Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 44 Runyam


__ADS_3

Sekitar setengah jam lamanya, Angkasa yang membiarkan Bulan belum sadar gelisah juga. Ia takut terjadi apa-apa pada wanita yang dicintainya itu.


Angkasa mendekat dan segera menggoyang-goyang tubuh Bulan. "Sekar bangun, Sayang. Kamu baik-baik saja kan?" Berbarengan dengan itu ada bayangan yang seolah muncul di otaknya. Dimana itu terjadi ketika Ia membangunkan Sekar dari tidur panjangnya.


"Ah...!" Angkasa menjerit. "Kenapa kepala ku sakit sekali?" rintihan nya cukup lama, Ia tak dapat mengendalikan diri. Sejenak kemudian Ia tersadar dan segera mencari minyak kayu putih di kamar itu dimana hiasan kamar yang semula rapi Ia lemparkan semuanya ke sembarang arah.


"Kemana minyak itu, kenapa tidak ada?" Angkasa semakin bingung. Pasalnya Ia takut kehilangan istrinya. Meski Sakit hati harus Ia terima atas kejujuran Dokter Lintang. Tapi tidak mungkin Ia rela melepaskan Sekar begitu saja.


Cukup lama mendapatkannya, Angkasa kembali lagi membangunkan Bulan yang tak kunjung terbangun.


"Sayang, bangun Sayang. Tolong, jangan membuat aku takut. Aku tidak sanggup kehilangan kamu!" Angkasa terus menepuk-nepi pipinya berulang kali.


Bulan yang mendengar sebegitu takut nya Angkasa tak kuasa membendung air matanya. Ia memutuskan untuk segera bangun.


"Sekar, kamu sudah sadar?" Angkasa buru-buru memeluknya. Ia mengira Bulan tidak akan bangun untuk selamanya.


"Maaf...!" Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulut gadis tersebut. Demi menjaga kehormatannya Ia rela menyakiti hati Angkasa yang jelas-jelas sangat mencintai Sekar istrinya.


Mendengar kalimat tersebut, tubuh Angkasa seakan lemas. Ia menatap Bulan dengan wajah sendunya.


"Sekar, jika kamu tidak bisa memberikan aku anak. Aku bisa terima kok, Sayang. Aku gak papa. Ta_ tapi kenapa kamu tega mengkhianati aku, ha? kenapa harus memberikan tubuhmu padanya sedang kau selalu menolak aku, apa maksudmu?" Angkasa marah tapi Ia tidak mau melampiaskan nya didepan Bulan.


Bulan terlihat kaget.


Apa? mungkin kah Dokter Lintang melakukan drama sejauh itu, bukannya aku hanya meminta dia mengaku sebagai pacar...


Angkasa tak sanggup terus menahan amarahnya, Ia hanya menatap Bulan dengan wajah datar.


"Sekar, tolong jauhi Dokter itu atau aku akan memenjarakan dia sekarang juga!" ancam Angkasa tiba-tiba dan itu tidak sesuai ekspetasinya.


"Ti_ tidak, jangan Sweety!" cegah Bulan. Bagaimana pun juga Dokter Lintang tidaklah bersalah.


Angkasa berdecak menertawai permohonan Bulan. "Ck, Jadi kau lebih membelanya?"


"Tidak, bukan begitu Sweety. Kamu salah paham." Bulan berharap Angkasa tidak akan melampaui batas.


"Tapi itu? kau sudah melukai aku, Sekar. Malam ini aku begitu memimpikan keindahan dan dengan mudahnya kau menghancurkan semua itu ." Usai mengucapkan kalimatnya Angkasa keluar sambil membanting pintu cukup keras sampai menggetarkan detak jantung Bulan.

__ADS_1


"Maafkan aku, Angkasa. Hanya ini, jalan satu-satunya agar aku tidak takut lagi dengan permintaanmu tentang anak," gumam Bulan dalam hati.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Malam itu, Bulan tak bisa tidur. Ia tidak tahu kemana Angkasa pergi. Sudah dua jam berlalu, tidak ada tanda-tandanya pria itu akan kembali. Tak terpikir olehnya, jika bisa saja nanti Angkasa nekat melakukan hal yang diluar nalar akibat sakit hati.


Padahal hari semakin larut, Bulan yang tidak tenang memutuskan keluar untuk mencarinya. Tidak ada orang di hotel itu, bisa jadi semua pulas dalam mimpi-mimpi mereka.


Sampai ke depan lobby, Bulan bertemu dengan seorang penjaga malam yang sedang memeriksa keadaan sekitar.


"Mau kemana Non? ini sudah malam lo?" tanyanya.


"Bapak lihat suami saya?" tanya Bulan balik.


"Suami? siapa Non?"


"Angkasa Sadewa," jawab Bulan.


"Wah, yang tadi pesta ya?"


"Benar, Pak. Dia pamit keluar tadi tapi gak balik lagi." Bulan memperjelas semuanya.


"Tapi, Pak. Saya harus mencarinya. Saya takut dia kenapa-napa."


Bulan tak mengindahkan ucapan satpam itu dan segera menuju kejalan besar. Dari seberang jalan dilihatnya Angkasa duduk ditepi trotoar. Mengingat Angkasa masih dalam kondisi depresi, Bulan memutuskan menyusulnya.


"Sweety...!" teriaknya dari arah berlawanan. Bulan tidak menyadari jika salah satu mobil ugal-ugal tengah melintas.


"Aaaa....!" Bulan tak sempat menghindar.


Bruk!


Tabrakan tak bisa dielakan.


Tubuh Bulan terpelanting jauh sedang mobil itu berlanjur menabrak mobil didepannya.


Banyak orang-orang yang melintas akhirnya menghentikan kendaraan untuk melihat keadaan Bulan maupun kedua mobil lainnya.

__ADS_1


Salah satu yang jadi korban meninggal sedang yang menabrak tadi terluka parah. Bulan sendiri tidak sadarkan diri ada banyak bercakkan darah keluar dari kepalanya.


Angkasa yang melihat kejadian na'as tersebut merasa penasaran. Lekas Ia berdiri dan mendekati tempat kejadian.


"AstaufiruLLah, Sekar!" Angkasa yang tadinya tenang-tenang saja terkejut saat mengetahui siapa yang tergeletak di sana. Ia tidak menyangka jika salah satu korban itu ternyata adalah istrinya nya sendiri.


"Sekar...!" Angkasa nekat menerobos gerumunan untuk menggapai kepala Bulan.


"Ini tidak mungkin, kenapa kamu bisa ada disini Sekar?" pekik Angkasa histeris. Ia berusaha mengusap darah di kepala sang istri yang memerah ditangannya.


"Istrinya, Pak?" tanya salah seorang diantara mereka.


Angkasa mengangguk sambil merengkuh tubuh Bulan erat-erat. "Tolong, Pak. Tolong panggilkan mobil," mohon Angkasa. Ia tidak mungkin kehotel untuk mengambil mobilnya karena akan memakan waktu yang sangat lama. Apa lagi menelpon Bayu yang sudah dipastikan jam 02. 00 malam orang itu tidak akan bangun mengangkat telponnya.


Salah seorangnya segera menawarkan mobil miliknya demi keselamatan Bulan.


"Pakai mobil saya saja gak papa, Pak. Ayo di bawa!"


"Makasih, Pak. Saya akan membalasnya," ucap Angkasa. Ia segera menggendong Bulan menuju kerumah sakit.


Sesampainya disana, Angkasa berteriak-teriak panik memohon pertolongan. "Suster, Dokter tolong istri saya kecelakaan!" Dokter Lintang rupanya lagi-lagi sedang bertugas. Ia muncul dengan beberapa suster yang menggeret ranjang berjalan mendekat. Padahal itu rumah sakit yang berbeda dimana Angkasa dan Bulan pernah menemuinya. Namun karena Dokter Lintang adalah Dokter spesial Ia akan berada dirumah sakit dimana pun yang memerlukan tenaganya.


"Angkasa, ada apa dengan Sekar!"


"Astaga, kenapa harus kamu sih? tidak adakah Dokter lain dirumah sakit ini!" Gerutunya kesal.


"Tolong lupakan dulu emosimu, Angkasa. Akan lebih baik kau segera rebahkan dia disana supaya secepatnya mendapatkan pertolongan," tandas Dokter Lintang.


Angkasa tidak punya pilihan lain, terpaksa nya Ia menidurkan Bulan di ranjang untuk segera di bawa ke UGD.


"Biar aku ikut masuk!" Angkasa tidak ingin keberadaan Dokter lintang yang hanya dengan para Suster terbuka luas untuk menyentuh tubuh Istrinya.


Baru saja masuk Dokter Lintang menahan tubuhnya.


"Tolong jangan bod*h Angkasa, lupakan dulu kecemburuan mu itu jika memang kamu mau melihat dia masih bernafas!" sentak Dokter Lintang.


"Ck, Oke iya. Pastikan dia baik-baik saja dan jika dia sadar pastikan juga aku yang dia cari," jawab Angkasa mengalah.

__ADS_1


Dokter Lintang tidak menjawab, dia harus segera melakukan tindakan untuk Bulan.


__ADS_2