Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 50 Menarik


__ADS_3

...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


"Ah, sial. Lupa ingatan pun masih saja sulit. Kapan aku leluasa memilikinya," rutuk Angkasa kesal. Berulang kali merayu tak juga berhasil memiliki wanita impiannya.


"Tidak, kali ini gak boleh gagal lagi. Aku pasti bisa menjamah tubuh istriku tanpa penolakan."


Angkasa akan mencari ide jitu. Dia pastikan semua usahanya akan segera terealisasi secepat mungkin. Bisa jadikan Bulan tiba-tiba hamil setelah di sentuh oleh nya meski Bulan dan Dokter Lintang mengatakan kalau Bulan di diagnosa mengalami kemandulan.


Angkasa yang sudah membersihkan diri lebih dulu, segera mengambil pakaian untuk berganti. Otaknya terus mencari cara. Tidak lazim beberapa bulan menikah belum juga menyentuh seorang istri sama sekali.


"Aku ini kan suaminya, dia tidak berhak menolak keputusanku. Tunggu aku, Sayang. Kali ini kamu tidak akan bisa lepas lagi."


Angkasa tersenyum seorang diri, akan idenya itu. Tidak sadar jika dia melepaskan celan_ nya tepat berbarengan dengan keluarnya Bulan dari kamar mandi.


Glek!


Bulan meleguk air liurnya, Ia terkesima menatap tubuh gagah suaminya itu yang secara tidak sadar menyeratkan kerongkongannya.


"Aduh, kenapa badan ku jadi panas dingin ya? astaga, aku ingin sekali menyentuhnya. Tapi kenapa aku malu ya?" Memikirkannya saja Bulan malu sendiri.


Angkasa rupanya melihat reaksi Bulan dari pantulan cermin. Di sana sosok gadis itu, tak bisa beralih dari tempatnya. Sebuah handuk kecil melilit asal, menampakan dua bukit pemisah miliknya. Bola mata sipit milik Bulan juga terus mengamati tubuhnya.


Angkasa mengumpulkan kekuatan, tidak kuasa tersenyum melihat keluguan Bulan yang tak henti-henti nya memandang kesempurnaan yang ada pada dirinya.


Angkasa punya pikirin licik, dia akan membuat Bulan melihatnya secara langsung batang bertopi yang selama ini masih tersembunyi di dalam keabadian. Masih suci dan belum pernah menyentuh milik wanita mana pun.


"Sayang..!" Angkasa malah berbalik, mengundang tatapan buruk di kedua mata gadis didepannya.


"Aw...!" Bulan menjerit, Ia melihat sesuatu yang mengerikan disana. Cepat-cepat Bulan menutup wajahnya, takut.


Angkasa terbahak-bahak, sungguh itu adalah adegan yang sangat luar biasa.


"Cepat tutup, Sayang. Aku ngeri melihatnya, dia menatapku," kata Bulan. Merenggangkan sela-sela jari jemarinya dan mengintip.


"Is, tentu dia melihatmu. Karena dia sudah lama tidak mendapatkan kasih sayangmu," jawab Angkasa.


"Oh... iyakah. Kasihan sekali. Tapi kok serem ya, ada telornya dua lagi!" tunjuknya pada milik Angkasa. Sedang tangan yang satunya masih menutupi wajahnya sebagian saja.


Angkasa kian tak tahan menahan gejolak asmaranya. Pemuda mendekati Bulan yang melengos membuang wajah.

__ADS_1


"Gak kuat, Sayang," desis Bulan. Angkasa tidak perduli dan menarik tangannya agar terbuka.


"Sayang, kenapa kamu takut sih? aku kan suami mu? halal untuk kita saling melihat milik kita satu sama lain."


Angkasa merapatkan tubuhnya ke Bulan. Menggesekkan miliknya di bawah milik Bulan secara perlahan-lahan.


"Ssst..., geli," cicit Bulan. Ada sesuatu yang membuatnya menggidikkan bulu romanya.


"Gimana, enak gak?" tanya Angkasa. Ia menahan tengkuk Bulan agar terus menatapnya. Menghindari agar tidak menyentuh kepala istrinya yang belum sepenuhnya pulih.


"He'em, enak. Hangat...," jawab Bulan polos.


"Ini belum seberapa, akan lebih hangat jika langsung masuk ke dalam milik Sekar, nanti."


"Oya, kalau begitu masukkan saja." Bulan hendak menarik handuknya agar terlepas. Tapi Angkasa yang belum tega, langsung menahannya.


"Nanti, Sayang. Jika Dokter bilang kamu udah benar-benar sembuh. Kita lakukan sepuasnya, bagaimana?"


"Selama itu? tapi aku maunya sekarang?" Bulan sedikit kecewa jika diminta untuk terus menunggu.


"Kita pemanasan saja, dulu. Puncaknya nanti ya."


Angkasa melepas handuk yang tadinya Ia tahan menampakkan dua buah gundukan kembar Bulan yang besar, kenyal dan menggoda. Tidak salah lagi, Angkasa sudah mengira jika istrinya memiliki tubuh yang menggiurkan.


Angkasa hanya mendongak ke wajah Bulan yang sesekali merasakan nikmat akan tindakannya.


Seandainya Bulan tidak sedang sakit, hari itu juga Ia pasti bisa menguasai tubuh Bulan. Namun, Ia harus menahan diri sebentar lagi untuk sampai pada puncaknya.


Angkasa terus mengul_m, menjil_t dan memainkan dua buah kenyal milik Bulan sampai Gadis itu merasakan miliknya telah basah.


"Sudah, cukup. Aku merasa geli!" teriak Bulan tak tahan.


Sejenak Angkasa menghentikan kegiatannya disana, dan kembali memandangi Bulan.


"Sayang, apa kau merasakan sakit?" tanya Angkasa, penuh keperdulian.


Bulan menggeleng lucu. "Tidak, tapi ada yang keluar dari bawah sini!" tunjuknya di area bawah.


Angkasa mengikuti gerakan tangannya dan Ia tahu maksud Bulan langsung tertawa lepas. "O ya? gimana rasanya?" sengaja Angkasa menggoda dan ingin mendengar jawaban Bulan.

__ADS_1


"Is, kenapa malah tertawa?" Kesal Bulan.


"Jawab saja, apa susahnya sih?"


"Ingin sesuatu yang bisa menyudahinya," jawab Bulan, malu-malu.


"Apa itu?" tanya Angkasa lagi.


Bulan menggeleng dan kemudian menundukkan kepalanya. Tapi Angkasa mengangkat dagu Bulan agar bisa saling berpandangan.


Cup!


Kecupan terakhir berlabuh lagi di bibir Bulan.


"Aku juga tidak sabar, tapi_ kamu harus sembuh dulu," ujar Angkasa kemudian.


Ia berbalik dan menaikkan pakaian nya yang sempat menggantung di paha. Padahal dia ingin segera melepas semua yang membongkah di ujung keperkasaannya tapi Ia tidak mau egois saat kondisi Bulan masih belum benar-benar pulih.


"Sayang...!" Bulan mendekat dan memeluk punggungnya.


Angkasa hanya menoleh sepintas


"Aku masih ingin dipeluk," rengek nya pada Angkasa.


Angkasa terdiam, saat ini Bulan pasti merasakan ketidak nyamanan pada intinya sebab harus tertunda oleh kekhawatiran yang membuat Ia sendiri terbelenggu.


Jika boleh jujur, Ia lah yang paling tersiksa disana. Sudah lama menanti hari itu tiba. Pada akhirnya harus di kecewakan olehnya dan ditukar dengan sakitnya pula.


Aku juga tidak sabar, Sayang. Tapi aku ingin kita menikmati hubungan sakral itu tanpa beban dan rasa takut...


Angkasa berbalik, Ia menenggelamkan kepala Bulan dalam dekapannya.


"Kamu bahagia sama aku?" tanya Angkasa lagi membuat gadis itu mengernyitkan dahi.


"Kenapa bertanya seperti itu, tentu saja aku bahagia. Aku yakin aku sangat mencintai mu. Kau juga sama kan?" tanya Bulan balik.


Angkasa mengangguk, dan mencium cukup lama kepala Bulan.


"Aku mencintai mu, Sekar," ujar Angkasa lagi dengan tulus. Sudah bertahun-tahun lamanya Cinta itu tidak pernah memudar dan malah semakin besar. Bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk tertarik dengan perempuan lain.

__ADS_1


"Aku juga, tapi kamu jangan bohong ya," ucap Bulan sedikit manyun. Ia tidak akan pernah rela jika sampai suatu saat nanti Angkasa membagi cintanya dengan pelakor.


Aku harus jaga suamiku, jangan sampai ada wanita yang berani mendekatinya...


__ADS_2