
"Sa_ Sayang?" Bulan berkaca-kaca. Ia masih belum juga memahami maksud dari Angkasa atau malah sudah tahu, tapi berusaha menyangkal.
"Kenapa? kamu terkejut, dengan kata-kataku, Pembohong?" ucapnya lagi, memperjelas kalimat yang yang sudah di ucapkan nya.
Bulan menundukkan kepala, tapi Angkasa secara kasar menarik pergelangan tangannya dan kejadian itu di lihat langsung oleh Bu Arumi dan semua orang yang ada disana.
"Ayah, apa yang terjadi dengan mereka, Yah?" Bu Arumi terlihat khawatir. Angkasa sepertinya sangat marah besar.
Lebih baik kita pulang, Bu!" Ajak Pak Dewok. Sejujurnya kekhawatiran lebih besar ketimbang Bu Arumi. Dokter Lintang dan yang lain sama bingungnya.
"Pelangi, tolong bawa Fatan bersama mu. Kami terburu-buru!" pamit Bu Arumi, sebelum mereka pergi.
"Iya, Bu. Fatan aman bersamaku." Tidak diminta pun, Pelangi pasti akan menjaga adik kandungnya sendiri.
Dengan ugal-ugalan, Angkasa mengemudi mobil. Kali ini Ia tidak mampu menahan diri lagi untuk meminta kejujuran langsung dari Bulan.
"Sa_ Sayang, tolong pelan kan mobilmu. Perutku sangat mual!" ucap Bulan ketakutan.
Angkasa tidak memperdulikan apa pun hingga Ia tiba di pelataran rumah, berbarengan dengan datangnya Bu Widya yang turun dari Taksi.
Bu Widya sangat heran, saat melihat Angkasa lagi-lagi menarik paksa tangan Bulan.
"Angkasa sakit, tolong lepaskan tanganmu!" melas Bulan lagi, berulang kali juga permohonan itu tidak ditanggapi.
Setelah sampai di dalam, Pemuda tersebut melepaskan tangan Bulan dengan kasar hingga Bulan hampir jatuh menabrak sofa.
"Aw...!" Bulan meringis. Ia menatap takut pada bola mata Angkasa yang tajam dan memerah.
"A_ apa salahku?" tanya Bulan. Untuk sekedar mencari tahu semua yang membuat Angkasa berubah.
Pemuda itu mendekat, lalu menekan kedua sudut bibir Bulan dengan kuat hingga Bulan merintih.
"Katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?"
Deg!
Bulan tersentak. Matanya bergerak kekiri dan kekanan. Tidak percaya jika Angkasa sudah mengetahui kebohongannya. Bulan hanya bisa menangis, bibirnya bergetar. Tidak tahu harus menjawab apa, karena mengelak pun pasti tidak berguna.
__ADS_1
"Ayo cepat, jawab! Apa tujuanmu menipuku?" Sentak Angkasa lagi kian memanas, diamnya Bulan menambah amarahnya meluap , bahkan suaranya semakin meninggi. Disertai tatapan serupa dari sebelumnya.
Bulan masih diam, sedangkan Bu Widya sudah banjir air mata mengamati mereka. Begitu juga dengan Pak Dewok dan Bu Arumi yang baru sampai, tercengang dengan kekasaran Angkasa pada Bulan.
Angkasa menghempaskan tangannya dari wajah Bulan lalu duduk di atas meja dengan tatapan seolah tengah menghakimi seorang terdakwa.
Bulan pasrah, Ia tidak berani menjawab sepatah katapun bahkan menatap Angkasa pun tak sanggup. Tatapannya kosong, sedang air matanya terus berderai.
"Aku yang bodoh. Bisa-bisanya aku tidak mengenali siapa kamu sebenarnya?" Kali ini suaranya lirih, namun menyayat. Bulan dapat merasakan kesakitan Angkasa saat ini.
"Ma_ maaf," tukas Bulan.
Angkasa menatapnya lagi dan tersenyum getir.
"Menyedihkan, bisa-bisanya aku hidup dengan perempuan yang tidak terikat denganku. Apa salahku, ha? kenapa kamu datang di saat pikiranku sedang kacau?"
"Aku juga tidak tahu, Angkasa," jawabnya bingung bercampur takut.
"Hahaha..., itu lagi." Angkasa tiba-tiba tertawa lepas. Terlihat biasa saja tapi hatinya hancur.
Beberapa lama kemudian, Lintang dan Pelangi masuk. Sedangkan Kiara dan Fatan diminta menunggu diluar.
Pak Dewok tidak menjawab, Ia harus membantu Bulan dari amukan Angkasa.
"Benar kamu kesini demi uang?" Angkasa menodongnya lagi dengan tatapan kesungguhan.
Bulan menggeleng, dan jawaban itu membuat Angkasa murka.
Brak!
Angkasa bangkit dan menggebrak meja.
"Sial, jadi kamu masih berusaha mengelak? O ya, jika yag kamu harapkan adalah cintaku. Jangan harap aku mencintai kamu seperti aku mencintai istriku?"
"Angkasa!" Sentak Pak Dewok. "Apa yang kau katakan itu, tidak sepantasnya keluar dari mulutmu."
Angkasa dan Bulan yang masih duduk di lantai dekat sofa menoleh.
__ADS_1
"Wah, jadi Ayah juga tahu juga hal ini?" cecar Angkasa. Pembelaan Pak Dewok meyakinkan dia jika dugaannya tentang Bulan memang lah benar.
"Nak, apa yang membuatmu seperti ini pada Sekar, Nak?" Pak Dewok menghaluskan nada bicaranya.
"Banyak, Ayah," jawab Angkasa lantang. "Aku sudah tahu jika istriku sudah meninggal."
Pernyataan itu membuat semuanya membelalakan mata. Terutama Bulan dan Pak Dewok.
"Lalu siapa perempuan itu, Ayah?" Angkasa menunjuk dengan tegas kearah Bulan. Ia yang melihat wajah penipu didepannya kembali menarik Bulan bangun dari tempatnya.
"Ayo jawab, siapa kamu sebenarnya penipu. Kamu memanfaatkan kelemahan ku saat aku hampir gila?"
Suaranya Angkasa yang menggelegar membuat Bulan serasa lemas.
"A_ aku?"
Belum selesai berbicara, Pak Dewo memotong ucapan Bulan. Ia berharap. Angkasa tidak memperlakukan Bulan seperti itu.
"Nak, tolong tahan emosimu. Kamu pasti salah paham, iyakan Bu?" Pak Dewok beralih menatap Bu Arumi.
Angkasa melepaskan tangis yang membelenggu hatinya. Ia marah, kecewa tapi juga sedih menerima kenyataan tersebut.
"Tidak, Ayah. Aku sangat mengenal istriku dengan baik. Tapi semua itu tidak ada padanya!" Angkasa kembali mengingatkan perbedaan-perbedaan Sekar dan Bulan.
"Pertama, Sekar tidak pernah alergi siput, Ayah. Sedang dia mengalami itu. Kedua, Sekar tidak pernah menyukai susu tapi dia meminumnya dengan lahap."
Bulan mendongakkan kepala, Ia teringat lagi kejadian-kejadian itu. Ia memang tidak tahu kehidupan Sekar sebelumnya sehingga membuat Ia menjadi asal-asalan. Namun, tidak disangka. Angkasa rupanya menela'ah setiap tindakannya.
"Ketiga, Sekar tidak pernah lupa hari-hari penting yang kami lalui, dan dia selalu mengingatkan aku untuk itu ketika aku lupa dan Dia tidak tahu apa-apa. Sekar juga suka berhias diri dan dia. Heh, dia tidak memiliki kesukaan itu." Angkasa menyeringai lagi kearah Bulan, dan gadis itu hanya mampu menundukkan wajah karena malu. "Terakhir, setiap senin. Sekar rutin mengirimi aku makan siang tanpa pernah sekali pun terlewatkan," ungkapnya panjang lebar.
Pak Dewok, Bu Arumi dan Bu Widya kehabisan kata-kata. Rupanya mereka sendiri tidak banyak tahu masa pacaran Angkasa dan Sekar.
"O ya satu lagi, bagaimana mungkin aku menutup mata Ayah, jika Sekar teledor menghilangkan cincin pernikahan kami padahal dia tidak tahu seperti apa cincin pernikahan yang dipakai Sekar. Anehnya lagi, kenapa semua orang memanggilnya dengan sebutan Bulan, bisakah kalian menjelaskan soal itu?"
Angkasa mengamati mereka satu persatu, menunggu salah seorang diantara mereka bisa memberi tahunya.
"Sudah jelas karena dia bukan Sekar," timpal Putra dari balik pintu. Sosok itu yang selalu enggan melihat kehadiran Bulan di samping Angkasa.
__ADS_1
"Sekarang kamu menyadari semuanya kan, Angkasa? Setelah kamu membuka kedoknya, kalian sudah melakukan hubungan terlarang. Bagaimana kalau dia hamil lalu menuntut harta atas anaknya, sudah pasti perempuan seperti dia hanya ingin numpang hidup enak dirumah mu dengan alasan kamu sudah menghamilinya ," sambung Putra lagi.