Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 48 Perhatian


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Angkasa dan Bulan melintasi banyak gedung-gedung menjulang tinggi. Mereka juga harus terjebak dalam kemacetan lalu lintas.


Tawa keduanya tak pernah pudar meskipun Bulan masih belum sepenuhnya sehat dari benturan di kepalanya.


Namun karena hatinya bahagia, Bulan melupakan semuanya. Ia menikmati angin alami yang menerpa masuk kemobil mereka. Wajah cerita tergambar jelas diwajahnya.


Dia sebenarnya tidak sabar menunggu Angkasa mengajarinya mempraktekan cara membuat anak dengannya nanti dan itu adalah suatu yang indah.


Angkasa yang mengamati mimik wajah Bulan hanya tersenyum, tapi tidak bisa melupakan ucapan Dokter Lintang tentang kemandulan Bulan.


Apa benar, Sekar hampir menghancurkan hatiku berpura-pura berselingkuh hanya karena MANDUL? Tapi kenapa dia tidak jujur saja. Padahal aku rela kok jika memang itu kenyataannya. Mana mungkin aku menikah lagi sedang yang kucintai hanya dirinya saja....


"Sayang..., aku mau itu!" tunjuk Bulan pada tukang bubur kacang ijo.


"Bubur?" tanya Angkasa meyakinkan.


"Iya, aku mau itu."


"Tunggu sebentar ya, kita tepi kan dulu mobilnya!" Angkasa memarkirkan mobilnya dan segera keluar untuk memesan permintaan Bulan.


"Dua bungkus, Pak," ujarnya.


"Baik, Mas." Pedagang itu segera menyiapkan pesanan dengan cepat. "Ini, Mas."


"Berapa, Pak?"


"Dua puluh ribu."


Angkasa menyerahkan lembaran uang lima puluhan pada penjual bubur.


"Ambil aja Pak sisanya, semoga bermanfaat."


"Beneran, Mas." Penjual itu begitu bahagia.


"Iya, Pak sama-sama."


"Alhamdulilah, rezeki tak kemana!" seru penjual tersebut penuh rasa syukur.


Angkasa tersentuh melihat kebahagian Bapak itu, Ia pun kembali menjumpai istrinya.


"Ini, Sayang. Mau makan disini apa dirumah?" tanya Angkasa.


"Disini aja, kayaknya lebih asyik," jawab Bulan senang.


'Baiklah, sini aku bukain." Angkasa mengambil kotak bubur itu dan seperti biasa akan menyuapi Bulan dengan telaten.


"A... ayo buka mulutnya." Bulan menurut dan melahapnya.


"Gimana, enak gak?"


"He'emz... enak banget. Makasih ya, Sayang," ucap Bulan bahagia.


"Sama-sama, Sayang. Kamu itu hidupnya aku. Sebagai suami aku adalah pelindung untuk istrinya. Jadi jangan sampai kamu menyembunyikan sesuatu dari aku ya. Aku Sayang banget sama kamu!" Angkasa menatap Bulan dengan sorot kejujuran. Sungguh itu memang benar adanya.

__ADS_1


Bulan hanya tersipu lalu membuka kotak bubur yang satunya. "Kalau begitu izinkan aku menjalankan kewajiban seorang istri," ujarnya. Ia membalas suapan Angkasa.


"A.. ayo buka mulutmu, sekarang!" mohon nya. Menjulurkan sendok di depan Angkasa.


Baru saja mau melahap, Bulan malah membalikan sendok masuk kemulutnya. "Hahaha... ." Bulan tertawa terpingkal-pingkal berhasil menggoda Angkasa.


"Nakal ya, awas kamu." Angkasa meletakan bubur nya dan bergegas mencubiti pinggang Bulan.


"Aw, sakit Sayang. Ampun, aduh cukup, Sayang. Saya nyerah deh." Angkasa tidak perduli dan terus meluncurkan kegemasannya pada sang istri.


"Sayang, udah kepala ku pusing," melas Bulan lagi.


"AstaufiruLLahalazhim maaf Sayang aku bener-bener lupa, parah gak sakitnya?" wajah Angkasa terlihat sangat panik dan langsung memeluk tubuh Bulan.


"Is, lebay. Gak papa kok. Sedikit aja," cicitnya.


"Yakin?" Angkasa memegang kedua pipi Bulan dan segera memeriksa bagian kepalanya.


"Udah, gak papa. Aman kok." Bulan meyakinkan.


"Bener ni? aku takut kamu kenapa-napa, Sayang. Aku bisa mati jika terjadi sesuatu denganmu," ungkap Angkasa.


"Iya, kamu tenang aja. Aku belum mau mati sebelum punya anak yang banyak," goda Bulan lagi membuat Angkasa tak sampai hati.


Ia tidak mungkin berterus terang akan kemandulan Bulan jadi mana mungkin dia bisa melahirkan banyak anak.


(Aku harus mencari pengobatan alternatif, siapa tahu Allah berkenan memberi keturunan...)


"Kita pulang ya, jangan banyak pikiran. Yang penting kamu sehat dulu."


"Pak Dokter? siapa tu?"


"Kamu kan Pak Dokter hatiku," jawabnya cengengesan.


"Astaga, Sayang. Pinter banget ya ngegombalnya."


"Hehehe... biasa aja," celotehnya tanpa beban.


"Baiklah Tuan Putri kita pulang ya!"


"Oke, Pak Dokter."


Angkasa menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya membantai jalanan yang panjang dan berliku.


Tak sampai setengah jam, mobil mereka memasuki halaman rumah. Angkasa menuntun Bulan masuk kedalam rumah yang terlihat sangat berantakan.


"Sayang, mau tidur atau disini saja?" tanya Angkasa.


"Disini saja, aku mau nonton televisi."


Bulan mendaratkan bok_ngnya di sofa lalu menghidupkan siaran televisi romantis kesukaannya. Dimana film itu adalah film yang terkenal dengan aktor yang tampan dan aktrees yang cantik-cantik.


Berbarengan dengan memindai chanel, Bulan melihat ada adegan ciuman panas di sana. Angkasa yang tadinya membenahi taplak meja di depannya terpantik melihat Bulan senyum-senyum sendiri. Ia ikut penasaran dan melihat kearah layar televisi.

__ADS_1


Angkasa tergelak, rupanya Bulan tengah menikmati apa yang di lihatnya.


"Ehemz...." Angkasa berkesempatan membalas menggodanya.


Bulan hanya nyengir. Ia tertangkap basah oleh suaminya sendiri.


"Kamu mau merasakan hal seperti itu?" Angkasa menaikan kedua alisnya.


Bulan menundukkan wajahnya, Ia malu untuk mengakui pertanyaan Angkasa. Namun dia tidak bisa berbohong kalau hatinya memang menginginkannya.


Angkasa yang tahu pun segera duduk didekatnya dan membalikan tubuh Bulan ke hadapannya.


"Aku juga bisa," lirih nya, memasang wajah tampannya merapat kewajah Bulan. Tapi Bulan yang polos menarik wajahnya.


"Mau apa?" tanyanya sok bingung.


"Melakukan itu," jawab Angkasa. Menunjuk pada adegan di depannya.


"Kamu yakin?" tanya Bulan.


"Tentu saja."


Bulan memaksa Angkasa melihat lagi yang dia maksud. Seekor Indung sapi sedang menjil_ti bok_ng anaknya berulang-ulang hingga kotoran di sana tersapu bersih oleh lidahnya.


Angkasa terkekeh, membelalakan mata dan menggeleng kan kepalanya.


"Kau mengerjaiku ya?" seringai Angkasa.


Bulan tertawa lepas, menutupi mulutnya yang kesulitan untuk di kontrol.


"Hihihi... nikmat sekali ya!" ocehnya, tanpa sadar.


"Dasar, otak kotor. Aku jadi ilfil melihatnya," jengah Angkasa.


"Lakukan saja, itu seru, Sayang," tantang Bulan.


"Bersiap saja, tinggal menunggu waktunya," ucap Angkasa sembari melengos kearah dapur. Dia harus memasak sesuatu untuk makan malam mereka.


Angkasa membuka kulkas, hanya ada beberapa butir telur dan sosis.


"Aduh, udah lama gak belanja. Ternyata habis semua. Diapain ya enaknya?" Angkasa berpikir keras, dia sendiri tidak terlalu lihai urusan masak memasak.


Angkasa membuka ponselnya dan melihat apa yang bisa di lakukan nya dengan dua bahan tersebut.


"Hem, kayaknya enak ni."


Angkasa tidak melihat nama dari makanan itu, yang ada di otaknya adalah bisa memasaknya dengan benar.


Pertama-tama Ia menggoreng lima buah sosis lebih dulu beberapa menit kemudian menggoreng empat buah telur yang di hancurkan.


"Diapain lagi ya?" Angkasa mengikuti totorial yang ada di ponselnya. Yaitu menumbuk beberapa rempah-rempah seperti cabe, bawang merah, bawang putih dan memberinya sedikit garam.


Setelah bumbu di goreng, Ia memasukkan telur dan sosis yang sudah di potong miring menjadi satu.

__ADS_1


Jadilah, tumis Telur Sosis yang siap disantap.


"Sayang, makanan udah jadi!" seru Angkasa dari dapur, Ia seketika langsung terkesima melihat Bulan tengah tertidur di sofa.


__ADS_2