
"Ma_ masih di tangani Dokter Lintang dan Dokter lainnya, Om," jawabnya terbata. Pelangi takut mereka memarahi nya karena secara tidak langsung mereka sempat berdebat tadi.
"Ini semua salah Dinda, Yah," celoteh Angkasa, menimpali. "Jika memang mau meminta maaf, kenapa dia tidak berbesar hati untuk menunggu sampai Lintang benar-benar bisa memaafkannya," imbuhnya lagi, dengan perasaan sama kacaunya.
Semua yang ada diruangan terdiam, mereka tidak tahu mengapa hal semacam ini malah menyambangi keluarga mereka.
"O ya, Yah." Ucapnya, setelah lama ikut diam. "Tolong beritahukan ini pada Om dan Tante, aku yakin mereka masih punya hati untuk menerima Dinda kembali."
Pak Dewok mengangguk, tapi saat dihubungi. Tidak ada yang menerimanya sama sekali. Mungkin karena mereka telah terlelap.
"Tidak diangkat, Nak."
"Biar aku kirim pesan, Yah. Mudah-mudahan mereka segera bangun dan membaca."
Angkasa mengambil alih ponsel Pak Dewok dan mengetik sebuah pesan yang langsung Ia kirim. Tidak disangka centang itu berubah menjadi biru, itu artinya sudah ada yang membaca pesan mereka.
"Syukurlah, Yah. Sudah ada yang membaca. Kita tunggu saja kedatangan mereka," kata Angkasa, dengan wajah senangnya.
"Baguslah, aku yakin merekanakan membuka hati memaafkan Dinda."
Di dalam ruangan yang di penuhi berbagai alat canggih kedokteran. Lintang dan yang lainnya sibuk mengobati luka di tubuh Dinda, berbagai selang alat bantu tertanam di beberapa bagian tubuhnya.
(Dinda tolong sadar, Dinda. Jangan mati sekarang, maafkan aku sudah egois. Aku janji akan membiarkan kamu menemui Kiara kapan pun)
Perasaan Dokter Lintang berkecamuk takut, karena kondisi Dinda memang sangat mengkhawatirkan selain tidak sadarkan diri. Luka di tubuhnya sangat parah.
Selang beberapa waktu, usai membersihkan luka yang dijahit. Dinda tiba-tiba tersadar.
"Lintang...!" ucapnya parau.
"Dinda, kamu sudah sadar?" Dokter Lintang sangat senang melihatnya.
"I_ izinkan aku bertemu Kiara dan yang lainnya," ucapnya memohon, terlihat jelas jika nafasnya tersengal-sengal.
"Iya, Din. Kamu boleh bertemu Kiara kapan pun, tapi ku mohon bertahanlah untuknya."
Dokter Lintang sampai menangis, tak sanggup rasanya melihat keadaan wanita yang pernah menemani hidupnya sekitar dua tahun itu, meski sakit teramat dalam pernah wanita itu torehkan kedalam hatinya.
Dokter Lintang meminta Kiara dan semua orang termasuk kedua orang tuanya yang baru saja sampai untuk menemui Dinda. Bagaimana pun juga Kiara berhak untuk bertemu Ibu kandungnya.
"Mama...!" teriak bocah kecil itu sambil menangis dalam gendongan Pelangi.
__ADS_1
"Ki_ ara... ." Dinda sangat bahagia, bisa mendengar sebutan indah itu dari bibir mungil putri kecilnya.
"Mama, Mama kenapa? Mama cepat sembuh ya, biar nanti bisa main bareng sama Kiara," ujarnya, penuh permohonan.
Dinda hanya tersenyum, lalu menatap pada Kedua orang tuanya yang tengah menangis histeris.
"Pa, Ma...." Tak kuasa air mata Dinda luruh. Ia sudah menjadi anak durhaka pada kedua malaikat tak bersayap tersebut karena selalu membangkang mereka.
"Dinda, Papa dan Mama sudah memaafkan kamu. Kami tahu waktu itu kamu sedang gelap mata hingga tega meninggalkan Anak dan suamimu demi pria lain," ujar Papanya.
"Iya, Nak. Mama juga sudah memaafkan kamu, bagaimana pun juga ikatan orang tua dan anak tidak akan pernah diputuskan sampai mati."
Dinda mengangguk.
"Terima kasih, Pa, Ma. Maaf sudah sering melukai hati kalian."
Satu lagi kata maaf yang belum Dinda dapatkan dari seseorang, yaitu Dokter Lintang.
"Li_ Li...." Dokter Lintang langsung menggenggam tangannya.
"Cukup Dinda, jangan katakan apa pun lagi. Aku juga sudah melupakan semuanya. Kita bisa berteman, kan?" Dokter Lintang lagi-lagi menitikkan air mata. Apa lagi mengingat saat masa-masa indah mereka mereka berpacaran dulu.
Dinda kembali tersenyum, hanya itu yang Ia mau adalah melihat semua yang pernah Ia sakiti memaafkan kesalahannya.
"Maafkan aku, Mbak." Pelangi merasa bersalah karena sudah memakai baju milik Dinda dan hadir sebagai orang yang menyakiti perasaan Dinda meski Ia tidak tahu apa-apa.
"Tidak, Pelangi. Maafkan kesalahan ku, tidak seharusnya aku mempermalukan mu. Satu hal yang aku pinta dari mu, yang tidak bisa kulakukan sebagai seorang Ibu pada putrinku. Aku ingin kamu mau melakukannya untukku."
Dinda ingin menggapai tangan Pelangi, gadis itu memberikan Kiara pada Angkasa dan mendekat, begitu juga dengan Dokter Lintang yang dimintanya.
Keduanya saling berpandangan, tak ayal Dinda menyatukan tangan mereka.
"Aku tahu kalian adalah pasangan yang serasi, oleh karena itu berjanjilah padaku kalau kalian akan menjaga Kiara untukku sebagai orang tuanya!"
Dokter Lintang dan Pelangi membulatkan mata, mereka belum memberi tahukan jika waktu itu hubungannya dengan Pelangi hanyalah pura-pura.
"Di_ Din...." Pelangi mau memberi tahu tapi Dinda menggeleng.
"Aku mohon Pelangi, kabulkan permintaanku!" ucap Dinda lagi, memohon.
"Iya, Din. Kami akan menjaganya dengan baik," sahut Dokter Lintang.
__ADS_1
"Dok...?" Pelangi kurang setuju, sebab Ia tidak punya hak untuk itu. Ia hanya bisa melakukannya sebagai pelayan dan itu tidak sepenuhnya.
"Baguslah, dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang," kata Dinda lagi. Nafasnya kali ini terdengar tak beraturan.
"A_ Angkasa!" ucapnya sekali lagi. "Berbahagialah!" ucapan terakhir itu di barengi dengan ketidak sadarnya.
"Dok, denyut nadinya melemah!" ucap Suster, saat melihat mesin detak jantung menggerak membentuk garing lurus.
Ruangan itu banjir air mata, mereka histeris menyebut nama Dinda agar kembali sadar.
Dokter Lintang menempelkan kedua tangannya yang berbentuk silang diatas dada Dinda lalu menekannya untuk memancing detak jantungnya kembali stabil tapi tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Tolong siapkan alat pemacu jantung!" titahnya pada Dokter Lain.
Mereka yang bersiaga memberikannya pada Dokter Lintang. Beberapa kali mencoba menempelkannya di tempat yang sama rupanya tidak juga membuat Dinda bangun lagi.
Mereka semua hanya bisa menangis pilu, terutama Kiara yang baru bertemu Mamanya setelah sekian lama berpisah.
"Mama, bangun Ma. Jangan pergi, Kiara masih kangen sama Mama!"
Cukup lama meratapi kepergiannya, semua orang yang ada diruangan itu tidak lagi bisa tidur sampai fajar menjemput paginya.
Mereka masih setia menunggui jenazah Dinda yang masih diurus oleh pihak rumah sakit. Namun Angkasa baru ingat, Ia juga harus menyediakan penyambutan di rumah mereka.
"Yah, Bu, aku pulang duluan ya. Mau mengurus keadaan dirumah!"
"Iya, Nak. Ayah percayakan sama kamu."
"Aku ikut," ucap Bulan.
"Kamu disini saja, aku harus cepat tiba dirumah," jawabnya dingin.
Bulan yang merasa di acuhkan akhirnya mengangguk kecil, Ia tahu bahwa kemarahan Angkasa belum mereda, Ia tidak akan mudah mau memberitahu apa penyebab Ia marah pada gadis tersebut.
Bulan hanya mengamati punggung Angkasa sampai menghilang. Ada rasa takut jika nanti Ia akan dipisahkan dengan pemuda itu.
Bulan yang masih fokus memperhatikan wajah-wajah sedih disekitarnya kembali merasakan mual yang hebat.
Oek...
Bulan menutup mulutnya, hatinya mendadak resah. Tak seperti biasanya ketika sedang sakit. Mual itu seolah terus menghantui.
__ADS_1
"Nak, mumpung di rumah sakit. Kamu periksa dan minta obat sana!" saran Bu Arumi yang duduk disampingnya.