
Bulan berusaha tegar, Ia tidak ingin menunjukkan betapa lemah dirinya sekarang. Keduanya segera masuk dan disambut suka cita oleh Fatan.
"Kakak, aku sudah menunggu dari tadi!" kicau Fatan. Wajah itu begitu bahagia. Tidak ada sedikit pun tergambar perasaan sedih disana.
"Kakak juga, Sayang." Bulan memeluk Fatan dengan erat. Ingin sekali Ia tidak menangis, tapi Air matanya tak mampu untuk Ia bendung.
"Kak, Fatan mau pulang. Bosan lama ada disini, Kak. Fatan ingin terus bersama Kakak," mohon nya, menggoyang-goyangkan lengan Bulan.
Bulan terenyuh, Ia juga inginkan hal yang sama. Tapi keadaan Fatan tidak memungkinkan untuk sekarang ini.
"Iya, Dek. Fatan sabar dulu ya, besok kan Fatan kemo lagi. Nanti, setelah Fatan semakin sehat baru deh kita pulang. Terus kita main bareng, ya," ujarnya memberi pengertian.
Raut wajah Fatan seketika berubah. Ia sedih karena keinginannya untuk pulang belum juga terkabul.
"Berapa lama, Kak?" Fatan memastikan.
"Em... berapa ya?" Bulan pura-pura berpikir. "Dua hari lah palingan." Menunjukkan jarinya.
"Baiklah, Fatan akan menunggu, Kak," jawab Fatan Lesu. "Ini siapa, Kak?" Melirik pada Bu Widya.
Bu Widya mengulurkan tangan. "Oh iya, kenalin saya Tante Widya."
"Salim sama Tante!" titah Bulan penuh kasih. Fatan menurut dan menyambut tangan Bu Widya lalu menciumnya penuh takzim.
"Fatan cepet sehat ya, kelihatannya Fatan anak yang tangguh," tukas Bu Widya.
"Iya, Tante. Fatan juga juara sekolah lo," jawab Bulan.
"Iya, tapi sudah dua minggu lebih Fatan gak berangkat," sahut Fatan murung.
"Gak papa, nanti kalau sudah sembuh kan? Fatan bisa sekolah lagi." Bu Widya merangkul tubuh ringkih anak tersebut.
"Iya, Tante. Makasih doanya." Tetap saja Ia tidak bisa menutupi kesedihan hatinya. Anak seusia Fatan harusnya masih sibuk belajar dan bermain tapi justru Ia harus menderita di rumah sakit.
"Baiklah kalau begitu, Tante pamit dulu ya. Tante ada urusan sebentar!" Bu Widya mengusap-usap rambut Fatan.
Namun mereka saling tatap, saat rambut tersebut menempel cukup banyak di tangan Bu Widya. "Oh iya, Tante punya obat penyubur rambut, nanti Tante kasih buat Fatan ya," katanya beralasan.
"Makasih, Tante. Rambut Fatan sekarang mudah rontok ya, mungkin karena Fatan jarang keramas, hehehe...." Ketawanya begitu renyah semakin mengiris perasaan Bulan.
Kedua orang itu mengangguk penuh haru dan berharap masa itu bisa segera di lewati. Bu Widya tidak sanggup berlama-lama, kejadian serupa juga pernah dialami Sekar dan itu sangat menyakiti perasaannya.
"Bulan, Ibu pergi dulu!" Bu Widya meninggalkan mereka sambil meneteskan air matanya yang sejak tadi tertahan.
"Dia baik ya, Kak?" kata Fatan.
Bulan mengangguk dan kembali memeluk Fatan. "O ya, Maaf ya Dek. Kakak juga harus bekerja supaya dapet uang," bohong Bulan.
"Iya, Kak. Cari yang banyak ya, supaya Fatan bisa cepat pulang," jawab Fatan polos.
"Tentu saja, Kakak gak sabar nunggu momen itu tiba."
Puas memeluk dan mencium Fatan, Bulan yan melihat hari makin siang kembali kerumah, dan segera memasak makanan kesukaan Angkasa.
__ADS_1
Tidak ada orang, sepertinya Pak Dewok dan Bu Arumi sedang keluar.
Cukup cepat memasak, Bulan menyiapkan rantang kembang-kembang yang Bu Widya maksud. Untung Bu Arumi memiliki rantang serupa dengan milik Sekar.
...๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ...
Dikantor, Angkasa baru saja selesai rapat bersama dua koleganya dari luar negeri. Itu artinya pesta untuk ULTAH Sekar benar-benar terealisasi. Mereka saling berjabat tangan setelah menanda tangani Perjanjian kontrak kerja sama.
"Terima kasih, anda sudah mau bekerja sama dengan perusahaan tembakau kami," ujar Pak Karden.
"Sama-sama, Pak. Saya lah yang beruntung mendapat kolega seperti Bapak," jawab Angkasa.
"Iya, ya, hari sudah siang. Kalau begitu kami permisi dulu ya!"
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih. "
"Oke, santai saja."
Angkasa benar-benar merasa girang, akhirnya semua berjalan sesuai harapan.
"Yes, tunggu aku Sekar. Pesta itu akan sangat meriah untukmu," gumam Angkasa.
"Selamat ya, Bos. Anda luar biasa," kata Bayu, yang juga ikut merasakan atmosfernya.
"Itu karena kau bisa ku andalkan, Bay. Ayo keluar, aku tidak sabar menunggu istriku datang," ujar Angkasa mengundang tatapan aneh pada diri Bayu.
Apa Bos Angkasa sudah sinting ya? bukannya Bu Sekar sudah meninggal?
Angkasa memukul pundaknya.
"Ayo, ngelamun aja kerjanya!" cibir Angkasa.
"Oh... Oke, Bos."
Bayu tak berhenti berpikir buruk, diam-diam melirik Angkasa yang sejak tadi senyum-senyum sendiri.
Tu kan, gila beneran. Wah, hati-hati ni, takut ikutan kesambet entar. Bayu menjaga jarak.
Angkasa rupanya menyadari itu. "Hey, kenapa jauh-jauh? Sini aku punya tugas untuk mu!" sergah Angkasa.
Aduh, malah disuruh mendekat lagi. Habislah aku dicekik nya nanti...
"Ke_ kenapa, Bos?" Bayu merapat.
"Tolong belikan aku satu ikat bunga mawar sekarang juga, Ini Uangnya." Angkasa menyerahkan satu lembar uang merah.
"Pa_ pacar Bos mau datang?" niatnya mencari tahu.
"Pacar! pacar! Palamu peyang. Apa kau tidak dengar kataku tadi, sekarang bukan lagi pacar tapi Istri," rutuk Angkasa. Marah disertai lototan lucu.
"I_ iya, Bos. Saya pergi dulu."
Bayu berlari kecil menjauhi Angkasa. Ia takut jika Bos nya itu sudah gila level tinggi.
__ADS_1
Yang dimaksud Bos Angkasa itu Bu Sekar bukan ya? perasaan dia belum menikah lagi deh. Kenapa Pak Dewok gak bawak Bos Angkasa ke Psikiater aja sih? takutnya nyelakain orang entar.
Dalam langkahnya menuju Lobby, Bayu tertegun kaku saat melihat seorang perempuan mirip Sekar turun dari Taksi. Kaki bergetar hebat sedang keningnya langsung berkeringat dingin.
"I_ itu jelmaan ya? jangan-jangan_ Bu Sekar marah ni sama aku gara-gara ngatain Bos."
Tit...
Seorang pegawai Perempuan yang sejak tadi memanggil namanya geram dan mencubit dadanya.
"Aduh, Siska. Sakit tauk!" pekiknya meringis kesakitan.
"Habis Pak Bayu tuli, dipanggilin dari tadi diam aja kayak orang kesambet," omel Siska.
"Ta_ tadi aku lihat_ ." Tunjuknya kearah yang dimaksud akan tetapi perempuan tersebut sudah tidak ada.
"Siapa sih, Pak?" Siska memeriksa sekitaran tidak melihat siapapun yang membuatnya merasa aneh. "Pak Bayu sakit ya?" sindir Siska.
"Ihk, apaan sih, enak saja? Ya sudahlah aku pergi dulu." Bulu kuduk Bayu seakan berdiri. Sesekali menoleh ketempat dimana Sekar telah menghilang. "Hi...." Bayu begidik ngeri.
Bulan sudah memasuki bagian dalam kantor, Ia bertemu dengan banyak orang tapi sepertinya semua orang mengacuhkan kehadirannya disana.
"Wah... kantor nya besar juga ternyata." Bulan menyisir setiap lorong. Ia mengagumi keindahan setiap sendi ruangan yang dilalui nya.
"Oh iya, kantor Angkasa dimana sih? aku tanya dulu deh?" Bulan mencari seseorang yang bisa dimintai jawaban.
"Permisi, Bu. Selamat siang?"
"Selamat siang," jawab Sekertaris itu judes, dia sibuk mengetik-ngetik sesuatu di depan laptop.
"Ruangan Pak Angkasa dimana ya?" tanyanya sopan.
"Itu lurus saja belok ke kiri," jawabnya asal lagi-lagi tidak menoleh.
"Makasih, Bu." Meski tidak suka cara penyambutannya Bulan mengabaikan perempuan itu. Tujuan utamanya adalah menemui sang suami.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" jawab dari dalam.
Bulan mendorong kenop pintu dan melihat Angkasa sibuk membaca laporan.
Hem, apa semua orang sesibuk itu hingga tak sempat menoleh sebentar saja
Bulan meletakan rantang nasi dimeja dan menghampiri Angkasa.
Cup!
Satu kecupan mendarat. "Sibuk banget ya?"
...๐ป๐ป๐ป๐ป...
Jangan Lupa like, komen dan vote nya ya. Terima kasih sudah mendukung๐๐๐
__ADS_1