
"Sayang, kamu? kukira si Bayi?"
"Bayi? siapa itu?"
"Hahaha... Bayu maksudnya, asisten songong," gelak Angkasa.
"O.. ." Bibir itu membentuk bulatan membuat Angkasa yang melihatnya menjadi gemas. "Ya sudah, kamu makan dulu gih. Aku udah bawain makanan request kamu." Bulan segera membuka isi rantang dan mulai menyuapi
"Emmm...." Angkasa mengunyah makanan tersebut perlahan-lahan dan meresapi rasanya.
"Gimana? enak gak? aku gak pakek apa-apa kok cuma pakek cinta aja," kata Bulan melipatkan tangan berbentuk love kedepan suaminya.
"Ahk, baper." Angkasa menopang dagu menikmati wajah sang istri. "Mau lagi, pantas saja rasanya berbeda seperti biasanya!" pintanya, membuka mulut cukup lebar.
Sekilas, Bulan tertegun. Perasaannya seolah berdebar-debar.
"Ahk... kok lama sih?" Angkasa menyungut. Memainkan atasan kancing baju Bulan diikuti bola matanya.
"Kamu deg-degan ya?" Goda Angkasa, memantik bola mata indah milik Bulan.
"Sedikit...." Ungkapan itu meluncur tanpa disengaja.
"Oh ya?" Angkasa menarik tubuh sang Istri duduk kepangkuan nya. "Kenapa kamu begitu lucu sih, ha? katakan padaku, mengapa senyummu bertambah manis?" Angkasa menyerobot pipi milik Bulan hingga tawa-tawa kecil menghiasi ruangan itu.
Bulan tersipu, Ia mengigit bibir bawahnya. "Jangan menggodaku, aku tidak suka."
Keduanya saling menatap, kemudian tangan Angkasa terulur mengusap pipi Bulan. "Aku mencintaimu, Sekar. Jangan pernah pergi ya!" Ucapnya manja.
Bulan memaksakan diri tersenyum. Tidak bisa mengatakan Iya, sebab Ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya nanti.
"Kamu cantik!" puji Angkasa lagi, Bulan serasa terbang ke awang-awang. Tidak pernah sedikit pun perasaan itu Ia alami ketika bersama Awan bahkan Ia lupa kalau hatinya sedang tersakiti.
Bug!
Bunga mawar yang Bayu pegang terlepas, matanya membulat melihat ada Sekar bersama Angkasa ketika membuka pintu. Berkali-kali mengucek matanya namun sosok tersebut tidak hilang.
"Bo_ Bos!" Bayu kesulitan mengeluarkan suara.
"Hey...! kenapa Bunga itu kau jatuhkan!" Angkasa sangat emosi mendapati Hadiah untuk Sekar tergeletak di lantai.
Bayu jadi salah tingkah dan memungutnya kembali. "Ma_ maaf, Bos. Ia gemetaran menatap wajah Bulan yang terlihat menyeramkan.
"I_ ini bunganya."
Angkasa menerimanya dengan tatapan kesal. "Hey...!" Angkasa menendang lututnya hingga hampir terjatuh.
"A_ aduh, Maaf, Bos. Sa_ saya gak sengaja," jawab Bayu lagi, sambil mengusap keringat di keningnya.
__ADS_1
Bulan yang mengerti maksud dari Bayu pun tersenyum.
Angkasa cemburu dan menarik wajah Bulan kehadapannya. "Jangan lihat dia, aku tidak suka!" ucapnya marah.
"Iya, Sweety. Jangan marah begitu, nanti cepet keriput lo."
Dug!
Angkasa berhasil menendang kaki Bayu lagi sampai meringis.
"Ngapain masih disitu? cepat keluar!" Angkasa paling tidak suka jika ada orang lain yang berani terus menerus menatap istrinya lebih lama dari dirinya.
Bayu pun menunduk dan berlari keluar. Nafasnya ngos-ngosan. Tidak salah lagi, jika Ia sedang melihat jelmaan Sekar di kantor itu sedang gentayangan.
"AstaufiruLLahalazhin, pasti almarhum Sekar belum ridho meninggalkan dunia ini karena meninggal saat baru saja menikah," gumam Bayu seorang diri.
"Apa, Bay?" Siska lagi-lagi mengagetkan.
"Ehk, Sis. Entahlah, aku pasti kurang tidur semalam. Aku yakin kamu tidak akan percaya dengan hal ini," kata Bayu.
"Maksudmu?"
"Hari ini, dua kali sudah aku melihat penampakan Sekar di kantor ini," terang Bayu.
"Ha?" Siska ikut mengusap jenjang lehernya yang mendadak berdiri. "Halusinasi kalik?"
Siska jadi takut, Ia menganggap apa yang Bayu katakan benar adanya. Bukan tidak mungkin Sekar berjalan-jalan disana sebab semasa hidupnya Sekar sering datang kekantor itu.
"Wah, Bayu ngeprank ni kayaknya. Masak sih Bu Sekar gentayangan, hih!" Cepat-cepat Siska berkumpul bersama rekannya.
Angkasa dan Bulan masih sibuk suap-suapan, mereka menikmati semuanya dengan penuh rasa bahagia layaknya Suami Istri sungguhan.
Seandainya aku adalah Sekar? Batin Bulan dalam hati.
Konyol, itu yang Ia pikirkan. Mengapa aku jadi berpikir demikian sih? Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mustahil, Ia bisa menggantikan posisi Sekar di hati Angkasa.
Dia yakin, Angkasa tidak akan memperlakukannya seperti
Ia pada Sekar jika nanti Angkasa tahu kalau dirinya adalah Seorang Bulan yang sudah berhasil menipu.
Maafkan aku Angkasa, jujur saja, aku melakukan ini semata-mata untuk Fatan.
Angkasa terus mengamati keanehan wajah Bulan yang berubah-ubah seperti bunglong.
"Memikirkan apa, Sayang," desis Angkasa.
"Hem? tidak ada? sudah lama tidak kesini rasanya asing ya." Bulan turun dari pangkuan Angkasa dan melangkah kedaun jendela. Mengamati aktivitas diluar begitu menakjubkan.
__ADS_1
Angkasa mendekat dan seperti biasa. Ia akan memeluk Bulan dari belakang. "Kamu tidak menyesalkan?" Angkasa mengatakan itu disertai tatapan lekat.
"Kenapa bertanya begitu?" seloroh Bulan. Ia menyandarkan kepalanya didada Angkasa dan itu terasa sangat nyaman.
"Karena aku takut kehilangan kamu," ungkapnya bersungguh-sungguh.
"Sedalam itu Cintamu?" Bulan menyelidik.
Angkasa mengangguk dan mencium pipi Bulan yang terasa sudah seperti candu baginya.
"Bagaimana jika nanti aku menghilang dari sisi mu?" tanya Bulan membual tapi pasti akan terjadi.
"Hidupku hancur," jawab Angkasa singkat.
Bulan semakin mengagumi pria yang kini mendekapnya. Ia sediri tidak mengerti perasaan itu muncul begitu saja dihatinya.
"Sweety...!"
"Apa..?"
"Aku takut tidak bisa memegang janji." Bulan memainkan jari jemari Angkasa, ucapanya menyedihkan.
"Kamu mau kemana? bukankah kita akan selalu bersama?" Angkasa, mencubit pinggang Bulan.
"Aw, sakit. Kita ini kan hanya manusia, Sweety. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi didepan kita suatu saat nanti."
Angkasa mengangguk. "Kamu benar, tapi apa pun itu. Tetaplah menggenggam tanganku agar kita bisa lalui semua sama-sama."
"Kamu yakin, tapi aku enggak," ucap Bulan menggoda tapi sejujurnya itu perkataan yang memang benar adanya.
"Sttt..., jangan katakan apapun karena aku tidak menyukainya." Angkasa melihat jam di lengannya. "Sudah jam 02.00 lebih baik kita bersiap kerumah Ibu."
Pembicaraan berakhir, Bulan menata bekas rantang nasi kedalam rangkaiannya, Tak lupa memeluk bunga pemberian Angkasa.
"I love you, Sayang," Bisik Angkasa. Seperti biasa, Bulan tidak pernah menjawab kata-kata itu. Ia hanya akan melontarkan senyuman yang manis untuk pria didepannya.
"Hem? kapan kau akan membalasnya? kenapa mahal sekali?" Celoteh Angkasa.
Bulan segera memasukkan tangannya di lengan Angkasa yang sudah menunggunya.
"Tidak perlu di jawab, bukankah kau sudah mengetahuinya," jawab Bulan pelan.
Perilaku Bulan menambah besar rasa cinta Angkasa, Karena bagi Angkasa, itu tampak sangat unik dan jarang Ia dapatkan pada saat berpacaran.
"Baiklah kau ingin aku berjuang mendapatkan dirimu seutuhnya, " seringai Angkasa.
Bulan kembali melemparkan senyuman, Ia tidak berpikir kelak akan membuat Angkasa benar-benar mengikat hidupnya.
__ADS_1