
Seperti hari-hari sebelumnya, setelah berpamitan dengan Bulan, Angkasa mengemudikan mobilnya menuju kantor tempat dirinya menggantungkan hidup.
Perasaannya juga sudah tenang, sebab Bulan tidak lagi kesepian dirumahnya selama Ia pergi bekerja. Menjadi pria sukses, membuatnya terus memotivasi diri untuk bertambah maju. Menjadi satu-satu Perusahaan yang digandrungi perusahaan lainnya untuk bekerja sama karena berkompeten dan handal dalam sebuah keuntungan yang menjanjikan.
Tepat pukul 07.30 WIB, mobil Angkasa memasuki lahan parkir. Terlihat dari kejauhan tiga sahabatnya tengah menantikan kedatangannya sejak petang tadi.
"Put, kamu yakin akan melakukan ini? Bagaimana jika Angkasa marah dan menyakiti dirinya?" Adi sebenarnya masih ragu dengan rencana Putra yang sudah di siapkan dengan matang untuk menyadarkan Angkasa akan kebohongan Bulan.
"Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Angkasa sudah terjerat cinta buta pada perempuan gila itu. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka berhubungan tanpa status pernikahan."
Adi dan Dino, manggut-manggut. Apa yang diucapkan Putra memang benar adanya. Sebagai sahabat mereka sangat ingin Angkasa bahagia tapi kebahagiaan itu harus melalui jalur yang tepat.
Ketiganya memperhatikan Angkasa terus-menerus untuk menunggu momen yang tepat sampai dia keluar.
"Na, itu dia. Ayo kita mulai beraksi!" Putra mendahului kedua temannya. Dia menyiapkan plastik hitam untuk membekap kepala Angkasa.
"Hei, apa-apaan ini?" Angkasa berusaha melepaskan diri dari aksi Putra. Ia menganggap orang yang melakukan itu tengah punya niat buruk.
"Hey, kalian. Cepet bawa dia masuk kemobil!" perintah Putra pada Adi dan Dino yang langsung membantunya menyeret Angkasa ke arah mobil mereka.
"Hey, lepaskan. Apa maksud kalian melakukan ini, Ha?" Angkasa terus memberontak tapi tanganya di belenggu oleh Adi dan Dino dengan sangat kuat.
Susah payah membawa Angkasa yang tidak mau diam, ketiganya memutuskan mendorong Angkasa masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Lepaskan, jangan macam-macam ya!" Angkasa mengancam mereka dengan bualannya. Ketiganya tidak perduli, mobil mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu untuk menuju ke suatu tempat lainnya.
Hanya memakan waktu lima belas menit, Putra menghentikan mobilnya di suatu tempat. Mereka kembali memaksa Angkasa untuk ikut turun memasuki sebuah kawasan mengerikan.
Beberapa langkah berjalan, mereka mendorong tubuh Angkasa lagi hingga jatuh tepat disebuah pusara yang masih belum di bangun dengan semen. Angkasa yang sedikit bingung bercampur takut langsung membuka penutup wajahnya. Ia terbelalak ketika menyadari dirinya ada di TPU. Lekas Angkasa langsung menoleh kebelakang untuk melihat sendiri siapa orang yang sudah mengerjainya.
"Apa? Jadi kalian? Mengapa kalian membawa aku kesini, ha?"
Ketiganya memasang wajah sinis. Mereka tidak mengerti mengapa Angkasa semuda itu melupakan tempat yang seharusnya sangat penting dalam hidupnya.
"Heh, kau lupa dengan tempat ini?" tanya Putra balik. berdecak antara kesal dan marah dengan kebodohan Angkasa.
Angkasa mengerutkan dahi, dia tidak juga paham apa yang dikatakan Putra. "Maksudmu apa, Put? tolong ngomong yang jelas. Aku tidak suka bermain-main seperti ini. Yang benar saja, seenaknya membawa aku ketempat keramat. Kamu pikir aku suka, ha?"
Angkasa segera berdiri dan membersihkan lututnya. Ia akan pergi tanpa memperdulikan ketiganya tapi Putra tidak membiarkan itu terjadi. Cepat-cepat Ia menahan lengan Angkasa dan mendorongnya lagi jatuh ke pusara Sekar.
"Apa? Du_ dua bulan yang lalu?"
Angkasa mulai panik Ia mencoba mengingat baik-baik kejadian tersebut. Diedarkannya tatapan kesegalah arah untuk meyakini jika tempat itu tidaklah asing.
Dua anak matanya langsung membulat, setelah tatapan nya menyapu nama yang ada di nisan pemakaman tersebut bertuliskan Sekar Cahaya.
"A_ apa i_ Ini? Se_ Sekar?" Mulutnya mendadak kaku, dan air matanya juga meleleh tanpa mampu ditahan.
__ADS_1
Sesaat, Angkasa berhasil membayangkan sesuatu. Di tempat yang sama pula Ia pernah menangisi seseorang disitu.
(Sekar, tolong kembali! kenapa kamu pergi secepat ini? bukankah kamu pernah berjanji kita akan bersama sampai tua...)
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepala Angkasa. Seolah semua terekam sempurna di alam bawah sadarnya. Sesaat Angkasa menggeleng tak percaya, Ia pasti sedang bermimpi. Baru tadi pagi Ia masih melihat wajah Sekar yang selalu ada bersamanya. Kenapa kali ini Ia malah menemukan pakta lain.
"Tidak, ini tidak mungkin. Dia bukan Sekar. Istriku ada dirumah, tadi sebelum aku pergi bekerja dia menyalami ku. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada disini?"
Putra menyahutinya dengan tertawa. Ia benar-benar muak dengan Angkasa yang bisa-bisanya menutup mata dengan kenyataan.
"Itu karena kamu sudah gila, Angkasa. Bahkan kamu tidak bisa membedakan mana istri kamu dan mana yang bukan. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa tiba-tiba hidup lagi. Coba pikir pakek otak jangan pakek cinta mu yang buta itu!" ucap Putra, Ia menunjuk keningnya sendiri untuk meyakinkan Angkasa dengan kesalahannya.
Angkasa tidak terima, Ia tidak menyukai perkataan Putra yang sudah lancang mengatai Sekar telah mati. pemuda itu mendekat lalu dengan kasar mendorong dada Putra yang hampir terbelalak kebelakang untungnya Adi dan Dino langsung menahan tubuh Putra.
"Jangan mengecoh ku, Putra. Aku tahu kamu menyukai Sekar, supaya apa? supaya aku percaya denganmu atas kematian Sekar lalu aku menceraikan nya dengan begitu kamu bisa memilikinya kan?"
"Angkasa, kamu salah paham. Aku hanya ingin menolong mu." Tentu saja Putra tidak akan mengaku pernah menyukai Sekar waktu gadis itu masih hidup didepan Angkasa. Karena Angkasa tidak akan mungkin mempercayainya lagi atau malah membenci dirinya seumur hidup.
"Sudahlah, jangan bilang apa-apa lagi. Aku tahu kalian hanya mempermainkan aku dengan membuat pemakaman palsu seperti ini!" Angkasa tidak perduli. Yang Ia percaya adalah Sekar kini ada dirumahnya dalam keadaan baik-baik saja.
Melihat Angkasa dan Putra sama-sama ngotot, Adi memutuskan menengahinya. Karena dengan adu mulut, masalah mereka tidak akan pernah bisa berakhir. "Angkasa, maaf jika aku mengatakan ini. Sungguh, kami tidak punya maksud memisahkan kamu dengan perempuan mirip Sekar itu. Tapi kami minta, tolong kamu membuka matamu sedikit saja. Jika yang ada dirumah mu itu bukan Sekar dan kamu bisa menerima kenyataan jika Sekar sudah gak ada di dunia ini."
Adi miris mengatakannya tapi apa yang bisa dilakukannya kecuali untuk menyelesaikan semua yang membelenggu Angkasa agar tidak terus-terus terikat dengan mendiang istrinya Sekar. "Aku mohon buka mata hatimu, Angkasa! Kami hanya ingin menolong mu untuk sembuh dari depresi yang kamu derita," imbuh Adi lagi. Tak sampai hati melihat Angkasa meneteskan lagi air matanya antara percaya dan tidak.
__ADS_1
...๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ...
Butuh energi, like dan komennya kakak๐๐๐