
Pernikahan itu akan segera berlangsung. Pak Penghulu didepan mereka bertanya lebih dulu untuk memastikan, apakah kedua pasangan tersebut benar-benar mau menikah karena keinginan hati sendiri tanpa paksaan dari pihak mana pun.
"Akhsan dan Bulan, Apakah kalian benar-benar sudah mantap untuk menikah?"
Akhsan tidak keberatan menikahi Bulan, lantas Ia mengangguk sambil tersenyum kearah gadis di sampingnya.
"Bulan, apa kamu juga sependapat dengan Akhsan?"
Semua mata tertuju padanya, seakan sedang mengintimidasi.
Pak Surya jadi geram, sebab Bulan tidak bisa menjawab apa pun. Ia belum tahu akan perasaannya sendiri. Jika boleh memilih, Ia sangat ingin pergi dari tempat itu
"Bulan, ayo jawab. Jangan bikin malu, Nak, Kamu mau melihat Ayahmu mendekam dipenjara," desis Bu Nami, sambil menatap sinis.
"I_ Iya..." Jawab Bulan terpaksa. Air matanya kembali jatuh. Perasaan begitu sesak terus mengganggunya.
"Bagus, karena kalian berdua sepakat. Untuk itu pada Pak Surya, putrinya mau dinikahkan sendiri atau diwakilkan saja pada saya?"
"Oh, Bapak sajalah saya gemeteran," jawab Pak Surya.
"Baiklah. Akhsan, ayo genggam tangan saya. Kamu sudah tahukan apa yang akan kamu jawab nanti?" tanya Pak penghulu. Karena akan sangat disayangkan jika semuanya gagal saat ijab Qobul.
"Iya, Pak," jawab Akhsan yakin.
Kedua pria itu saling tatap-tatapan, tidak bisa dipungkiri jika ketegangan menyelimuti mereka.
"Saya nikahkan Akhsan Ramadhan Bin Galah Ramadhan dengan Bulan Mutiara Binti Surya dengan mas kawin uang sebesar 50 JT di bayar, tunai."
"Saya terima nikahnya dengan mas kawin terse_."
"Tunggu...!" cegah Pelangi dari balik pintu.
Semua orang terkejut dan menoleh kearahnya. Berbeda dengan Pak Surya dan Bu Nami yang di buat kesal. Gara-gara kedatangan Pelangi pernikahan yang seharusnya sudah syah menjadi tertunda.
__ADS_1
"Pelangi? Ada masalah apa dengan mu?" geram Pak Surya.
"Maafkan saya, Ayah. Tapi Bulan ini adalah istri orang. Jadi kalian tidak akan bisa menikahkan Bulan dengan siapa pun," jawab Pelangi bohong. Pasalnya hanya dengan itu, mereka pasti menolak melanjutkan.
"Jangan ngelantur, Pelangi? Dia masih perawan?" elak Pak Surya. Enggan menerima kenyataan sesungguhnya.
Bulan tertegun, Ia sendiri tidak tahu. Apakah itu anugerah atau bencana untuknya. Sebab, Ia sendiri merasa belum pernah terikat pernikahan dengan siapa pun.
"Jika Bulan sudah menikah? Apa buktinya?" Akhsan cukup kecewa, tapi Ia juga tidak mau menikahi wanita yang belum resmi bercerai.
"Bulan sedang hamil, Mas. Suaminya ada disini untuk datang menjemputnya," ujar Pelangi lagi, lantang. Bulan yang mendengar ucapan saudara tirinya langsung berdiri. Ia ingin menyaksikan langsung ucapan Pelangi, saudara tirinya itu.
"Mana? Kami ingin bertemu?" tanya Pak Surya, dengan mata yang memerah.
"Baik, dia akan segera muncul di hadapan kalian. Keluarlah!" titah Pelangi pada seseorang di balik pintu.
Lintang adalah orang pertama yang menampakkan diri, disusul oleh Angkasa dibelakangnya.
"Angkasa...?" ucap Bulan tanpa sadar. Entah mengapa, Ia begitu berbinar melihat pemuda itu berdiri dihadapannya.
"Apa-apaan ini? Siapa suami Bulan, Pelangi?" tanya Pak Surya, bingung. Menatap kedua pemuda tersebut secara bergantian.
Dengan langkah tegapnya, Angkasa mendekat. Ia mengulurkan tangan nya di depan Pak Surya.
"A_ apa kamu?"
"Sepertinya begitu," jawab Angkasa, santai. Ia tersenyum kearah Bulan yang masih saja menangis melihatnya.
"Pak Angkasa, jadi Bulan ini istri anda. Maaf, jika kami sudah kurang ajar terhadapnya," ucap Pak Galah tiba-tiba. Ia takut, Angkasa akan menarik saham yang menjadi kekuatan di Kampus nya.
"Santai saja, Pak Galah. Saya tahu Anda tidak mengetahui hal ini. Jadi saya akan memaafkan anda. Kalau begitu, saya rasa kalian tidak punya urusan lagi disini, jadi tanpa mengurangi rasa hormat saya, mohon tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Angkasa menoleh kearah daun pintu dan mempersilakan mereka segera pergi.
Melihat hal itu, Pak Galah cepat-cepat menarik tangan Akhsan yang masih syok, untuk keluar. Sebab, masalah akan datang jika itu tidak terjadi.
__ADS_1
Semua rombongan Pak Galah pergi, dan itu membuat keadaan menjadi caruk-maruk tidak beraturan.
"Anda ini siapa? Berani sekali merusak momen bahagia Bulan?" selidik Pak Surya.
Angkasa hanya tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kartu identitas dari dompetnya. Bu Nami membelalakan mata saat Ia melihat banyak uang merah ada di dalamnya.
"Ini adalah nama saya, anda tentu akan mudah menemukan alamat kantor saya. Tapi maaf ya, Pak. Saya sangat jarang pergi kesana," ucap Angkasa, sedikit menyindir.
"Oh, jadi kamu ini pemilik Kantor Angkasa Sadewa?" Tentu saja, nama itu sudah pernah Pak Surya dengar sebelumnya.
Angkasa mengangguk, Ia kembali menoleh kearah Bulan yang masih belum sepenuhnya percaya. Ia bahkan terlihat kaku dan tak bergerak sama sekali.
"Apa kamu tidak mau memelukku?" tanya Angkasa. Tatapan dalam Ia tunjukkan di depan Bulan. Agar gadis itu dapat merasakan jika Ia mulai jatuh cinta kepadanya.
"Ba_ bagaimana mungkin? A_ aku bukan istrimu?" jawabnya terbata, tidak berkedip sama sekali.
"Kenapa tidak? Ayo kita menikah?" tukas Angkasa, dan itu mampu menimbulkan detakan hebat didada Bulan.
"Tunggu dulu!" ucap Bu Widya menyahuti.
"Widya?" terka Surya. Ia sangat kaget bisa bertemu wanita itu lagi setelah sekian tahun tidak pernah bertemu lagi.
"Tolong jelaskan dulu padaku, siapa Bulan ini, Mas? Mengapa dia sangat mirip dengan putriku Sekar?" todong Bu Widya. Sudah cukup rasanya, Ia terus-menerus tersakiti oleh tindak kan Mantan suaminya itu.
"Em... I_ itu. D_ dia...?" Pak Surya tidak tahu apa kah dia siap untuk menjelaskannya.
"Jangan seperti orang bodoh, Mas? Jelaskan saja apa susahnya? Aku capek terus kamu bohongi dan bersekutu dengan wanita mu ini untuk menghancurkan ku?" Dengan kasar perempuan paruh baya itu mendorong dada Surya hingga tubuhnya bergerak mundur.
Orang-orang disana yang tidak tahu apa pun permasalahan itu kebingungan dibuatnya. Mereka hanya diam dan menonton perbincangan antar keluarga di hadapan mereka.
"Iya, dia anak kita," pungkas Pak Surya akhirnya.
"Apa?" Mereka semua terkejut.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku gak tahu, Mas? Kalau ternyata aku sudah melahirkan dua orang putri sekaligus?" Bu Widya menghampiri Bulan dan langsung memeluknya erat-erat.
"Itu karena kamu pingsan, setelah kamu melahirkan Sekar. Maka dari itu dokter melakukan cecar darurat untukmu, dan itu menjadi kesempatan ku untuk menjauhkan Bulan, bertujuan agar kelak, aku bisa memperalat Bulan untuk di jual dan menghasilkan uang guna bersenang-senang dengan Nami," jelas Surya, secara terang-terangan. Sudah kepalang basah, jadi dia tidak mau menyembunyikan apa pun lagi.