Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 60 Menyadarkan


__ADS_3

...Asallammuallaikum Wr.Wb...


Jalan-jalan ke kota kembang...


Tidak sengaja melihat kumbang...


Aku berniat datang mengundang...


Para Sahabat reader mampir ke novel abang...


...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


Terima kasih sahabat reader, sudah bersedia membaca kisah Angkasa dan Bulan. Maaf ya jika cerita dan kata-kata nya kurang menarik. Sebab saya masih belajar merangkai kata lewat bayangan dan khayalan.


Bahkan tidak pandai membuat kiasan.


Yang penting bisa buat cerita terus ada yang baca aja sudah Alhamdulilah.


Jangan lupa gerakan jarimu untuk memberi like, komentar pedasnya baik typo atau kejengkelan kalian pada alurnya. Sebab saya menerima semua masukkan yang menuntun saya lebih baik lagi. Syukur ketambahan Vote, gift dan rate⭐⭐⭐⭐⭐


Oke, udah dulu basa-basi nya. Silakan dilanjutkan membaca semoga selalu setia mengikutiπŸ™πŸ™πŸ™


...πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯...


Klunting!


Sebuah pesan masuk, Angkasa meraih ponsel yang Ia simpan di saku celananya untuk memeriksa apakah pesan tersebut penting atau tidak nya. Ternyata Pak Dewok mengabarkan kalau mereka akan segera kembali besok.


"Syukurlah, Ayah dan Ibu pulang juga!" ucapnya senang. Dengan begitu Ia tidak perlu khawatir lagi meninggalkan Bulan dirumah sendirian.


Beberapa menit berlalu akhirnya Bulan sadarkan diri. Angkasa yang duduk dengan setia menungguinya melihat Ia mengerjap-ngerjapkan bola matanya perlahan-lahan. Wajah Angkasa yang tadinya sayu seketika berubah menjadi ceria.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Berkali-kali pemuda itu menciumi tangan Bulan sebagai bentuk rasa syukurnya.


Bulan tidak menjawab, Ia masih berusaha mengenali keberadaannya. "Kita dimana ya? kok aku ada disini? kamu siapa?" tanyanya sambil mengerutkan dahi.


Angkasa tersenyum, Ia tahu jika istrinya pasti melupakan dia lagi.

__ADS_1


"Aku adalah suami mu, Sayang. Masak kamu lupa sih sama wajah gantengku," jawab Angkasa. Diusap-usapnya kening Bulan sebagai rasa sayangnya.


"Oh, iyakah. Kenapa aku bisa lupa?" Bulan menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya. Setelah itu Ia kembali tersenyum pada Angkasa.


Ada rasa masih ragu pada Pemuda di hadapannya yang mengaku sebagai suaminya. Tapi karena Ia mendapati Angkasa begitu menyayanginya Ia yakin Angkasa tidak berbohong.


"Apa kepala mu masih sakit?" Angkasa menempelkan lagi punggung tangannya di kening Bulan. Untuk memastikan jika Suhu tubuh Bulan dalam keadaan normal.


"Tidak, aku bosan disini. Ayo kita pulang!" Ajaknya setengah menggoyang-glyangkan tangan Angkasa.


Angkasa menatap nanar. "Kamu yakin? kalau masih pusing tidur saja dulu disini." Angkasa tidak mau ambil resiko akan kesehatan Bulan.


"Iya, aku yakin kok. Disini gak enak. Banyak obat tercium dimana-dimana dan itu membuat perutku mual," ujar Bulan yakin. Gadis itu mendudukkan diri dan melorot turun ke lantai. Keputusannya sudah bulat. Karena menurutnya dirumah lebih nyaman ketimbang ditempat itu.


"Oke, baiklah. Biar aku bantu." Angkasa menuntun tubuh gadis itu keluar ruangan. Banyak orang lalu lalang disana, ada yang sedang sakit dan ada juga mereka-mereka yang menunggui keluarga nya sedang dirawat.


"Sayang, kasihan ya mereka. Aku sedih melihat ada banyak orang sakit disini," ucap Bulan manyun.


"Kenapa emang? mereka kan punya keluarga?" Angkasa tidak terlalu memperdulikan itu sebab dia bukan tipe orang yang mudah kebawa perasaan.


Kenapa istriku jadi baperan gini sih? padahal dulu dia paling males mengurusi orang lain...


Angkasa merasa perilaku istrinya sudah berubah. Setahunya, perilaku itu sangat sulit di kendalikan jika sudah melekat dalam diri seseorang.


Keduanya melanjutkan perjalanan mereka sampai di depan teras rumah sakit. Tiba-tiba Angkasa memukul jidatnya karena melupakan sesuatu.


"Maaf, Sayang. Ponsel aku ketinggalan di meja. Kamu tunggu sini aja. Jangan kemana-mana sebelum aku kembali!"


Angkasa mewanti-wanti, supaya Bulan mendengarkan perkataanya.


"Iya, jangan lama-lama. Aku tunggu kamu disini." Bulan mendudukkan diri disebuah kursi.


Memastikan Bulan aman disana, Ia segera berlari masuk lagi keruangan dimana Bulan sempat dirawat.


Bulan yang sedang menikmati suasana dihalaman, dikejutkan oleh seorang pria didepannya.


"Dasar penipu!" todong pemuda itu.

__ADS_1


Bulan menautkan alisnya, mencoba mengenali siapa yang sempat berkata tidak sopan di depannya. Namun berkali-kali berusaha mengingat Ia malah diserang pusing kembali.


"Aduh, kepalaku sakit. Emang kamu siapa ya, aku gak ingat?" Bulan memegangi kepalanya yang berdenyut kuat.


"Heh...!" Putra berdecak kesal. Ia terus mengamati postur tubuh Bulan membandingkannya dengan Sekar.


"Dasar murahan!" hina nya lagi, dengan sinis.


Bulan yang merasa di remehkan pria itu pun langsung mengoceh panjang layaknya kereta api. "Apa maksudmu, Mas? dari tadi ngomong kayak gitu ke aku. Emang salah aku apa ya? jangan seenaknya ngatain orang. Perasaan aku gak pernah berhubungan sama situ. Ngatain orang penipu lah, murahan lah. Kapan saya merugikan kamu?"


Putra mengeratkan giginya, saking jengkelnya, Ia sangat ingin memukul mulut Bulan.


"Eh, perempuan murahan. Sadar diri dong. Kamu itu sudah berhasil memanfaatkan kegilaan Angkasa. Hanya gara-gara dia menganggap kamu sebagai Sekar."


Putra menunjuk-nunjuk dengan kasar wajah Bulan. Meski tak dipungkiri akan kesamaan wajah keduanya. Tapi bagi Putra wanita itu tetap orang lain.


"Is, ngeselin ya. Saya emang Sekar. Ngapain juga saya bohong sama suami saya," timpal Bulan lagi tak mau kalah.


Putra kehabisan kata-kata. Ia pun memperlihatkan foto semasa Angkasa mengungkap kan rasa cintanya di depan umum pada malam ULTAH Sekar.


"Oke, jika perempuan ini memang kamu. Apa yang dikatakan Angkasa di malam itu sama kamu!" tantang Putra. Dengan begitu semua akan menjadi terang benderang.


Bulan mengamati foto tersebut secara seksama. Bukannya ingat yang ada kembali pusing. Keningnya berkeringat. Badannya juga serasa lemas hingga hampir terhuyung bertepatan dengan kembalinya Angkasa.


"Sayang, kamu kenapa?" Angkasa memperhatikan tangan Bulan yang bergetar lalu menatap tajam kearah Putra.


"Astaga, Putra. Mau apa lagi sih kamu? Belum puas juga ikut campur urusan aku?" amuk Angkasa. Ia menyerobot foto ditangan Putra dan mengamatinya.


Sekelebat bayangan langsung menyerang. Dimana dirinya meraung-raung menangisi kematian Sekar.


"Ahk...!" Angkasa menjerit. "Apa yang ku lihat tadi?" Ia melemparkan foto itu asal lalu melepaskan Bulan dari pelukannya. Yang ada Ia ikut-ikutan memegangi kepalanya. Rasanya Ia pernah melewati masa itu. Kejadian yang sangat menyiksanya hingga sulit mengendalikan diri.


"Sayang, kamu kenapa? sakit kepala juga?" Bulan ganti memegangi Angkasanya Ia bertambah bingung dengan apa yang dilihatnya.


"Ada ya, Crazy couple kayak kalian didunia ini, sungguh amat sangat menggelikan," ejek Putra lagi. Ia pun pergi meninggalkan mereka yamg masih menikmati kesakitan di dalam otak mereka.


Bulan dan Angkasa mencoba berpikir jernih. Mereka tidak ingin sampai terhasut Dengan ucapan Putra yang tidak akan bosan mengganggu mereka.

__ADS_1


__ADS_2