
"Em, gini Sayang. Kitakan baru menikah bahkan belum Malam Pertama. Jadi, sampai saat ini kita belum punya anak," ujar Angkasa memberi pengertian.
Kini semua berbanding terbalik, Bulan yang dulunya berupaya merubah Angkasa dari sifat manjanya dan sekarang Ia juga di haruskan meladeni kepolosan Bulan.
Bulan mengerutkan dahi, bingung. "Malam Pertama? Itu apa, Sayang?" tanyanya tidak paham.
"Hubungan badan," desis Angkasa.
Bulan rupanya tetap tidak mengerti. "Contohnya...?"
"Contoh...? kamu tidak tahu soal hubungan badan?" tanya Angkasa tak percaya.
Bulan menggeleng sambil tersenyum malu. Wajahnya memerah bagai cabe-cabean.
Angkasa tergelak, tak habis pikir akan apa yang didengarnya. "Oke, tenang saja. Nanti kalau udah sembuh dari sakit kepalanya kita praktekin ya!"
Wajah Bulan langsung berbinar. Ia mengira itu adalah hal yang seru. "Kamu beneran, Sayang?" tanyanya menggoyang-goyang lengan Angkasa.
"Tapi jangan takut ya?"
"Kenapa harus takut, pasti seru lah nantinya. Aku pengen tahu cara pratekin buat anak." Bulan berbunga-bunga dan tidak sabar menunggu hari itu tiba. "O ya? emang gak bisa sekarang ya?" Bulan bermaksud menawar.
Angkasa tersenyum simpel lalu mendekatkan wajahnya kewajah Bulan. "Kamu yakin mau melakukanya?"
"Iya, aku udah gak sabar," jawabnya sangat yakin.
"Kalau kamu gak sakit seharusnya kita sudah melakukannya semalam." Angkasa menyayangkan.
"Apa? jadi harusnya kita praktekin semalam ya? Ah.. berarti aku sudah merusak nya ya? maaf, aku tidak ingat apapun," ujar Bulan sedih.
"Gak papa, Sayang. Kamu gak perlu merasa sedih. Kita bisa lakuin lagi nanti."
Angkasa membenarkan selimut Bulan agar Ia bisa tidur dengan nyaman.
"Udah, jangan pikirkan soal praktek nanti kita lembur kerjainnya dengan syarat harus sembuh dulu." Angkasa begitu sabar dan bijak membuat Bulan terus saja terpesona akan kearifannya.
"Baiklah, aku pasti cepat sembuh untukmu," jawabnya benar-benar santai tanpa beban seperti biasanya.
"Alhamdulilah, makasih, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu."
Di lain tempat, Dokter Lintang sibuk mengurus beberapa pasien yang berdatangan dan itu amat sangat menguras tenaganya. Apa lagi semalam Ia sama sekali tidaklah tidur.
"Dok, ada seorang perempuan bunuh diri di sungai dia dalam keadaan tidak sadarkan diri!" ujar salah seorang Suster.
"Apa kah kondisinya parah?"
"Yang saya lihat dia sangat pucat, Dok."
Dokter Lintang memerintah salah satu asistennya melanjutkan pekerjaan karena Ia harus menolong orang yang sekarat.
Sebuah brankar didorong menuju ruang Gawat Darurat dengan sangat panik.
"Kita lakukan pertolongan pertama, Sus." Dokter Lintang menekan perut gadis tersebut beberapa kali. Namun tidak membuah kan hasil.
__ADS_1
Tit....!!!!!
Suara mesin darurat berbunyi nyaring. Dokter Lintang sangat resah, lekas Ia kembali memberikan tekanan didada gadis itu hingga beberapa kali lamanya.
"Dok, denyut jantungnya melemah!" ujar Suster tersebut.
"Saya tahu, segera ambil alat pemacu jantung!"
Suster menyerahkan yang diminta Dokter Lintang dan segera menyengat memberikan hentakan lagi di dadanya. Beberapa kali dilakukan akhirnya mesin tersebut kembali terdengar normal.
"Syukurlah, dia masih bisa diselamatkan!" Dokter Lintang tersenyum puas.
"Alhamdulilah, Dok. Kasihan gadis ini," ucap salah seorang Suster.
Dokter Lintang mengernyitkan dahi. "Emang ada apa dengannya, Sus?"
"Dia habis diputusin tunangannya, Dok. Gara-gara ngehamilin cewek lain gitu sih yang saya denger dari warga tadi."
Dokter Lintang terpaku pada sosok gadis yang tertidur di atas brankar itu. Ada rasa penasaran namun juga heran mendapati dirinya yang rela berbuat nekat hanya karena cinta.
Uhuk.. Uhuk..
Gadis itu akhirnya sadar kan diri, Ia terbatuk-batuk cukup lama lalu membuang alat bantu pernafasan dari mulutnya.
"Diminum Mbak!" Salah seorang Suster menyerahkan segelas air didepannya.
"Makasih, Sus," jawab Gadis itu, dia yang merasa kalut langsung meminum air tersebut sampai habis.
"Keluarga saya sudah mati," ketusnya. Gadis tersebut kembali merebahkan diri. Ia enggan jika harus mengingat keluarga yang sudah membuatnya hancur.
Dokter Lintang memahami kondisinya, gadis itu pasti punya masalah hingga menganggap enteng pertanyaan Dokter Lintang.
"Siapa namamu?" tanya Dokter Lintang lagi.
"Gak usah basa-basi, Dok. Kalau takut saya tidak bayar, keluarkan saja dari sini, gampang kan?"
Ucapan gadis itu sangat tajam di telinga Dokter Lintang. Padahal dia adalah orang yang yang menyelamat kan hidupnya.
"Oke, jika itu mau mu. Silakan keluar!" Dokter Lintang yakin untuk menggertak gadis itu.
"Baiklah, biar saya turun." Gadis itu memaksakan diri namun saat mau menginjak lantai, tubuhnya mendadak ambruk.
"Aw... Sakit. Tolongin, Dok. Aku belum mau mati sekarang!" melas gadis itu, meringis kesakitan.
Suster tak melihat reaksi Dokter Lintang yang hanya tersenyum menatap gadis tersebut.
"Dok, kenapa diam saja? Kakiku sakit banget," ketus gadis itu lagi marah.
Dokter Lintang duduk didepannya dengan tatapan menyeringai aneh. "Aku akan bantu kamu. tapi dengan satu syarat."
"Syarat?" Gadis itu khawatir, Dokter Lintang memanfaatkan keadaannya.
"Iya, kasih tau nama mu sekarang atau kau nikmati saja kondisimu disitu," ancam Dokter Lintang.
__ADS_1
"Tapi, Dok_ aku gak merasa berbuat salah deh."
"Benar, tapi sikap mu menunjukkan berapa angkuhnya diri mu itu," sindir Dokter Lintang secara terang-terangan.
"Peduli apa? aku tidak suka ditindas," jujur gadis itu.
"Ya sudah nikmati saja kondisimu disana."
Dokter Lintang meminta semua Suster keluar dan membiarkan dirinya.
"Ayo biarkan saja, Saya tidak respek dengannya!" ajak Dokter Lintang.
"Ehk, Dok. Tunggu dulu!" teriak gadis itu kebingungan. Sebab Ia kesulitan mengangkat tubuhnya yang lemas.
"Bangun sendiri," tolak Dokter Lintang.
"Dok, jangan begitu dong! masak saya disuruh duduk disini sih?" protes gadis itu.
Dokter Lintang mengekor dua orang Suster didepannya dan mengabaikan panggilannya.
"Nama Saya Pelangi, Dok!" teriak nya, sekeras mungkin agar Dokter Lintang mendengarnya.
Benar saja, dia menghentikan langkahnya dan berbalik kearah gadis yang bernama Pelangi tersebut.
"Kau mau jujur?" yakin Dokter Lintang.
"Iya, Dok. Baiklah...."
Dokter Lintang mendekat dan memutuskan membopong Pelangi keatas ranjang.
Di kamar lain, di beberapa ruangan berbeda. Angkasa terlihat sedang menyuapi Bulan dengan penuh Cinta.
"Lagi ya, Satu lagi abis ni." Angkasa memberikan suapan terakhirnya.
"Sayang...!" panggil Bulan.
"Ada apa, Sayang?"
"Kapan kita pulang, aku bosan. Di rumah nanti aku mau pokus praktek aja sama kamu ya," rengek Bulan penuh permohonan. Menggenggam tangan Angkasa tanpa melepasnya.
"Sabar, Sayang. Kita tunggu keputusan Dokter dulu ya!"
"Gak mu tau , pokoknya aku mau pulang," desak Bulan, memaksakan kehendaknya.
"Iya, tunggu sebentar disini." Angkasa memutuskan mencari Dokter Lintang guna meminta izin.
"Sus...!" Angkasa memanggil seorang Suster yang melintas.
"Iya, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Lihat Dokter Lintang?" tanyanya.
"Oh.. sedang mengurus pasien, Pak," jawab Suster itu tergesa-gesa.
__ADS_1