Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 59 Sakit Kepala


__ADS_3

...🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🌼🌼🌼🌼🌼🏡️🏡️🏡️🏡️...


Suatu hari, Angkasa dan Bulan berkunjung disebuah taman hiburan. Hari itu bertepatan dengan tanggal merah. Dimana semua orang datang berbondong-bondong meramaikan tempat itu untuk melepas lelah dari kestressan dirumah.


"Sekar, lihat itu. Kau mau naik itu!" Angkasa menawarkan sebuah wahana permainan roller coaster.


Bulan menggeleng, melihatnya saja dia sudah ngeri. Pasti kepala akan langsung berdenyut ngilu setelah turun nanti.


"Gak mau, Sayang. Aku takut. Kita naik itu saja yuk!" tunjuknya pada perahu layar dalam sebuah kolam besar yang dikayuh dengan kaki oleh mereka yang menaikinya.


"Oke, ayo!" Angkasa menarik lengan Bulan mendekati seorang yang bertugas disana untuk membayar lebih dulu.


"Ada yang kosong gak, Mas?"


"Oh, iya. Tunggu sebentar, sebentar lagi ada yang selesai," jawab orang itu.


Benar saja salah satu dari enam perahu ontel itu menepi.


"Pak, makasih ya!" ujarnya. Tak disangka ternyata itu adalah Dokter Lintang yang datang bersama seorang anak kecil.


"Eh, Dokter. Berlibur juga, dia_?" Angkasa bermaksud menanyakan bocah kecil disampingnya.


"Oh, ini. Dia_." Dokter Lintang nampak kisruh. Sepertinya pemuda itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Ponakan ya, Dok?" sahut dari Bulan.


"Oh.. iya. Orang tuanya sedang sibuk," jawab Dokter Lintang. Ia segera menggendong bocah tersebut menjauh.


Angkasa merasa ada yang aneh dengan Dokter itu, kegugupannya tadi tidak masuk akal.


"Ayo, Sayang. Kita naik!" Bulan sudah tidak sabar mau merasakan perahu ontel yang muat dua orang tersebut.


"Iya, Sayang. Maaf hampir lupa deh...!"


Keduanya segera naik dan menjalankan perahu itu. Mereka sangat bahagia menikmatinya. Seperti biasa hanya ada canda dan tawa.


Dari kejauhan Dokter lintang diam-diam memperhatikan mereka lalu menoleh kearah gadis kecil yang berdiri disampingnya.


"Mereka siapa, Pa?" tanya bocah itu. Sebagai anak berusia tujuh tahun. Tentu Ia sudah mulai memahami tatapan yang tak biasa dari kedua bola mata orang dewasa.


Dokter Lintang berlutut di depan bocah tersebut. Ia tidak ingin bocah itu tahu hal yang sedang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Mereka temen Papa, Nak. Kita pulang ya biar Papa anter kerumah Oma," ujar Dokter Lintang.


Siapa sangka dia adalah duda beranak satu yang menikahi seorang perempuan yang memilih pergi bersama pria lain.


Selama perpisahan mereka, Kiara tinggal dirumah mertuanya dan itu harus Lintang lakukan sebab dia sibuk di rumah sakit.


"Papa, emang Kiara gak boleh ya tinggal sama Papa. Kiara pengen banget bareng terus sama Papa," melas bocah itu.


Dokter Lintang sebenarnya juga menginginkan hal yang sama. Tapi untuk menyewa baby sitter atau membayar orang untuk menjaganya Ia tidak percaya.


"Kiara, Sayang. Papa janji deh sama Kiara. Nanti kalau Papa udah dapet Mama baru buat Kiara. Papa janji bakal bawa Kiara pulang kerumah Papa untuk selamanya."


"Mama baru? emang Mama Kiara kemana?" tanyanya lagi, ingin tahu lebih banyak. Bahkan Ia belum pernah bertemu wanita yang melahirkannya.


Dokter Lintang merasa sedih. Sudah lama Ia tak pernah mampu menjadi Ayah yang baik untuk anak itu. Setiap mendapat pertanyaan yang sama, Dokter Lintang tidak tahu harus menjawab apa.


"Mama sudah bahagia di tempat lain. Kiara jangan pikirkan apa pun lagi ya. Ayo kita pulang!" Dokter Lintang segera menggendongnya pergi dari tempat itu.


Sedang kan Angkasa dan Bulan belum juga mengakhiri kegiatan mereka. Bulan punya ide usil, Ia dengan sengaja mempercikan air dari tangan yang Ia celupkan kedalam air kewajah Angkasa.


"Sayang ini seru!" Teriaknya sambil tertawa.


"Aduh, ampun. aku nyerah Sayang." Bulan mulai kedinginan, sebab cuaca di tempat tersebut memang sedang dalam keadaan mendung.


"Ya ampun, kasihan sekali. Kalau gitu ayo kita menepi saja, Sayang." Angkasa khawatirkan kondisi Bulan.


Sampai di tebing, Angkasa segera melepaskan jaketnya menyelimuti tubuh Bulan. Namun baru saja hendak menuntunnya Bulan melihat seorang anak laki-laki sedang dipukuli Ayahnya didepan umum, bahkan di maki sesuka hati gara-gara minta uang jajan. Bisa di pastikan anak Ayah itu bekerja sebagai petugas kebersihan disana.


Tak sampai hati melihatnya, Kepala Bulan seolah langsung berputar, mengingat pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun silam.


"Aduh, kepalaku sakit!" pekiknya tiba-tiba sambil memegangi kepala. Ia yang tak mampu menahannya akhirnya jatuh pingsan dalam pelukan Angkasa.


"Ya Allah, Sekar. Kamu kenapa, Sayang? Sekar, ayo bangun jangan buat aku takut."


Angkasa sangat panik, Ia pun membopong Bulan keluar taman menuju mobilnya.


"Sayang, bangun Sekar. Aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu!" Angkasa yang sudah mendudukkan nya di kursi menepuk-nepuk pipi Bulan berulang-ulang namun tidak membuahkan hasil.


Angkasa jadi semakin kalang kabut pun tak mau membuang waktu, Ia memutuskan untuk memeriksakan kondisi Bulan di rumah sakit.


Setibanya disana, mereka di sambut oleh salah satu Dokter umum.

__ADS_1


"Istrinya kenapa, Pak?" tanya Dokter wanita itu.


"Gak tau, Dok. Tadi dia tiba-tiba pingsan," jawab Angkasa sekenanya. Perasaanya benar-benar tidak tenang.


"Silakah rebahkan di atas ranjang, Pak!" titah Dokter itu.


Angkasa menurut dan menidurkan Bulan di rajang secara perlahan-lahan untuk mendapatkan pemeriksaanya.


Angkasa terenyuh melihat kondisi Bulan, Harap-harap cemas Ia menunggu penjelasan sang Dokter.


"Gak papa, Pak. Sepertinya istri Bapak sempat mengalami sesuatu tadi. Apa kepalanya pernah terbentur?" tanya Dokter itu, guna memastikan jika pendapatnya memang benar.


"Iya, Dok. Sebenarnya dia sedang mengalami Amnesia, dan yang benar-benar diingatnya hanya saya saja," jawab Angkasa. Di liriknya Bulan yang masih belum juga sadarkan diri.


Dokter itu manggut-manggut.


"Benar dugaan saya, hal ini sangat biasa dialami bagi penderita Amnesia, jika Ia melihat sesuatu yang menyakitkan pasti akan terbayang dalam alam bawah sadarnya," papar Dokter perempuan itu lagi.


"Menyakitkan? maksud, Dokter?"


"Teringat masa lalunya sesaat," jawab Dokter itu lagi.


Angkasa termangu, setau nya Sekar tidak pernah menceritakan masalahnya. Apa lagi sesuatu yang sangat menyakiti perasaannya. Apa lagi Bu Widya tipe seorang Ibu penyabar jadi mana mungkin ada sesuatu yang membuat Sekar pernah mengalami trauma.


"Tapi dia gak papa kan, Dok?"


Dokter Perempuan tersebut menggeleng.


"Pastikan istirahat cukup dan buat dia selalu nyaman," papar Sang Dokter lagi.


"Baik, Dok. Makasih banyak."


Setelah Dokter itu pergi, Angkasa menghampiri Bulan dan mengecup keningnya cukup lama.


"Sayang, memangnya kamu pernah mengalami apa sih? kenapa aku tidak tahu jika kamu tengah menyembunyikan masalahmu."


Angkasa merasa Ia bukan Pria yang baik. Paktanya dirinya belum tahu banyak hal tentang masa lalu dari gadis yang dicintainya.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA KAKAK!!!πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2