
Semua tamu sudah memenuhi ruangan, Pak Baroto sengaja membooking tempat itu hanya untuk pesta makan malam.
"Ayo nikmati makanannya, jangan sungkan ya. Pesta ini saya buat sengaja karena beberapa hari lagi cucu saya akan segera launching ke dunia," ucap Pak Baroto mempersilakan.
"Bener benget lo Pak, Jeng. Ini rasa syukur kami karena sudah dua tahun menunggu putri saya hamil akhirnya terkabul juga. Semoga Pak Angkasa dan Bu Sekar segera punya anak ya, nunggu itu gak enak," cicit Bu Rina.
Angkasa tersenyum getir, Ia menoleh kearah Bulan yang menanggapi ucapan itu dengan santai sedang hatinya seperti terluka. Mana mungkin Sekar bisa hamil seperti putri Pak Baroto jika nyatanya Ia mandul.
"Aamiin, Bu. Doakan saja ya, saya juga gak sabar pengen ngerasain jadi Ibu," jawab Bulan kemudian, hingga mengejutkan Angkasa.
Sayang, maafin aku ya. Gara-gara Amnesia, kamu jadi berharap seperti ini. Pantas saja kamu sampai nekat membuat rencana supaya aku menikah lagi dan mendapat keturunan. Tapi kamu tenang saja, aku gak akan mungkin khianati kamu hanya karena kamu gak bisa ngasih aku anak...
Angkasa meraih kepala Bulan dan mengusapnya. "Semoga harapan kita terkabul ya," ujarnya pilu,
lalu mencium kening Bulan agar hatinya sendiri kuat.
"Waw, so sweet. Kamu memang pria penyayang Pak Angkasa," ucap salah seorang kolega mereka Pak Dio.
"Insya Allah, Pak. Istri yang Tuhan kasih, saya anggap sebuah amanah istimewa, jadi saya akan berusaha menjaga dan melindunginya sebisa saya," tutur Angkasa, bijak. Memang itu adanya, Sejak mencintai Sekar, tak pernah sekali pun hatinya berpaling mencintai perempuan lain selain dia.
"Hem, beruntung sekali kalau prianya itu kamu," sindir Bu Rina pada Pak Baroto.
"Oh jadi Mama, gak bahagia sama Papa, ha?" Pak Baroto juga tak mau kalah dan menarik pundak Bu Rina merapat dengannya.
"Ih, Papa. Malu sama yang muda tu," bisik Bu Rina, memperlihatkan mereka yang ada disana memperhatikan mereka.
Selesai makan, pihak kaffe membersihkan meja dan akan menyuguhkan penutup makan malam.
Maya adalah salah satu yang akan ikut menyiapkan minuman itu di meja mereka. Awalnya Maya sangat semangat tapi saat melihat ada Bulan disana, Maya menghentikan langkahnya.
Ia tidak bisa lupa akan pengkhianatan nya pada Bulan sahabatnya. Setelah diketahui hamil, Maya sangat menyesal dan ingin meminta maaf pada Bulan tapi Ia belum punya kesempatan sama sekali untuk itu.
Maya berkaca-kaca dan mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat menginjak empat bulan. Itu adalah hasil cintanya dengan Awan yang tak kunjung menikahinya.
Maafkan aku Bulan, karena cinta. Aku buta akan rayuan Awan...
__ADS_1
"Mbak, ayo kok ngelamun!" desis, pelayan lain yang membawa nampan berisi beberapa gelas minuman segar.
"O iya, maaf." Cepat-cepat Maya menghapus air matanya dan sekuat hati memberanikan diri menghadapi Bulan.
"Silakan Pa, Bu!" Satu persatu Maya meletakkan minuman itu didepan mereka. Sampai dititik dimana Ia mendekati Bulan.Tak ada kata yang terucap, Ia hanya meletakan dua gelas minuman didepan mereka. Namun nyatanya apa yang ditakutkan Maya tidak sesuai kenyataan, Bulan bahkan tidak terlihat benci dan malah mengajaknya bicara dengan ramah.
"Makasih, Mbak cantik," ucap Bulan hingga Maya tertegun.
"Sama-sama," jawab Maya parau khas suara orang habis menangis.
Bulan hendak minum, tapi tak sengaja Angkasa menyenggol sikunya.
"Aduh, maaf sayang. Aku gak sengaja," ucap Angkasa kaget, cepat mengambil tisu dan mengelap baju Bulan.
"Udah papa, kan gak sengaja. Biar aku bersihkan di kamar mandi aja ya."
Bulan pergi kebelakang, Angkasa yang jadi malu pada para koleganya hanya bisa menggaruk tengkuknya.
"Santai saja, Pak. Istrimu itu terlihat sangat baik, beruntung kamu menikah dengannya," ucap Bu Rina lagi. Selalu saja meyakinkan Angkasa dan itu menambah besar rasa cintanya.
"Memang begitu kalau masih pengantin baru mah, tapi jangan sampai bosan ya Pak Angkasa," timpal Ranti, salah seorang istri koleganya. Suami nya memang gila perempuan dan itu membuatnya sangat tersiksa. Tapi herannya sampai saat ini Bu Ranti tidak pernah menggugat cerai suaminya.
Memang laki-laki itu sangat kaya dan bisa jadi itu salah satu penyebab Bu Ranti ikhlas diselingkuhi.
"Isya Allah, Bu. Saya ingin menjadikan dia satu-satu di hidup saya," jawab Angkasa, memastikan.
"Baguslah, aku jadi senang melihatnya," sahut Bu Ranti lagi.
Angkasa melihat kearah Bulan pergi tadi dan memutuskan untuk menyusulnya.
"Maaf ya Pak, Bu. Saya kebelakang dulu!" izin Angkasa.
"Baik, Pak. Silakan!" tukas Pak Baroto.
Bulan baru saja selesai dan menutup pintu toilet. Disana, ada seorang lelaki yang sudah berdiri menunggu didepannya. Mungkin Ia melupakan siapa orang itu tapi dia tidak.
__ADS_1
"Bulan...!" sapanya.
Gadis itu mendongak dan berusaha mengenali pemuda didepannya.
"Siapa ya?" tanyanya bingung.
"Sayang, kamu lupa sama aku." Awan menggenggam tangannya dan menciumi dengan brutal.
"Ih... lepas, Mas. Kamu siapa? saya gak kenal," ucap Bulan. Lekas Ia menarik tangannya dari sentuhan Awan.
"Bulan, aku kekasihmu. Ayo kita kembali bersama dari awal. Maafkan aku sudah sempat menyakiti mu."
Awan bersimpuh dikakinya, tapi karena Bulan tidak kenal dia berjalan mundur.
"Tolong pergi, Mas. Saya gak kenal sama kamu kok. Tolong jangan mengada-ngada."
Tentu saja Bulan takut, sebab Awan nampak sangat terobsesi dengannya.
Awan menggeleng tak terima, mana mungkin Bulan bisa melupakannya dalam sekejap. Awan yang sangat mencintai Bulan pun merengkuh tubuhnya.
"Aku Awan, Bulan. Bagaimana mungkin kamu lupa sama aku. Kita saling mencintai dan Angkasa cuma orang ketiga dalam hubungan kita."
"Ih, apaan sih? lepas, Mas. Saya gak kenal sama kamu." Bulan meronta-ronta agar terlepas dari pelukan Awan akan tetapi Awan malah merengkuh kuat tubuhnya.
Bulan yang ketakutan akhirnya mendorong Awan dengan kasar hingga pemuda itu terbelalak.
"Lepas, menjijikkan. Aku ini sudah menikah, jadi saya minta jangan ganggu saya," ucap Bulan marah.
Awan memanas akan penolakan Bulan, Ia memeluk Bulan lagi dan berusaha menciuminya.
"Kamu harus balik sama aku, Bulan. Aku gak akan pernah rela melepaskan kamu untuk Angkasa. Orang yang sudah gila karena cinta, sedangkan aku tulus sama kamu," paksa Awan. Ia menjagal Bulan agar dapat meraih bibir ranumnya.
"Mas, tolong lepasin. Kamu sudah gila ya!" Bulan memukul dada Awan sambil memalingkan wajahnya agar Awan tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awan bertambah gila, dia mendorong tubuh Bulan merapat didinding dan lagi-lagi ingin menciumnya.
__ADS_1
"Hiks... pergi, aku gak mau. Tolong lepasin aku, Mas!" Bulan memekik histeris dan menangis. Ia tidak sudi di jamah oleh yang bukan suaminya.