
"Aduh, kok gatel sih? Kenapa ini?" Bulan sibuk menggaruk-garuk seluruh tubuhnya. Ia tidak tahan, seperti banyak hewan-hewan kecil seolah menggigitinya.
Angkasa yang menoleh, tersentak. "Sekar, kamu kenapa?" beranjak menghampiri dan memeriksa tangan Bulan. "Ini kok merah-merah sih? emang kamu habis ngapain?"
"Aduh, gak tahu. Tiba-tiba tubuhku gatel semua," jawab Bulan, masih terus disibukan menggaruk-garuk bagian mana saja yang terasa gatal.
Angkasa langsung panik dan mengkhawatirkan kondisinya. "Kita kerumah sakit saja ya, aku takut kamu kenapa-napa!"
Bu Widya yang baru muncul ikutan heran. "Kenapa, Sa?"
"Sekar gatel-gatel, Bu," jawab Angkasa bringsar.
"Aduh, kok bisa. Terus diapain dong?" tanya Bu Widya lagi ikut mengekor kegelisahan keduanya.
"Gatel, tolongin. Aku udah gak tahan!" Bulan histeris.
"Kalau begitu, Angkasa pamit ya Bu, mau bawa Sekar kerumah sakit. Angkasa takut Sekar kenapa-napa!"
"Iya, iya, hati- hati di jalan ya!"
"Baik, Bu," jawab Angkasa sembari menuntun tubuh Bulan kearah pintu. "Kuat gak jalan sendiri?" tanya Angkasa pada Bulan. Khawatir jika nanti Bulan oleng.
"Udah, ayo!" Bulan tidak sabar, dan belum juga berhenti menggaruk-garuk seluruh tubuhnya yang sangat cepat membengkak.
Angkasa yang tidak ingin berlama-lama memilih menggendongnya agar segera sampai ke mobil.
"Apa Bulan alergi ya?" gumam Bu Widya yang melepas kepergian mereka dari halaman.
Untung sore itu salah seorang Dokter pria belum pulang, jadi Bulan segera mendapat penanganan. Tapi sayangnya, pria itu seorang Dokter muda yang baru lulus dari sekolah kedokteran di Singapura
"Habis makan apa, Mbak?" tanya Dokter itu memegangi tangan, leher dan kaki Bulan guna mengenali sakitnya. Usinya sekitar 25 tahun dan belum menikah.
"Makan siput, Dok," sahut Angkasa lugas. Anak matanya mengikuti sentuhan tangan Dokter pria itu ditubuh sang istri. Cukup lama hingga menimbulkan rasa kesal di hati Angkasa. Apa lagi wajah Dokter itu juga tak kalah ganteng darinya, khawatir Bulan akan terpesona. Dokter muda tersebut bernama Lintang.
"Oh... ini namanya alergi makanan laut," ujar Dokter itu membuat Angkasa tercengang.
Cuma alergi, tapi kenapa memeriksanya lama sekali, alasan saja Dokter ini. Pasti otaknya ngeres tu sama istriku.
Angkasa merekat ketubuh Bulan yang masih terbaring untuk menunjukkan keromantisannya didepan Dokter dan berpikir kalau Dokter itu akan ilfil. "Bisa cepat sembuhkan, Dok?" tanya Bulan kemudian.
__ADS_1
"Gak papa, kita suntik ya!" ujarnya, sembari tersenyum melihat Angkasa sedekat itu, Ia bisa membaca pergerakan Angkasa yang cemburu terhadapnya.
"A_ apa?" Angkasa membulatkan biji matanya yang sudah segede polo. Setau Angkasa Suntik itu akan dilakukan dibagian tertutup.
Dokter pria itu tertawa. "Anda takut melihat jarum?" tanyanya, dan itu terdengar memalukan. Seolah-olah Ia sangat cemen dengan benda itu.
Wah, gak bener ni Dokter mesum. Pasti dia mau liat p_antat istriku. Aku aja yang suaminya belum pernah liat...
"Ayo, Mbak. Tubuhnya sedikit dimiringkan!" ujar Dokter itu lagi memerintah dan mulai menyentuh atasan rok mini milik Bulan yang sudah mengambil posisi.
Angkasa jadi kalang kabut, Ia tidak rela Dokter tersebut menyentuh dan melihat bagian dalam istrinya.
"Tu_ tunggu, Dok?" cegahnya, cepat-cepat.
"Kenapa, Pak? kalau takut jangan dilihat!" Dokter itu lagi-lagi mematahkan wibawanya.
"Bu_ bukan itu," ujarnya pelan. "Apa tidak ada salep untuk alerginya?" Menyisir alasan supaya Dokter tidak melakukan hal itu.
Bulan memukul keningnya, dan sedikit membaca raut ketidak nyamanan pada diri Angkasa. Bulan akhirnya kembali terlentang.
"Iya, Dok. Saya lupa, kalau saya paling takut sama jarum suntik. Mungkin ini tadi replek saja," kata Bulan kemudian. Ia ingin membuat Angkasa merasa di hormati sebagai seorang suami dihadapan pria lain.
"Oh, begitu. Baiklah jika tidak mau disuntik padahal akan cepat memulihkan kondisinya," cicit Dokter Lintang. Ia kembali kemeja dan menuliskan sesuatu pada sebuah kertas.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah Angkasa memapah Bulan Keluar, Dokter Lintang geleng-geleng kepala. Tidak habis pikir akan tindakan Angkasa barusan. "Dasar aneh, tega sekali membiarkan istri nya berlama-lama menahan gatal," gumamnya seorang diri.
"Kamu tunggu di sini ya, aku beli dulu!" Angkasa mendudukkan Bulan dikursi belum berhenti menggaruk bentol tubuhnya yang semakin banyak
Selesai membayar, Angkasa langsung membawa Bulan pulang kerumah dalam keadaan sepi sepi, Angkasa mengajak Bulan kekamar untuk membantu mengoleskan.
"Cepat buka bajumu!" titahnya, ketika Bulan sudah di ranjang.
Bulan terkejut. "Kenapa harus buka baju?" tanyanya menyungut sedikit.
"Biar aku bantu mengolesi punggungmu," jawab Angkasa jengah, Ia segera ikut naik dan mengangkat baju dipunggung Bulan.
"Wah, bentolnya sudah selebar mangkok. Pasti gatel banget ya," ocehnya, tidak tahu kalau Bulan merasa sesak. Membiarkan Ia melakukan hal itu.
__ADS_1
Angkasa mengolesi semua punggungnya tanpa sisa, Ia juga sempat-sempatnya melepas B_ra Bulan hanya untuk membantunya.
Aduh, bagaimana ini? kenapa aku tidak maksa disuntik saja tadi biar Angkasa gak melihat ini
Bulan merutuki kebodohannya, demi membela Angkasa. Bulan harus merelakan pria itu menyentuhnya. Akan lebih baik Dokter Lintang melihatnya sejenak ketimbang dilihat Angkasa seperti saat ini.
"Bisakah kau melepas semuanya!" kata Angkasa lagi.
"Untuk apa?" Bulan menyerobot obat dari tangan Angkasa. "Biar aku saja."
"Ck..." Angkasa berdecih. "Jangan melawan, kau akan kesulitan melakukannya sendiri." Angkasa merebut kembali.
Dasar payah, sekarang aku terjebak karenanya. Kenapa gak biarkan saja menurut dengan Dokter Lintang.
"Sweety, biar aku saja," ucapnya merayu. "Aku masih malu, ayolah mengerti kondisiku."
"Tidak!" Angkasa keras kepala.
"Ayolah, aku sudah tidak tahan, berikan salepnya."
"Jangan, biar aku yang lakukan. Cepat berbaring!" titahnya lagi, buat Bulan mati kutu.
Bagaimana ini?
"Ayo berbaring atau kau tahan saja itu!" ancam Angkasa sambil menyeringai licik dan penuh kemenangan.
Bulan yang sudah tidak tahan akhirnya mengalah dan berbaring, membiarkan Angkasa melakukan apa pun sesukanya. Saat keadaan seperti ini, harga diri tidaklah lagi penting.
Angkasa memulai mengolesi bagian wajahnya turun keleher, tangan lalu mulai kearah dadanya.
"Sayang, buka saja bajunya aku kesulitan jika harus meraba-raba seperti itu!" pinta Angkasa lagi.
"Yang terlihat saja dulu," jawab Bulan tidak mau kalah.
"Dasar payah, aku ini suami mu. Lebih baik aku yang melihat tubuh mu dari pada Dokter itu tadi, sepertinya dia jelalatan." Angkasa tampak sewot.
"Hahaha... kamu cemburu ya? emang sih, dia lebih tampan dari mu," gelak Bulan, malah meremehkan.
"Apa? kau membela dia? haram pria yang bukan mukhrim menyentuhmu begitu, berbeda denganku," ucap nya tercekat dan semakin panas.
__ADS_1
"Apa bedanya," rutuk Bulan lagi.
"Tentu saja beda, aku kan suami mu, sedang dia siapa?"