
...π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»...
Setiap waktu berkutat dari luka dan linangan air mata seakan bukan lagi hal aneh. Kadang ada rasa iri, kecewa, sakit hati dan merasa hidup tidak pernah adil melihat orang lain tertawa sedang dia terbelenggu dalam derita yang tak pernah usai namun paktanya harus Bulan telan juga pahitnya kenyataan itu.
Angkasa yang masih menunggu dilahan parkir merasa Bulan sangat lama pun mulai jenuh. Ia terlihat resah menunggu tanpa melepas tatapannya kearah jalan dimana seharusnya Bulan keluar.
"Kemana dia? kenapa lama sekali?"
Angkasa rupanya tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi dan segera menyusul kedalam.
Benar saja, cukup jauh masuk ditempat Ia meninggalkannya tadi. Angkasa melihat Bulan masih duduk ditempatnya berada selepas Dokter Lintang pergi.
"Hey, Sayang. Kamu ngapain disini?" Angkasa memburu nya dengan pertanyaan. Ia memberikan pelukan hangat ke tubuh sang istri lewat belakang.
"Oh iya..." Bulan agak kaget, sesekali memijit keningnya yang terasa sangat berat. Memikul tanggung jawab besar seorang diri harus Ia rasakan diusianya yang masih belia.
Angkasa yang tidak mengerti kembali bertanya. "Kamu ada masalah ya?""
"Ti_ tidak, ayo pulang." Bulan segera menggandeng lengan Angkasa tanpa memberikn jawaban pada pria itu.
Dalam perjalanan pulang kerumah, Bulan terus memilih diam saja. Tidak ada perbincangan antar keduanya. Meyakinkan Angkasa akan sesuatu yang tengah Bulan sembunyikan darinya.
Angkasa memutuskan menginjak rem hingga mobil mereka mendadak terhenti.
"Aduh...!" Bulan tersentak dari kursi hingga balik lagi membentur sadaran jok dibelakangnya.
"Angkasa apa yang kau lakukan?" ucapan Bulan menghadirkan ketidak warasan di otak Angkasa.
"Ck...." Angkasa kesal dan memiringkan tubuhnya menghadap Bulan. Bola matanya menunjukkan ketidak setujuan. "Haruskan kau terus menyebut namaku? aku merasa kamu banyak berubah, Sekar? jika ada masalah katakan padaku, jangan membuat aku tidak berguna seperti ini!" desak Angkasa.
"Apa..?" Bulan melongo. "Ma_ masalah apa ya? aku tidak paham?" tanya Bulan gugup. Jangan sampai Angkasa mengetahui kebohongannya selama ini lebih cepat dari seharusnya karena itu bukanlah waktu yang tepat.
"Ya, mana aku tahu jika kamu tidak cerita, Sayang." marah Angkasa.
"So_ soal di sana tadi. I_ itu aku ketemu temen lama tadi. Makannya aku gak cepet-cepet keluar," jawab Bulan asal.
"Temen...?" Angkasa berusaha meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.
"Iya, Te_ temen aku."
Angkasa mengingat kejadian dirumah sakit. Ia sangat yakin tidak melihat siapa pun yang duduk bersama Bulan.
"Cewek apa cowok?" sungut Angkasa. Rupanya Ia berburuk sangka. Mengundang tawa kecil dibibir Bulan.
__ADS_1
"Kenapa? kamu cemburu?"
"Tidak, jawab saja apa susahnya sih?"
"Is, haruskah ku beri tahu?"
"Tentu saja, kau tidak boleh berbohong sedikit pun pada suami mu ini."
Angkasa meraih kedua tangan Bulan, lalu terpatut pada jari manisnya. "Kamu gak pakek cincin pernikahan kita?" tanyanya, menatap tajam bola mata Bulan.
Bulan pun melirik tangan Angkasa, sudah sekian lama bersama. Bulan tidak menyadari keberadaan cincin itu disana.
"Em...!" Bulan belum mendapat alasan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kasih tau saja, cincinnya ada kan dirumah?" Angkasa terus memaksa Bulan menjawab.
"Ma_ maaf." Bulan harus berakting lagi. "A_ aku...."
"Maaf? untuk apa?" Angkasa bingung.
"Hiks.. huhu... Aku menghilangkannya saat mencuci tangan tadi." Bulan memasang wajah seolah benar-benar bersedih.
"Apa?" replek Angkasa kaget. "Itu kan benda berharga, Sayang?"
"Aku sudah mencoba mendapatkannya, tapi malah masuk kedalam lubang menjijikan itu," jawab Bulan penuh kesungguhan.
Bulan mengangguk. Tersenyum pun tidak berani. Sebenarnya itu adalah kesalahan yang amat sangat fatal.
Angkasa menggaruk kepalanya, Ia sebenarnya ingin marah tapi melihat wajah Bulan bersedih semua itu akhirnya Ia tahan.
"Ya sudah, kita beli lagi yang baru supaya bisa berpasangan," kata Angkasa akhirnya.
"O... ti_ tidak perlu, Sayang. Aku minta maaf sudah membuat kesalahan karena tidak mampu menjaganya," mohon Bulan. Barang tersebut sudah pasti mahal dan Bulan tidak ingin memanfaatkan posisinya.
"Tidak apa-apa. Aku tidak mau dianggap duda karena cincin yang kupakai tidak punya pasangan." Keputusan Angkasa final. Pemuda itu kembali menghidupkan mesin mobil dan melanjutkan perjalanan mereka kesebuah toko perhiasan.
"Ayo masuk!" Angkasa menyematkan jari jemarinya ke sela jari tangan Bulan.
"Sore, Mbak!" sapa Angkasa. Ramah tamah berbudi bahasa.
"Sore Mas, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" balas pegawai toko tersebut.
"Kami ingin mencari cincin pernikahan," jawab Angkasa, sejenak melirik Bulan lalu menebar senyum. Bulan tidak bisa menolak lagi sebab Angkasa tak mau mendengarkan perkataanya.
__ADS_1
Pegawai toko perhiasan tersebut mengeluarkan dua buah kotak perhiasan terbaik mereka.
"Ini perhiasan terbaru kami yang sedang naik daun, Mas. Belum ada yang memiliki nya sama sekali," ujar nya.
"O ya. Biar ku lihat." Angkasa mengamati kedua benda indah itu bergantian. "Kamu mau yang mana, Sayang? Memang sih cincin ini berbeda dengan cincin pernikahan kita yang ada namanya karena di pesan khusus di toko terkenal." Angkasa menyayangkan benda kenang-kenangan saksi pernikahan mereka hilang begitu saja.
Bulan sebenarnya tidak tahu apa-apa soal barang tersebut. Bahkan Ia baru tahu saat Angkasa menanyainya. Tapi perkataan Angkasa yang baru saja keluar terasa menyayat hatinya. Seandainya benar-benar Sekar pasti kesalahan yang dibuatnya lebih besar dari sekarang atau bisa jadi Sekar akan menjaganya dengan bersungguh-sungguh.
"Maafkan aku, Sweety," kata Bulan, Ia tidak akan pernah bosan mengulangi perkataan itu sampai kapan pun. Karena setiap bersama pria itu dia akan selalu berbohong dan terus berbohong.
Angkasa mengusap pucuk kepalanya dan tersenyum ikhlas. "Lupakan saja, mungkin bukan rezeki kita."
Angkasa berpacu pada topik utama. "Ini bagus, gak?" tunjuk Angkasa pada barang pilihannya.
"Bagus...." Bagaimana tidak, meski Angkasa mengambilkan yang paling biasa pun tentu akan sangat bagus bagi Bulan mengingat dia tidak akan mampu membelinya.
"Coba dulu." Angkasa meraih tangan Bulan dan menyematkannya. "Ini sangat cantik, seperti kamu!" puji Angkasa. Lagi-lagi Bulan merasakan ada getaran yang aneh.
"Makasih, Sayang," ungkap Bulan, terharu.
"Santai saja." Angkasa mengembalikan cincin yang lain. "Kami ambil yang ini, Mbak. Tidak perlu dibungkus, karena kami akan memakainya langsung."
"Oh oke."
Angkasa menyerahkan kartu ATM miliknya.
"Nominalnya 200 JT," kata pegawai perempuan itu.
"Ha...?" asyik mengamati keindahan cincin itu, Bulan tersentak. "Mahal banget, Mbak?" protesnya.
"Iya, karena ini perhiasan import, Mbak," jawab penjual itu.
"Gak papa, Sayang. Berapa pun akan aku beli buat kamu," sahut Angkasa yang kian hari dibuat semakin gemas akan kekonyolan Bulan.
Terima kasih, Sekar. Sekarang kamu begitu polos dan aku menyukai itu...
Angkasa beruntung mengetahui sikap Bulan yang dulunya tidak ada di diri Sekar.
"Sayang, kamu yakin mau beli ini? kan, uangnya bisa di tabung?" protes Bulan lagi. Baginya uang segitu akan sangat bermanfaat untuk hal yang lebih penting.
Angkasa dan pegawai toko itu tergelak. "Kamu tenang saja, Sayang. Kita tidak akan kelaparan hanya karena aku menyenangkan istriku."
Ucapan Angkasa begitu meneduhkan, bahkan pegawai toko itu ikut terharu.
__ADS_1
"Uhk, so sweet. Mbak cantik beruntung banget sih punya suami kayak Mas ganteng!" puji pegawai itu kebawa perasaan dengan apa yang dilihatnya.
Bulan yang malu akhirnya tersipu dan salah tingkah.