
Malam itu cuaca begitu mendukung. Sepertinya musim hujan akan segera berakhir berganti dengan musik kemarau. Jadi udara terasa sangat dingin ketika menerpa kulit.
Namun semua tamu yang mulai berdatangan rupanya tidak merasakan itu akibat euforia pesta lanjutan kedua, karena pasangan pengantin sudah menikah di Malaysia beberapa hari yang lalu.
Keluarga Lintang terlihat turun dari mobil mereka berbarengan dengan mobil Angkasa dan Pak Dewok yang baru saja menepi.
Angkasa sangat berbinar ketika melihatnya, Ia segera keluar untuk menyapa Dokter Lintang secepatnya. Apa lagi saat melihat ada perempuan dengan Dokter Lintang. Ia tak perlu lagi merasa takut jika Dokter muda itu menyukai istrinya.
"Hai, Dok. Dapat undangan juga rupanya?"
Bulan yang mengikuti Angkasa agak kikuk bertemu Dokter tersebut memilih menundukkan kepala, sebab Ia malu akan permohonan yang gagal total kala itu.
"Hai, juga Angkasa. Kalian datang sekeluarga ya?" Tatapan Lintang tertuju pada beberapa orang yang baru turun di belakang mereka.
Pelangi sendiri baru sadar jika yang datang bersama Angkasa adalah Bulan saat dia melihat Fatan.
"Fatan...!" teriak Pelangi serta merta terlukis guratan bahagia diwajahnya. Bulan yang sejak tadi menundukkan kepala langsung mendongak.
"Siapa Tante cantik?" tanya Kiara penasaran, Ia ikut menatap kearah bocah lelaki didepannya.
"Adik, Tante. Kiara," jawab Pelangi buru-buru.
"Kak Pelangi?" Fatan yang terkejut pun berlari kecil kearah saudara perempuannya itu dan langsung memeluknya. Sudah hampir lima bulan berlalu, mereka terpisah gara-gara orang tua mereka yang bercerai.
"Iya, Dek. Kakak kangen, o ya kamu sudah sehatkan? mana yang sakit, dek? Nanti Kakak obatin ya? kakak dengar kata Ibu kamu sakit-sakitan?"
"Ih, Kak Pelangi. Tanyanya satu-satu dong. Aku kan bingung mau jawab apa?" Kata Fatan manyun.
"Iya, kamu gak usah jawab. Apa Kak Bulan menjagamu dengan baik?" pertanyaan itu sontak mengundang tatapan aneh di antara mereka, terutama wajah Bulan dan Angkasa.
"Tenang saja, Kak. Aku punya orang tua baru sekarang. Ayah Dewok dan Bu Arumi sangat sayang sama aku ketimbang orang tua kita," ucapnya senang sekaligus terbersit kalimat menyedihkan.
"Oh, jadi ini saudara Fatan?" Pak Dewok mengalihkan topik pembicaraan.
"Maksud Bapak apa ya?" tanya Pelangi bingung.
"Iya, menantu kami Sekar menemukan Fatan. Dialah yang merawat Fatan seperti adiknya," jawab Pak Dewok asal, itu semua Ia lakukan agar tidak menimbulkan kecurigaan Angkasa.
__ADS_1
"Apa? jadi namanya Sekar?" tanya Pelangi lagi, menoleh dan memperhatikan seksama wajah Bulan.
Angkasa yang memperhatikan tatapan Pelangi seolah menodong Bulan jadi tidak menyukainya.
"Dia istrimu, Dok?" tanya Angkasa pada Dokter Lintang. "Tolong beritahu dia, aku tidak menyukai caranya yang terus-terusan memanggil istriku Bulan. Dia ini Sekar, jadi saya mohon jangan merubah nama istri saya seenaknya," ucap Angkasa, tegas.
"Oh... Maaf, tenang Angkasa." Dokter Lintang berusaha menengahi. "Mungkin wajah istrimu mirip wanita yang disebut Pelangi tadi makanya dia salah melihat."
"Tidak, Dok," sangkal Pelangi. Gadis itu mendekati Bulan dan yakin jika yang dilihatnya tidaklah salah. "Dia memang Bulan saudara tiri saya," ucapnya sekali lagi, dengan lantang.
Pak Dewok dan Bulan nampak gugup, bisa jadi hari itu semua akan segera terbongkar.
"Kak, Pelangi. Ayo masuk!" Fatan menggeret Pelangi, Ia bermaksud menjauhkannya dari tempat itu.
"Tante Cantik, Kiara ikut!" teriak bocah tersebut sambil menyusul dan tidak sengaja malah menabrak Dinda.
"Aduh, maaf Tante," ucap Kiara polos. Dinda yang memang tidak menyukai anak kecil langsung mengomel.
"Aduh, Dek. Hati-hati dong. Tante buru-buru ni. Liat lipstik nya jadi berantakan, bikin senewen aja kerjanya !" Memang saat itu Dinda sedang bercermin dan memakai lipstik sembari berjalan. Sebab Ia baru saja selesai hang out bersama teman-temannya di kaffe jadi tidak sempat untuk bersolek sebentar saja.
"Dinda!" ucapnya menghampiri. Lagi-lagi Angkasa dan yang lainnya tersentak saat mengetahui jika Dokter tersebut mengenal Dinda.
"Lintang, kamu disini? ini lo, anak kecil ngawur banget main nabrak aja," ucapnya beralasan sembari tersenyum dibuat-buat agar terlihat manis di depan Lintang.
Dokter Lintang hanya menatap tajam kearah Dinda lalu menarik tubuh Kiara menjauh.
"Sini, Sayang! Buat apa kamu mendekati perempuan berhati galak seperti Tante ini!" Ucap Lintang, memberi pengertian.
"Maaf ya, Pa. Kiara gak sengaja nabrak Tante itu tadi." Gadis itu sedih sebab Dinda tak meresponnya sama sekali.
"Pa?" sentak Dinda, Ia mengerjap-ngerjapkan bola matanya berkali-kali. Angkasa yang mendengarnya terheran-heran. Seingatnya, Dokter Lintang pernah mengatakan jika gadis kecil itu adalah keponakannya. Tapi hari ini, Ia menemukan bukti lain.
Dokter Lintang menggendong Kiara, Ia tidak akan rela jika Dinda berani menyentuhnya.
"Lupakan masa lalu, Dinda. Aku sendiri mampu membesarkan dia seorang diri!"
Perkataan Dokter Lintang menyesakkan dada Dinda yang baru menyadari jika bocah yang sudah dimarahinya itu adalah Putrinya.
__ADS_1
"Lintang, jadi dia adalah putriku?" Dinda memastikan.
"Bukan?" sanggah Dokter Lintang. Wanita yang melahirkan Kiara sudah ku anggap mati. Kini hukum karma berlaku, Lintang yang dulunya sangat sakit hati dengan Dinda sepertinya tidak akan memaafkan dirinya lagi.
"Lintang, aku mohon. Ijinkan aku menggendong dia sebentar saja, aku kangen sama Kiara!" Dinda merendahkan dirinya bersimpuh dihadapan Lintang.
Karena belum puas melihat kenyataan tersebut, Angkasa memutuskan untuk bertanya langsung dengan keduanya.
"Jadi, Dokter Lintang adalah mantan suami mu, Dinda? dan Bocah ini anak kalian?" tunjuk Angkasa pada Kiara.
"Apa Om, anak?" tanya Kiara balik. "Itu artinya dia adalah Mamanya Kiara dong, Pa?"
"Iya, Nak. Ini Mama, Sayang. Mama kangen banget sama kamu." Dinda menangis menyesali perbuatannya. Dengan memarahi Kiara bertambah sulit lah jalannya meminta maaf.
"Pa, turunin Kiara, aku mau meluk Mama." Gadis kecil itu tidak tega melihat Dinda masih berlutut di tempatnya.
"Aku mohon, Mas. Maafkan kesalahan aku?"
Dokter Lintang tidak perduli, Ia malah melengos menjauhi Dinda dan yang lainnya.
"Papa, tolong izinin Kiara ketemu Mama." Masih terdengar jelas permintaan Kiara pada Dokter Lintang. Tapi sayang Dokter Lintang enggan menimpali.
Bu Arumi yang iba, membatu Dinda berdiri. Ia membenahi make_ up Dinda dengan sapu tangannya dan mengajak mereka masuk.
"Ayo kita masuk, kita bahas lagi ini lain waktu, tidak enak kan dengan yang punya hajat?" ujar Bu Arumi.
Mereka tidak membantah sama sekali sebab apa yang dikatakan Bu Arumi bener adanya. Jika sekarang bukanlah waktu yang pas untuk membahas permasalahan keluarga, apa lagi sifatnya sangat sensitif.
Sampai didalam mereka disambut hangat pemilik acara, bahkan tamu yang hadir di minta untuk segera makan lebih dulu.
"Sayang, ikut Ibu saja dulu aku mau menyapa Pak Gustara sebentar ya!" titah Angkasa.
Bulan mengangguk, Ia berjalan kearah Perasmanan seorang diri di ikuti Pelangi dan Fatan.
"Kak Sekar, makan yang banyak ya!" ujar Fatan pada Bulan dan untuk kesekian kalinya Pelangi menoleh kearahnya.
Bulan hanya menimpali dengan tersenyum. Ia sudah mengambil piring dan sendok untuk memilih makanan mana yang akan Ia ambil. Tapi anehnya, Bulan yang melihat ada banyak telur disana langsung merasakan mual yang luar biasa.
__ADS_1