
Kebahagian itu bukan karena banyaknya uang, banyaknya kawan dan banyaknya orang yang menyayangi kita. Bahagia sesungguhnya adalah senang melihat orang yang kita cintai bahagia.
Begitulah yang saat ini Bulan lakukan, Ia rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kesehatan adiknya Fatan. Walaupun Ia harus bersedia menukar harga dirinya sebagai jaminan.
Ada perasaan beruntung, Ia tidak munafik jika sosok Angkasa mampu membuatnya merasakan sebuah kasih sayang yang belum pernah didapatnya dari siapa pun.
Hari semakin siang, Bulan memilih masuk untuk beristirahat. Ia merebahkan diri di sofa guna mengusir kegundahan dihatinya agar segera sirna.
"Hai, Sayang!" Angkasa ternyata menyusulnya. Ia membawakan segelas susu untuk Bulan.
"Ayo minum ini!" ujarnya, sengaja mengulurkan gelas itu di depan Bulan. Tentu saja dengan senang hati gadis itu menerima dan meneguknya sampai habis.
Angkasa membelalakan mata dan terduduk lemas, pikirannya mulai goyang. Ia tidak percaya jika Sekar yang dulu sangat membenci susu tiba-tiba berubah menyukainya.
Sejenak Ia mematung, tatapannya kosong kedepan. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangan masa lalu seolah menghampiri otaknya. Bahkan seluruh tangannya mengeluarkan keringat dingin.
Bulan yang melihat keanehan Angkasa mengerutkan dahi, Ia tidak tahu apa yang sebenarnya menyerang Angkasa hingga tampangnya begitu tegang.
"Sayang, kamu kenapa? Sakit ya?" Bulan mendekati Angkasa dan menempelkan tangannya di kening pemuda itu. Namun saat tangan tersebut menyentuhnya, Angkasa tidak sengaja mendorong tubuh Bulan.
"Ma_ maaf, a_ aku keluar sebentar!" Angkasa berlalu dari kamar. Ia sampai membanting pintu cukup keras hingga menimbulkan suara.
"Ada apa dengannya? mungkinkah aku melakukan kesalahan?" Bulan yang bingung memutuskan segera mengejar keluar, Ia belum tenang sebelum tahu apa alasan Angkasa tiba-tiba bersikap demikian.
"Sayang, tunggu!" teriaknya dari depan pintu. Namun Angkasa sudah jauh dari jangkauan bola matanya, hingga tidak mendengarnya apa lagi menyahut.
"Kenapa, Nak?" tanya Bu Arumi yang muncul dari kamarnya.
"Aku gak tahu, Bu. Sepertinya Angkasa marah sama aku." Bulan tampak sedih, Ia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya sampai Angkasa terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Itu apa?" Bu Arumi memantik gelas susu di tangan Bulan.
"Bekas susu yang aku minum," jawab Bulan. Ia menceritakan apa yang baru saja terjadi.
"Pantas, dia bersikap demikian," kata Bu Arumi. Mengundang tatapan lekat Bulan kearahnya.
"Maksud, Ibu?"
"Kurasa dia mulai curiga denganmu? sebab Sekar paling anti dengan minuman itu," ungkap Bu Arumi, cukup berhasil mengagetkan Bulan.
"Terus, aku harus bagaimana, Bu?"
"Jalan satu-satunya kamu harus mengakui siapa kamu!" timbal seseorang dari luar. Bu Arumi dan Bulan langsung menoleh kearah orang tersebut.
"Maafkan saya, Bu Arumi atas kelancangan saya masuk kemari secara tidak sopan sebab sudah tiga kali saya mengucap salam tapi tidak ada yang manyahuti, karena pintu terbuka akhirnya terpaksa saya nekat masuk." Dia adalah Bu Widya Ibunda mendiang Sekar.
Bu Arumi mengangguk mengerti. "Ayo kita duduk di depan!"
"Apa Bu Widya tidak menyukai posisi saya?" tanya Bulan langsung. Tentu saja itu yang menari-nari dikepala Bulan setelah menyimpulkan perkataan Bu Widya yang memintanya untuk jujur.
Bu Widya tersenyum lalu menggeleng. "Bukan itu, nak. Tapi, ikatan kalianlah yang membuat perasaan Ibu tidak tenang. Bagaimana bisa Ibu melihat kamu berbagi ranjang dengan pria yang bukan suamimu." Perempuan paruh baya itu merasa sesak dan miris.
Ia kasihan dengan Bulan, terhimpit pada sebuah tempat yang tidak seharusnya Ia jalani.
Bulan terisak-isak, Ia juga merasakan hal sama. Tapi apa yang bisa dilakukannya. Nyatanya, Ia sudah kehilangan harta berharganya pada saat Ia mengalami Amnesia sesaat.
"Bu, tolong. Kasih tahu Pak Dewok untuk melepaskan Bulan, Bu." Bi Widya menggenggam tangan Bu Arumi untuk memohon. "Walau pun saya tahu, uang yang diberikan Pak Dewok tidaklah sedikit dan saya sendiri pun tidak bisa membayarnya. Setidaknya, jangan biarkan Bulan kehilangan kesuciannya, Bu. Iya kan Bulan kamu belum diapa-apain kan sama Angkasa?" Bu Widya memohon sembari meminta Bulan untuk mengatakan tidak akan ketakutannya.
Bu Arumi terdiam, Ia juga tak bisa menahan derai air matanya.
__ADS_1
"Bu Arumi, sumpah demi Allah saya tidak keberatan jika Bulan menikah dengan Angkasa. Tapi disini, mereka tidak terikat, Bu. Bagaimana pun kalian ingin Bulan menduduki posisi Sekar, tidak akan bisa merubah kodrat mereka di hadapan Tuhan," ucap Bu Widya lagi. Ia benar-benar kasihan melihat Bulan yang sudah seperti anaknya sendiri harus terjerat dalam dosa yang besar.
"Saya tidak tahu, Bu," jawab Bu Arumi datar dan bingung. Karena Ia susah sangat bahagia melihat Angkasa tidak lagi mengamuk seperti dulu. "Kamu tentu tahu kan rasanya seperti apa saat anak kita sakit, bersedih atau bahkan kehilangan?" tukas Bu Arumi lagi.
Bu Widya mendongak menahan air mata agat tidak lagi turun, Ia memang sangat terpukul kala melepaskan Sekar pergi dari hidupnya yang sejak bayi Ia rawat dan besarkan dengan tangannya sendiri.
"Bu Widya, bisa saja Bulan dan Angkasa kami nikahkan dengan syariat Islam . Tapi apa kah Angkasa mau melakukannya jika dia tahu bahwa Bulan bukanlah wanita yang dicintainya. Posisi kami juga sulit, Bu. Angkasa mencinta Sekar bukan Bulan jadi bagaimana cara kami memberi tahukan semua kebenarannya."
Bu Arumi hanya berpikir logis. Sejak awal melihat Bulan, Angkasa telah menganggap Bulan adalah Sekar.
"Lihat, Bu. Kedatangan Bulan ditengah kondisinya yang menyedihkan mulai membaik. Ia tidak pernah lagi marah dan mogok makan ataupun memecahkan barang. Jadi mana mungkin kami merusaknya dengan mengatakan jika Bulan bukankah Sekar. Coba Bu Widya bayangkan, bagaimana jika dia malah mengalami Depresi yang lebih berat dari sebelumnya? Atau malah berakhir dengan bunuh diri? Bisa kah Bu Widya membayangkan perasaan kami sebagai orang tuanya? katakan Bu, bagaimana Ibu menyikapi hal itu?" Ucap Bu Arumi, yang sedikit meninggikan volume suaranya dengan kalimat yang panjang dan beruntun.
Bu Widya menggeleng.
"Maafkan saya, Bu. Tapi sampai kapan ini berakhir?" Bu Widya tak sanggup membayangkan jika itu akan terjadi sampai seumur hidup mereka.
"Sampai Angkasa menyadarinya sendiri," timpal Pak Dewok tiba-tiba.
"Pak Dewok!" Bu Widya segera menghapus air matanya.
"Bu Widya, saya adalah orang yang bersalah disini demi kebaikan Angkasa, Bulan dan Fatan saya mengorbankan banyak uang dan waktu saya. Apakah dengan itu saya tidak boleh meminta balasan yang sepadan?" pertanyaan Pak Dewok begitu menghunus hati ketiga perempuan itu.
"Maksud Pak Dewok?" tanya Bu Widya kurang paham.
"Bulan akan melahirkan anak Angkasa, dengan begitu jika Bulan pergi nanti Ia punya kesibukan mengurus anaknya, jadi dengan begitu Ia tidak akan terlalu bersedih," jawab Pak Dewok, dengan tatapan tegas.
Ketiganya saling berpandangan, mereka makin di buat kecewa dengan ungkapan Pak Dewok yang artinya akan sangat menyudutkan Bulan.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
__ADS_1
LIKE DAN komennya dongπππ