makan.


Setiap kedua mata mereka bertemu, lagi-lagi hanya senyum yang berpijar. Sudah seperti ABG labil yang baru mengenal namanya cinta.


"Tetaplah seperti ini, aku menyukai kemanjaan mu," ujar Angkasa terus menerus tanpa bosan sama sekali memperlakukan Bulan layaknya ratu.


Bulan mengangguk. "Semoga perkataan mu tidak akan kau tarik lagi, setelah kita berbeda pendapat."

__ADS_1


__ADS_2