Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 54 Balasan


__ADS_3

Bulan sangat ketakutan, Ia tak bisa berkutik ketika Awan terus mengungkung tubuhnya yang kecil.


"Tolong, tolong lepaskan saya, Mas. Tolong...!" Ingin berteriak sekuat tenaga akan tetapi Awan sigap membungkam mulutnya.


"Diam, sayang. Kamu akan baik-baik saja sama aku. Cintaku lebih besar dibandingkan dengan Angkasa," ucapnya culas, memandang tajam dan melotot penuh keberingasan.


"Tapi saya tidak mencintai kamu, Mas. Bahkan saya tidak kenal."


Awan yang mulai marah akan penolakan Bulan, menekan kedua sisi bibirnya dan hendak mengecupnya lagi. Namun, sebelum wajah Awan sampai, Bulan mengambil resiko dengan meludahinya hingga Awan menggampar pipi Bulan dengan keras.


Plak!


"Aaa...!" Bulan menjerit kesakitan.


"Rasakan itu, beraninya kau melakukan hal itu padaku," geram Awan. Ia semakin tertantang menguasai tubuh Bulan yang awalnya hanya ingin diciumnya saja. Sebab, Ia kecewa karena Bulan tidak mau menerima hasratnya.


Awan kembali merapatkan tubuh Bulan kedinding hingga menimbulkan degupan punggungnya yang menabrak benda keras dan datar itu.


Tangis Bulan menjadi-jadi, Ia tidak bisa lagi mengendalikan rasa takut dan jijiknya.


"Hiks... lepas, aku gak mau. Tolong jangan sentuh aku!" pekik Bulan lagi sampai ketelinga Angkasa yang tidak jauh dari tempatnya.


Angkasa mempertajam pendengarannya, meyakinkan diri jika di dalam benar-benar ada perempuan yang sedang dalam bahaya.


"Tolong, lepasin Mas. Lepas...!" teriak Bulan lagi berulang-ulang. Baju dress bagian pundaknya robek ditarik secara kasar oleh Awan.


Pundak mulus dan putih semakin menggiurkan kejantanan Awan.


"Tenang lah, Sayang. Tubuhmu lebih indah dari pada si Maya itu." seringai licik terbit dari wajah Awan. Ia belum menyerah untuk menyelusup menciumi jenjang leher Bulan yang cukup sulit di dapatnya.


Angkasa didera resah akan keselamatan istrinya pun segera berlari menuju toilet dan benar saja Ia melihat Bulan tengah berusaha dilec*hkan oleh Awan.


"Brengsek, siapa dia!" Angkasa tak bisa menahan diri dan langsung menerjang pinggang Awan hingga terlempar cukup jauh dari tubuh Bulan.


"Sayang, aku takut!" Bulan segera memeluk Angkasa dan menyembunyikan wajahnya.


Awan frustasi, Ia bangkit dan ingin menghajar Angkasa tapi kaki nya lebih dulu menendang lagi perut Awan sampai Ia terengah-engah sudah dipastikan Ia kesakitan.

__ADS_1


"Angkasa, kamu itu bodoh!" hina Awan. Ia ingin Angkasa terpancing akan ucapannya. "Ck, Buka matamu itu, dia bukan Sekar tapi dia itu wanita murahan, matre dan menghalalkan segala cara untuk mengelabuhi mu."


Angkasa menatap kecut. Tidak perduli apapun ucapan Awan karena menurutnya Awan hanya akan menjadi batu sandungan penghancur keluarganya.


"Shhhht, apa urusanmu? Dari awal aku sudah tidak respek sama kamu. Jangan-jangan kamu sangat terobsesinya ya dengan istriku? Memalukan!" Tuduh Angkasa.


"Hahaha...." Awan tertawa licik sambil berdiri memegangi perutnya.


"Dasar gila, kamu itu sudah depresi akut Angkasa, mana mungkin bisa sembuh dari penyakitmu itu," kekeh Awan lagi.


Angkasa mengabaikannya dan memeriksa kondisi Bulan untuk memastikan apakah ada luka sedikit saja ditubuhnya.


"Apa dia menyakiti mu, Sayang? Dia menyentuhmu tidak? biar ku patahkan tulang belulangnya sekalian?" tanya Angkasa. Menyibak baju penopang dadanya yang sudah putus dari tempatnya.


Bulan menggeleng. "Tapi dia hampir mencium ku, Sayang!" rengek Bulan kesal. Berkali-kali mengusap air matanya yang tidak mau berhenti menerobos keluar.


Angkasa mengusap pipinya dengan lembut, lalu melangkah mendekati Awan yang masih belum juga mau pergi.


"Siapa yang menebar api maka dia juga yang yang harus memadamkannya!" jengah Angkasa, diayunkannya pukulan telak tepat di dagu Awan hingga ada sedikit darah keluar dari mulutnya.


"Pergi dari sini, sebelum kondisimu semakin parah!" Kecam Angkasa.


"Sayang, aku takut!" Bulan memeluk erat punggung Angkasa disertai isakan yang belum juga mereda.


Angkasa berbalik dan memeluk Bulan dalam dadanya. "Tidak apa-apa dia sudah pergi."


"Tapi bagaimana kalau dia balik lagi?" Bulan mendongak kan kepalanya pada sang suami.


Angkasa terdiam, benar yang dikatakan Bulan. Bisa jadi Awan akan datang lagi merusak kebahagiaan mereka.


Angkasa mengembang senyum, Bulan tidak boleh tau jika sebenarnya Ia juga khawatir.


"Ya sudah, lupakan saja. Kan ada aku yang melindungi kamu. Kita pulang ya, sudah malam!" Ajak Angkasa. Dia adalah pengayom yang mampu membuat Bulan merasa aman.


"He'em, aku juga takut lama-lama disini."


Angkasa yang melihat baju Bulan koyak, tidak ingin mengundang opini buruk orang yang melihatnya pun memutuskan menggendongnya. Untung saja yang putus bagian sebelah kiri jadi tertutup olah dadanya.

__ADS_1


"Lo, Pak Angkasa. Bu Sekar kenapa?" tanya Bu Rina panik.


"Iya, Pak. Sampek berantakan gitu," desis Bu Ranti.


"Oh, ini. Dia habis terpeleset Pak, Bu. Saya minta maaf ya tidak bisa mengikuti acara ini sampai selesai. Sebab saya harus membawa Istri saya pulang," ujar Angkasa, berpamitan.


"It's oke, Pak. Yang penting Bu Sekar baik-baik saja," timpal Pak Baroto.


"Maaf, sekali lagi!" Sedikit banyaknya Angkasa tidak enak hati pada Pak Baroto yang sudah sudi mengundangnya hadir di perjamuan makan malam berharganya.


Angkasa membawa Bulan keluar, dan dari kejauhan Maya hanya bisa memandangi sahabatnya diam-diam. Ia sangat menyesal setelah tahu jik ternyata Awan adalah lelaki Playboy yang sudah sering meniduri perempuan.


(Maafin aku Bulan, aku menyesal telah melukai mu dan sekarang kau pun pura-pura tidak mengenal aku. Mungkin ini dosa yang harus aku tanggung)


Angkasa mendudukkan istri nya disamping pengemudi, sebelum Ia juga masuk dan memasangkan sabuk pengaman. Sesekali masih terdengar isak tangisnya yang menyedihkan pendengaran Angkasa.


"Sudah, Sayang. Yang pentingkan dia tidak melakukan apa pun padamu." Angkasa menghiburnya dengan mengusap pelan kepala Bulan.


"Iya, Sayang. Tapi mengingat itu tadi. Aku takut, jijik dan serem."


Angkasa hanya tersenyum dan menyalakan mobilnya agar segera sampai dirumah.


Suasana rumahnya masih sangat gelap, tidak ada lampu yang menyala karena mereka pergi sebelum maghrib.


"Sayang, gelap!" Bulan begidik ngeri.


"Gak papa, ayo turun!" Angkasa tetao menyalakan mesin mobilnya agar lampu kendaraan tersebut tetap menyala sampai Ia berhasil membuka pintu dan menghidupkan lampu didepan rumah.


"Tu udah terang, ya udah tunggu sini. Aku matiin mobilnya dulu ya!"


Bulan mengangguk dan mengamati kegiatan suaminya sampai berkeringat. Wajah tampan Angkasa selalu membuai nalurinya sebagai seorang perempuan. Bukan terlihat jelek, keringat yang berkilauan ditubuh Angkasa justru menambah daya tarik tersendiri.


Padahal malam itu suasana nampak sunyi, angin bertiup lumayan kencang. Namun rasanya sangat gerah dan panas.


"Ayo kita masuk!" Angkasa terus merangkul Bulan sampai mereka masuk kedalam kamar.


Baru membuka pintu saja, Bulan iseng mencium pipi Angkasa dan berlari menjauh.

__ADS_1


"Hey, berani ya. Awas saja nanti!" ancam Angkasa.


__ADS_2