Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 40 Bersiap


__ADS_3

Akhirnya malam yang ditunggu-tunggu telah tiba. Mereka akan berangkat dari rumah pukul 05.00 sore.


"Sayang, ayo cepetan! banyak yang harus kita urus!" panggil Angkasa dari luar kamar.


"Iya tunggu sebentar, aku sedang menyisir rambutku," jawab Bulan balik.


Tak berapa lama, Bulan muncul dengan hiasan ala kadarnya. Ia tidak tahu bagaimana berpenampilan yang layak di depan orang. Apa lagi itu pertama kalinya Bulan ikut merayakan yang namanya pesta ulang tahun didalam hidupnya.


"Ma_ maaf, ya. Aku gak dengerin kamu tadi jadinya buru-buru deh," kata Bulan gugup bercampur takut. Sebentar lagi sesuatu akan menimpanya, dan merenggut semua kehidupannya yang memang sudah gelap semakin bertambah parah.


Angkasa membingkai wajah Bulan, tatapan berbinar tercetak di wajah tampannya.


"Gak papa, Sayang. Disana nanti akan ada yang membantu penampilanmu."


Keduanya berjalan menuju mobil meninggalkan rumah mereka. Disetiap helaan nafasnya, Bulan tak henti-hentinya memikirkan apa yang akan Angkasa lakukan nanti malam. Membayangkan saja, rasanya mengerikan.


Sesekali Bulan melirik Angkasa yang terus tersenyum bahagia. Kadang ada rasa tidak tega sudah membohongi pemuda baik sepertinya.


Angkasa dan Bulan baru saja sampai dihotel hingga suara dering ponsel kembali menyapa mereka.


"Siapa?" tanya Bulan.


"Ayah," jawab Angkasa. Lekas Ia menjawab telpon itu karena terus saja menggema.


"Halo, Ayah."


"Angkasa, Ayah punya kabar baik."


"Soal apa, Ayah."


"Mana Sekar, Ayah mau bicara."


"Baik, Ayah."


Angkasa menyerahkan telponnya dan berpamitan keluar lebih dulu sebab Bulan harus menerima telpon dari Pak Dewok. Kedatangannya di sambut oleh beberapa orang yang bergabung membentuk panitia pengurus acara.


"Bos, kami sudah persiapkan acara sedemikian rupa. Semoga tidak mengecewakan." Bayu adalah ketua tim mereka.


"Aku percaya sama kamu, Bay. O ya Sis, segera bawa Sekar kekamar untuk di dandanin jika dia sudah selesai ya." perintahnya tiba-tiba, langsung mengagetkan mereka. Saling berpandangan heran satu sama lain.


"Maksud Bos apa ngomong gitu?" tanya salah seorangnya.


"Iya, kukira pesta ini hanya untuk mengenang istri, Bos."


Mereka bertanya-tanya setengah berbisik. Takut juga jika sampai Angkasa mendengar ucapan mereka.


Sedangkan Bulan yang masih didalam mobil tidak sabar menanti apa yang akan Pak Dewok sampaikan.

__ADS_1


"Halo, Ayah. Ada kabar apa?" Tanya Bulan tidak sabar.


"Fatan sudah sadar, Nak. Kondisinya membaik."


"Apa? sungguh, Ayah."


"Iya, kata Dokter. Semuanya akan baik-baik saja. Ayah akan mencarikan pengobatan herbal disini selepas keluar dari rumah sakit."


Bulan menangis bahagia, Ia sedikit tidak percaya dengan kabar yang didengarnya.


"Alhamdulilah, semoga Fatan segera sembuh."


"Ayah, akan mengusahakan apa pun untuk Fatan, Bulan. Tapi berjanjilah kamu akan melakukan apa yang Ayah pinta."


Deg!


Ucapan Pak Dewok kembali menghunus perasaan Bulan. Setuju atau tidaknya, Ia harus siap melakukan keinginan itu.


Pak Dewok masih terdengar berbicara.


"Oke, Ayah temani Ibu dan Fatan dulu, kerjakan tugasmu dengan baik." Pak Dewok memutuskan sambungan sepihak. Membiarkan perasaan Bulan hancur berkeping-keping.


Air mata Bulan berderai lagi, Ia bingung harus apa. Hatinya menolak untuk itu.


Haruskah, aku memberikan hidupku...


"Sayang...!" panggil Angkasa dari luar.


"Bu_ Bu Sekar!" ucap mereka serempak.


"Sudah ngobrolnya?" tanya Angkasa, yang langsung memeluk Bulan.


"Bo_ Bos, It_ itu...?" Bayu sudah tak mampu berkata-kata sebab kakinya bergetar hebat.


Angkasa yang merasa aneh akan sikap mereka menjadi menyeringai aneh. "Apa ada masalahnya?" tanyanya tegas.


Mereka hanya menggeleng, tidak berani berargumen takut Angkasa marah di momen pentingnya.


Bulan kurang nyaman, Ia baru sadar jika selama ini mereka sudah mengetahui kepergiannya Sekar tiba-tiba melihat dia kembali hidup lagi didepan mereka.


(Oh, iya. Pasti mereka ketakutan karena kehadiranku)


"Siska, ayo bawa dia!" titah Angkasa lagi membuyarkan ketakutan mereka.


Aduh, berarti benar. Pak Bayu tidak salah melihat Bu Sekar. Kata orang, manusia yang udah mati kakinya tidak akan menapak ditanah....


Diam-diam Siska memberanikan diri memeriksa kaki Bulan.

__ADS_1


Lo, itu kakinya Bu Sekar nginjek kok. Berarti dia manusia dong... atau jangan-jangan kematiannya waktu itu hanya skenario...


"Siska...!" Teriak Angkasa kesal.


"Eh, iya Pak," jawab Siska kaget.


"Ayo bawa dia masuk, sebentar lagi acara akan dimulai!"


"Ba_ baik, Pak. Ayo Bu...." Siska mempersilakan Sekar lebih dulu.


Disetiap lorong masuk kekamar utama di hotel itu, Siksa tak henti-hentinya mengamati Bulan. Ia khawatir jika tiba-tiba Bulan menghilang dari pandangannya.


"Mbak Siska sudah lama kerja disini?" tanya Bulan. Pertanyaan itu mengundang perhatian Siska.


"I_ ibu lupa ya, saya kan bekerja disini sejak awal mula Bu Sekar pacaran sama Pak Angkasa," jawab Siska, sedikit heran. Pasalnya Siska adalah orang pertama yang Sekar cari saat Ia membutuhkan sesuatu.


"Oh iya, aku lupa. Sejak hari yang kata orang aku meninggal dan ternyata hidup lagi. Pikiranku jadi aneh," bohong Bulan.


"Ha? jadi Ibu sebenarnya gak jadi meninggal. Kok bisa ya, aku lihat sendiri kok Bu waktu pemakaman Ibu."


"Makannya ini jadi rahasia, Siska. Rasanya itu tidak mungkin. Tapi_ pernah dengar orang mati surikan?"


"I_ iya, Bu."


"Mungkin bisa dibilang seperti itu," tukas Bulan lagi. Sampai akhirnya mereka tiba didepan pintu sebuah kamar.


"Ayo, Bu. Periasnya sudah ada didalam!" Siksa membuka pintu lebih dulu.


Terpampang lah kamar yang indah bertaburan bunga dimana-mana ter susun indah, tercipta begitu luar biasa.


Disana juga ada poto pernikahan Angkasa dan Sekar. Ukurannya sangat besar, di beri pernak-pernik lampu yang memukau.


"Pantas saja, Pak Angkasa meminta kami menghias kamar. Ternyata beliau ingin memanjakan Ibu," ujar Siska lagi, Bulan membalasnya dengan senyuman.


"Malem, Bu!" sapa dua orang perempuan yang sudah duduk didepan cermin hias.


"Malem...!" Balas Bulan.


"Mari Bu, silahkan duduk. Pak Angkasa ingin Ibu tampil sempurna malam ini!" Mereka menuntunnya duduk dikursi.


Bulan hanya menurut, meski tidak bisa dipungkiri hatinya sedang gundah gulana. Diedarkannya bola mata itu sekali lagi pada setiap inci ruangan yang terlihat dipersiapkan dengan sangat mewah dan semua itu demi seorang Sekar.


Bulan juga mengamati poto pernikahan itu lagi, dan tertuju pada wajah yang benar-benar mirip dengannya.


Sekar, maafkan aku karena sudah mengambil alih posisimu dan membohongi pria yang sangat kau cintai. Tolong jangan marah ya...


Kedua perias yang mulai menjimpit rambut Bulan sedikit demi sedikit heran, saat linangan air matanya berderai jatuh.

__ADS_1


"Bu Sekar menangis?" tanya Salah seorangnya.


"Oh, iya. Aku hanya terharu saja, Mbak." Cepat-cepat Bulan menghapus air matanya lagi.


__ADS_2