Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Chapter 3


__ADS_3

Ia menjadi panik. Hal itu pasti dirasakan pula oleh laki-laki itu, karena ia meletakkan tangannya di pundaknya lagi. "Biaca, kuceritakan semua cederamu bukan untuk menakut-nakutimu. Aku tahu kau merisaukannya. Kupikir sebaiknya aku berterus terang, supaya kau siap mental menghadapi cobaan ini.


"Itu tidak akan mudah, tapi semua orang dalam keluarga itu mendukungmu seratus persen." Ia diam lagi, lalu merendahkan suaranya. "Untuk sementara ini, aku mengesampingkan dulu urusan-urusan pribadiku, dan memusatkan perhatianku untuk memulihkanmu. Aku akan tetap mendampingimu sampai kau merasa benar-benar puas dengan hasil karya dokter bedah itu. Aku berjanji. Aku harus melakukan itu sebagai imbalan kau telah menyelamatkan Syila."


Ia mencoba menggelengkan kepalanya untuk membantah semua kata-katanya, tapi sia-sia. Ia tak dapat bergerak. Berusaha untuk berbicara di balik selang di dalam lehernya menimbulkan rasa sakit pada kerongkongannya yang lecet karena bahan kimia.


Ia makin frustrasi, hingga seorang perawat masuk dan memerintahkan laki-laki itu agar keluar. Tapi waktu laki-laki itu mengangkat tangannya dari pundak pundaknya, ia merasa disia-siakan dan sebatang kara.


Perawat itu memberinya obat penenang. Obat itu menjalar di pembuluh darahnya. Ia mencoba melawan pengaruh obat itu, tetapi obat itu ternyata lebih kuat darinya, dan tak memberinya pilihan lain, kecuali menyerah.


✈️


"Bianca, bisakah kau mendengarku?"


Ia terbangun, dan mengerang mengibakan. Obat tadi telah membuatnya merasa berat sekali dan tak berdaya, seolah-olah satu-satunya sel hidup di seluruh tubuhnya hanya ada di dalam otaknya dan semua bagian tubuhnya yang lain sudah mati.


" Bianca?" Suara itu mendesis di dekat telinganya yang terbalut.


Itu bukan suara laki-laki yang bernama Sinaga itu. Ia sudah mengenali suara itu. Ia tak ingat apakah laki-laki itu telah meninggalkannya. Ia tak tahu siapa yang sedang berbicara dengannya sekarang. Ingin rasanya ia menjauh dari seseorang itu. Suara itu tak menenangkan, tidak seperti suara tuan Sinaga.


" Kau masih dalam keadaan yang buruk sekali dan mungkin kau akan menyerah. Tapi, kalau kau merasa sudah siap untuk mati, jangan sampai kau mengucapkan pengakuan dosa, meskipun kau mampu melakukannya."


Dia ingin tahu apakah dia sedang bermimpi. dibukanya matanya karena dia ketakutan. Sebagaimana biasa, ruang itu terang sekali. Alat pernapasannya berdesis dengan irama yang tetap. Orang yang berbicara dengannya berada di luar lingkup pandangannya. Dia bisa merasakan kehadiran orang itu, tapi dia tidak bisa melihatnya.


" Rencana kita berdua tak berubah. Kau sudah terlibat terlalu jauh, sehingga sekarang kau tak bisa keluar. Jadi, jangan coba mempertimbangkan hal itu."


Dia mencoba mengerjapkan mata untuk menyatakan bahwa dia ketakutan dan tak mengerti, namun sia-sia. Orang itu tetap saja merupakan suatu kehadiran tanpa bentuk atau kejelasan, suatu suara misterius yang tak berubah.

__ADS_1


" Dion akan mati, dia takkan pernah memangku jabatannya. Kecelakaan pesawat ini adalah sesuatu yang merugikan rencana kita, tapi kita bisa membuatnya jadi menguntungkan bila kau tak panik. Kau dengar? Bila kau sudah bebas dari sini, kita lanjutkan usaha kita yang terhenti ini. Tidak akan ada seorang yang bernama Dion Sinaga. Dia akan mati lebih dulu."


Ia memejamkan matanya kuat-kuat untuk menghilangkan rasa paniknya yang makin meningkat.


" Aku tahu kau bisa mendengarku, Bianca. Jangan berpura-pura."


Beberapa saat kemudian dibukanya kembali matanya, dan diputar-putarnya sejauh mungkin. Tetapi dia tetap tak bisa melihat siapa-siapa. Dia hanya merasakan bahwa tamunya sudah pergi.


Beberapa menit lagi telah berlalu, yang diukur dengan putaran mesin pernapasan yang bisa membuat orang gila. Dia mengambang antara tidur dan sadar, dengan berani dilawannya akibat dari obat penenang, rasa panik, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ICU.


Tak lama kemudian seseorang perawat masuk, memeriksa botol infusnya dan mengukur tekanan darahnya. Bila memang ada seseorang di dalam ruangan itu, atau tadi berada di situ, perawat itu tentu tahu. Tapi dengan perasaan puas akan keadaan pasiennya, perawat itu pergi.


Waktu dia akan tertidur lagi, diyakinkannya dirinya bahwa itu tadi hanya mimpi buruk.


✈️


Waktu didengarnya pintu terbuka di belakangnya, dia berpaling, lalu mengangguk menyapa abangnya. "Aku ke kamarmu beberapa menit yang lalu," kata Dion. "Kemana kau?"


" Minum bir di bawah, dan sedikit bermain kartu." Jawab Dava abangnya.


Dion menggeleng, melepaskan gorden yang disingkapnya tadi, lalu menjauhi jendela itu.


"Aku lapar sekali," Kata Dava. "Kau?"


"Kurasa begitu. Aku tidak memikirkannya." Dion menjatuhkan dirinya ke kursi, dan menggosok-gosok matanya.


"Kau tidak bisa membantu Bianca dan Syila bila kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri, Dion. Kau kelihatan parah dan kacau sekali."

__ADS_1


"Terima kasih perhatiannya bang."


"Aku serius."


"Aku tahu," Kata Dion, sambil menurunkan tangannya dan memberi abangnya suatu senyum kecut. "Kau selalu jujur sekali, tapi tak bijak. Sebab itu, aku yang menjadi politikus dan kau tidak."


"Politikus adalah kata yang tidak baik, ingat kan? Eddy telah mengingatkanmu untuk tidak menggunakannya."


"Dengan teman-teman dan keluarga juga tidak?"


"Itu bisa menjadi kebiasaan burukmu. Sebaiknya tidak menggunakannya sama sekali."


"Ah, kau tidak ada henti-hentinya bang."


"Aku hanya mencoba menolong."


Dion menunduk, dia merasa malu atas kemarahannya. "Maafkan aku." Dia memainkan alat remote tv, mencari saluran tanpa bersuara. "Aku sudah menceritakan pada Bianca tentang wajahnya."


"Begitukah?"


Dava duduk di tepi tempat tidur, dia membungkuk, dan menopangkan dagunya pada lututnya. Caranya berpakaian tidak seperti adiknya. Dia mengenakan celana hitam, kemeja putih, dan berdasi. Tetapi, karena hari sudah senja, dia kelihatan kusut. Kemeja putihnya sudah tak kaku lagi, lengan kemejanya tergulung, dan dasinya tak terikat. Celana di bagian pahanya kusut karena hampir sepanjang hari dia duduk.


"Bagaimana reaksinya waktu kau ceritakan?"


"Bagaimana aku tahu?" gumam Dion. "Kita tak bisa melihat apa-apa, kecuali mata kanannya. Air matanya keluar, jadi aku tahu dia menangis. Kita kan kenal dia, betapa pesoleknya dia. Aku yakin dia histeris sekali dalam pembalut itu. Kalau saja dia bisa bergerak, mungkin dia sudah berlari-lari hilir mudik di sepanjang lorong rumah sakit sambil menjerit-jerit. Benar, kan?"


Dava tetap menunduk dan memandangi tangannya, seolah-olah mencoba membayangkan bagaimana kalau tangannya itu terbakar dan dibalut. "Apakah kau pikir dia ingat akan kecelakaan itu?"

__ADS_1


"Dia menunjukkan bahwa dia ingat, meskipun aku tak yakin berapa banyak yang diingatnya. Tak kuceritakan yang mengerikan. Hanya kuceritakan bahwa dia dan Syila dan sepuluh penumpang lainnya selamat."


__ADS_2