
"Gak ada, Sayang. Aku tidak pernah pacaran selain dengan kamu," jawab Angkasa jujur, walau hatinya belum juga merasa tenang dari kesalah pahamannya tadi.
"Sss... hhhh... Sayang!" Bulan tak bisa menahan diri dari sakit akibat sesuatu yang berhasil masuk kedalam miliknya.
"Maaf, Sayang. Aku sempat memikirkan sesuatu yang salah, aku akan pelan-pelan," kata Angkasa. Setelah meyakini Bulan memang masih benar-benar suci.
"Soal apa?" Bulan menatap lekat wajah Angkasa yang membuatnya menjadi gelisah dengan apa yang Ia maksud.
Angkasa tersenyum. "Kamu masih kesakitan?" tanya Angkasa lagi. Menyingkirkan anak rambut diwajah Bulan.
Bulan menggeleng. "Tapi Sedikit," jawab nya kemudian sembari nyengir menampakkan jejeran giginya yang rata.
"Dasar ya, awas kamu, menggemaskan banget sih!" Angkasa mencubit hidung Bulan. "kamu sangat cantik, Sayang." Rayuan dan pujian terus Angkasa semaikan ditelinga Bulan agar menambah keromantisan keduanya.
Gadis itu tertawa renyah tak kalah nafas Angkasa membuat geli telinganya.
"O ya, gimana kalau aku menikah lagi. Boleh gak?" Angkasa sangat suka melihat Bulan cemberut dan sengaja memancing nya agar Ia cemburu.
"Terserah, emang aku pikirin," jawab Bulan masak bodo'.
"Yakin, bagaimana kalau ini?" Angkasa melanjutkan lagi menggoyang lebih cepat dari sebelumnya.
"Lebih cepat lagi!" pekik Bulan tak sabar, sampai akhirnya keduanya mengeluarkan pelepasan mereka.
Hos.. hos..
Angkasa mendekat dan memeluk Bulan lagi dari belakang..
"Makasih, Sayang. Akhirnya aku bisa merasakan kenikmatan ini sama kamu," bisik Angkasa lirih dan itu membawa kebahagiaan tersendiri bagi seorang Bulan.
Ia hanya tersenyum lalu berbalik menatap wajah Angkasa yang semakin tampan dimatanya. "Aku juga bahagia kalau kamu bahagia."
"Tentu saja, tubuhmu menggodaku," desis Angkasa sedikit mengedipkan sebelah matanya menempelkan bibir mereka satu sama lain.
"He'm, aku mau membersihkan diri!" pamit Bulan. Tubuhnya terasa tidak nyaman.
Baru juga berdiri, Angkasa menahan lengannya.
__ADS_1
"Biar aku ikut." Angkasa turun lebih dulu kemudian menggendong tubuh istrinya kekamar mandi. Keduanya benar-benar hanyut dalam kubangan api Cinta yang mereka nikmati dengan penuh kebahagiaan.
Angkasa menurunkannya perlahan, berniat hendak mandi namun Angkasa yang tahu malam itu masih jam sebelas malam menahan lengannya.
"Mau apa?" tanyanya, melarang hal itu karena tidak ingin Bulan menggigil.
"Mau mandi," jawab Bulan lugu, menekan-nekan bibirnya mengundang bangkit lagi kepemilikan Angkasa.
Angkasa kembali merengkuhnya dan menenggelamkan lagi batang bertopi tersebut ke inti Bulan lewat belakang dan Bulan diminta sedikit menunduk. Hanya beberapa menit saja. Cairannya kembali tumpah.
Keduanya melanjutkan dengan membersihkan diri dan tidur dengan perasan puas.
...ππππ...
Tak terasa matahari mulai meninggi menyelungsung melalui celah-celah dedaunan yang tumbuh disekitar rumah. Mereka yang sudah bangun dan wangi terlihat tengah menikmati sarapan pagi.
"Sayang, hari ini aku mau kekantor, gimana kalau kamu ikut aja!" Mengingat kejadian semalam Angkasa khawatir akan keselamatan istrinya.
"Em... bukannya mau menolak, Sayang. Tapi aku mau beberes rumah saja ya. Cucian numpuk," ujarnya. Ia memohon pengertian Angkasa.
"Tapi kamu yakin sendirian dirumah?"
Angkasa tersenyum, Ia terkesima menikmati wajah Bulan yang terus memanjakan matanya. Ia juga baru sadar, jika Ia memang belum memberikan ponsel pribadi untuk menemani kesendirian istrinya.
Selesai sarapan Bulan mengantar Angkasa didepan teras, sebuah kecupan manis tidak akan pernah bisa dilupakan karena sudah menjadi kebiasaanya setiap berangkat kerja.
"Hati-hati ya dirumah!"
"Hati-hati juga, Sayang." Bulan melambaikan tangannya dan masuk untuk memulai kesibukannya sebagai perempuan.
...π»π»π»π»...
Sedang kan ditempat lain, Dokter Lintang yang berhasil mendapatkan ART baru pulang kerumahnya.
"Nah, ini rumah saya. Kamu harus membersikan semua ruangan tanpa terkecuali. Karena saya tidak suka rumah yang kotor dan banyak debu!" terang Dokter Lintang.
Pelangi memeriksa segala seisi rumah itu, tidak terlalu besar tapi semua yang ada didalamnya adalah barang-barang mahal. Namun rumah itu sangat lengang, tidak ada tanda-tanda kehidupan orang lain disana.
__ADS_1
"Dokter tinggal sendiri?" tanya Pelangi penasaran.
"Iya, emang kenapa? kamu tak perlu was-wasaku akan memperkosa mu," tukasnya, tanpa tersenyum sama sekali.
"Ba_ baiik, Dok. Tapi masak Dokter gak kasihan sih gaji saya cuma 500. Naikin sedikit dong Dok, gajinya!" mohon Pelangi. Karena Ia tidak mau terjerat lama bersama Dokter Lintang dirumah itu.
"Kalau gak mau, bayar saja uangnya. Setelah itu kamu boleh pergi yang jauh," jawab Dokter Lintang dingin. Ia naik kelantai atas meninggalkan Pelangi yang masih terpaku.
"Dasar Dokter jutek, sampai kapan aku hidup di tempat ini bareng sama dia. Emang dia pikir aku bakal betah, mengesalkan," rutuk Pelangi, mencebikkan bibirnya kesal.
Dokter Lintang mendudukkan diri di sofa, tidak ada yang tahu bahwa kesehariannya adalah meneguk wine ketika Ia berada dirumah.
Dokter Lintang menggoyang-goyangkan kursi putarnya dan membayangkan adegannya dirumah sakit tadi saat membuka ikat perban di kepala Bulan dan juga memijit tangan Bulan dengan lembut.
"Gila, kenapa aku terus membayangkan dia sih?"
Sesekali terkekeh childish, Ia tidak tahu mengapa Ia tidak bisa melupakan wajah perempuan tersebut yang notabennya sudah menjadi istri orang lain.
Dokter Lintang meneguk lagi wine di tangannya berulang-ulang sambil melonggarkan kancing kemeja atasnya.
Dokter Lintang melangkah menuju kamar mandi, Ia ingin melupakan kegilaan. Tapi baru saja beberapa langkah. Dokter Lintang terpatri pada foto Ia dan seluruh keluarganya.
"Ayah, Ibu, dimana kalian? mengapa aku belum juga bisa bertemu. Kata Eyang, sebelum Ia meninggal, kalian berada di Indonesia. Itu sebabnya aku berusaha keras mendapat kan pekerjaan disini agar bisa leluasa mencari kalian," tutur Dokter Lintang seorang diri.
Tentu Ia kesulitan mengenali mereka sebut foto itu didapatnya dua puluh lima tahun yang lalu. Dimana dia sendiri masih berusia tiga tahun dan memiliki seorang calon adik yang masih di dalam kandungan.
Dokter Lintang mengusap wajahnya, Ia berusaha tegar. Karena Ia pasti tidak akan mudah menemukan kedua orang tuanya di negara yang besar itu.
Dilantai bagian bawah, Pelangi mulai membersihkan seluruh ruangan dan hanya beberapa waktu saja
Dokter Lintang sudah kembali keruang tamu dengan membawa beberapa bungkus makanan ringan sebagai teman menonton televisi.
Dokter Lintang penasaran dengan hasil kinerja Pelangi lekas Ia menoel kan ujung tangannya kemeja memastikan jika tidak ada debu yang tersisa disana.
"Pelangi...!" panggil Dokter Lintang.
"Is, dasar Dokter gendeng. Siapa sangka seorang Dokter terhebat di Jakarta gak punya etika sama sekali," gerutu Pelangi yang mendengar suara nya dari kejauhan.
__ADS_1
Gadis itu tidak mau cari masalah pun bergegas menemui Dokter Lintang.
"Kenapa, Dok?" tanyanya, sambil membungkukkan badan.