
Tepat pukul sepuluh malam, hujan tiba-tiba turun sangat lebat. Sedangkan Angkasa dan Bulan belum juga mampu mengendalikan diri. Mereka terlalu sibuk akan perasaan mereka masing-masing.
Lain halnya di pesta, tamu yang seharusnya mau berpamitan pulang tertahan. Mereka tidak akan berani menerobos cuaca yang tidak mendukung suasana tersebut.
Dari tempatnya berdiri, Dinda yang belum menyerah kembali menghampiri Dokter Lintang yang sejak tadi terus menggendong Kiara. Dia masih berharap Dokter Lintang mau membiarkan Kiara bersamanya.
"Lintang...!" Dinda hendak menggapai tangannya tapi Dokter itu menolak
"Apa sih? Saya mohon menjauh lah, saya tidak mau Kiara mendapat cerminan buruk dari Ibunya."
"Tapi, Lin. Aku sangat merindukan Kiara. Ya, aku mengaku salah pernah meninggalkan dirimu."
"Jangan mempermalukan dirimu, Dinda. Karena bisa saja, aku membeberkan keburukanmu!"
"Tidak, Lintang. Aku mohon biarkan Kiara bersamaku sebentar saja."
"Jangan mencoba memaksa ku, Dinda," tolak Dokter Lintang.
Keributan keduanya mengundang reaksi Pelangi yang tidak sengaja mengamati mereka. Pelangi yang ingin tahu masalah mereka meninggalkan Fatan dan mendekat.
"Kenapa ya?" tanyanya ingin tahu.
"Jangan ikut campur!" sentak Dinda, marah dan melotot pada Pelangi. Sesaat bola matanya mematut pada gaun yang dikenakan gadis itu.
"Oh... jadi kamu yang mencuri baju pembelian ku!" ucapnya menuduh. Sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang mendengar.
Dokter Lintang dan Pelangi saling pandang. Mereka merasa Dinda sedang membuat lelucon.
"Maksudmu apa, Mbak?" tanya Pelangi, tak mengerti.
"Iya, ini baju yang aku beli di Mall waktu aku bertemu kalian disana. Pasti kamu sengaja kan menukarnya dengan baju Kiara?"
Suara riuh mulai terdengar ramai, mereka mencibir perbuatan Pelangi yang dituduhkan Dinda. Dokter Lintang yang ada disana tidak terima. Sebab Dinda dan Pelangi tidak berdekatan sama sekali kala itu.
"Tunggu, Dinda. Apa maksudmu bicara begitu?"
"Sudahlah, Lin. Jangan kamu membela perempuan pencuri kayak dia. Ngapain sih kamu menikahi perempuan bertangan panjang seperti ini?" tatapan sinis Dinda lontarkan kearah Pelangi.
Pak Dewok dan Bu Arumi serta keluarga lainnya, tercekap. Mereka sendiri bingung mengapa Dinda berbuat onar.
"Dinda, Pelangi bukan pencuri. Bahkan dia tidak pernah bersentuhan dengan mu, lalu bagaimana kamu menuduhnya seperti itu? Atau kamu menyindirku karena kita tidak sengaja bertabrakan. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku bisa membelikan berpuluh-puluh rupa baju seperti ini untuknya," ucap Dokter Lintang, sebenarnya.
Mereka yang ada disana terdiam.
"Ta_ tapi, Lin_."
"Cukup, Din. Aku muak dengan tingkah laku mu. Akan lebih baik jika kita tidak pernah bertemu lagi!"
Dokter Lintang menarik lengan Pelangi keluar, mereka akan nekat menerobos hujan lebat itu karena Dokter Lintang enggan lebih lama satu tempat bersama Dinda.
__ADS_1
"Dok, kita mau kemana?"
"Pulang..!"
"Tapi, Dok. Keadaan masih hujan?"
"Ikut atau diam disini, dan jangan pernah lagi pulang kerumahku," ancam Dokter Lintang.
"Ba_ baik, Dok."
Mereka segera masuk kedalam mobil, tapi Dinda tidak menyerah, Ia nekat mengejar mobil Dokter Lintang sampai kejalan besar. Tidak peduli jika dia harus basah kuyup.
"Lintang, tolong jangan seperti ini. Aku mau ketemu Kiara sebentar saja...!"
Cuaca gelap dan licin, suara gubrakkan terdengar nyaring di belakang mobil Dokter Lintang.
Pelangi yang menoleh, tersentak. Ia melihat Dinda tergeletak di depan mobil yang menabraknya. Semuanya terlihat sebab lampu mobil tersebut menyala.
"Dokter, berhenti, Dokter. Mbak Dinda ketabrak," ucapnya menggoyang-goyang lengan Lintang. Ia yang terkejut langsung menghentikan mobilnya dan segera turun.
"Dinda...!" teriaknya histeris. Ia tidak menyangka jika mantan istrinya nekat melakukan pengejar ditengah kondisi yang buruk.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja...!" ucap sopir tersebut.
"Tolong bawa kerumah sakit, Pak. Dia harus mendapatkan penanganan!" Dokter Lintang memapah tubuh Dinda masuk kemobil orang tersebut dan dia akan menggiringnya dari belakang.
"Astaga, Papa. Jangan-jangan itu Dinda!" Ucap Bu Arumi khawatir.
"Iya, Bu. Tenang, saya telpon dia dulu!"
Ponselnya berdering namun tidak ada jawaban.
"Yah, bagaimana ini?"
"Tenang, Bu. Semoga bukan Dinda."
Dokter Lintang yang panik mengikuti mobil yang membawa Dinda. Ia teringat jika pernah saling telpon dengan Angkasa segera mengabarkan kondisi Dinda.
"Dokter Lintang?" Angkasa agak bingung, tidak biasanya Dokter Lintang menelpon di tengah malam.
"Halo, Dok."
"Angkasa, ada kabar buruk."
"Kabar buruk? maksudmu?"
"Dinda kecelakaan dan sekarang Kami menuju kerumah sakit."
"Baik, Dok. Saya akan menyusul."
__ADS_1
Angkasa mengirim pesan pada Pak Dewok yang langsung membacanya.
"Ternyata benar itu Dinda, Bu. Fatan ayo kita pulang!" ajak Pak Dewok. Tujuannya menyusul kerumah sakit.
Angkasa ingin pergi, tapi Ia teringat akan Bulan yang sendirian. Karena tidak tega, Angkasa memutuskan untuk mengajaknya.
Gadis itu masih duduk merenung di tempatnya tadi, masih jelas terdengar isakan nya yang belum berhenti.
"Sekar, aku mau kerumah sakit. Apa kau mau ikut?" tanyanya pelan. Menolak tidaknya, yang penting Ia sudah berbaik hati menawarkan.
Bulan mendongak, Ia segera mengusap air matanya dan berdiri.
"Mau kemana?" tanyanya pelan.
"Dinda baru saja kecelakaan," jawab Angkasa.
Bulan membelalakan mata. Tidak disangka malam itu benar-benar menjadi malam penuh badai.
"Aku ikut," ucapnya kemudian.
Meski sama-sama dingin, mereka berdua segera menyiapkan keperluan yang harus di bawa kerumah sakit.
Karena hujan belum juga berhenti, terpaksa Angkasa harus mengendarai mobil dengan hati-hati.
Sesekali gadis itu meliriknya, Ia tahu jika Angkasa memang masih dalam keadaan marah. Jadi membiarkan nya lebih dulu adalah pilihan yang tepat.
Malam itu mobil yang melintas, sangat sepi. Sebab jalan yang di lalui memang membahayakan. Di tengah kondisi seperti itu, Bulan yang kurang enak badan kembali diserang mual.
"Maaf," katanya saat Angkasa menyempatkan diri menoleh.
Angkasa tidak menjawab, Ia harus fokus mengemudi demi keselamatan mereka hingga tiba di tempat tujuan. Rupanya Pak Dewok dan keluarga juga baru sampai.
Mereka terlihat panik, bagaimana pun juga Dinda adalah keponakan mereka.
Angkasa mengambil payung, Ia membukakan pintu untuk Bulan agar tidak basah. Se marah apa pun itu, Ia masih punya hati untuk berbagi.
"Angkasa, kamu baru sampai juga!" teriak Pak Dewok dari tempatnya.
"Iya, Yah."
"Ya, sudah. Ayo cepat masuk. Bu, awas Fatannya basah," ucapnya mengingatkan. Keduanya ada di payung yang sama.
Untungnya mereka selalu menyimpan payung di dalam mobil. Walau tidak sedang hujan sekali pun.
Usai mengobrol, mereka masuk ke dalam beramai-ramai.
Terlihat dari kejauhan kalau Pelangi dan Kiara duduk diruang tunggu.
"Nak, kamu temennya Lintang kan? Bagaimana kondisi Dinda, ha?" tanya Pak Dewok tidak sabar.
__ADS_1