
Dokter Lintang kalah bicara. Benar yang dikatakan Pelangi. Bisa jadi dia memang tidak tahu apa pun soal anak. Tapi Dokter Lintang tidak mau mengalah. Ia tetap kekeh pada keinginannya jika Pelangi harus memberikan pendapatnya.
"Ah... sudahlah. Jangan cerewet, ayo ikut aku!" Dokter Lintang menarik tangannya masuk kesebuah toko permainan. Pelangi terkesima, baru kali ini ada seorang pria yang menggenggam tangannya seperti itu.
...aduh, kenapa aku jadi deg-degan ya......
Pelangi mendengar jelas detak jantungnya berirama kuat, Ia tidak mau Dokter Lintang mendengarnya segera melepas tangan Dokter Lintang.
Pria dewasa itu menoleh, Ia menatap heran akan tindakan Pelangi yang mengejutkan dirinya dan barulah menyadari kala mendapati tangannya masih menggantung di udara.
"Oh.. E_ itu, Maaf. Saya replek tadi," ujar Dokter Lintang berkilah. Ia pun melangkah menjauhi Pelangi untuk menghindari kecanggungan diantara mereka.
Pelangi masih kikuk, cukup lama Ia berdiri mematung memandangi Dokter Lintang.
"Pelangi, kemari!" kali ini suara Dokter Lintang terdengar lembut, gadis itu menurut dan mendekat. Suasana tersebut kian menegang tak kala keduanya berdiri berdampingan. Pelangi yang biasanya cerewet tak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Bagaimana dengan ini?" tanya Dokter Lintang. Menunjukkan sebuah mainan ular tangga guna mencairkan suasana yang berubah menjadi tidak nyaman.
"Bagus, Dok. Ta_ tapi bu_ bukannya perempuan suka boneka ya," ucapnya berpendapat. Karena dia sendiri sangat menyukai boneka-boneka cantik yang bisa di dandani. Tapi sayangnya, Ia cuma pernah memiliki nya sekali dan itu pun hanya satu-satunya hadiah dari Ayah kandungnya yang sudah meninggal. Boneka tersebut masih Ia simpan walaupun sudah jelek dan sedikit rusak.
"Bener juga ide kamu, sepertinya disana ada. Ayo kita kesana!" lagi-lagi Dokter Lintang mau menggaet lengannya.
"Do_ Dokter duluan saja!" kata Pelangi, kemudian.
"Oh, oke. Saya ke_ kesana." Dokter Lintang berbalik dari hadapan Pelangi dan menjauh. Ia memukul keningnya yang sudah mulai gila.
Lintang, ada apa denganmu? kau merusak suasana yang seharusnya menjadi santai...
Dokter Lintang merutuki tindakannya yang tidak seharusnya terjadi diantara mereka. Padahal Dokter Lintang sendiri orang nya sangat tegas dan profesional. Hari itu Ia malah menjadi kucing imut yang menggelikan.
Pasti Pelangi menganggap aku mesum? dasar bodoh!...
"Cari apa, Pak?" tanya salah seorang pelayan ditempat itu hingga mengagetkan dia yang tidak fokus.
"Ini, Mbak. Saya mau cari boneka barbie."
__ADS_1
"Oh... disini, Pak!" Pelayan toko tersebut mengantarnya didepan sebuah tumpukan boneka yang sangat bagus.
"Wah, ini keren. Berapa segini!" Dokter Lintang memperlihatkan satu wadah besar berukuran jumbo.
"Itu Rp 500 ribu, Pak."
Dokter Lintang kembali menoleh kearah Pelangi. Gadis berwajah tirus tersebut belum beralih dari tempatnya terakhir.
"Pelangi, kenapa masih disitu sih?" Kesal Dokter Lintang.
"I_ iya, Dok." Pelangi berlari menghampiri dan melihat-lihat banyaknya boneka menarik disana.
"Menurutmu bagus yang mana?" tanya Dokter Lintang lagi. Suaranya menggelegar lagi.
"Iya, biar kulihat!" Pelangi memeriksa semua boneka itu. "Disini ada tiga warna yang berbeda kenapa tidak beli tiga-tiganya, Dok?" Pelangi memberikan sarannya.
"O ya, cuma ada tiga. Baiklah bungkus warna yang berbeda!" titah Dokter Lintang pada Pelayan toko.
Setelah membayar jumlah nominal yang di sebutkan, keduanya memasuki sebuah pakaian anak.
"Cepat kamu pilih baju yang banyak buat putriku!" Perintahnya lagi, Ia sendiri malah mendaratkan bokongnya di kursi sambil memainkan ponsel.
"Kenapa harus aku lagi sih, Dok?" Ia paling tidak suka jika disuruh-suruh seperti yang dilakukan Dokter galak itu. "Terpaksa deh," cicitnya lagi, sambil melangkah mendekati deretan baju yang ada di gantungan.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?" tanya penjual toko tersebut.
"Mau cari baju anak-anak, Mbak," jawab Pelangi apa adanya.
"Anaknya umur berapa?"
"Aduh berapa ya?" Pelangi lupa menanyakannya.
"Masak Ibunya lupa sih?" jengah penjual itu membuat Pelangi membulatkan kedua bola matanya.
Dokter Lintang yang tak jauh disana sampai menoleh dan menertawai tampang Pelangi.
__ADS_1
"Tujuh tahun, Mbak," sahut Dokter Lintang dari tempatnya.
"Wah, suami idaman. Biasanya yang paling tajam ingatannya itu Ibunya lo, kok ini malah terbalik," gurau penjual toko.
Pelangi jadi salah tingkah, Ia hanya nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidaklah gatal. Bagaimana mau menjelaskannya. Toh, bukan urusan penjual itu juga untuk tahu kalau hubungan nya dengan Dokter Lintang hanya lah jongos dan majikan.
"Ayo ikut saya, Bu. Kesini...!" Penjual itu menggeser posisinya kederetan baju yang lain. "Ini semua baju untuk anak tujuh tahun tapi kan anak itu memiliki postur tubuh yang berbeda. Nah, anak Ibu dan Bapak tubuhnya gemuk apa enggak?" tanya penjual toko itu, seolah sengaja menyudutkan Pelangi yang tidak tahu apa-apa.
"Tubuhnya nya sedang, Mbak," sahut Dokter Lintang lagi.
Penjual toko menggeleng sambil menertawai wajah bingung Pelangi.
"Mbak, jarang ngurus anak ya?" tanyanya lagi, iseng. Lama-lama Dokter Lintang yang mendengar ke kepoan penjual toko mendekat. Tidak tega juga membiarkan Pelangi seperti orang bodoh didepannya.
"Mbak, dia ini bukan istri saya, jadi kalau Mbak mau tanya banyak hal lebih baik ke saya saja," jelas Dokter Lintang dengan tatapan tegas.
"Oh, jadi dia bukan istri, Bapak. Pantes saja tidak tahu apa-apa. Oke, Mbak Pelangi ini semua baju untuk anak berukuran sedang. Saya rasa akan sangat cocok di pakai anak Bapak."
Penjual itu malu sendiri setelah mengetahui kebenarannya. Rupanya Ia lah yang telah salah mengira jika Pelangi bukanlah Ibu idaman.
Pelangi mengacuhkan ocehan pelayan tersebut dan memilih beberapa setel yang dianggap sangat bagus untuk Kiara.
"Oke, terima kasih, Mbak. Jangan sampai salah paham ya, takut nya nanti kalau dilihat istri saya, dia dianggap Pelakor kan bahaya," gurau Dokter Lintang setelah berhasil membayar biaya belanjaan mereka.
"Iya, Pak. Maaf, saya cuma becanda kok," jawab Penjual itu jadi merasa bersalah.
Keduanya tak menggubris dan meninggalkan tempat itu lalu berhenti disebuah toko pakaian orang dewasa.
"Pelangi, hari ini aku sedang baik. Kamu boleh pilih mana saja baju yang kamu mau!" tawar Dokter Lintang.
Pelangi langsung berbinar, itu adalah sebuah angin segar yang sudah Ia tunggu-tunggu. Mendapat baju baru akan membuatnya bersemangat bekerja.
"Beneran, Dok. Tapi hutang saya tidak nambah kan?"
"Hm...." Dokter Lintang hanya menjawab sesukanya.
__ADS_1
"Baiklah biar aku cari." Pelangi menyerahkan beberapa paper bag yang Ia bawa ke tangan Dokter Lintang.