Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 22 Cerita


__ADS_3

Malam kiat berangsur semakin larut. detik Jam dinding terdengar sangat kuat dan posisi ini adalah waktu yang paling menegangkan karena kembali ke fase bengap. Angkasa akan terus saja memeluknya tanpa melepaskan sebentar saja.


Sampai kapan dia memperlakukan aku seperti ini? Lama-kelamaan aku akan mati dibuatnya...


"Sweety, kau sudah tidur?" tanya Bulan.


"Emm?" hanya itu sahutannya.


Bulan menoel-noel dada pemuda itu untuk memastikan benar-benar sudah pulas. Rupanya tidak ada reaksi, pelan-pelan Bulan melepaskan tangan Angkasa dari atas perutnya agar Ia bisa tertidur dengan bebas.


Na, begini kan lebih enak, gak gerah.


Bulan baru bisa tertidur setelahnya, hingga tak terasa sinar Mentari mulai menerpa memancarkan cahaya Sinarnya ke seluruh alam semesta.


Pagi-pagi sekali, Bulan sudah bangun dan membantu Bu Arumi menyiapkan makanan. Sudah beberapa hari, tinggal dirumah itu Ia tak pernah membantu kegiatan di dapur.


"Bu, boleh Bulan bantu?" tanya Bulan pada Bu Arumi yang sedang sibuk memotong sayuran.


Bu Arumi menoleh dan mengamati rambut Bulan sudah basah, itu artinya gadis didepannya baru saja selesai mandi. Mulailah prasangka buruk menyempayangi pikiran kolotnya.


Bu Arumi mengangguk dan berpindah memetik beberapa cabe. Sejenak dalam hening, Bu Arumi melirik Bulan yang sudah duduk melanjutkan pekerjaan Bu Arumi.


"Nak...!" panggil nya. "Apa Angkasa sudah menyentuhmu?" pertanyaan itu sontak membuat Bulan menoleh menatap Bu Arumi.


Huh!


Bu Arumi menghela nafas kasar. "Mana mungkin Angkasa tahan melewatkan masa itu," cicitnya. Meraup beberapa bawang merah dan bawang putih kedalam blender dan menyalakannya.


"Ibu takut, kami berzina?" kali ini Bulan yang bertanya.


"Tentu saja, mana ada Ibu yang senang melihat hal semacam itu," delik Bu Arumi. Memandangi wajah Bulan yang memang sangat cantik meski wajahnya begitu alami.


Berbeda jauh dengan Sekar, yang tidak akan keluar kamar tanpa baju bagus dan wajah yang sudah di make over sedemikian rupa.


"Jangan khawatir, Bu. Bulan akan berusaha agar itu tidak terjadi," jawab Bulan kemudian.

__ADS_1


Bu Arumi mengerutkan dahi. "Maksudmu?"


"Bulan tahu kok, Bu. Tidak mudah pura-pura jadi istri pria asing. Tentu banyak hal yang Bulan takutkan apa lagi yang satu itu. Tapi Bu, Seandainya Bulan punya pilihan. Bulan tidak pernah ingin ada diposisi ini," jujur gadis itu.


Bu Arumi tertarik untuk tahu kehidupan Bulan. "Apa orang tua mu masih hidup?"


Bulan mengangguk, mengingat kedua orang tua yang membencinya tak pernah sama sekali Ia impikan didalam hidupnya.


"Mereka membuang kami, Ayah telah menikahi seorang perempuan semasa aku berusia 10 tahun dan Fatan masih bayi waktu itu. Dia bilang Ibu meninggal saat pergi berkunjung kerumah saudara di Bandung. Namun sampai saat ini, Ayah tidak pernah menunjukkan makam Ibu. Dia cuma bilang kalau Ibu dikubur disana," ucap Bulan lagi.


Bu Arumi mulai tertarik. "Kau sudah pernah melihat Ibumu?"


Bulan menggeleng. "Bagaimana bisa?" tanya Bu Arumi.


"Kematian itu terjadi semasa Bulan masih sangat kecil dan tidak ingat lagi bagaimana rupa Ibu," jawab Bulan.


"La, terus Fatan anak siapa?" tanya Bu Arumi lagi.


"Sebenarnya aku tidak dan dia terikat hubungan darah dari Ayah dan Ibu tiriku. Dia adalah anak yang terlahir di luar nikah. Jadi mereka juga membuangnya..hiks.... Ayah dan Ibu membuang kami bersamaan setelah mereka menikah," lanjut Bulan lagi.


"Tapi, Bu. Fatan sangat menyayangiku begitu juga aku. Aku akan melakukan apa pun untuknya karena dia berhak hidup dan bahagia, Bu," tutur Bulan disela isaknya.


Bu Arumi pun langsung memeluk Bulan. Ia merasa Iba pada gadis itu. Hidupnya begitu menderita.


"Bagaimana cara kalian bertahan, nak?" tanya Bu Arumi untuk kesekian kalinya pada Bulan.


Dulu sebelum Angkasa sukses, keluarga Bu Arumi juga hidup melarat dan penuh kekurangan tapi berkat usaha anak lelakinya yang gigih. Kini apapun yang diinginkan nya akhirnya telah tercapai.


"Aku bekerja menjual koran dan beberapa makanan ringan dari toko orang. Hasilnya kami pergunakan untuk makan dan menyewa sebuah rumah yang sangat kecil. Orang yang menyewakan tempat itu meminta kami membayar sepuluh ribu, setiap hari" jawab Bulan lagi.


"Lalu, bukankah Ayah Angkasa menemukan kamu jadi pelayan di sebuah kaffe, bagaimana ceritanya?"


Bulan mengembangkan senyum. Semua itu didapatnya hanya karena masalah sepele. "Aku membantu pemilik kaffe saat Ia sedang kehilangan beberapa karyawannya ketika kaffe tersebut hampir gulung tikar."


"Bulan, Ibu tidak yakin kamu bisa menghindari Angkasa terus menerus. Kamu tahu kan hasrat lelaki dan perempuan sangat jauh berbeda. Mungkin sekarang kamu bisa mengelak tapi Ibu tidak menjamin jika Angkasa akan bisa bersabar dengan penolakanmu," ungkap Bu Arumi.

__ADS_1


Bulan mengulum bibir dan meresapi ucapan Bu Arumi. Itu pasti akan terjadi, jika Angkasa tidak mampu lagi untuk bertahan. Maka dia harus sedia payung sebelum hujan agar bisa bebas secepatnya.


Jalan satu-satunya adalah Fatan segera sembuh dan Angkasa juga membaik lalu perlahan bisa menerima kenyataan kalau Sekar sudah meninggal dan itu harus dimulai dari kesembuhan Fatan lebih dulu.


Sembari berpikir, Bulan sendiri yang memasak makanan itu. Sedikit banyak, bekerja di kaffe yang bergelut dengan makanan setiap hari membuat nya banyak tahu cara memasak makanan lezat.


Sekitar 30 menit, Ia selesai memasak beberapa menu, Ia bergegas menyajikan diatas meja, sebentar lagi Angkasa dan Pak Dewok akan turun untuk sarapan.


Bulan yang tidak bisa diam, segera memunguti pakaian kotor miliknya dan semua anggota keluarga lalu mencucinya di mesin , sedangkan Bu Arumi mengepel seluruh lantai sampai kinclong. Wajar saja, itu semua harus dikerjakan sendiri karena tidak ada pembantu dirumah itu.


Tak lama selesai mengepel, Bu Arumi melihat Angkasa sudah muncul dari dalam kamarnya dengan pakaian kantor. "Bu, istriku kemana?" melihat-lihat kesekitaran ruangan tempat itu.


"Lagi dibelakang mencuci baju," jawab Bu Arumi. Perempuan itu mengikuti Angkasa yang sudah bergerak kearah dapur.


Bu Arumi menggeleng kecil, Ia tidak tahu mengapa Angkasa sebegitu mencintai seorang Sekar entah apa spesialnya wanita itu dihatinya.


Semoga kamu tidak akan kecewa setelah tahu dia bukan istrimu, nak. batin Bu Arumi gamang.


Benar saja, Angkasa bersedekap menikmati kegiatan istrinya sedang menjepit beberapa be*ha dan segitiga.


Sesekali Ia terkekeh, sungguh suatu anugerah bisa melihat istrinya setiap waktu. Jika dunia memberi pilihan tak pernah ingin sedikit pun Ia jauh dari wanita itu walau sejenak saja.


Lelah berdiri, Bulan belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Terlalu banyak baju lapisan yang di gantung dalam satu deret jemuran.


Tep!


Angkasa tidak sabar dan langsung mendekap Bulan dari belakang.


"Aw, Angkasa!" Pekik Bulan kaget. Lekas Angkasa melonggarkan tangannya.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


Habis membaca biasakan๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—


Bantu Like, komen, Vote dan Bintang limanya ya๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2