Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 36 Menyiapkan Pesta


__ADS_3

...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...


Beberapa para pekerja kantor termasuk Bayu dan Siska, sedang disibukkan mendekor sebuah taman di dekat hotel termewah di Jakarta. Mereka akan menciptakan tempat itu menjadi tempat terindah yang pernah ada. Mengingat acara akan di rayakan besok malam. Banyak persiapan yang harus di dilakukan.


"Pak, ini bunganya tarok dimana?" salah seorang keberatan membopong pot bunga berukuran besar.


"Oh iya, dimana ya?" Bayu sibuk memilah tempat yang cocok dan melihat ada di dekat panggung.


"Itu disana, pasti akan manis terlihat," jawabnya yakin.


"Ehk, tunggu dulu." Siska menyerobot pendapat Bayu.


"Disana, Pak. Lebih cocok, putih berbaur di antara puluhan bunga lili," tunjuk Siska pada yang lebih menarik menurutnya.


"Ehk, gak ada. Enak aja lo. Situ aja, Pak. Tau apa soal bunga." Bayu tak mau kalah.


"Gak ada, udah bener yang aku tunjukin tadi Pak."


Keduanya bertengkar panjang dan tidak menyadari jika Karina istrinya Bayu tengah ada disana dan mengamati tindakan mereka.


"Bang...!" panggil Karina. Bayu langsung tersentak kaget. Wajah Karina terlihat tidak bersahabat. Pasti perempuan itu sudah salah paham dengan adegan mereka tadi.


"Lo, Sayang. Kok ada disini?" Bayu meninggalkan Siska dan menghampiri Karina yang terus menatap tajam pada Siska.


"Kamu ada urusan? Dedek Cilla kemana?" tanyanya penuh perhatian.


"Gak aku ajak," ketus Karina.


"Ya udah kita duduk dulu yok, aku ada minuman dingin!" Bayu menarik lengannya tapi malah mendapat penolakan dari Karina.


"Sedingin apa pun itu, kalau ada pelakor, tetap aja gerah," decaknya.


"Pelakor?" Bayu menangkap signal negatif disana.


"Cantik ya dia!" Karina masih memandang dengan aura mistis.


Siska memilih menunduk, Ia merasa bahwa Karina tengah menyindirnya.


"Jadi bener kata rekan kerjamu, kau sedang dekat dengan perempuan lain di sini," ungkap Karina lagi.


Bayu belum paham. "Maksudmu apa, Sayang? pelakor, siapa yang pelakor?" Bayu menelisik kearah Siska.


"Denger-denger di kantor mu banyak pelakor dan jandes kegenitan ya?" rutuk Karina lagi terus menatap sinis.


"Hahaha.. tau dari mana. Kami pegawai kantor semua sudah seperti saudara, Sayang," gelak Bayu, tidak sadar jika kata-katanya menambah kemarahan Karina.


"Oh.. jadi mentang-mentang kayak saudara bebas pegang-pegang ya," omelnya lagi belum juga mereda dari kecemburuan.


"Pegang-pegang, siapa?" keluar juga pertanyaan Bayu.


Seorang pemuda yang cukup royal dikalangan pertemanan. Dia baik dan tidak segan membantu orang-orang yang membutuhkan bimbingan darinya salah satunya adalah Siska. Mereka memang cukup dekat dalam bergaul.

__ADS_1


"Pak Bayu, saya urus yang lain ya!" Siska yang tidak enak hati memutuskan pergi. Dia memang janda yang ditinggal menikah lagi oleh suaminya.


"Yayang...." Karina mulai merengek.


"Apa cintaku!" Bayu memeluknya dengan gemas.


"Jangan deket-deket sama dia aku tidak suka." Karina begitu jujur, itulah yang membuat Bayu menyukainya.


"Dia kan rekan kerja ku, sayang."


"Gak peduli, diakan janda, Awas kalau kamu sampai kepincut," sungut Karina, memasang wajahnya yang paling lucu saat sedang marah.


Bayu yang suka usil langsung mencubit pipinya. "Santai saja, aku gak akan berpaling dari kamu kok. Kamukan bidadari nya aku," ucap Bayu merayu.


"Bohong?"


"Ya enggaklah, meski banyak gadis-gadis cantik yang mendekati aku. Cuma kamu seorang di hati."


"Bener?" Karina berbinar.


"Tentu saja, aku kan setia. Ya udah sini, kita makan bareng!" Bayu mengajak istrinya mesum kedalam restaurant.


Di rumah sakit, Bulan membenahi beberapa pakaian Fatan yang masih tertinggal. Dimana kamar itu, pernah di tiduri oleh Fatan.


Kamu sudah sampai dimana sekarang?


Angkasa yang tidak bisa jauh-jauh dari Bulan cukup dibuat bertanya-tanya. Dia tidak mengerti mengapa Sekar yang dulunya sedikit anti anak kecil begitu sedih melepas Fatan yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya.


Bulan memegang salah satu baju kesayangan Fatan lalu memeluknya erat-erat. Hatinya terguncang, sulit mengendalikan perasaan yg penuh kekhawatiran.


"Sayang, ayo pulang. Doakan saja Fatan dari rumah."


"Kasihan dia."


"Aku mengerti, jika Tuhan masih menginginkan umur yang panjang untuknya. Dia akan baik-baik saja."


"Tapi aku takut, sejak pertama melihatnya. Aku sudah menaruh kasih sayang ini begitu besar."


Bulan kembali terisak-isak. Belum lagi dipusingkan oleh tuntutan Pak Dewok yang memintanya memberikan anak untuk Angkasa.


Hatinya membongkah seperti gundukan yang siap menghantam. Tidak tau jalan mana yang harus di lalui nya karena keduanya sama-sama terjal dan membahayakan.


Kamu tidak mengerti Angkasa. Selain takut kehilangan Fatan aku juga takut padamu. Aku tidak bisa membayangkan hal itu akan menimpaku besok malam...


Bulang membawa tas berisi pakaian Fatan dan pergi mendahului Angkasa yang turut mengikuti langkahnya.


"Sayang, tunggu dulu!" Angkasa mengejar menyeimbangi langkah Bulan. Hingga sesuatu menari dalam dirinya saat bola matanya tertuju di depan sana.


Dia melihat Dokter Lintang bersama Dokter lainnya sedang berbincang-bincang.


"Sweety, tunggu aku di mobil!" Bulan menyerahkan tas ditangannya.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Sudah cepat lakukan saja." Bulan mendorong tubuh tegap Angkasa menjauh sampai akhirnya Ia mengalah dan pergi.


Bulan bergegas menghampiri Dokter Lintang. Ia ingin tahu soal ilmu kedokteran nya sedikit saja yang dirasa akan sangat membantu. Entah mengapa Ia memilih Dokter muda itu sebagai jembatannya.


"Pagi, Dok!" sapanya.


Dokter lintang menoleh dan mengangkat kedua alisnya.


"Kamu_?"


"Iya, kita pernah bertemu," jawab Bulan.


"Ada apa ya, ada perlu dengan Dokter Bagas?" tanyanya menoleh kearah temanya.


"Bukan, saya ada perlu dengan Dokter sebentar, boleh?"


"Oh, iya. Baiklah tunggu sebentar ya."


Dokter Lintang menyelesaikan obrolan mereka dan berlanjut menghampiri Bulan yang setia menunggunya.


Setelah memilih tempat yang aman untuk keduanya Bulan mulai mengutarakan maksud hatinya dan berharap Dokter itu bersedia menolong.


"Kenapa kamu memilih saya? anda tidak takut jika saya tidak bisa pegang janji?" tanya Dokter Lintang setelah mendengar tujuan Bulan.


"Saya tidak tahu harus apa, Dok. Saya benar-benar takut. Makanya saya ingin suami saya menikah lagi."


"Dengan berbohong?"


"Tidak ada pilihan," jawab Bulan.


Dokter Lintang menggeleng tak percaya. "Oke, aku akan datang besok malam," jawab Dokter itu kemudian.


"Dokter setuju."


"Apa boleh buat, apa bayarannya?"


Bulan kembali memasang wajah lesu. "Saya tidak punya uang, Dok."


"Oke, baiklah. Saya akan memintanya jika kita berhasil melakukan skenario ini."


"Makasih, Dok. Saya tidak punya tempat meminta tolong. Tapi melihat Dokter, saya merasa anda adalah orang yang cocok untuk itu."


"Oke, baiklah. Kalau begitu saya pergi dulu. Ada urusan lain yang harus diselesaikan."


Dokter Lintang beranjak lalu menoleh perlahan kearah Bulan yang masih berdiam diri.


Perempuan yang unik


Sesaat Ia tertarik dan mengagumi kecantikan perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2