
Setiap hari, Angkasa di uji dengan kesabaran Harus bersedia selalu menunggu dalam setiap hal. Kalut dan takut adalah dua hal yang tengah membelenggunya. Ia tidak mengerti mengapa semua itu lagi-lagi harus menimpanya.
Ceklek!
Terdengar pintu terbuka. Dokter Lintang keluar dengan wajah penuh rasa bersalah.
Hem, harusnya aku tidak mengabulkan permintaan Sekar. Kasihan Angkasa, sepertinya dia sangat mencintai istrinya...
"Angkasa...!" Dokter Lintang menepuk pundaknya dengan posisi tengah membelakangi.
"Bagaimana kondisinya, Dok?"
Dokter Lintang menarik nafas panjang, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Angkasa. "Kau lihat saja sendiri."
Angkasa hanya menatap kesal, dan berlalu meninggalkan Dokter Lintang masuk keruangan Bulan dirawat. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Perban panjang mengikat kuat di keningnya.
Angkasa sebenarnya masih sakit hati tapi ketidak berdayaan Bulan memperdaya nya juga.
"Maafkan aku, Sekar. Mungkin aku bukan suami yang becus menjadi pasangan hidupmu. Seharusnya kau tidak perlu mengalami ini jika aku tahu dari awal kau tidak pernah mencintai aku," ucap Angkasa seorang diri.
Sesaat, Bulan membuka matanya perlahan-lahan. Setelah semua terlihat jelas, Bulan mencoba mengenali ruangan dimana dia berada begitu juga dengan Angkasa yang berdiri sendiri disampingnya.
"A_ anda siapa?" tanya Bulan, membuat Angkasa mengernyit heran.
"Maksudmu?" Angkasa menela'ah perkataannya tadi.
"Aku tidak kenal," jawabnya santai.
"Ka_ kamu?"
"Angkasa...!" Dokter Lintang menyusulnya.
Angkasa hanya melirik sebentar. Hatinya masih murka pada Dokter itu.
"Pasca kecelakaan, ingatannya cidera. Dia akan melupakan semua orang disekitarnya termasuk kamu, aku dan siapa pun," papar Dokter Lintang menjabarkan.
"Apa? maksudmu, Dok. dia_?"
"Benar, Sekar mengalami Amnesia dan saya belum bisa memastikan apakah itu permanen atau sementara," ujar Dokter Lintang lagi menambahkan.
Angkasa menggeleng tak percaya.
"Karena Sekar lupa ingatan, aku ingin mengakui kesalahanku."
"Soal apa? soal perselingkuhan kalian?" desak Angkasa, sinis.
"Bukan, itu semua hanya sandiwara istrimu?"
"Apa?" Angkasa tersentak.
"Ya, dia mengaku MANDUL, dan ingin melihat kamu menikah lagi itu. Berulang kali tertekan setiap Ia mendengar engkau membahas soal masalah anak itu sebabnya aku membantu niat nya karena dia hanya ingin melihat kamu bahagia."
"Tidak masuk akal."
"Kamu benar, aku yang konyol. Seharusnya aku tidak mengabulkan permintaannya."
"Jadi soal se*ks?"
__ADS_1
"Kau percaya, perempuan sebaik istrimu melakukan hal tersebut?"
Angkasa menggeleng.
"Bantu dia untuk sembuh, Angkasa," pinta Dokter Lintang. Jujur saja dia punya rasa pada Sekar tapi Dokter Lintang yang memiliki segudang ILmu harus menyadari batasannya. "Aku tidak mau ini terulang lagi, karena berniat hati membantunya aku jadi merasa bersalah."
"Dok, aku rela mati demi istriku dan pernyataan mu tadi sangat menghancurkan aku." Angkasa berkaca-kaca menyisir tatapan pada Bulan yang memandangi mereka.
"Kalian bicarain siapa sih?" tanyanya polos.
"Bicarain wanita yang namanya mirip kamu," jawab Angkasa. Ia meraih tangan Bulan dan menciumnya cukup lama.
"Ih, jangan cium-cium bukan mukhrim!" Bulan menarik tangannya.
Angkasa dan Dokter Lintang tergelak.
"Kamu tidak ingat sama aku? bagaimana kalau aku tunjukkan ini?" Angkasa mengambil dompetnya dan menunjukkan foto pernikahan mereka yang berukuran kecil ke hadapan Bulan.
"Ini siapa?" tunjuknya pada Sekar.
"Itu kamu," jawab Angkasa.
"Ha? benarkah jadi aku sudah menikah? terus ini kamu?" tanya nya lagi.
Angkasa mengangguk dan tersenyum.
"Wah, suamiku ganteng , hehehe...!" pujinya lagi, tersipu malu.
Angkasa dan Dokter Lintang tidak bisa menahan tawa. Sikap Bulan nampak sangat konyol.
"Hahaha... Angkasa, sepertinya kau harus belajar sa_ bar menghadapi dia." Dokter Lintang menekannya sebagian kalimatnya seraya terpingkal-pingkal.
"Hehehe.. iya, itu karena kamu lupa ingatan, Sayang. Nanti juga ingat kok. Nama kamu itu Sekar dan aku Angkasa," jelas Angkasa lagi.
"Angkasa... Wih, nama yang keren. Seharusnya aku jadi burung merpati yang bisa terbang menikmati luasnya Angkasa," gombalnya lagi-lagi lucu. Tidak menyadari tingkahnya sendiri.
Dokter Lintang tak kuasa menahan diri dari gelak tawa terus menerus. "Angkasa, dia benar. Dia tidak sadar jika kini dia itu sedang menjadi Merpati jinak."
"Dokter... , pergi sana biar aku yang urus!" Angkasa mendorong tubuh Dokter Lintang keluar dari ruangan tersebut.
Angkasa yang tadi sedih bernafas lega, Ia sangat beruntung jika istrinya sebenarnya masih dalam keadaan suci.
"Ini benar-benar gila, bisa-bisanya otaknya berpikir sedangkal itu. Dia pikir aku akan menikah lagi kalau tahu dia MANDUL," desisnya lirih.
"Apa, siapa yang MANDUl." Bulan menyambar ucapannya.
"Tidak ada, ayo sebentar lagi pagi. Kamu tidak ngantuk?"
Bulan hanya tersenyum. "Mana mungkin ngantuk, aku suka melihat wajahmu," jawabnya jujur
Angkasa mencium keningnya, Ia sangat bersyukur. Dibalik kejadian yang sempat membuatnya hancur dalam sesaat di bayar oleh kecelakaan Bulan, Akhirnya Dokter Lintang mengakui semuanya kebenarannya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu...," ucapnya berulang-ulang
"Aku juga," jawab Bulan membalas. Tentu saja yang ada dipikirannya jika mereka sudah menikah itu artinya mereka saling mencintai.
Tidak terasa, suasana yang tadinya gelap memudar berganti cahaya terang. Lampu-lampu mulai dipadamkan. Banyak yang mondar- mandir didepan pintu mereka ada juga petugas kebersihan sedang menyapu maupun mengepel. Angkasa yang merasa tubuhnya lengket memutuskan izin untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Pagi Mbak Sekar!" sapa Dokter Lintang.
"Pagi, Dok."
"Suaminya kemana?" tanya Dokter Lintang basa-basi. Mengedarkan tatapan ke segala penjuru ruangan.
"Masih mandi, Dok," jawabnya, menunjuk kedaun pintu.
"Oh, iya. Diperiksa dulu ya...."
Dokter Lintang meletakkan alat detak jantung ke dadanya.
"Bagus, tidak ada masalah."
"Dokter, Dia itu beneran suami ku kan?" tanya Bulan, sedikit meragu. Jujur saja, Ia tidak merasa pernah menikah.
Dokter Lintang yang sibuk mengecek selang infusnya berhenti sejenak.
"Tentu saja, kamu tidak usah takut. Dia sangat penyayang orangnya," jawab Dokter Lintang. Tak lama kemudian, Angkasa sudah keluar dari kamar mandi.
"Pak, istrinya mau di elap," izin sang Suster.
"Oh, biar saya saja, Sus. Boleh kan, Dok?" Tanya Angkasa pada Dokter Lintang.
"Tentu saja, jika itu mau mu. Dia kan istri syah mu juga, jadi gak ada larangan menurutku."
"Makasih, Dok. Aku tidak menduga jika kau sangat baik," ujar Angkasa lagi.
"Jika Dokter tidak baik, bagaimana pasiennya bisa sembuh," Timpal Dokter Lintang lagi percaya diri.
Usai memeriksa, mereka semua keluar menyisakan Angkasa dan Bulan.
"Kita lap dulu ya!"
Tentu saja Bulan mengangguk, bahkan tidak canggung saat Angkasa mulai menyentuh tubuhnya dimulai dari wajah, leher, tangan dan berpindah kedada.
Angkasa membuka kancing baju khusus pasien yang dipakai Bulan dan gadis itu hanya menerimanya dengan pasrah.
"Hahaha... geli," gelaknya, ketika tangan Angkasa menyentuh bukit kembarnya.
Angkasa tak berhenti menatap wajah Bulan, wanita yang selalu berhasil merebut perhatian darinya.
"Angkasa...!" panggilnya tiba-tiba.
Angkasa menyipitkan bola matanya. "Kok Angkasa? panggil aku Sayang dong?"
"Sayang?"
"Iya itu artinya kamu sayang sama aku," ujar Angkasa menjelaskan.
"Maaf, Sayang. Aku lupa. Aku mau tanya, anak kita mana?" tanyanya butuh jawaban.
Angkasa menggaruk-garup pelipisnya.
...ππππ...
Bantu Angkasa reader, anaknya mereka kemana???π€π€π€
__ADS_1