
Bulan menggeleng, Ia tidak terima dengan tuduhan itu. Karena dia bukan wanita matre seperti anggapan Putra. Rela menukar segalanya karena uang.
"Aku melakukannya karna terpaksa," jawab Bulan. Ia akhirnya memutuskan mengakui semuanya di depan Angkasa.
Angkasa menatap lekat manik Bulan, kali ini hatinya benar-benar di buat rapuh. Padahal Angkasa masih berharap jika Bulan memang Sekar yang hidup kembali untuknya.
"Ya, aku melakukannya demi keselamatan Fatan. Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah menginginkan apa pun selain itu." Bulan menoleh kearah Pak Dewok yang mematung. "Maafkan Bulan, Om. Aku tidak pantas ada ditempat ini karena aku sudah diselimuti dosa dan kebohongan. Maafkan aku tidak bisa membayar hutangku pada, Om."
"Jadi?" Pelangi menyahut dan mendekat. "Bulan, kenapa kamu sampai mengorbankan hidupmu? Dia kan cuma saudara tiri mu." Pelangi memeluk erat tubuh Bulan.
Bulan menumpahkan air mata yang tersisa kemudian mengurai pelukan. "Pelangi, maaf sudah membawa Fatan jauh dari mu."
"O ya, satu lagi Putra," ujarnya pada pemuda itu. Ia tidak banyak bicara pada Pelangi karena yang dilakukannya adalah sebuah keikhlasan Kakak pada adiknya.
"Kalau pun nanti aku hamil, aku pastikan tidak akan pernah meminta apa pun dari dia," ucapnya, menekankan kalimat tersebut kearah Angkasa dalam kebisuan. "Sudah cukup aku merendahkan diriku demi sebuah nyawa. Kamu benar, secara tidak langsung aku memang materialistis. Tapi bukan untuk menjual kesucianku," ucap Bulan pagi menjelaskan.
Bulan masuk kekamar dan menggapai tas kumuh yang masih tersimpan dibawah meja. Lalu kembali kedepan melihat mereka yang terus memandangnya.
"Om...." Bulan berusaha menguatkan perasaannya. "Jika Om tidak ikhlas pada Uang yang Om habiskan buat Fatan. Bulan bersedia mendekam di penjara," ucapnya lagi. "Tapi, jika Om berlapang dada, Bulan akan pergi dari tempat ini sejauh-jauhnya, Maafkan Bulan tidak bisa mengabulkan permintaan, Om. Bahkan Bulan belum mampu membuat Angkasa terlepas dari depresinya."
Pertanyaan itu hampir membuat Pak Dewok terjatuh, Ia sesak akan perkataan Bulan yang begitu mengiris hatinya. Tapi Bu Arumi yang berdiri disamping Pak Dewok langsung menahannya.
"Bulan... Aku juga mau kok ikut di penjara demi menebus uang yang dihabiskan mengobati Fatan." Pelangi tidak rela jika kebaikan Bulan membuatnya terjerat dalam derita tiada akhir.
"Fatan juga, Om. Kak Bulan sudah mengorbankan banyak hal untuk Fatan," sahut bocah kecil itu dari luar. Ia masih bisa bernafas saat ini pun karena perjuangan Bulan.
Pak Dewok mematung, Ia lah orang paling bersalah atas kejadian itu. Jika bukan karen keinginannya yang meminta Bulan berpura-pura menjadi istri Angkasa tentu masalah itu tidak akan menjadi runyam.
__ADS_1
"Kak, Kakak mau kemana? Fatan ikut!" Melas bocah itu.
"Tidak dek, kamu sama Kak Pelangi ya. Kakak tidak mau kamu ikut sengsara sama Kakak." Bulan teringat akan janin di perutnya. Ia mengusapnya pelan tanpa ada yang sadar.
...Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bisa memberitahukan pada mereka jika kamu sudah ada dirahim Ibu. Sebab, Ibu tidak mau mereka menganggap Ibu memanfaatkan kehadiranmu......
"Angkasa," ucapnya untuk terakhir kali.
"Pergilah! Aku tidak mau berlama-lama terhanyut dalam kepalsuan mu," ucap Angkasa, yakin.
Bulan mengangguk, Ia melenggang keluar tanpa menoleh lagi dan sikap itu membuat Angkasa murka hingga membanting apa saja yang ada di dekatnya.
"Bangs*t, penipu, bisa-bisanya kalian mempermainkan hidupku seperti ini. Aku sangat bahagia, tapi mengapa di hancurkan?"
"Angkasa, berhenti Angkasa! Kamu bisa melukai dirimu sendiri atau malah melukai orang lain yang ada disini!" cegah Dokter Lintang. Berusaha menahan tubuh Angkasa akibat perlakuan marahnya.
"Pergi, Dok. Aku benci hidupku, aku juga benci pada mereka. Yang sudah berhasil membuatku menjadi manusia yang paling bodoh!" Kecam Angkasa. Ia sudah hancur bersamaan dengan kenyataan jika Ia hidup satu atap dengan yang bukan istrinya, dan hari ini Ia harus ditinggalkan lagi untuk kedua kalinya.
Angkasa tidak mau mendengarkan, dan malah mendorong Dokter Lintang dengan kasar.
"Pergi, tau apa kamu soal hidupku!" Angkasa masuk kekamar dengan membanting pintu cukup keras. Di dalam sana, Ia meraung-raung melepas bongkahan yang seolah menekan dadanya.
Bu Widya menatap lekat Pak Dewok, Ia mau Pak Dewok sadar jika yang dilakukannya adalah membuat masalah bertambah panjang.
"Dari awal aku sudah peringatkan, Pak. Tapi anda meremehkannya. Lihat sekarang! kau sudah menghancurkan begitu banyak hati yang memang sudah dalam keadaan rapuh berubah menjadi butiran debu. Kalau sudah seperti ini, bagaimana Angkasa bisa pulih dari depresinya, lalu bagaimana pula nasib gadis yang luntang lantung itu!" Geram sekali Bu Widya sampai akhirnya Ia terpaksa berbicara demikian.
Bu Widya membuang muka, lalu keluar untuk menyusul Bulan. "Bulan, Bulan Sayang! kamu dimana?" cukup jauh melangkah menyusuri jalanan, Bu Widya tidak lagi menemukannya.
__ADS_1
"Ya Allah, kasihan sekali anak itu. Bagaimana nasibnya sekarang? Tentu Ia akan menjadi cemoohan orang jika tahu kalau dia sudah tidak suci lagi?"
Bu Widya belum menyerah sampai menemukannya, padahal Bulan sebenarnya ada di balik pohon yang baru saja dilintasi. Bulan menangis menumpahkan lara nya, tapi Ia tidak mau lagi menjadi beban untuk orang lain.
"Maaf, Bu Widya. Bulan akan menjalani hidup Bulan sendiri. Aku akan membesarkan anakku walaupun tidak ada orang lain di sisiku."
Bulan mengelus lagi perutnya yang masih datar. Ia tidak tahu bagaimana nasib anak itu nantinya yang pasti menjauhi keluarga Pak Dewok harus di lakukan nya. Ia tidak mau kelak anak itu mereka rampas darinya jika sampai mereka mengetahui Ia sudah mengandung.
Bulan melanjutkan perjalanannya tidak perduli jika tubuh yang sudah lemas itu terhuyung-huyung. Cukup jauh melangkah dan yakin tidak ada orang yang mengenalinya. Bulan memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Sudah hampir petang, Ia belum makan apa pun. Sedang Ia tidak memiliki uang.
"Bagaimana ini? aku sangat lapar, tapi tidak ada uang untuk membeli makanan." Bulan merogoh tas kumuhnya. Hanya ada uang lima ribu disana.
"Dapat apa segini?" ujarnya lagi seorang diri, celingukan unyuk mencari sesuatu yang bisa memberinya dengan harga segitu.
Bulan meneruskan langkahnya, tak jauh dari tempat itu ia melihat ada penjual gorengan.
"Alhamdulilah, setidaknya aku bisa makan sesuatu untuk mengganjal perut."
Bulan mendekat dan menyapa penjual tersebut.
"Sore, Bu."
"Eh, sore, Neng. Mau beli ya?" tanyanya ramah.
"Satu gorengan berapa, Bu? tanya Bulan.
__ADS_1
"Satunya 2500, jawab penjual itu."
Apa? berarti cuma dapet dua dong...